
Dengan perasaan gundah gundala, Raka mengantarkan Raya ke tempat spa yang menjadi tempat berkumpulnya geng bunder.
Amanda dan kawan-kawan sudah menunggu tak sabar di sana.
Sebelumnya, dari jauh-jauh hari, Raka telah memberitahu siapa saja anggota geng bunder dan bagaimana Raya harus bersikap dengan mereka.
Semua Raka lakukan agar Raya tidak canggung saat berkumpul dengan geng bunder. Namun, tetap saja Raka masih dilanda kegelisahan.
Bagaimana kalau mereka tahu jika Raya bukan putri dari Tuan Balin? Batin Raka saat menyetir mobil.
Ah, sudahlah. Kata Mommy, semua anggota geng bunder belum ada yang pernah bertemu dengan Nona Kirana. Itu artinya mereka tidak ada yang tahu rupa Nona Kirana kan?
Begitu mobil berhenti, Raka dan Raya tak langsung turun. Raka menatap Raya, lalu mengeluarkan sebuah kartu.
“Apa ini?” tanya Raya pura-pura tidak tahu.
“Black card. Pakai ini agar mereka yakin kamu adalah orang kaya.”
Sontak Raya tertawa, lalu mendorong kartu di genggaman tangan Raka.
“Tidak perlu,” kata Raya singkat.
“Sayang, kamu tidak tahu anggota geng bunder itu seperti apa. Mereka hanya mau berteman dengan orang berduit. Terlebih lagi Madam Marleen, si ketua geng,” jelas Raka dengan nada gelisah.
“Tidak perlu khawatir, Raka! Aku bisa melakukan dengan caraku sendiri,” kata Raya menepuk bahu Raka agar sedikit tenang.
“Oke, kalau itu kemauanmu,” Raka menghela nafas panjang, mencoba untuk tetap tersenyum.
“Aku turun sekarang.”
Raka mengangguk, “Good luck, Sayang. Aku akan menjemputmu jika sudah selesai.”
Raya turun dari mobil, melangkah untuk bergabung dengan geng bunder. Pertama, dia disambut hangat oleh Amanda yang mencium pipi Raya kanan kiri.
Amanda memperkenalkan satu per satu anggota geng bunder yang sesungguhnya Raya telah tahu mereka dari penjelasan Raka beberapa hari yang lalu.
Madam Marleen, wanita paruh baya yang bersuami dengan pemilik toko perhiasan ternama tampak sinis saat berjabat tangan dengan Raya.
Seperti yang dikatakan Raka, wanita itu meneliti penampilan Raya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
Semua yang Raya kenakan merupakan barang-barang mahal. Tentu saja, karena semua adalah pilihan Raka.
Raka tidak mau kekasihnya dipermalukan oleh Madam Marleen, sehingga dia membuat Raya tampak cantik tanpa ada celah untuk dicemooh.
“Tunggu dulu, aku masih ingat betul Tuan Balin dan Nyonya Alexa pernah membeli perhiasan untuk putri mereka yang bernama Kirana. Ya, namanya Kirana, bukan Raya,” kata Madam Marleen yang dapat mencium bau-bau kebohongan.
Semua anggota geng bunder menegang, terutama Amanda, dan mereka menanti jawaban dari Raya yang tetap terlihat tenang.
“Nama saya memang Kirana Putri Mahendra, Tante, tapi Raka sering memanggilku dengan nama Raya,” Raya berdeham. “Itu panggilan sayangnya Raka.”
Serempak anggota geng bunder menjerit.
__ADS_1
“Anakmu romantis sekali, Jeng Amanda.”
“Siapa dulu Mommy nya,” kata Amanda terkekeh.
“Jadi kita panggilnya siapa nih? Raya atau Kirana?”
“Yang mana saja boleh, Tante,” jawab Raya yang membuat semua orang tergelak, kecuali Madam Marleen.
***
Di ruangan yang diterangi lilin aroma terapi, Raya dan seluruh anggota geng bunder tengah merasakan pijatan dari para profesional.
Seperti biasa mereka bercengkrama banyak hal. Dari gosip artis hingga pembicaraan tentang jual beli berlian.
Akan tetapi kali ini ada yang sedikit berbeda.
Semua menoleh pada Raya. Satu per satu memberikan Raya pertanyaan layaknya wartawan akun gosip.
Raya menjawab setiap pertanyaan dengan pesona yang anggun bak wawancara dalam ajang miss world. Menjadikan Raya pusat perhatian geng bunder dalam sekejap.
Sementara itu, Madam Marleen diam memberengut. Biasanya dia yang menjadi pusat perhatian tapi kini terkalahkan oleh seorang gadis yang dibawa oleh Amanda.
“Raya ini cocok lho jadi menantumu, Jeng Amanda,” bisik anggota geng bunder bernama Annabel yang kebetulan terdengar oleh Madan Marleen.
“Masa sih, Jeng?”
“Iya. Daripada Clara, mending yang ini saja. Iya kan, Madam Marleen?” Annabel meminta persetujuan Madam Marleen.
Seketika semua orang terdiam, dan berpaling pada Madam Marleen yang berwajah masam.
“Lho kenapa?”
“Karena dia lebih cocok jadi menantu saya,” seru Madam Marleen yang membuat semua geng bunder mengerutkan dahi.
“Menantu? Memang mau dinikahkan dengan siapa?” tanya Annabel.
“Tentu saja dengan putra semata wayang saya, Jeng.”
Detik berikutnya semua orang tergelak mendengar perkataan Madam Marleen. Semua anggota geng tahu, anak dari Madam Marleen telah memiliki dua istri.
“Terus Raya ini akan jadi istri ketiga, begitu? Tidak. Mending dengan anak saya saja,” seru anggota geng bunder yang Raya ingat bernama Jennifer.
“Eh, jangan! Anak saya saja. Lebih tampan,” ucap anggota yang lain.
“Raya, nanti seandainya kamu putus sama Raka bilang ya? Nanti Tante kenalkan dengan anak Tante. Ganteng lho, mirip artis korea.”
“Jangan percaya, Raya! Sama anak Tante saja.”
“Anak saya.”
“Tidak, anak saya saja.”
__ADS_1
Raya yang melihat kerusuhan ibu-ibu di hadapannya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kok malah jadi rebutan calon menantu sih.
***
Di perjalanan pulang, Raka tergelak saat mendengar cerita kalau Raya menjadi rebutan oleh anggota geng bunder.
Dia melirik sebentar pada Raya, lalu kembali fokus menyetir mobil.
Senyum berkembang di bibir Raka. Namun, senyum itu tak bertahan lama karena wajahnya mendadak menegang.
Dan perubahan ekspresi itu terlihat jelas oleh Raya.
“Ada apa, Raka?”
Raka menghela nafas sejenak.
“Raya, apakah kamu pernah melihat rupa Nona Kirana?” tanya Raka tetap lurus ke depan.
Dengan ragu-ragu, Raya menggelengkan kepala.
“Belum. Kamu sendiri?”
“Aku juga belum. Aku sedang berpikir, bagaimana reaksi Nona Kirana kalau dia tahu kamu mengaku-ngaku sebagai dirinya? Pasti dia akan marah pada kita.”
Raya langsung mengulum bibir. Sebisa mungkin dia menahan diri untuk tertawa.
“Tidak mungkin Nona Kirana marah,” kata Raya tersenyum.
“Kamu yakin?”
Raya mengangguk sebagai jawaban.
“Kenapa kamu begitu yakin Nona Kirana tidak akan marah?”
Karena akulah Kirana Putri Mahendra, Raka. Jawab Raya yang hanya diucapkan dalam hati.
***
Amanda duduk di tempat tidur dengan posisi kaki selonjor dan tangan yang terus menggeser foto-foto di ponsel.
Dia memilih foto mana dari puluhan foto dirinya dengan geng bunder yang bagus untuk diunggah di sosial media.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengunggah foto yang menampilkan dengan jelas Raya bersama geng bunder.
Menurutnya, pertemuan dengan putri CEO Irawan Group itu sangat berkesan dan harus dipamerkan ke publik, yang padahal Amanda belum meminta persetujuan terlebih dahulu dengan Raya.
Amanda juga menuliskan caption di foto itu.
Geng Bunder bersama Nona Kirana, putri CEO Irawan Group.
__ADS_1
Setelah itu, Amanda meletakan ponselnya di atas nakas, dan siap mengarungi alam mimpi.