Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
37. Sebuah Rencana


__ADS_3

Hari minggu pagi menjelang siang.


Kirana berlatih tinju di tepi kolam renang. Dia memilih tidak ikut berenang seperti yang dilakukan oleh Nakula dan Sadewa.


Bukan karena dia tidak bisa berenang, melainkan setiap kali dia menceburkan diri ke kolam atau sejenisnya, dia menjadi ingat akan kenangan ketika dirinya berusia empat tahun.


Kirana kecil pernah dibawa kabur oleh seorang pria menakutkan. Lalu pria itu dengan sengaja menceburkan mobil yang ditumpangi Kirana ke dalam danau.


Balin menyebut pria gila itu serigala.


Nafas Kirana terengah, sudah satu jam dia berlatih tinju. Lantas dia pun melepas sarung tinjunya dan duduk di gazebo memandang Nakula dan Sadewa berlomba renang gaya kuda nil.


Sementara itu, di dalam rumah besar, Juan memanggil Neneng untuk mengantarkan minuman untuk Kirana dan si kembar.


Pelayan yang baru bekerja itu pun menerima nampan berisi tiga gelas jus buah segar, lalu memutar badan hendak beranjak pergi.


“Neneng,” panggil Juan saat Neneng telah berjalan dua langkah.


Neneng pun memutar badannya lagi untuk dapat menghadap sang kepala pelayan.


“Ada apa, Pak Juan?”


“Memangnya kamu tahu keberadaan Nona Kirana, Tuan Sadewa, dan juga Tuan Nakula?” tanya Juan mengerutkan alis.


Neneng terkekeh malu karena dia belum sempat menanyakan kemana dia harus mengantarkan minuman itu. Lantas dia menggelengkan kepala.


Juan menghela nafas.


“Lain kali tanya terlebih dahulu. Antar minuman itu ke gazebo kolam renang. Kamu tahu kolam renangnya ada di mana kan?”


Neneng mengangguk.


Sementara Juan hanya bisa menatap punggung Neneng yang perlahan menjauh. Juan tak mengerti kenapa Nona Kirana bersikeras agar Neneng bekerja di rumah keluarga Mahendra.


Padahal selama ini semua pelayan serta pengawal yang bekerja di rumah itu selalu direkrut melalui berbagai tes dan pelatihan terlebih dahulu.


Neneng melangkahkan kaki menuju area kolam renang. Di sana ada Nakula dan Sadewa yang asyik berenang, dan Kirana yang duduk beristirahat.


Hampir saja Neneng terpeleset akibat dirinya yang kurang fokus melirik ke arah dua pria tampan yang sedang berenang sekaligus bertelanjang dada memamerkan roti sobek menggoda iman.


“Ada hikmahnya juga dipecat. Neneng jadi bisa bekerja plus cuci mata,” gumam Neneng senyum-senyum sendiri.


Kemudian, Neneng menghampiri Kirana untuk memberikannya minuman.

__ADS_1


Dia masih belum percaya jika Raya, gadis office girl yang sering dicemooh oleh Mae ternyata adalah Nona Kirana. Rasanya seperti mimpi begitu Neneng tahu kebenaran itu tadi pagi.


“Raya, eh, maksud saya, Nona Kirana, ini minuman untuk Nona,” ucap Neneng memberikan jus mangga.


Kirana mendongakkan kepala, menerbitkan senyuman, dan menerima jus dari Neneng.


“Terima kasih, Neng. Panggil Raya juga tidak apa-apa kok.”


Mendengar itu, Neneng menjadi tersentuh. Perilaku Kirana memang mencerminkan seorang tuan putri baik hati dan ramah pada siapa pun termasuk Neneng yang hanya seorang pelayan.


Berbeda jauh dengan Mae yang Neneng anggap sahabat, tapi justru menusuk dari belakang. Bahkan Mae tidak peduli lagi setelah Neneng dipecat.


Detik itu juga, Neneng akan lebih selektif dalam berteman. Dia kapok memiliki sahabat seperti Mae.


Sadewa memilih untuk menyudahi olahraga tanpa keringat itu. Dia mentas dari kolam renang dan berjalan mendekat ke arah Neneng yang mematung di tempat.


Badan Neneng seolah tak dapat digerakan saat memandang badan sixpack Sadewa. Terlebih pria tampan itu sekilas tersenyum dan mengulurkan tangan.


Secepat kilat Neneng menerima uluran tangan Sadewa. Dia mesam-mesem tak percaya dapat berpegangan tangan dengan Sadewa, pria yang selama ini menjadi idolanya.


Sedangkan Sadewa tampak mengerutkan dahi atas perlakuan pelayan baru yang dibawa oleh sang kakak.


“Neneng,” tegur Sadewa.


“Aku mau ambil minuman, kenapa kamu malah menggenggam tanganku?”


Sontak Neneng melongo, terkejut akan ucapan Sadewa. Dia pikir Sadewa mengulurkan tangan ingin menggenggam tangannya, ternyata hanya ingin mengambil minuman yang ada di nampan.


Padahal tadi Neneng sudah senang bukan main, tapi nyatanya Neneng saja yang mudah terbawa perasaan. Bagaikan dijunjung ke atas langit, lalu dihempaskan lagi ke bawah.


Sadewa mengambil dua gelas sekaligus. Satu gelas lagi akan dia berikan pada Nakula yang duduk di tepi kolam.


“Neneng, duduk sini! Aku mau bicara sebentar,” kata Kirana menepuk ruang kosong di sampingnya.


Neneng menurut. Dia duduk di samping Kirana dengan tangan memeluk nampan kosong.


“Apa yang ingin dibicarakan, Nona?”


“Aku mau tanya sesuatu. Aku minta kamu jawab jujur, dan tidak perlu takut.”


“Iya, Nona Kirana, tanyakan saja.”


“Kamu menaruh racun ke kopi Papa bukan kehendak kamu sendiri kan, Neng? Apa ada orang yang menyuruhmu?”

__ADS_1


Pertanyaan Kirana mampu membuat Neneng gugup seketika. Dia sedikit ragu, dan Kirana melihat jelas keraguan itu.


“Jujur saja, Neng. Tidak perlu takut. Aku tidak akan membeberkan rahasiamu.”


“I-iya, Nona. Saya disuruh sama Mae. Waktu itu, saya tidak tahu kalau yang diberikan Mae itu racun. Saya salah telah percaya omongan Mae. Maafkan saya, Nona,” ungkap Neneng pada akhirnya.


“Lalu, kenapa kamu tidak bilang ke Papa kalau kamu hanya disuruh?” tanya Kirana turut geram pada Mae.


“Saya diancam. Mae bilang kalau saya akan dibegal sama teman-teman Mae yang seorang preman pasar, kalau saya mengatakan yang sebenarnya, Nona.”


“Astaga, Mae. Keterlaluan sekali dia.”


Kirana berdecak kesal seraya memijat keningnya.


“Lempar batu sembunyi tangan.”


“Asyek, terus, Nona,” kata Neneng yang mengira Kirana sedang berpantun.


“Itu peribahasa, Neneng. Bukan pantun.”


Neneng hanya bisa terkekeh dan oh ria.


Tak lama, muncul Sunny yang menghampiri Kirana dan Neneng. Sejak kecil, Sunny sering mengunjungi rumah besar keluarga Mahendra dan bermain dengan Kirana serta si kembar.


Balin dan Alexa pun sudah menganggap Sunny seperti anak mereka sendiri. Begitu pula Sunny yang merasa keluarga Mahendra adalah keluarga keduanya.


Jadi, Sunny tak canggung saat bergabung dengan Kirana dan juga Neneng. Setelah menyapa, Sunny duduk di samping Kirana dan mengeluarkan sebuah buku.


“Neng, tolong buatkan minuman untuk Sunny ya?” pinta Kirana.


“Baik, Nona Kirana.”


Pelayan baru itu bangkit berdiri untuk melaksanakan perintah dari sang nona muda. Selepas kepergian Neneng, Kirana berpaling pada Sunny yang tetap fokus membaca.


Karena penasaran, Kirana mencondongkan kepala ikut membaca. Rupanya buku yang dibaca oleh Sunny adalah buku metode hipnotis untuk pemula.


“Kamu belajar hipnotis, Sun?” tanya Kirana.


“Iya, Kak Kira. Aku mau menghipnotis Sadewa,” jawab Sunny sembari menutup buku.


Pandangan mata Sunny tertuju pada si kembar duo Balin Junior yang saling bercakap di tepi kolam.


“Permisi ya, Kak Kira, aku mau langsung praktek,” kata Sunny meletakan buku di samping Kirana, sedangkan dirinya berjalan mendekati Sadewa.

__ADS_1


Kirana meraih buku yang diletakan Sunny, membuka dan melanjutkan bacaannya tadi. Sekilas Kirana merekahkan senyuman tanda di dalam benaknya muncul sebuah rencana untuk membalas perbuatan Mae.


__ADS_2