
Kirana melangkahkan kaki melintasi hamparan rerumputan hijau. Sedangkan Raka berjalan dua langkah di depannya sambil membawa keranjang piknik.
Ide dari Alexa agar Kirana dan Raka berpiknik di alam terbuka ada bagusnya juga. Setelah serangkaian peristiwa yang dialami, mereka memang membutuhkan udara segar untuk menghilangkan beban pikiran.
Mendadak Raka menghentikan langkah, berbalik badan, dan mengulurkan satu tangan yang langsung disambut oleh Kirana dengan merekahkan senyuman.
Untuk pertama kalinya mereka saling beradu pandang setelah Kirana jujur akan jati dirinya pada Raka.
Kemudian, mereka berjalan berdampingan menelusuri perbukitan hijau mencari tempat yang nyaman untuk berpiknik. Jauh dari mereka berdua, Alexa menarik nafas panjang saat melihat Raka dan Kirana.
"Ken, Daniel, kita pulang saja."
"Nyonya, apa tidak apa-apa meninggalkan mereka berdua?" Ken bertanya.
"Memangnya kalian mau menjadi obat nyamuk?" Alexa malah balik bertanya dengan ketus.
Daniel membuka suara, "T-tapi, Nyonya. Tuan Balin memerintahkan kami untuk mengawasi Nona Kirana de…"
"Sudahlah, Daniel. Jika Balin memarahi kalian, bilang saja ini permintaan dariku."
Daniel dan Ken mengangguk menuruti perintah Alexa. Mereka masuk ke dalam mobil, dan kendaraan roda empat itu pun melaju. Tinggal tersisa mobil Raka yang terparkir di tepi jalan.
Kirana dan Raka memutuskan untuk menghampar tikar piknik bermotif kotak-kotak merah di bawah pohon pinus. Kirana duduk memandangi wajah Raka yang sedang mengamati hamparan perbukitan dengan aliran sungai meliuk di bagian lembah.
Merasa tengah diperhatikan, Raka pun menoleh balik membalas tatapan Kirana. Lalu Raka menaruh keranjang piknik di antara mereka berdua.
"Coba kita lihat apa saja yang telah disiapkan oleh mama kamu," Raka berkata sambil membuka keranjang.
"Sando sandwich. Mama tahu saja kesukaanku," ucap Kirana saat Raka mengeluarkan roti isi krim buah.
Kemudian tangan Raka menarik dua botol jus jeruk dari dalam keranjang. Terlihat tetesan butiran air menempel di botol kaca yang menggoda untuk diminum.
Satu per satu Raka mengeluarkan makanan dan menaruhnya di atas tikar. Setelah itu, Kirana dan Raka bersulang mengadukan dua botol jus jeruk yang menimbulkan suara dentingan.
Raka meneguk jus jeruk sambil ekor matanya melirik Kirana. Lalu dia meraih sumpit untuk mengambil onigiri. Namun, dia sengaja bertingkah sedikit kesulitan.
Kirana yang melihat itu berinisiatif mengambilkan onigiri menggunakan sumpitnya dan menyodorkan onigiri tepat di depan mulut Raka yang langsung dilahap oleh pria itu.
__ADS_1
"Sampai detik ini aku masih belum menyangka kamu lah Nona Kirana yang selalu kita bicarakan," ungkap Raka setelah menelan makanannya.
Kirana hanya merespon dengan senyuman.
"Oh, bahkan aku pernah menyebutmu jelek. Pantas saja saat itu kamu marah."
Kirana terkekeh. "Setelah kamu tahu aku Kirana, apakah kamu masih berani menyebutku jelek?"
Raka terdiam, manik matanya menatap Kirana yang sedang mencepol rambut panjangnya karena udara panas membuat gadis itu merasa gerah.
"Masih banyak hal yang belum aku ketahui darimu. Apa perlu kita mulai semuanya dari awal?"
Mulut Kirana yang penuh oleh makanan membuatnya menjawab dengan menggelengkan kepala. Baru setelah makanan itu meluncur di kerongkongan, Kirana membuka suara.
"Aku akan tetap menjadi Raya yang selama ini kamu kenal. Tidak akan ada yang berubah."
Kirana dan Raka menghabiskan makanan mereka dalam diam. Sampai semua tandas tak bersisa, Raka menyandarkan punggung ke pohon pinus, dan tangan Raka menarik lengan Kirana untuk duduk di dekatnya.
Kirana menjatuhkan kepalanya di dada bidang Raka. Dia menarik nafas dan dapat dia rasakan aroma musk khas tubuh pria itu yang bercampur dengan wangi parfum maskulin.
Lama mereka berdua dalam posisi itu, hingga awan yang menggantung di atas sana perlahan berubah kelabu.
Kirana memejamkan mata, merasakan kesungguhan Raka dalam mengucapkan tiga kata itu, dan dia mengeratkan lengan yang melingkar di perut Raka.
"Ada krim di ujung bibirmu," ucap Raka yang membuat Kirana melepas pelukan.
Tangan Kirana bergerak ingin menyeka ujung bibirnya. Namun, ditahan oleh Raka.
"Biar aku saja."
Bukannya menyeka dengan jari, Raka justru mendekatkan kepala, menjilat segumpal krim di ujung bibir Kirana.
Dan Kirana yang tersentak kaget, menjadikan kesempatan bagi lidah Raka untuk masuk ke dalam rongga mulut Kirana. Raka mencium bibir ranum itu sambil tertawa penuh kemenangan di dalam hati.
Kena kau.
Sedangkan Kirana yang menyadari dirinya masuk ke dalam perangkap hanya bisa memukul dada Raka.
__ADS_1
Tiba-tiba guyuran air hujan menghentikan aktivitas mereka. Keduanya tersentak, buru-buru membenahi kotak makan serta tikar dan menaruhnya ke dalam keranjang.
Dalam sekejap hujan bertambah deras tanpa diminta. Raka dan Kirana berlari sambil bergandengan tangan. Namun, tubuh mereka terlanjur basah kuyup begitu sampai di dalam mobil.
Raka menaruh keranjang piknik ke kursi belakang, melirik Kirana yang menggigil kedinginan, lalu tanpa pikir panjang dia memeluk gadis itu.
Raka mengusap dan meniup kedua tangan Kirana, mencoba memberi kehangatan, meski dirinya juga dalam keadaan basah.
"Masih dingin?" Raka bertanya.
Tanpa Kirana menjawab pun, Raka tahu Kirana masih kedinginan begitu melihat tubuhnya yang terus menggigil.
Akhirnya mereka saling memeluk. Tubuh keduanya menempel, melebur jadi satu hanya dihalangi oleh pakaian mereka. Di saat itulah nafsu menguasai tubuh dua sejoli yang dimabuk asmara.
Lantas mereka kembali berciuman. Melanjutkan ciuman yang tadi terjeda oleh hujan. Namun, kali ini ciuman mereka lebih panas.
Raka bahkan sampai menggigit bibir bawah Kirana, dan suasana di dalam mobil berubah berisik oleh suara kecapan bibir.
Mereka seakan lupa daratan. Terlebih Raka yang telah melanggar janjinya untuk tidak menyentuh Kirana hingga mereka resmi menikah.
Namun, Raka benar-benar ingin mencicipi gadis bernama Kirana ini. Kecupan Raka berpindah turun ke leher, meninggalkan jejak tanda merah di sana.
Untung saja di saat tangan Kirana melepas jas milik Raka, sebuah benda kecil jatuh ke bawah dashboard mobil. Membuat dua anak manusia itu tersadar, dan segera memisahkan diri.
Kemudian Kirana membungkuk, memungut benda kotak warna merah, lalu melempar pandangan pada Raka.
"Ini untukmu," kata Raka sambil membukakan kontak di tangan Kirana.
Di sana tersemat cincin berlian yang berkilau indah, menjadikan Kirana kembali menatap Raka dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
"Raka, apa kamu sungguh ingin menikah denganku?"
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Raka balik bertanya.
"Bukan begitu. Maksudku…"
Kirana menarik nafas sekaligus memejamkan mata. Mendadak ucapan Hardi terdengar jelas di telinga dan mengganggu pikiran Kirana.
__ADS_1
"Di dalam tubuhku mengalir darah keluarga Russell, kamu tahu watak semua anggota keluargaku, bahkan ayahku seorang pria gila yang berambisi membunuh anak kandungnya sendiri. Apa kamu tidak takut menikah denganku, Raka?"