Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
26. Pengakuan Beni


__ADS_3

Setelah dapat melepaskan diri dari Raka, langkah kaki Raya menuntunnya ke dalam toilet wanita. Di sana dia membuka secarik kertas yang tadi diberikan oleh Sadewa.


Surat itu memuat rincian biaya penanganan terhadap pasien bernama Rayyan Abimanyu yang semua dibayarkan oleh Balin Mahendra.


Raya menggigit bibir bawahnya kala membaca data singkat Rayyan Abimanyu, yang ternyata memang benar dialah adik dari Raka.


Lalu dia meremas kertas di tangannya menjadi berbentuk bola, menghela nafas sejenak, dan berdecak.


Pertanyaan yang ada di benak Raya saat ini adalah kenapa Balin mau membayar biaya administrasi rumah sakit Ray? Apa karena Balin merasa bersalah telah menabrak Ray? Apakah benar Balin?


Jika iya, kemungkinan Raka menyimpan dendam pada Balin, karena telah membuat adiknya meninggal dunia.


Namun, itu baru dugaan sementara, yang Raya mau ialah fakta sebenarnya.


Dan jangan lupakan pria misterius yang sempat ditemui Raya setelah bertarung tinju bebas. Siapa dia?


“Semua ini membuat aku bingung. Aku harus minta penjelasan pada Papa,” gumam Raya sambil merogoh saku untuk mengeluarkan ponselnya.


Akan tetapi dia urungkan niat untuk menelepon Balin. Mengingat kini sang ayah tengah dalam masa pengobatan.


“Tidak, tidak, jangan sekarang Kirana! Sebaiknya tunggu sampai Papa benar-benar sembuh,” ucap Raya pada dirinya sendiri.


Kemudian dia keluar dari toilet wanita seolah tidak ada masalah yang terjadi.


***


“Raka,” panggil Clara saat mereka bertemu di koridor kantor.


Raka menoleh, dan menghembuskan nafas jengah kala melihat Clara yang berlari mendekat. Dia menghempaskan tangan di saat Clara ingin bergelayut manja.


“Ada apa?”


“Nanti sore kamu ada waktu?”


“Ada,” jawab Raka singkat dan datar.


“Oh sayang sekali. Tadinya aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang. Aku jamin kamu pasti ingin bertemu dengan orang itu jika tahu siapa dia sebenarnya.”


“Jangan bertele-tele, Clara! Aku sedang tidak ada waktu,” ucap Raka yang hendak melangkah pergi.


“Dia saksi mata yang melihat kejadian kecelakaan Ray,” ungkap Clara cepat.


Clara tersenyum penuh arti mana kala raut wajah Raka berubah penasaran. Dia melipat tangan di depan dada, tampak santai meski mendapat lirikan tajam dari Raka.


“Kau sedang tidak berbohong kan?”

__ADS_1


“Raka, come on. Kapan aku membohongimu?” Clara balik bertanya.


Senyum di bibirnya semakin berkembang melihat Raka yang mulai masuk ke perangkapnya.


“Aku paling tidak suka dibohongi.”


“Kita lihat saja, apakah aku berbohong atau tidak. Jam pulang kerja aku akan membawamu kepada orang itu.”


***


Sore hari setelah jam kerja kantor telah berakhir.


Clara melipat tangan di depan dada dengan tas kremes menggantung di lengannya. Dia melirik sekilas pada Raka yang tengah mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Raya.


Sayang, pulanglah ke apartemen lebih dulu. Aku masih ada urusan pekerjaan. Nanti aku akan menemuimu.


Dan pesan itu langsung dikirim oleh Raka. Clara yang ada di dekatnya hanya tersenyum menyeringai.


Lalu mereka berdua pun berjalan beriringan menuju mobil milik Raka.


Di tempat lain, Raya langsung membaca pesan yang baru saja diterimanya dari Raka. Dia sedikit kecewa Raka masih sibuk dengan pekerjaan, tapi dia berusaha untuk memaklumi.


Dan saat itu juga, Neneng menghampiri Raya dan tanpa permisi main tarik lengan Raya begitu saja.


“Eh, tunggu, Neng! Ini ada apa? Kenapa aku ditarik-tarik seperti ini?” tanya Raya keheranan.


Neneng membawa Raya ke area tempat parkir mobil. Mereka bersembunyi di balik pilar besar, dan jari telunjuk Neneng mengarah pada Raka dan Clara yang masuk ke dalam mobil.


“Lihat Raya! Tuan Raka sedang bersama Bu Clara. Sepertinya mereka teh mau jalan-jalan,” bisik Neneng.


Tiba-tiba dada Raya terasa sesak dan panas. Tangannya terkepal kuat tanpa dia sadari, di saat kedua manik mata Raya menangkap Raka yang pergi satu mobil dengan Clara.


Secepat mungkin Raya menghirup udara agar otaknya dapat berpikir jernih.


“Iya, aku juga tahu, Neng. Raka mungkin pergi dengan Clara karena ada urusan pekerjaan,” ucap Raya tetap berpikir positif.


“Memang urusan pekerjaan apa? Kan sekarang sudah jam pulang kantor, Raya.”


Mendadak Raya teringat akan cerita Clara tadi pagi yang mengaku bahwa Clara sering bermain kuda-kudaan dengan Raka. Raya berdecak karena otaknya perlahan dimasuki oleh pikiran negatif.


Dia memijat keningnya, dan berniat untuk segera pulang.


“Sudahlah. Aku mau pulang saja. Terima kasih infonya, Neng.”


Neneng gadis dari desa itu mengangguk dan segera berlalu. Selepas itu, Raya melihat Nakula yang juga berjalan ke mobilnya.

__ADS_1


Raya berlari menghampiri, lalu masuk ke dalam mobil yang menjadikan Nakula terkejut dengan kemunculan Raya secara tiba-tiba.


“Nakula, ayo kita pulang!”


Bukannya melajukan mobil, Nakula malah melototkan mata.


“Tumben Kakak mau pulang denganku.”


“Sudah jangan banyak tanya. Kepalaku pusing. Ayo cepat jalan!”


***


Raka mengikuti langkah Clara yang berjalan di deretan kamar hotel. Sesaat Raka meragukan Clara, namun dia tetap melangkah.


Perasaan Raka tidak enak. Sejak tadi dia terus memikirkan Raya. Dia merasa bersalah tidak berkata jujur saja jika dia pergi bersama Clara untuk menemui orang yang mengaku saksi kecelakaan Ray.


Clara berhenti di depan sebuah pintu, memutar badan agar dapat berhadapan dengan Raka.


“Orangnya ada di dalam. Kamu masuk saja, aku akan menunggu di sini,” kata Clara yang bersandar ke dinding dan mengeluarkan ponsel untuk berselfie ria sembari menunggu.


Clara mengerutkan alisnya karena Raka masih diam di depan pintu.


“Kenapa tidak masuk? Cepat! Orangnya sudah menunggumu di dalam. Nama dia Beni.”


Raka merasa ada yang ganjal pada pertemuan ini. Kenapa harus bertemu di kamar hotel? Bukan di cafe atau restoran atau tempat umum yang ramai. Aneh.


Akan tetapi Raka tetap masuk ke dalam kamar hotel yang minim pencahayaan. Di sana ada seorang pria sedang berdiri dengan tubuhnya yang bertumpu pada lemari kayu.


Raka berjalan mendekat. Begitu pula pria itu yang tersenyum dan menjulurkan tangan berniat bersalaman.


“Perkenalkan aku Beni.”


Raka diam tak menyambut jabatan tangan dari Beni. Dia menatap lurus pada pria di hadapannya itu.


“To the point saja, aku tidak punya banyak waktu. Jadi kamu melihat langsung saat adikku mengalami kecelakaan?”


Beni mengangguk. Dia menceritakan posisinya saat Ray mengendarai sepeda motor dan tiba-tiba ditabrak oleh sebuah mobil.


Beni mengaku sekilas melihat wajah si pengemudi mobil sebelum akhirnya kabur meninggalkan Ray sendirian tergeletak di jalan.


“Awalnya aku tidak tahu siapa orang itu, tapi dengan bantuan Clara sekarang aku mengenalnya.”


“Siapa?”


Beni mencondongkan tubuhnya agar suaranya jelas terdengar oleh Raka.

__ADS_1


“Orang yang telah menabrak Ray adalah bos di tempatmu bekerja. Tuan Balin Mahendra.”


__ADS_2