
“A-a aku mau beli… ,” Raya berpikir sejenak. Sekiranya benda apa ang tidak ada di apartemen.
“Aku mau beli roti tawar.”
Raya terkekeh dengan bola mata yang bergerak gelisah, saat Raka melepaskan lengannya sambil mengerutkan dahi.
“Sudah ada roti tawar di apartemen. Aku menyimpannya di kulkas,” tutur Raka.
“B-bukan roti tawar itu. Maksudku…” ucapan Raya kembali terpotong.
Rasanya malu jika menyebutkan benda kebutuhan bulanan wanita yang satu ini.
Melihat reaksi gadisnya, seketika Raka paham apa yang dimaksud roti tawar oleh Raya. Dia menarik nafas sejenak.
“Maksudmu, pembalut,” tebak Raka tanpa sensor.
Raya menganguk sebagai jawaban.
Aduh. Kenapa Raka masih di sini? Aku pikir dia sudah meninggalkan gedung apartemen. Kalau begini, bagaimana aku bisa pulang? Raya membatin.
“Kamu tidak perlu keluar. Aku akan menyuruh orang untuk membelikannya untukmu. Sekarang kamu balik lagi ke kamarmu! Jika perlu sesuatu bilang saja padaku, oke?”
Raya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Maaf, tadi aku lupa,” ucap Raya memaksa untuk tersenyum.
“Ya, sudah. Aku antar kamu ke kamar.”
“Jangan!” pekik Raya. “Aku bisa ke kamarku sendiri.”
Akan tetapi Raka seakan tuli, tidak mendengarkan ucapan kekasihnya itu. Dia langsung menggendong Raya ala pengantin baru.
Meskipun mereka mendapat lirikan dari beberapa orang yang berpapasan, Raka tidak peduli.
Sedangkan Raya hanya bisa menahan malu. Berusaha melepaskan diri pun percuma karena Raka semakin mengencangkan cengkeramannya.
Bahkan ketika di dalam lift, Raka tidak mau menurunkan tubuh Raya. Dia mengaku suami dari gadis yang sedang digendongnya saat seorang wanita tua menegur mereka.
Hingga sampailah di dalam kamar, Raka langsung membaringkan tubuh Raya di ranjang, menarik selimut hingga menutupi leher, lalu dia sendiri duduk di sofa melipat tangan di depan dada dengan sikap yang arogan.
“Sekarang tidurlah! Aku akan tetap di sini, memastikan kamu benar-benar tidur,” kata Raka menatap tajam pada Raya.
Sial. Apa dia tahu kalau aku tadi berbohong?
“Raka, kamu sudah janji akan pulang kan?”
__ADS_1
“Iya, aku akan pulang kalau kamu tidur.”
Raya hanya bisa berdecak. Sekali lagi dia harus menuruti kemauan pacarnya supaya bisa pulang.
Dia pun memejamkan mata untuk beberapa saat yang lama. Setelah dirasa tak ada pergerakan dari arah sofa, Raya sedikit membuka mata dan mengangkat kepala.
“Aku tahu kamu pura-pura tidur,” ucap Raka yang ternyata masih mengawasinya.
Seketika Raya kembali menjatuhkan kepala ke bantal dan merapatkan kelopak mata. Sementara, Raka yang melihat tingkah lucu pacarnya hanya bisa mengulum senyum.
Tadi tak sengaja Raka bertemu dengan teman kuliahnya yang ternyata juga tinggal di salah satu lantai gedung apateman yang sama.
Mereka berbincang sebentar, hingga saat Raka hendak menuju mobilnya, dia melihat Raya keluar.
Kini Raka merasa lelah dan mengantuk. Tidak baik jika mengendarai mobil dalam kondisi mengantuk.
Sehingga dia memutuskan mandi terlebih dahulu, agar badan segar. Baru setelah itu, dia akan pulang.
Dia pun berdiri dan melepaskan pakaiannya satu per satu.
Pemandangan Raka yang menanggalkan pakaian, ditangkap oleh Raya yang membuka sedikit matanya.
Apa yang hendak Raka lakukan? Batin Raya berusaha sekuat tenaga menelan salivanya.
Jangan-jangan dia mau unboxing segel.
Meski sudah pernah melihat Raka dalam keadaan polos tanpa sehelai kain, tapi Raya merasakan tubuhnya berdesir tatkala menatap bentuk badan sixpack milik pria tampan itu.
Raka tidak menyadari dirinya sedang diamati oleh Raya, dia berniat melepas celana panjangnya namun tiba-tiba…
"Aaaaaa"
Raya menjerit tak kuat melihat Raka yang akan memamerkan juniornya.
Sedangkan Raka yang terkejut akan jeritan Raya, segera menaikan kembali celananya. Dia pikir Raya sudah terlelap, makanya dia melepas baju di kamar.
"Raka, kamu mau apa?" tanya Raya sambil tangannya menutup kedua bola mata.
"Aku mau mandi," jawab Raka santai.
"Kenapa kamu belum tidur? Kan sudah aku suruh untuk tidur."
"Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang, kalau kamu buka baju di hadapanku?" rajuk Raya yang belum berani membuka mata.
Raka terkekeh.
__ADS_1
"Oke, aku akan pergi ke kamar mandi sekarang."
Raka berjalan di tempat, sedangkan Raya yang mendengar langkah kaki, pelan-pelan membuka kelopak mata. Dia mengira jika Raka sudah masuk ke kamar mandi.
Tapi, dia salah.
Raya melotot dan kembali menjerit saat matanya menangkap Raka masih ada di depannya. Hal itu mengundang tawa bagi Raka. Dia senang sekali menjahili kekasihnya.
"Ish, Raka. Kamu jahil."
“Oke, oke kali ini aku sungguh-sungguh akan ke kamar mandi,” kata Raka yang kemudian berlalu pergi.
Raya menghela nafas lega. Dia mengurungkan niat utuk pulang ke rumah, dan sebaiknya menelepon Nakula atau Sadewa saja untuk mencari surat yang dimaksud Alexa.
Lalu dia meraih ponsel. Terlebih dahulu, dia berjalan ke balkon agar Raka tidak mencuri dengar pembicaraannya.
Raya mencoba menghubungi Nakula, namun panggilan itu tidak diangkat.
“Pasti Nakula sudah tidur. Coba aku telepon Sadewa saja,” kata Raya sambil jemarinya mencari kontak Sadewa.
Tak butuh lama, Sadewa mengangkat telepon dari Raya.
“Halo, Kak Kira, ada apa? Malan ini Kakak menginap lagi di rumah Kak Raka?” cecar Sadewa begitu sambungan telepon terhubung.
“Sebenarnya, Kakak akan tinggal di apartemen untuk waktu yang agak lama. Sadewa, apakah Kakak boleh minta tolong?”
“Tolong apa, Kak?”
“Di meja rias Mama, tepatnya di laci nomor dua, ada surat pembayaran administrasi rumah sakit atas nama pasien Rayyan Abimanyu. Tolong kamu ambil surat itu, lalu titipkan ke Nakula,” titah Raya sambil sesekali melirik ke dalam kamar.
“Oke, akan aku carikan, sekalian aku saja yang menyerahkan langsung ke Kak Kira. Karena besok siang, perusahaan Kakak akan rapat dengan Irawan Group.”
“Oke, thank you, Sadewa. See you.”
Raya menutup telepon, seketika dia ingat akan anak Bi Muna yang akan melamar kerja di Red Riding Hood, sehingga dia menghubungi Sunny.
Selepas itu, Raya kembali ke tempat tidur.
Dia menggigit bibir bawah sambil menatap arah pintu kamar mandi. Raka masih berada di dalam sana. Dia resah memikirkan kebenaran meninggalnya Rayyan.
Bagaimana jika benar Papa yang telah menabrak Ray hingga dia meninggal?
Ketika Raka keluar dari kamar mandi, dan mendapati Raya telah terlelap di tempat tidur. Dia mengulas senyum begitu melihat raut tenang Raya.
Sejenak dia ingin meraih ponsel milik Raya yang tergeletak di atas nakas. Dia penasaran. Sepertinya ada banyak hal yang disembunyikan oleh Raya darinya.
__ADS_1
Namun, Raka mengurungkan niatnya. Dia lebih memilih menepati janjinya untuk pulang.
“Berangkat kerja besok aku akan menjemputmu,” ucap Raka sebelum dia meninggalkan kamar, yang tentu saja tidak didengar oleh Raya karena sudah berada di alam mimpi.