
Kirana menggunting gelang tanda pengenal pasien, lalu menyimpannya di bawah bantal. Dia melakukan itu karena sebentar lagi Raka akan tiba menemuinya.
Kirana menang dari hasil voting. Sehingga, dia tetap berperan sebagai Raya, sang office girl.
Kemudian, terdengar suara ketukan pintu, dan Raka muncul setelah Kirana mempersilahkan masuk.
Raka dan Kirana saling bersitatap untuk beberapa saat yang lama. Sampai tautan pandangan mereka putus saat Kirana membuang muka.
Entah kenapa tingkah Kirana itu, membuat Raka semakin mengutuk dirinya sendiri.
“Raka, kamu yang telah menaruh racun di kopi Tuan Balin, kan? Kamu telah salah paham. Tuan Balin bukan orang yang menabrak Ray,” kata Kirana yang masih belum mampu menatap Raka.
“Tidak, Raya. Kamu yang salah paham padaku. Aku tidak menaruh sesuatu pada kopi itu,” ungkap Raka.
Benar dugaan Raka, bahwa Raya pasti mengira dirinya menaruh dendam pada Tuan Balin atas kematian Ray.
Raka berjalan melewati ruangan, ingin dia mendekap tubuh Raya, dan mengucapkan maaf seribu kali agar gadis itu percaya padanya.
“Tapi aku lihat sendiri kamu mengaduk kopi itu saat aku mencari nampan,” protes Kirana.
Raka menggeleng.
“Aku mengaduk kopi itu untuk melihat apa yang telah Neneng masukan. Maafkan aku, Raya. Seharusnya aku memberitahumu. Aku tidak mengira yang dicampurkan Neneng itu adalah racun.”
“Kamu jangan menuduh Neneng!” seru Kirana.
“Aku tidak menuduh, Raya,” protes Raka menepis tuduhan.
“Siapa pun orang itu, kita akan segera mengetahuinya,” sela Balin yang ternyata duduk di salah satu sudut ruangan bersama Alexa.
Raka sedikit terlonjak dengan keberadaan Balin dan Alexa di sana. Sejak tadi dia fokus memandang Raya.
Raka pun membungkuk untuk memberi salam pada Balin yang bangkit dari duduknya.
Tak lama, ponsel milik Balin berdering. Dia menerima telepon dari Nakula. Sedangkan Raka dan Raya saling lirik tidak sabar menunggu informasi.
“Kirimkan salinan rekaman itu ke Papa!” titah Balin sebelum akhirnya dia menutup telepon.
Lalu Balin menunjukan pada semua orang rekaman CCTV yang memperlihatkan Neneng berjalan mengendap memasuki pantry saat Raya sibuk mencari nampan.
Terlihat dengan jelas juga, Neneng memasukan sesuatu pada cangkir kopi yang dipersiapkan Raya.
Selanjutnya, persisi apa yang dikatakan Raka. Pria itu berpapasan di pintu dengan Neneng. Dia tampak curiga, namun perhatian Raka segera teralihkan pada Raya saat namanya dipanggil.
Balin membiarkan video itu terus berputar hingga memperlihatkan saat Raka dan Raya berciuman. Lalu dia melirik pada putrinya dan menaikan alis.
__ADS_1
Raya hanya bisa menunduk malu. Malu karena telah salah menilai Raka, dan malu karena Balin melihatnya berciuman.
“Jadi, sudah jelas Neneng yang menaruh racun,” ucap Balin menutup ponselnya.
“Tapi kenapa Neneng? Dia gadis polos. Pasti dia telah dijadikan kambing hitam oleh seseorang,” gumam Raya lirih.
“Tuan, saya minta izin untuk menemani Raya di sini. Dia merantau dari desa, dan tidak punya kerabat yang tinggal di kota,” jelas Raka memohon pada Balin.
Balin sendiri melirik Alexa yang juga balik menatapnya. Andaikan saja Balin tidak kalah voting, saat itu juga dia akan mengatakan bahwa dia adalah ayahnya Raya..
Balin melempar pandangan lagi pada Raka yang menanti jawabannya.
“Tidak. Setelah ini kamu kembali bekerja. Istriku yang akan menjaga Raya.”
Raka menghela nafas sedikit kecewa, lalu dia memandang Raya dan meraih tangannya.
“Kamu baik-baik di sini. Nanti aku akan kembali.”
“Aku minta maaf telah menuduhmu,” ungkap Raya penuh penyesalan.
“Tidak masalah. Lekas sembuh, Sayang,” kata Raka yang kemudian mengecup punggung tangan Raya.
Sontak pipi Raya bersemu merah. Bagaimana tidak? Raka tak malu menunjukan kemesraan di hadapan ayah dan ibu Raya.
“Raka, aku malu. Ada Tuan Balin dan Nyonya Alexa,” bisik Raya.
“Tidak apa-apa. Mereka juga pernah muda.”
***
Selepas Raka dan Balin pergi, kini yang ada di ruang rawat inap VVIP tersisa Alexa dan Kirana. Mereka bercengkrama layaknya dua orang sahabat.
Kirana tanpa rasa canggung menceritakan kisah asmaranya pada Alexa.
Bagi Kirana, Alexa adalah ibu sekaligus sahabat terbaiknya. Sehingga tidak heran dia curhat tentang percintaannya dengan Raka.
“Raka itu cemburu sekali jika aku dekat dengan Nakula atau Sadewa, padahal mereka itu kan adik, Ma,” tutur Kirana.
Alexa terkekeh.
“Itu karena Raka tidak tahu kalau kamu adalah Kirana, Sayang,” sahut Alexa sambil mengelus rambut Kirana.
“Dulu Papa juga begitu tidak, Ma?”
“Iya, Papa juga orangnya cemburuan. Tampaknya semua laki-laki memang seperti itu kali ya?”
__ADS_1
Dan kedua wanita berbeda generasi itu pun tergelak.
“Dulu Mama pernah menyimpan rahasia ke Papa tidak?’ tanya Kirana penasaran akan masa muda orang tuanya.
“Pernah,” jawab Alexa singkat.
“Salah tidak sih kalau aku berbohong pada Raka soal identitasku yang sebenarnya? Sisi baiknya, aku jadi tahu kalau Raka itu sayang tanpa melihat latar belakangku, iya kan, Ma?”
Alexa menarik nafas panjang. Dia menatap manik mata Kirana dengan serius, dan perlahan tangannya menggenggam tangan milik Kirana.
“Kirana, saran dari Mama, sebaiknya kamu katakan pada Raka siapa kamu sebenarnya. Sebelum Raka tahu dari orang lain.”
“Tapi aku belum siap, Ma”
Sekilas bibir Alexa melengkungkan senyum getir.
“Kirana, belajar dari kesalahan Mama dulu, Papa kamu pernah pergi meninggalkan Mama saat dia tahu Mama berbohong.”
***
Di ruangan CEO, Balin telah kembali dari rumah sakit. Didampingi oleh Nakula, Balin menatap tajam pada salah satu karyawannya bernama Neneng.
Neneng kini duduk dengan kepala menunduk. Tak mampu dia mengangkat kepala. Jemarinya saling bertaut untuk menyembunyikan tubuhnya yang gemetaran.
Neneng menelan salivanya. Dia tahu ini akan terjadi. Dia dipecat dan pulang kampung sambil menanggung malu.
Membayangkan saja, membuat Neneng meneteskan air mata.
“Saya minta maaf atas apa yang telah saya lakukan, Tuan. Niat saya cuma menjahili Raya,” kata Neneng masih dalam posisi menunduk.
“Kamu tahu, candaanmu itu bisa membuat nyawa orang meninggal dunia,” seru Balin yang sebisa mungkin menahan amarah yang bergejolak.
“Neneng khilaf, Tuan.”
Ingin rasanya Neneng mengungkapkan pada Balin, jika semua itu adalah ide dari Mae. Dia hanya disuruh Mae untuk menaruh sebuah serbuk putih mirip gula ke dalam kopi yang dibuat oleh Raya.
Akan tetapi Neneng takut dan teringat ancaman yang jika dia melibatkan Mae, dia akan dibegal oleh preman pasar yang menjadi teman Mae.
Sementara Balin tetap diam menatap Neneng. Dia diam bukan karena kehabisan kata-kata, melainkan, tengah mengontrol emosinya.
“Saya janji tidak akan mengulanginya lagi, Tuan. Mohon maafkan saya.”
“Saya memaafkanmu dan kamu memang tidak akan mengulangi perbuatanmu lagi,” ucap Balin yang membuat Neneng mendongak dan mengulas senyum.
Neneng mengira Balin tidak akan memecatnya. Namun, tak lama Neneng harus menelan pil pahit saat Balin melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
“Kamu tidak akan mengulangi perbuatanmu lagi karena mulai besok kamu sudah tidak lagi bekerja di sini. Neneng, kau dipecat!”