Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
82 Bonchap - Mengunjungi Amanda


__ADS_3

Setelah pesta berakhir dan kini Kirana beserta Raka sudah kembali ke dalam kamar. Kirana mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berbahan satin yang disangga oleh seutas tali tipis di bagian bahu.


Kirana keluar dari walk in closet dan mendapati suaminya belum mengganti pakaian. Didekatinya Raka yang sedang duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan memegang ponsel.


Kirana ikut melirik ke layar ponsel yang memampangkan foto Amanda, Raka, dan Ray. Dia menarik nafas sejenak. Tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Raka, dia pun menyentuh pundak suaminya.


"Besok kita mengunjungi Mommy. Kita beritahu kabar bahagia ini, oke?" ucap Kirana lembut.


Raka menoleh, mengulum senyum dan tidak lupa melabuhkan kecupan singkat di bibir Kirana.


Tak salah memang Raka memilih Kirana sebagai istrinya. Wanita itu tetap bersikap baik meski dahulu ibu Raka pernah memandang sebelah mata.


"By the way, kamu sengaja menggodaku dengan pakaianmu ini?" Raka bertanya dengan mata yang turun memandang gaun tidur Kirana.


"Tidak. Bukankah biasanya aku juga memakai pakaian seperti ini di depanmu?"


"Entahlah tapi kamu semakin menggairahkan sejak hamil."


Kirana tertawa, "Kamunya saja yang semakin mesum sejak aku hamil."


Raka tak menghiraukan ucapan Kirana, sebab kedua mata Raka telah tertutup kabut gairah begitu melihat lekuk tubuh indah dan juga aroma harum dari sang istri.


Raka menarik gaun tidur itu hingga tali tipis yang menjadi penyangga di bahu terlepas dengan sangat mudah. Detik berikutnya kecupan mendarat di bibir ranum Kirana.


Kecupan yang awalnya lembut perlahan menjadi sangat menuntut seiring dengan remas-an di dua aset milik Kirana. Tangan Raka sangat lembut membelai dua puncak bukit itu. Menjadikan Kirana terbuai ke nirwana dan tak bisa menahan suara desaahaan.


Tanpa melepas ciuman, Kirana dan Raka saling melepas pakaian yang melekat di tubuh mereka satu sama lain. Hingga kondisi mereka sama-sama polos.


Ciuman Raka turun mendarat ke pipi, leher, dan terus meluncur hingga akhirnya dia sengaja berlama-lama memainkan lidahnya di area favoritnya.


Suara desahaan dan erangaan menjadi musik pengiring pergulatan panas mereka. Ketika Raka hendak menyatukan miliknya dengan milik Kirana, dia tiba-tiba termangu sejenak seolah seperti baru teringat sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?"


"Sayang, apa yang kita lakukan ini tidak menyakiti anak kita?" Raka bertanya dengan raut wajah cemas.


Tadi pagi Raka lupa untuk menanyakan hal itu pada dokter saking bahagianya dia mendapati kabar Kirana hamil.


Kirana tersenyum dan menggelengkan kepala, "Tentu saja tidak, Sayang."


Tapi meskipun begitu, Raka tetap melanjutkan pergumulan panas merek dengan sangat lembut dan hati-hati. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada calon buah hatinya.


Hingga mereka berhenti setelah beberapa kali pelepasan dan keduanya tertidur dengan saling memeluk.


*


*


*


Pagi hari, sesuai rencana, Raka dan Kirana mengunjungi Amanda. Wanita paruh baya itu tengah berjemur di taman rumah sakit saat Kirana dan Raka datang.


Raka duduk di samping Amanda. Dia menggenggam erat tangan ibunya itu dan menjatuhkan kecupan di punggung tangan.


Sementara Kirana memandangi Raka dan Amanda dari jarak dua meter.


Bukan Kirana tak mau mendekati ibu mertuanya tapi Raka yang menyuruh Kirana untuk menjaga jarak dari Amanda.


Raka khawatir jika sewaktu-waktu Amanda kembali berteriak dan menyerang seperti saat kunjungan mereka sebelum menikah.


"Mom," panggil Raka yang membuat Amanda menoleh padanya.


"Sebentar lagi, Mommy akan memiliki seorang cucu."

__ADS_1


Senyum merekah di bibir Amanda. Manik matanya membelalak tanda dia terkejut tapi juga memancarkan kebahagiaan. Lantas dia memandang pada Kirana.


"Benarkah itu, Kirana? Kamu hamil?"


Kirana menganggukan kepala sambil tangan yang refleks menyentuh perut. "Iya, Mom. Sekarang usia kandunganku baru satu bulan."


Amanda mengibaskan tangan memberi isyarat agar Kirana mendekat. "Kemarilah, Kirana!"


Kirana pun melangkahkan kaki mendekati Amanda. Sementara Raka langsung menggeserkan duduknya memberi ruang pada Kirana agar dapat duduk di sampingnya.


Kemudian Amanda mengusap perut Kirana yang masih rata dengan begitu lembut karena di dalamnya ada kehidupan sang cucu pertama.


"Wah selamat ya? Tolong jaga cucu Mommy dengan baik," ucap Amanda tersenyum pada Kirana.


"Iya, Mom."


"Maka dari itu, Mommy harus berusaha agar Mommy cepat sembuh supaya Mommy bisa pulang dan bermain dengan cucu Mommy nanti," Raka berkata memberi semangat pada.


Amanda mengangguk. Apa yang dikatakan Raka memang ada benarnya. Sekarang dia kembali menemukan tujuan hidup.


Ray sudah pergi dan Amanda sadar harus menerima kenyataan itu. Lagi pula akan ada satu sosok kecil yang nanti akan menemani Amanda supaya dia tak kesepian lagi.


"Apa kehamilanmu ada masalah, Kirana?"


"Ya, mual dan muntah di pagi hari, lalu saat kemarin diperiksa dokter, tekanan darahku lumayan rendah, Mom," tutur Kirana dengan jujur.


"Kalau untuk mual di pagi hari kamu coba minum teh jahe hangat dan untuk tekanan darah rendah, kamu harus perbanyak makanan yang mengandung zat besi seperti contohnya..." Amnada berpikir sejenak. "Bayam, hati, atau ikan. Tapi ikan juga kamu jangan sembarangan makan ikan lho, Kirana."


Kirana dan Raka saling melirik dan serempak mengulum senyum. Mereka sangat bahagia melihat Amanda yang begitu perhatian dan antusias menyambut kehadiran anak mereka.


"Raka, kamu pintar masak kan? Tolong kalau kamu masak untuk Kirana harus yang matang sempurna. Jangan sampai mentah atau setengah mentah. Karen itu bahaya untuk ibu hamil," Amanda terus mengoceh dan memberi nasehat-nasehat seputar kehamilan.

__ADS_1


Sampai tak terasa waktu kunjungan telah habis dan mereka pun harus berpisah. Tapi kali ini ada yang berbeda dari Raka maupun Amanda.


Mereka yakin jika Amanda pasti akan sembuh seperti sedia kala dan kembali ke rumah menjadi keluarga yang hangat.


__ADS_2