
"Papa kandungmu adalah Harsa Russell. Bukan Balin Mahendra."
Kirana menatap lekat Hardi. Dia tak mau terlihat lemah di depan pria yang kini melotot padanya. Maka dia pun membalas tatapan itu tak kalah tajam.
"Aku memang sudah tahu."
Pengakuan Kirana membuat Balin tersentak, lalu memalingkan wajah pada gadis yang telah dia rawat sejak bayi. Seketika rasa sesak memenuhi dada Balin.
"Aku bukan wanita bodoh yang tidak tahu ayah kandungku sendiri."
Sejak dulu, Kirana memang merasa ada yang aneh sebab tak pernah dia temukan foto pernikahan Balin dengan ibu kandungnya, Karina. Sehingga dia menyimpulkan sendiri bahwa mungkin saja Balin memang tak pernah menikahi Karina. Balin hanya menikah dengan Alexa.
Itu berarti Kirana bukan anggota keluarga Mahendra.
Akan tetapi kasih sayang Balin padanya seolah menampik dugaan itu, dan dia akan tetap menganggap Balin ayah kandungnya sekalipun suatu saat Kirana mendapati kenyataan yang paling pahit sekalipun.
Dan kini, pertanyaan yang bersemayam di benak Kirana terjawab sudah. Benar dugaannya. Dia bukan anak kandung dari seorang Balin Mahendra.
Hardi diseret oleh dua orang polisi yang ada di samping kanan dan kiri. Begitu pula dengan Clara yang telah siuman, dituntun oleh seorang polisi wanita.
Setelah itu, Balin berjalan mendekati Kirana, dan langsung memeluk tubuh gadis itu.
Kirana menangis di dalam pelukan Balin. Meski tak mengeluarkan suara isak tangis, namun Balin tahu betapa sakit hatinya Kirana saat kedua lengan Kirana mengeratkan dekapan.
"Dia orang yang dulu pernah menenggelamkan aku di danau kan?" Kirana bertanya dengan kepala yang tetap terbenam di dada sang ayah.
Balin membuang nafas. Dia malas untuk mengatakannya namun dia tetap menjawab.
"Iya. Dia Papa kandungmu."
"Berarti, aku punya seorang ayah yang gila."
Balin tak menyahut. Hanya tangannya yang bergerak mengelus rambut Kirana, melepas pelukan, dan mengangkat dagu Kirana agar dapat menatap putrinya.
"Jangan bersedih, Kirana! Kau masih memiliki ayah seperti Papa."
Meski di saat seperti ini susah sekali untuk dapat tersenyum, akan tetapi Balin memaksakan ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman yang tulus sambil menghapus jejak air mata Kirana.
Senyum merekah di bibir Kirana bersamaan dengan melintasnya satu tetes bulir di pipi mulus itu.
Raka juga tersenyum melihat interaksi penuh haru antara ayah dan anak yang tak sedarah. Lalu melempar pandangan pada Amanda.
Wanita itu sejak tadi diam mematung. Apa yang terjadi malam ini sungguh sangat membuatnya malu akan dirinya sendiri. Ingin rasanya dia menghilang dari muka bumi, bahkan jika boleh,dia ingin menyusul Ray.
__ADS_1
Amanda telah salah besar menilai seseorang. Clara yang dia kira wanita akan menjadi menantunya, ternyata seseorang yang telah merenggut nyawa Ray.
Dan Kirana, yang Amanda pikir gadis pembohong, nyatanya memang benar seorang putri dari Tuan Balin Mahendra.
Meskipun dia mendapatkan fakta baru bahwa Kirana hanyalah anak angkat. Namun, melihat perilaku Balin pada Kirana, sudah dapat menjelaskan betapa Balin menyayangi Kirana. Bahkan melebihi anak kandung.
Saking malunya, Amanda tak tahu harus berbuat apa. Gelagat Amanda menjadi serba salah. Akan tetapi Amanda ingin berusaha untuk menjadi tuan rumah yang baik.
Dia melangkahkan kaki menghampiri Balin dan Kirana.
"Tuan Balin, Nona Kirana," Amanda menyapa.
Balin tak menjawab sapaan dari Amanda. Bahkan seolah tidak mendengar ada orang yang ingin berbicara dengannya. Sikap Balin itu, cukup membuat Amanda semakin mengiris malu.
Amanda menggigit bibir bawahnya, menggenggam erat kedua tangan, dan menunduk lemah. Jika Amanda dapat memilih, lebih baik Amanda mendapat makian dari Tuan Balin daripada tak dianggap seperti ini.
Segera Balin mengayunkan tangan memberikan isyarat pada Juan dan para pengawal lain yang langsung dimengerti oleh mereka.
"Kita pulang sekarang."
Kirana mengangguk dan pasrah saat Balin menuntunnya menuju mobil. Nakula dan Sadewa yang menonton dari kejauhan juga bergegas berjalan mengekori sang ayah.
"Tuan Balin, tunggu sebentar!" seru Amanda yang hendak menyusul Balin, tapi dicegah oleh Raka.
"Mom, Tuan Balin sedang tidak ingin berbicara dengan Mommy," terang Raka yang hafal sikap Balin jika sedang marah pada seseorang.
Amanda bersikeras dan menghempaskan tangan sehingga terlepas dari cengkraman tangan Raka. Lalu dia berlari sebelum mobil yang ditumpangi Balin pergi.
"Tuan Balin."
Balin menjadi orang terakhir yang masuk ke dalam mobil pun diam sejenak, memutar tubuhnya menghadap Amanda, dan melayangkan pandangan penuh ancaman.
Menjadikan nyali Amanda sedikit menciut. Dia pun menelan salivanya.
"Kalau boleh, saya ingin berbicara sebentar dengan Nona Kirana. Saya ingin meminta maaf karena telah mencampakan dia, Tuan."
Balin menghela nafas sebelum berbicara. Pertanda dia sedang mengontrol emosinya. Dia masih ingat betul laporan dari Ken mengenai Amanda yang telah menampar Kirana.
"Saya belum dapat mengizinkan Anda bertemu dengan Kirana."
"T-tapi T-tuan Balin, saya mohon. Saya ingin memperbaiki kesalahan saya." Amanda memelas mengatupkan kedua tangan.
"Jika Anda ingin memperbaiki kesalahan, mulailah dari memperbaiki cara pandang Anda dalam menilai seseorang."
__ADS_1
Balin berbalik hendak masuk ke dalam mobil, namun sejenak dia mengurungkan niatnya dan kembali menatap Amanda.
"Dan satu lagi yang ingin saya katakan, beruntung Anda seorang perempuan. Karena jika Anda laki-laki, saya tak segan membalas tamparan yang pernah Anda berikan pada Kirana."
Suara Balin terdengar berdesis syarat akan kemarahan yang membuat Amanda tertunduk menatap tanah.
Kemudian, Balin masuk ke dalam mobil yang segera melaju meninggalkan halaman rumah keluarga Abimanyu. Tersisa Amanda dan Raka di sana.
Raka menggandeng tangan Amanda, menuntunnya masuk ke dalam rumah, dan saat mereka berada di ruang tengah, Amanda merosotkan diri jatuh terduduk di lantai.
Amanda menangis sejadi-jadinya. "Mommy bodoh. Mommy tak menyadari selama ini Clara yang membunuh Ray. Dia telah membuat kita berpisah dengan adikmu."
Meskipun di dalam diri Raka tersimpan amarah yang belum padam, namun dia memilih untuk tetap tenang. Dia berjongkok mengusap lengan Amanda.
"Mom, sudahlah. Sekarang Raka antar Mommy ke kamar, oke?"
***
Sesampainya di kediaman keluarga Mahendra, Balin juga menyuruh Kirana untuk beristirahat di kamar yang langsung turuti tanpa adanya perkataan apapun.
Selama berada di mobil Kirana diam seribu bahasa. Menjadikan Nakula dan Sadewa yang ingin menghiburnya merasa serba salah.
Di saat Kirana memutar gagang pintu kamar, bahu kanannya ditepuk oleh Nakula. Lantas Kirana pun menoleh.
"Kak, meskipun kita bukan saudara sedarah, tapi kita tetap menjadi adik-adik Kak Kira," kata Nakula.
Belum sempat Kirana menjawab, Sadewa sudah merentangkan tangan merangkul Kirana.
"Ya, dan Kak Kirana akan selamanya menjadi bagian dari keluarga ini," sambung Sadewa.
Terulas senyum lebar di bibir Kirana dan lengannya meraih punggung kedua adik kembarnya. Mereka bertiga saling memeluk satu sama lain.
"Kalian adik-adikku yang paling usil yang pernah aku miliki."
"Apa kalian mendengar sesuatu?" tanya Nakula tiba-tiba.
Kirana dan Sadewa serempak mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala. Memang benar mereka tidak mendengar suara apapun selain suara mereka sendiri.
"Pasang telinga kalian karena aku mendengar suara…"
"Dduuutttt…."
"Ah, lega," gumam Nakula setelah dia mengeluarkan gas beracun.
__ADS_1
Sontak Kirana dan Sadewa menutup hidung rapat-rapat. Dengan menggunakan tas, Kirana memukul punggung Nakula yang berusaha kabur.
"Nakula, kau jorok!"