Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
16. Ayo Kita Grebek


__ADS_3

Hari itu, Raka seakan menjadi bayangan Raya. Dia selalu menguntit ke mana pun Raya pergi. Sehingga, Raya tak punya kesempatan untuk memberi kabar pada Nakula dan Sadewa.


Sampai Raya berpamitan pulang pada Amanda. Awalnya, Raya ingin pulang naik taksi, tapi tentu saja Raka tidak mengizinkan.


Raka dan Raya berada di dalam mobil siap untuk melaju.


“Kamu mengabari keluargamu bahwa kamu menginap di rumahku kan?” tanya Raka yang langsung membuat Raya gugup.


“Hmm, tidak. Aku tinggal di kosan, sedangkan keluargaku semuanya ada di kampung. Jadi mereka tidak tahu kalau kemarin malam aku tidak pulang,” tutur Raya yang berbohong dengan sangat sempurna.


Raka mengangguk.


“Oke, jadi sekarang kosanmu ada di mana?”


Mata Raya membulat sempurna semakin gugup.


Mampus. Aku harus bagaimana? Raya.


Lama tak ada jawaban dari Raya, membuat Raka menghela napas, kemudian melajukan saja mobilnya tanpa tahu arah tujuan.


“Mumpung hari libur. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu?” usul Raka.


“Ah, ya, ide bagus,” ucap Raya pasrah.


Mereka mengendarai mobil mengelilingi jalanan kota yang padat kendaraan. Tak lama Raka menepikan mobil ke sebuah taman.


Kemudian Raka turun yang juga diikuti oleh Raya. Mereka berdua berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.


Taman itu bisa terbilang sepi untuk sebuah taman di pusat kota, hanya ada beberapa orang dewasa yang menemani anak-anak mereka bermain.


Raka langsung menghempaskan diri di sebuah ayunan. Pandangannya kosong, entah apa yang dia melamunkan.


“Dulu aku dan Ray diasuh oleh Oma, karena Mommy sibuk bekerja, dan kami sering bermain di taman ini,” gumam Raka dengan pandangan lurus ke depan.


Melihat Raka yang mulai membuka diri, membuat Raya tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia duduk di ayunan sebelah Raka. Menatap wajah pria itu secara intens.


“Tepatnya di ayunan ini, aku dan Ray pernah bertemu dengan seorang gadis kecil yang lucu,” Raka melanjutkan dan melengkungkan sebuah senyum tipis.


“Siapa? Jangan bilang Clara?” sungut Raya.


“Bukan dia. Entahlah aku juga lupa namanya. Tapi jika gadis itu tumbuh dewasa, mungkin dia seumuran denganmu.”


Raka melempar pandangan pada Raya lalu berkata, “Sekarang ceritakan tentang dirimu, Raya!”


***


“Aduh, Kak Kira di mana ya? Kita sudah geledah segala penjuru kantor tidak ada,” keluh Sunny yang sekarang sudah kembali berada di mobil bersama Nakula dan Sadewa.


Wajah ketiga orang itu, tampak lesu. Bukan karena lelah mencari Kirana, tapi lebih tepatnya karena masing-masing dari mereka sudah dapat membayangkan kemarahan Balin jika tahu Kirana hilang.


“Kira-kira mana lagi tempat yang biasa dikunjungi Kakak Kirana?” gumam Nakula yang duduk di belakang.


“Ah, mungkin Kak Kira ada di perpustakaan kota atau toko buku. Kak Kira kan senang baca buku,” celetuk Sadewa sambil fokus menyetir.

__ADS_1


“Benar. Kalau begitu tujuan selanjutnya kita ke perpustakaan kota. Nah, pertigaan depan belok ke kanan, Sad!” perintah Sunny yang membuat Sadewa merasa tersinggung.


Sadewa melirik jengah pada wanita yang duduk di sampingnya itu.


“Tidak perlu suruh-suruh, aku juga tahu jalan,” bentak Sadewa.


“Kamu kenapa sih? Seperti wanita lagi PMS saja,” cibir Sunny.


Sadewa tak menjawab, tak mau memperpanjang permasalahan dengan Sunny. Akan tetapi Sunny terus saja mengoceh akan melaporkan ke Balin jika Kirana tidak ditemukan.


Otomatis Sadewa kembali tersulut emosi.


“Bisa tidak kamu itu jangan main lapor-laporan, hah! Kita juga sedang berusaha cari Kak Kira,” seru Sadewa melotot pada Sunny.


Dan pertikaian adu mulut pun terjadi antara Sunny dan Sadewa. Sementara Nakula yang melihat pemandangan di depannya hanya bisa memutar bola mata, lalu mendesah jengah.


“Kalian itu bermusuhan terus sejak kecil. Aku sumpahin kalian berdua berjodoh,” ucap Nakula dengan santainya.


Sontak Sunny dan Sadewa melirik ke belakang.


“Apa? Aku berjodoh dengan nenek sihir?” Sadewa bergidik dan kembali fokus menyetir.


“Amit-amit.”


Sunny pula menampilkan wajah seperti mau muntah.


“Siapa juga yang mau punya jodoh pria mesum seperti Sadewa? Hih.”


“Nenek sihir!”


“Nenek sihir!”


“Hah, itu dia!” teriak Nakula tiba-tiba sambil mengacungkan jari ke sebuah arah.


Lalu serempak pandangan Sunny dan Sadewa mengikuti arah yang ditunjuk Nakula sambil bertanya, “Siapa? Kak Kira?”


“Bukan, tapi pedagang kupat tahu,” sahut Nakula seraya terkekeh.


Sadewa dan Sunny pun melirik Nakula dan menggeram marah.


“Lalu apa hubungannya pedagang kupat tahu dengan pencarian Kak Kirana?” tanya Sunny geram.


“Tidak ada. Aku cuma lapar.”


***


Dahulu Kirana mengira dia lahir dari pasangan Alexa dan Balin. Hingga suatu hari dia mendapati bahwa ibu kandungnya bernama Karina, bukan Alexa.


Namun, Balin tidak pernah menceritakan siapa ayah Kirana. Sehingga Kirana menyimpulkan sendiri jika dia memang anak dari Balin dan Karina.


Setelah meninggalnya Karina, Balin menikah lagi dengan Alexa. Setidaknya begitulah yang diyakini oleh Kirana saat ini.


Kirana menceritakan kisah itu pada Raka, dengan nama Balin dan Alexa yang disamarkan tentu saja.

__ADS_1


“Tapi ibu tirimu orang yang baik kan?” tanya Raka setelah mendengarkan Raya bercerita.


Raya mengangguk, “Aku sudah menganggap seperti ibu kandung. Dia baik seperti bidadari.”


Hening sejenak.


Raka menghela napas, dia merasa beruntung masih memiliki ibu. Hanya ibu, anggota keluarga yang dia miliki saat ini.


“Kalau aku boleh tahu, apa yang menjadikan Ray meninggal?” tanya Raya setengah ragu-ragu.


“Dia menjadi korban tabrak lari,” sahut Raka singkat.


“Maaf.”


Raka mengangguk pelan.


“Tidak apa-apa.”


Kemudian Raka menatap Raya, dan mendekatkan wajahnya mengikis jarak di antara mereka berdua.


***


Kembali lagi pada Sunny, Sadewa dan Nakula yang berada di dalam mobil dengan kecepatan lambat.


Nakula semakin dibuat bosan dengan tingkah dua orang di depannya yang sejak tadi berdebat. Dia melempar pandangan ke sebuah taman yang kebetulan sedang mereka lewati.


Bola mata Nakula membulat seketika saat menangkap dua sosok yang dia kenal sedang duduk di sebuah ayunan.


“Hah, itu dia!” tunjuk Nakula.


Namun, kali ini baik Sunny maupun Sadewa tidak mau terpedaya lagi oleh Nakula. Mereka malah melirik tajam pria yang duduk di belakang mobil itu.


“Kali ini apa? Pedagang bubur ayam?” ketus Sadewa.


“Bukan.”


“Pedagang seblak?” tebak Sunny tak kalah ketus.


“Bukan. Itu lihat! Kak Kira.”


Lalu Sunny dan Sadewa memutarkan kepala untuk melihat orang yang ditunjuk Nakula.


Ternyata benar. Kirana ada di taman duduk di ayunan bersama seorang pria.


Mereka lega akhirnya bisa menemukan kakak mereka, sekaligus terperangah ketika melihat sebuah adegan ciuman.


Terlebih Sunny, yang menjerit hingga memekakan telinga Nakula dan Sadewa. Pasalnya, Sunny adalah orang yang mudah terbawa perasaan ketika melihat adegan romantis.


Seperti sekarang ini, di tengah taman sana, Kirana sedang berciuman dengan Raka.


“Berisik! Bisa diam tidak?”


“M-mereka ciuman,” ucap Sunny dengan tatapan terpana.

__ADS_1


“Terus kenapa kalau mereka ciuman? Kamu juga mau dicium?” tanya Sadewa dengan nada garang.


“Kita ketar-ketir mencari Kak Kira. Eh, Kak Kiranya malah asyik pacaran. Ayo kita grebek, Sadewa,” geram Nakula hendak keluar dari mobil.


__ADS_2