
Dua bulan kemudian.
Raka memasuki rumah sambil membawa kotak perhiasan yang dia siapkan untuk hadiah sang istri di hari ulang tahunnya. Tak lupa juga buket bunga mawar merah tergenggam di satu tangan yang lain.
Sambil menaiki anak tangga, senyum berkembang di bibir Raka. Dia sengaja pulang lebih cepat agar dapat memberikan kejutan yang tidak akan diduga Kirana.
Setelah menikah, Kirana dan Raka tinggal di rumah warisan dari Kakek Indra, kakek Kirana dari pihak ibu.
Tampak di rumah itu sepi. Bahkan satu pelayan pun tidak kelihatan batang hidungnya. Tapi itu tak mengapa bagi Raka karena orang yang ingin ditemui ialah Kirana, istri tercintanya.
Langkah kaki menuntun Raka menuju kamar utama sekaligus kamar mereka berdua. Tangan Raka mengayunkan gagang pintu yang perlahan berderak terbuka.
Fokus mata Raka langsung tertuju ke arah tempat tidur yang mana di sana ada dua orang, pria dan wanita, saling berpelukan erat hingga wajahnya tak terlihat.
Mata Raka membola, jantungnya seperti diremukkan dari dalam, lalu kado yang seharusnya diberikan untuk Kirana dia banting ke lantai.
Dirinya tak akan menyangka mendapati sang istri berselingkuh dengan pria lain. Padahal mereka baru dua bulan menikah.
"Kirana, apa-apaan ini?" bentak Raka sambil menyibak selimut.
"Prank!!!"
Seketika gelak tawa pecah dari mulut Nakula dan Sadewa yang terbaring. Lalu mereka berdiri dan berjingkrak dia atas tempat tidur.
Raka yang menyadari dirinya menjadi korban kejahilan adik iparnya hanya bisa melempar selimut ke arah mereka.
"Kak Raka kena prank hahaha," Nakula tertawa puas.
"Kak Raka pasti menyangka Kak Kirana selingkuh?" Sadewa bertanya yang tak perlu dijawab oleh Raka, dirinya pun tahu jawabannya.
Saat ini Sadewa tengah memakai lingerie yang biasa dipakai Kirana dengan wig rambut palsu panjang menyerupai rambut Kirana pula.
__ADS_1
Maka tak heran jika Raka sempat mengira yang ada di atas tempat tidur adalah Kirana dengan pria lain.
Raka mendengus kesal, dan berkacak pinggang.
"Apa-apaan kalian, hah? Terlebih kau, Sadewa, kenapa kau pakai baju dinas milik istriku?"
Sadewa menunduk memandangi pakaian menerawang yang melekat di tubuhnya.
"Oh, tadi aku ambil di lemari," sahut Sadewa santai.
"Dan kenapa kalian bisa masuk ke kamarku? Dimana Kirana?" Raka bertanya masih dengan nada berang.
"Kami datang kemari untuk merayakan pesta ulang tahun Kak Kirana, tapi pelayan bilang, Kak Kirana sedang menjenguk Clara di penjara."
Raka menarik nafas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara, lalu jari telunjuknya mengarah lurus ke pintu.
"Keluar kalian!"
"Keluar sekarang!" Raka berteriak sambil menyeret dua tubuh kembar itu.
"Aduh, eh, Kak Raka, tunggu sebentar. Kita merasa seperti pasangan yang digerebek satpol pp tahu."
Raka tak menggubris keluhan Nakula dan Sadewa. Setelah si kembar keluar dari kamar, segera Raka membanting pintu.
Mood nya untuk memberi kejutan pada Kirana telah hilang. Bahkan buket bunga mawar sedikit rusak karena dibanting tadi.
Raka memutuskan mandi agar menyegarkan badannya yang gerah.
Bertepatan dengan Raka yang selesai mandi, Kirana pun masuk ke dalam kamar. Sambil melepas mantel, Kirana menatap Raka.
"Aku dengar Nakula dan Sadewa membuat ulah lagi?"
__ADS_1
"Kedua adikmu itu sungguh keterlaluan."
Raka mendekat, memeluk dan mendaratkan kecupan di kening Kirana. Satu tangannya menempel di perut wanita yang dua bulan ini telah merubah hidupnya.
"Apa dia baik-baik saja?"
Kirana berpaling menatap Raka, menaikan alis dan balik bertanya, "Dia siapa? Clara?"
Raka menghela nafas. "Aku tidak bertanya wanita itu. Aku menanyakan dia."
Lirikan mata Raka tertuju pada tangannya yang membelai lembut perut Kirana yang di dalamnya terdapat kehidupan anak mereka.
Tadi pagi, Kirana memeriksakan diri ke dokter sebab bulan ini dia tidak kedatangan tamu bulanan. Dan benar dugaannya bersama Raka, bahwa sekarang ini Kirana dinyatakan hamil empat minggu oleh dokter.
"Dia kangen Daddy nya."
"Benarkah?"
Raka berlutut, menyibak baju Kirana, dan menghujani kecupan di area perut yang membuat Kirana tertawa geli.
Tangan Kirana tersenyum serta mengusap rambut Raka saat menempelkan telinga di perutnya yang masih rata.
Beberapa bulan lagi perutnya itu akan membesar, dan Kirana tak sabar merasakan tendangan pertama dari sang buah hati.
"Papa dan Mama pasti akan senang mendapat kabar bahwa sebentar lagi mereka akan mendapatkan cucu," ujar Raka sambil kembali berdiri.
"Dan Mommy kamu juga," imbuh Kirana.
Mereka memang belum memberitahu siapa pun akan kehamilan Kirana. Mereka berencana akan mengumumkannya tepat pada pesta ulang tahun Kirana yang akan diadakan beberapa jam lagi.
Sekali lagi secara bersama-sama mereka mengusap perut Kirana.
__ADS_1
"Kamu dan dia adalah kado paling spesial yang aku dapatkan tahun ini."