
Flashback on.
Dua tahun yang lalu.
Alexa terbangun dan mendapati suaminya belum kunjung pulang kerja.
Tangan Alexa terjulur meraih ponsel di atas nakas, dan betapa terkejutnya dia melihat jam yang ditunjukan oleh alat pintar itu.
Sudah tengah malam, namun Balin belum sampai rumah.
Kekhawatiran Alexa mengalahkan rasa sakit yang sedang dia derita, dia duduk di atas tempat tidur dan mencoba menghubungi sang suami.
Telepon itu langsung terhubung hanya dalam satu panggilan. Membuat Alexa sedikit lebih lega.
“Balin, kamu ada dimana? Kenapa belum sampai rumah?” tanya Alexa penuh kecemasan.
“Iya, Alexa, aku sedang berada di jalan. Lima belas menit lagi sampai kok.”
“Oke, aku tunggu. Aku tiba-tiba merasa cemas sekali. Hati-hati dalam mengendarai mobilnya, Sayang,” ucap Alexa lembut.
Di seberang sana terdengar Balin yang terkekeh.
“Iya, aku pasti hati-hati. Kamu sendiri kenapa belum tidur? Apa demamnya semakin tinggi?”
“Suhu tubuhku sudah menurun setelah meminum obat,” jawab Alexa.
“Maafkan aku. Di saat kamu sakit, aku malah kerja lembur,” ucap Balin dengan nada menyesal.
“Tidak apa-apa. Cepatlah pulang, Balin! Perasaanku tidak enak.”
“Baiklah. Aku akan mengebut sekarang. Kurang dari lima belas menit aku sudah ada di sampingmu. Bye, istriku.”
Tut.
Panggilan telepon ditutup oleh Balin. Padahal Alexa baru saja hendak memperingatkan suaminya agar jangan mengebut.
Alexa membaringkan dirinya ke tempat tidur sambil berdoa agar Balin selamat sampai rumah. Sejak terbangun, perasaannya menjadi tidak tenang.
Bukan karena dia sedang sakit demam, tapi entahlah…
Ada sesuatu yang mengganjal di hati.
Lima belas menit telah berlalu, perasaan Alexa semakin tidak tenang begitu Balin belum juga datang.
Dia tetap setia menunggu hingga setengah jam.
Empat puluh lima menit…
Satu jam…
Dan satu setengah jam berlalu, barulah terdengar suara derap langkah kaki, lalu pintu kamar pun terbuka.
Alexa senang Balin pulang dalam keadaan selamat. Mungkin hanya perasaannya saja yang membuat dia tidak tenang.
Namun, di saat Balin mendekat untuk memberi kecupan, Alexa menyadari jas kerja yang digenakan suaminya kotor oleh noda darah.
“Balin, ada darah di jasmu. Apakah kamu terluka?” tanya Alexa panik.
__ADS_1
Balin mengecup kening istrinya.
“Tidak usah dipikiran, istirahatlah! Aku ingin mandi dulu.”
Kemudian, Balin melepaskan pakaian, menaruhnya di keranjang kotor, lalu masuk ke kamar mandi.
Rasa penasaran Alexa mendorong dia untuk mengecek sekali lagi jas milik suaminya. Dia yakin betul bahwa yang tadi dilihatnya adalah noda darah.
Alexa mengambil jas dari keranjang kotor, dan di saat itu pula sebuah amplop coklat terjatuh.
Dia memungut amplop itu, lalu membuka isinya yang ternyata sebuah surat pembayaran administrasi rumah sakit atas nama pasien Rayyan Abimanyu.
Flashback off
“Apa dia Ray yang kamu maksud, Kirana?” tanya Alexa setelah mengakhiri ceritanya.
Kirana diam sejenak. Dia perlu memastikan kalau Rayyan Abimanyu yang ada di surat itu adalah benar adiknya Raka.
“Apakah Mama masih menyimpan surat itu?”
“Iya, masih. Surat itu Mama simpan di laci kedua meja rias Mama.”
Alexa membuka mulut untuk melanjutkan ceritanya namun, saat itu juga ada seseorang yang memanggilnya.
Tampaknya orang tersebut memiliki urusan penting, sehingga mau tak mau Alexa harus mengakhiri obrolan bersama Kirana.
Kirana berdecak, lalu bangkit berdiri untuk memakai baju.
Dia nyaris lupa bahwa ada Raka yang tengah menunggunya di ruang tamu. Dia pun pergi menemui pria itu setelah memakai baju dan menyisir rambut.
“Menunggu lama ya?” tanya Raya pada Raka yang sedang memunggunginya.
Manik mata Raka meneliti dari ujung kaki lalu naik hingga ke atas kepala Raya yang merasa canggung akan tatapannya.
Protes yang hendak Raka lontarkan, ditelan mentah bersamaan dengan tertelannya saliva.
“Raya, baju yang aku belikan untukmu sangat cocok untukmu,” ucap Raka lirih.
“Benarkah?” tanya Raya menunduk untuk melihat pakaiannya.
“Baju mahal tentu saja cocok dipakai siapa saja,” kata Raya merendah.
“No. Baju itu memang cocok untukmu. Kamu terlihat sangat cantik.”
Raya tidak bisa untuk tidak tersenyum. Pipinya terasa panas. Pasti sekarang sudah semerah kepiting rebus.
Dia begitu bahagia mendapatkan pujian tulus dari pria yang dicintainya.
“Jadi, kamu mau pulang?”
“Seperti apa kataku tadi. Aku akan pulang hanya jika kamu menciumku.”
Ya, sebaiknya kamu pulang, Raka, karena aku juga harus pulang ke rumah untuk mencari surat yang dimaksud Mama. Batin Raya.
“Tapi janji setelah aku menciummu, kamu harus pulang.”
“Janji.”
__ADS_1
Raka memajukan kepala yang sengaja dimiringkan ke kiri, berharap Raya akan mendaratkan ciuman di pipi.
Tapi pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Karena nyatanya Raya melingkarkan lengan di leher Raka, lalu melu**t bibirnya hingga pria itu tersentak kaget.
Meskipun begitu, Raka secepat mungkin mampu mengimbangi ciuman itu, tangannya ikut melingkar di pinggul Raya, dan sangat menikmati setiap detik yang berlalu.
Mereka saling memilin lidah, mengecap, hingga bertukar saliva. Entah berapa lama waktu telah berlalu, meraka pun tak tahu.
Satu tangan Raka memegangi tengkuk Raya, kemudian perlahan membaringkannya ke atas sofa tanpa melepas tautan bibir.
Ciuman semakin panas seiring berjalan waktu, hingga keduanya saling melepas karena kehabisan nafas.
Raka membuka mata dan melihat Raya yang mengulum senyum di bawah kungkungannya.
“Anggap saja aku telah menciummu dua kali,” ucap Raya.
“Tidak bisa. Yang tadi tetap dihitung satu kali. Sekarang cium aku lagi!”
“Aku tidak mau.”
“Kalau begitu aku akan menginap di sini.”
Apa boleh buat. Raya mencium sekilas bibir Raka.
“Sudah.”
Raka menaikan satu alisnya.
“Sepertinya kamu ingin sekali aku pergi.”
“Aku mau istirahat, Raka,” bual Raya agar Raka percaya padanya.
Raka bangkit berdiri disusul oleh Raya juga. Dia meraih kunci mobil yang tadi digeletakan di atas meja.
Sebelum Raka benar-benar melewati pintu, dia memutar badan untuk melihat sekali lagi kekasihnya yang cantik.
“Aku peringatkan kamu, Sayang. Jangan pergi dari apartemen kecuali untuk bekerja. Jika ada perlu sesuatu, katakan padaku. Dan.”
Raka mengacungkan jari telunjuk, tanda dia sedang memperingatkan Raya.
“Tidak boleh meninggalkan apartemen tanpa seizin dariku.”
Mendengar titah dari pacarnya, Raya hanya bisa terkekeh, dan mengangguk menyetujui.
Raka, Raka, kamu itu pacar tapi rasa suami. Gumam Raya di dalam hati.
“Good girl,” kata Raka mengecup kening Raya. “Aku pergi dulu. Sampai ketemu di kantor.”
Raya hanya bergumam sebagai jawaban, menatap kepergian Raka. Dia tetap menunggu di ruang tamu sampai setengah jam berlalu.
Kemudian, Raya mengambil baju hangat untuk bersiap keluar dari apartemennya.
Begitu langkah kakinya menatapi halaman luar gedung, dia hendak memanggil taksi yang parkir di pinggir jalan. Dia harus secepatnya pulang ke rumah.
Namun, sebuah tangan menahan lengan Raya. Menjadikan gadis itu berhenti dan membalikkan badan untuk melihat sang empunya tangan.
__ADS_1
“Kamu mau kemana?” tanya sebuah suara sedingin malam.