Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
45. Aksi Jahil Raya


__ADS_3

Di salah satu lantai gedung Irawan Group, Raya menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan. Dia menyeringai kala tatapannya menangkap Mae yang selesai bersih-bersih.


Kemudian dia mengeluarkan selembar uang berwarna merah dari dalam saku. Sengaja mengibarkan uang itu di depan Mae.


“Aku tadi nemu uang nih. Kira-kira punya siapa ya?” ucap Raya sengaja dikeraskan agar Mae dengar.


Mae yang pada hakekatnya mata duitan langsung menoleh, bola matanya membulat sempurna melihat uang di tangan Raya.


“Itu uangku,” seru Mae seraya mendekat.


“Masa sih uang kamu? Aku tidak percaya,” kata Raya berpura-pura.


“Iya, itu uangku. Tadi jatuh saat aku bersih-bersih.”


“Tapi aku yang nemu uang ini.”


“Tapi itu uangku, Raya,” Mae terus saja bersikukuh atas kepemilikan uang ditangan Raya.


Sejenak Raya tampak berpikir, lalu dia berdecak.


“Bagaimana kalau kita berlomba untuk mendapatkan uang ini?” tawar Raya.


“Oke, mau lomba apa? Lomba panco? Lomba adu jotos? Ayo sikat!” kata Mae bersemangat.


Sedangkan bibir Raya melengkungkan senyuman tipis melihat Mae mulai masuk ke perangkapnya.


Raya mengeluarkan bandul hipnotis yang pernah dipakai Sunny untuk menghipnotis Sadewa. Dia sudah tuntas membaca dan mempelajari buku metode hipnotis untuk pemula.


Dan kini dia akan mempraktekannya ke Mae, agar dia tahu tujuan Mae menyuruh Neneng menaruh racun di kopi ayahnya.


“Kita lomba menatap benda ini. Siapa yang paling lama, dia yang menang dan mendapatkan uangnya. Deal?”


Mae berdecak. “Itu mah gampang. Deal!”


Raya dan Mae mencari tempat untuk duduk. Mereka memilih duduk di koridor yang sepi agar tak ada orang lewat yang mengganggu.


Pertama, Raya meminta Mae dulu yang menatap benda itu, yang langsung dituruti Mae tanpa rasa curiga sedikit pun.


Mae menatap bandul bulat dengan sangat serius, menurutnya kapan lagi dapat uang hanya bermodalkan menatap benda.


Perlahan Raya mengayunkan bandul ke kiri dan kanan, dan lama-kelamaan, Mae merasa lelah serta mengantuk. Dia menguap beberapa kali.


Kemudian, Raya menjentikan jari tepat di depan mata Mae yang seketika tertidur pulas.


Raya terkekeh pelan. Langkah pertama untuk menghipnotis Mae berjalan lancar. Setidaknya tidak gagal total seperti Sunny.


Raya tak mau membuang waktu. Sebab pengaruh hipnotis yang dia lakukan terhadap Mae tidak berlangsung lama. Kemungkinan Mae bisa terbangun jika mendengar suara keras.


Tak lupa Raya mengambil ponsel untuk merekam pengakuan Mae.


“Mae, katakan! Apa benar kamu yang menyuruh Neneng menaruh racun di kopi Tuan Balin?” tanya Raya.


“Iya, benar,” jawab Mae dengan suara datar dan mata yang terpejam.


“Kenapa kamu ingin meracuni Tuan Balin?”


“Saya hanya disuruh,” jawab Mae tetap terpejam.

__ADS_1


“Siapa yang menyuruhmu?”


“Clara.”


Deg.


Clara? Kenapa Clara? Dia punya masalah apa dengan Papa? Apakah dia mata-mata yang selama ini aku cari?


Banyak pertanyaan muncul di benak Raya. Lalu dia segera tersadar, dan meneruskan menginterogasi Mae.


“Kenapa Clara ingin meracuni Tuan Balin?”


“Aku tidak tahu.”


Raya menghela nafas panjang. Dia sangat berharap Mae tahu. Tapi nyatanya tidak.


Sekarang Raya akan mengawasi Clara lebih dari biasanya.


Berhubung Mae masih dalam keadaan terhipnotis, sekalian saja Raya ingin menjahili wanita gendut itu.


Gara-gara Mae juga, Raya harus dilarikan ke rumah sakit, dan hampir meregang nyawa.


“Boleh dong kalau aku jahil sedikit,” gumam Raya pelan, lalu terkekeh.


“Mae, sekarang lakukan apa yang aku perintahkan kepadamu!” seru Raya.


“Baik,” jawab Mae datar.


Raya mengetuk-ketukan jarinya, berpikir sesuatu untuk menjahili Mae, dan manik matanya menangkap ember berisi air bekas mengepel.


“Mae, ambil ember yang tadi kamu pakai untuk mengepel!” perintah Raya.


Mata Mae langsung membelalak, namun pandangannya kosong seperti orang melamun. Kendatipun begitu, Mae bergerak melakukan perintah Raya.


Mae benar-benar mengambil ember yang dimaksud.


Raya takjub dengan kemampuan hipnotis yang baru saja dia pelajari. Begitu mudahnya Mae menuruti perintahnya.


Raya tahu, sekarang ini Clara sedang berada di ruang rapat bersama Balin dan staf yang lain.


“Mae, aku perintahkan kau untuk ke ruang rapat. Kamu katakan pada semua orang kalau air yang ada di dalam ember itu adalah coffe latte paling enak yang pernah kamu minum. Mengerti?”


Mae mengangguk sambil berkata, “Ya, saya mengerti.”


“Kamu minum air di dalam ember itu. Lalu sisanya kamu siram ke Clara!”


Mae mengangguk dengan pandangan kosong.


“Lakukan sekarang!”


Bagaikan sebuah robot, Mae menuruti perkataan Raya. Dia melangkahkan kaki menuju ruang rapat sambil membawa ember.


Raya mengekor di belakang Mae dengan tangan menggenggam ponsel yang masih aktif merekam.


Begitu Mae membuka pintu ruang rapat, Nakula yang sedang melakukan presentasi di depan semua peserta rapat hari itu seketika berhenti.


Perhatian semua orang beralih ke Mae yang masuk sambil membawa ember.

__ADS_1


“Mae, ada apa?” tanya Nakula terlihat tidak senang presentasinya terjeda.


“Aku mau minum coffe latte paling enak yang pernah coba,” kata Mae dengan tatapan kosong dan juga suara yang datar.


Salah seorang staf laki-laki yang duduk paling dekat dengan posisi Mae, melongok isi di dalam ember, tertawa, dan menatap Mae tak percaya.


“Maksudmu, air yang ada di dalam ember? Itu air bekas mengepel, Mae.”


“Bukan. Ini coffe latte. Nih aku minum.”


Tak dapat dipercaya oleh semua orang saat melihat Mae meneguk air yang ada di dalam ember. Bahkan Mae meneguk air itu seperti orang kehausan.


Setelah itu, Mae menyeka bibirnya yang basah menggunakan punggung tangan.


“Ah, enak sekali.”


Raya yang mengintip di ambang pintu tak dapat menenangkan tangannya yang gemetar akibat menahan tawa.


Ponsel di tangan Raya terus merekam kejadian di dalam ruang rapat sana.


Tampak semua orang di dalam ruangan itu mengulum senyum ingin tertawa. Tidak terkecuali, Balin yang geleng-geleng kepala.


“Kamu ingin mencobanya, Clara? Enak lho,” tawar Mae yang menyodorkan ember ke arah Clara.


“Apa-apaan kamu, Mae? Mana mungkin aku mau minum air kotor bekas mengepel,” Clara bangkit berdiri hendak menjauh dari Mae yang dianggapnya sudah gila.


Namun, sebelum Clara benar-benar menjauh, Mae lebih dulu menumpahkan air di dalam ember ke sekujur tubuh Clara.


Byuuurrr.


“Aaaaaa”


Clara memekik histeris saat melihat baju mahalnya kini kotor dan bau. Apalagi dia tidak membawa baju ganti.


Tak dapat dibendung lagi, gelak tawa dari peserta rapat pun pecah menggema hingga terdengar ke luar ruangan.


Bahkan ada staf yang sampai terpingkal-pingkal memukul meja.


“Mae!” pekik Clara.


Suara gaduh di ruang rapat berhasil membuat Mae tersadar dari pengaruh hipnotis. Dia menggelengkan kepalanya yang terasa pusing.


Lalu Mae mengedarkan pandangan ke sekeliling, menatap heran ke semua orang.


Kenapa aku bisa berada di sini? Kenapa orang-orang tertawa? Apanya yang lucu?


Mae terus bertanya dalam hati. Lalu pandangannya bertemu dengan Clara yang memandangnya dengan sorot mata yang menakutkan, seperti banteng mengamuk.


“Bu Clara, kenapa baju Bu Clara basah?” tanya Mae.


“Ini semua karena ulah kamu,” bentak Clara.


“Salah saya? Salah saya apa, Bu Clara?”


Di saat atensi semua orang terfokuskan pada adu mulut Clara dan Mae, Raka menyadari Raya sedang mengintip di ambang pintu.


Dan tak ada orang yang melihat Raka keluar dari ruangan, dia buru-buru menarik Raya untuk mencari tempat yang sepi.

__ADS_1


__ADS_2