
Suasana kamar berubah menjadi hening, juga tak ada pergerakan dari dua manusia yang berbaring saling berpelukan di atas tempat tidur.
Raya semakin membenamkan kepala di dada Raka, pelukannya pun mengerat, seolah tak ingin pria itu pergi dan tak ingin cintanya berubah.
“Kamu diam saja. Pasti kamu terkejut, kan? Tidak menyangka wanita yang menjadi pacarmu adalah Nona Kirana.”
Sama sekali tak ada sahutan dari Raka. Samar-samar Raya mendengar suara dengkuran halus yang membuatnya mendongakkan kepala.
Raya menghela nafas ketika melihat Raka memejamkan mata dengan raut wajah yang tenang. Ada sedikit rasa kecewa dalam diri Raya. Di saat dia mengungkap jati dirinya, Raka malah tertidur.
Seakan semesta belum mengizinkannya.
Akan tetapi Raya dapat memaklumi. Sebab Raka ketiduran karena lelah setelah seharian berjibaku dengan tugas kantor yang menumpuk.
Lantas Raya menyingkirkan berkas-berkas yang berserakan, menaruhnya di atas nakas, dan menarik selimut yang menutupi tubuh mereka.
“Ngomong-ngomong, tumben tidak ada gangguan dari Ken saat kami berciuman tadi,” gumam Raya sebelum akhirnya dia terlelap.
Rupanya, kelelahan bukan hanya dialami Raka, tapi juga oleh Ken dan Daniel. Mereka tertidur di saat jadwal jaga ronda.
Ya, pemantauan aktivitas Raka dan Raya yang dilakukan setiap malam, mereka sebut sebagai jaga ronda.
Suara dengkuran Ken dan Daniel yang bersahut-sahutan terdengar hingga ke penjuru sudut apartemen. Mereka tidur dengan posisi kepala tergeletak di meja depan layar komputer.
Lalu suara dengungan nyamuk mengganggu tidur Ken. Pria itu mengibas-ngibaskan tangan ke udara kosong, matanya setengah terbuka, dan bergumam.
“Aku mimpi Nona Kirana mengungkap identitasnya.”
Kemudian Ken kembali tertidur.
Keesokan pagi.
Raya bangun lebih dulu. Dia melirik tubuh yang masih terbaring di sampingnya, menyibak selimut, dan berjalan keluar dari kamar Raka.
Tepat saat Raya menutup pintu, terdengar suara notifikasi email masuk dari ponselnya. Dia pun membaca email yang berisi semua data tentang Clara.
__ADS_1
Raya telah memerintahkan orang untuk mencari informasi dan latar belakang Clara. Namun, dari laporan yang dia terima, sama sekali tidak ada petunjuk alasan kenapa Clara ingin berbuat jahat pada Balin.
Raya menghempaskan diri ke sofa, memijat pangkal hidung, dan memejamkan mata. Sejenak ingin sekali melepas pikiran yang semrawut di benaknya.
Kemudian ada panggilan masuk dari Ken yang langsung diangkat oleh Raya.
“Selamat pagi, Nona Kirana, sarapan telah siap. Apakah Nona ingin kami mengantarnya sekarang?”
Sekilas Raya melirik ke pintu kamar Raka. Pria itu belum bangun.
Dan Raya juga sengaja tidak membangunkan Raka. Mereka tidak berangkat kerja karena hari ini merupakan hari libur nasional.
“Ya, boleh. Antar sarapannya sekarang, tapi cepat dan jangan buat keributan!”
“Baik, Nona Kirana.”
Tak lama setelah Raya menutup telepon, Ken dan beberapa pelayan masuk ke apartemen Raya, menata beberapa menu sarapan di meja makan.
Selepas kepergian para pelayan, Raya masuk kembali ke dalam kamar, mengguncangkan tubuh Raka secara perlahan, membangunkan pria itu untuk sarapan.
Raka mengerjapkan mata, bangun terduduk di atas ranjang dengan rambut yang acak-acakan. Dia melirik ke jendela yang memperlihatkan matahari telah meninggi.
“Aku bangun kesiangan. Sejak tadi kamu pasti kelaparan iya, kan?”
Raya hanya mengulas senyum. Dia menarik lengan Raka menuju ruang makan, dan memperlihatkan hidangan yang masih hangat dan lezat.
“Taraaa. Sarapan sudah siap. Yuk, kita makan.”
Melihat deretan makanan itu, membuat dahi Raka berkerut.
“Kemarin kamu bilang tidak bisa masak. Lalu siapa yang masak semua makanan ini?”
Raya tak ingin membohongi Raka lagi. Dia hendak berkata jujur jika semua masakan itu disiapkan oleh pelayan keluarga Mahendra yang tinggal di unit apartemen sebelah.
Sekalian dia akan mengulangi pengakuannya yang semalam tidak terdengar oleh Raka.
__ADS_1
Akan tetapi belum sempat Raya menjawab, atensi mereka berdua teralihkan oleh suara dering telepon di ponsel Raka.
Buru-buru Raka mengangkat telepon dari Tuan Balin. Sedangkan Raya hanya bisa menghela nafas dan memberengut.
Lagi-lagi waktunya kurang pas saat dia ingin jujur.
“Baik, Tuan. Saya akan segera menjemput Tuan Balin.”
“Ada apa dengan Tuan Balin?” tanya Raya setelah Raka mengakhiri telepon singkat itu.
“Aku diminta untuk menemani Tuan Balin bermain golf sekarang juga.”
Raka merasa ada yang aneh. Tidak biasanya Tuan Balin meminta ditemani bermain golf, seakan Tuan Balin tidak ingin Raka memiliki banyak waktu berada di apartemen.
Apa aku tidak salah dengar? Papa mengajak Raka main golf? Pakai minta dijemput segala. Di rumah kan banyak mobil. Pasti ini akal-akalan Papa supaya aku dan Raka tidak bisa berduaan.
Raya mendengus kesal, bibirnya mengerucut, kecewa dengan tindakan Balin yang sengaja membuat Raka sibuk.
Sedangkan Raka menatap dengan sorot mata iba. Dia tahu Raya sangat kecewa, sehingga dia mengusap lembut bahu wanita itu.
“Apa boleh aku ikut?” tanya Raya.
Raka menggelengkan kepala. “Tuan Balin tidak mengizinkan kamu ikut.”
“Kenapa?”
“Aku juga tidak tahu,” jawab Raka mengangkat bahu. “Maaf, kali ini kamu sarapan sendirian tidak apa-apa kan?”
Raya mengangguk meskipun bibirnya memberengut.
Melihat hal itu, membuat Raka tersenyum, dan mengacak gemas rambut Raya.
“Aku akan mengusahakan pulang secepatnya.”
Kemudian Raka memakan sepotong sandwich sekedar untuk mengganjal perut sambil melangkah masuk ke dalam kamar, lalu mandi dan bersiap menjemput Tuan Balin.
__ADS_1
Raya duduk sendirian di kursi meja makan, dia makan sedikit sekali. Nafsu makannya hilang seketika.
Setelah selesai dia juga memutuskan mandi. Namun, tak tahu akan melakukan apa selama menunggu Raka pergi bermain golf.