Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
63. Bertemu Clara


__ADS_3

Pagi hari, Alexa menutup sambungan telepon setelah perbincangan panjang dengan Alan, kakak pertama Alexa. Tepat bersamaan dengan Balin yang baru saja keluar dari walk in closet.


Alexa menghampiri Balin, membantu merapikan jas yang digunakan suaminya, dan seketika satu kecupan mendarat di dahinya. Membuat Alexa tersenyum dan mendongak menatap Balin.


"Apa kata Kak Alan?" Balin bertanya.


Alan merupakan kakak pertama Alexa yang pernah tinggal di Amerika dan bertetangga dengan Harsa Russell. Sehingga Alexa berinisiatif mencari informasi tentang Hardi melalui Alan.


Alexa sangat penasaran akan sosok Hardi. Mengingat Alexa hanya mengenal Harsa, dan tidak pernah mendengar kabar jika Harsa memiliki saudara kembar.


"Kak Alan bilang, Harsa memang memiliki saudara kembar. Tapi saat remaja dia kabur dari rumah dan tidak pernah kembali sejak saat itu."


Balin menarik nafas setelah mendengar penjelasan Alexa.


"Aku tidak menyangka Kirana lebih dulu tahu jika aku bukan Papa kandungnya," Balin bergumam dengan tatapan kosong.


Alexa mengelus punggung Balin, sambil menyenderkan kepala di bahu sang suami.


"Tampaknya Kirana bisa mengerti kenapa kita tidak mengatakan yang sebenarnya. Sudahlah, lebih baik kita sarapan. Anak-anak pasti sudah menunggu."


Lantas sepasang suami istri itu bergandengan tangan menuju ruang makan. Di sana sudah ada ketiga anak mereka yang duduk menanti kedatangan mereka.


Suasana sarapan pagi berjalan seperti biasa. Tak ada satupun orang yang membahas kejadian tadi malam. Atau lebih tepatnya mereka memang sengaja tidak ingin membahas lagi.


Mulai hari ini, Kirana telah berhenti bekerja sebagai office girl. Namun, Nakula dan Sadewa tetap bekerja membantu mengurus perusahaan.


"Pa, hari ini aku akan menemui Hardi dan Clara," ungkap Kirana tiba-tiba.


Terlihat Balin sedikit tersentak. Bahkan semua orang menghentikan aktivitas mereka sejenak dan melirik tak percaya pada Kirana.


Lalu Balin menganggukan kepala. Tanda dia mengizinkan Kirana untuk pergi menemui Hardi dan juga Clara. Balin berusaha untuk tidak egois. Bagaimanapun mereka juga keluarga Kirana.


"Tapi kau harus ditemani oleh Ken dan Daniel," ucap Balin setelah dia meneguk minumannya.


"Bagaimana kalau Mama juga ikut menemani? Kebetulan Mama juga tidak ada kegiatan di rumah."


Kirana tersenyum dan mengangguk, "Tentu boleh, Ma."


***


Mobil yang ditumpangi Kirana dan Alexa berhenti di area parkir kantor polisi. Begitu turun dari mobil, pupil mata Kirana melebar saat melihat mobil lain yang terparkir tepat di sampingnya.


Kirana mengenali mobil yang tak lain dan tak bukan adalah milik Raka.

__ADS_1


Seketika pria berjas hitam semi formal turun dari mobil. Dia melepas kacamata hitamnya saat bertemu dengan Kirana dan Alexa. Gurat terkejut tampak jelas di wajahnya.


Padahal Raka tak membuat janji dengan Kirana tapi secara kebetulan mereka datang ke kantor polisi di waktu yang sama. Raka menundukkan kepala saat menyapa Alexa dan juga Kirana.


"Raka, kamu tidak bekerja hari ini?" Alexa bertanya.


"Saya izin mengambil cuti, Nyonya."


Alexa mengangguk lalu kembali bertanya, "Kamu ingin menemui Clara?"


"Iya, Nyonya Alexa. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Clara."


"Kalau begitu, masuklah ke dalam bersama Kirana. Aku ada sesuatu yang tertinggal di rumah." Alexa mendorong pelan punggung Kirana agar maju mendekati Raka.


"Apa yang tertinggal, Ma?" tanya Kirana heran.


Alexa tersenyum. Di benaknya tercetus sebuah ide untuk Kirana dan Raka. Namun, dia tak mau mengatakannya sekarang.


"Sesuatu. Sudah sana masuk ke dalam. Nanti Mama balik lagi ke sini."


Ken membukakan pintu untuk Alexa yang masuk kembali ke dalam mobil. Lalu Raka dan Kirana berjalan beriringan. Keduanya sama-sama masih canggung dan menjaga jarak.


Setelah Kirana berkata jujur akan jati diri yang sebenarnya pada Raka, sikap mereka sedikit mengalami perubahan.


Raka lebih sering menunduk saat bola matanya beradu pandang dengan Kirana, dan Kirana juga mengambil sikap diam, dia ingin memberi waktu pada Raka untuk dapat menerimanya kembali.


Clara duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Raka. Wanita itu telah memakai seragam orange yang tampak terlalu besar untuk ukuran tubuhnya.


Clara menggigil meski cuaca hari ini tidak dingin. Dia menatap Raka penuh damba, dan terlihat sangat ingin memiliki pria itu.


"Mommy sekarang kembali depresi. Apakah kamu puas?" Raka bertanya sambil melayangkan tatapan mengintimidasi.


"Raka, tabrakan itu sebuah kecelakaan. A-aku tidak sengaja menabrak Ray waktu itu. Aku mohon maafkan aku," kilah Clara.


Brak.


Sontak Raka menggebrak meja yang membuat Clara dan Kirana terlonjak kaget. Nafas Raka terengah, dan wajahnya mengerut marah.


"Kamu pandai sekali memutar balikkan fakta."


"Aku tidak berbohong, Raka. A-aku tidak sengaja."


Raka menyeringai, "Kalau kamu tidak sengaja, kenapa kamu malah meninggalkan Ray sendirian dalam keadaan terluka parah?"

__ADS_1


Glek.


Clara menelan salivanya. Dia kehabisan akal untuk dapat membatah.


"Kenapa Tuan Balin yang membawa Ray ke rumah sakit? Yang padahal saat itu, Tuan Balin belum mengenal Ray. Kenapa bukan kamu yang langsung membawa Ray?"


Clara menggigit bibir bawahnya, terisak, dan menangis seketika itu. Dia menangkupkan kedua telapak tangan di wajah.


"Sudah tidak ada gunanya lagi kamu berbohong. Katakan saja sejujurnya, Clara!" kata Kirana berusaha membujuk Clara.


"A-aku minta maaf, Raka. Ray ingin mencoba memisahkan aku denganmu. Kamu tahu sejak dulu aku sangat mencintaimu. Aku terpaksa melakukannya," ungkap Clara pada akhirnya.


"Hanya karena itu?" tanya Raka terheran.


Perlahan Clara menganggukan kepala. Tubuhnya semakin bergetar hebat karena takut ditatap oleh Raka.


"KAU GILA! DASAR KAU WANITA GILA!"


Teriakan Raka membahana ke segala penjuru ruangan. Sambil bangkit berdiri, Raka kembali menggebrak meja yang membuat petugas di sana memberi peringatan padanya.


Kirana menekan pundak Raka, meminta pria itu untuk duduk, dan mengelus punggung tangan Raka agar sedikit lebih tenang. Namun, tangan Kirana dan Raka yang saling menumpu dilirik oleh Clara dengan sinis.


"Aku akan pastikan kamu dihukum seberat-beratnya, Clara. Sekalipun kamu bebas dari penjara, akan aku buat hidupmu menderita sampai ajal menjemput. Campak itu, Clara," ucap Raka penuh penekanan.


Meskipun Clara membenci Kirana, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia mau melakukan apa saja asal Raka memaafkannya, dan mungkin cara yang satu ini dapat membuatnya lepas dari hukuman.


Clara menjatuhkan dirinya di depan Kirana, bersimpuh dan mencium kaki Kirana. Menjadikan Kirana merasa tidak nyaman.


"Kirana, tolong bantu aku! Daddy bilang kita saudara. Jadi mohon bebaskan aku dari sini, Kirana."


"Clara, berdiri! Jangan seperti ini!" pinta Kirana mengedarkan pandangan merasa tak enak dilihat petugas yang ada di sana.


Clara tak menggubris, dia hanya mendongakkan kepala dengan badan yang masih bersujud.


"Aku mohon, Kirana. Aku tersiksa berada di sini. Aku adik sepupumu, Kirana. Apa kamu tega melihat aku tersiksa?" 


Rengekan Clara semakin menjadi. Raka mengerti Kirana tidak nyaman akan tingkah Clara yang kekanak-kanakan itu. Sehingga dia memanggil petugas untuk segera mengembalikan Clara ke dalam sel.


Clara menjerit dan memberontak saat dia diseret oleh dua orang polisi.


Kemudian, Raka mengajak Kirana keluar dari sana. Akan tetapi Kirana menolak.


"Raka, kamu tunggu saja di luar. Aku ingin bicara empat mata dengan Hardi."

__ADS_1


"Apa kamu yakin ingin bicara dengannya?" Raka bertanya memastikan kesungguhan Kirana.


"Aku yakin. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padanya."


__ADS_2