Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
27. Ini Baru Permulaan


__ADS_3

Sementara itu di luar, Clara mengirimkan salah satu foto selfienya ke Raya yang mana di belakang Clara ikut terpotret Raka sedang membuka pintu kamar hotel.


Jari Clara yang seperti ceker ayam menggulirkan sebuah pesan agar Raya salah paham.


Raya, aku dan Raka sedang ada di kamar hotel nih. Jangan marah! Raka duluan yang mengajak.


Clara tersenyum sumringah, dan pada saat yang bersamaan, Raka keluar. Pria itu berjalan melewati Clara seakan keberadaannya tak dianggap.


“Raka, tunggu!” teriak Clara sambil berlari menyusul Raka.


Dia menangkap pundak dan memutarkan badan Raka, lalu dia terlonjak kaget karena kini Raka tengah menatapnya dengan sangat dingin.


“Bagaimana? Orang itu bilang apa?” tanya Clara sedikit ketakutan.


Raka tak menyahut. Lalu secepat mungkin Clara memeluk tubuh Raka dengan sangat erat, bagaikan ada magnet di dalam tubuh mereka.


Tentu saja Raka mencoba untuk melepas pelukan, namun Clara tidak mau menyerah. Dia semakin mengeratkan lengannya.


Tanpa Raka sadari, Beni memotret adegan mereka tengah berpelukan.


“Clara, lepas! Apa-apaan kamu ini,” bentak Raka.


“Aku sudah membantumu menemukan pelaku yang menabrak Ray. Jadi aku pantas mendapatkan imbalan kan?”


Raka mendengus.


“Kamu pikir, aku percaya begitu saja dengan orang yang kamu suruh untuk menjadi saksi mata palsu.”


“Dia bukan saksi mata palsu,” protes Clara yang tak didengar oleh Raka karena pria itu telah berjalan meninggalkannya sendirian.


Ternyata Raka tidak semudah itu dibodohi. Clara.


Ketika Raka telah menghilang, barulah Beni berani mendekati Clara yang sedang berkacang pinggang dengan wajah kesal.


“Kamu memotret saat aku memeluk Raka, kan?” tanya Clara.


Beni mengangguk, dan menyerahkan ponsel berisi sederat foto Raka dan Clara.


“Kerja bagus. Akan aku kirimkan foto-foto itu ke Raya si pelakor kampungan.”


***


Di rumah besar keluarga Mahendra, tepatnya di kamar Kirana.


Wanita itu sehabis mandi dan sedang berada di walk in closet memilih baju yang hendak dia pakai. Lantas dia menaruh satu stel piyama dan menggunakannya.


Setelah itu dia duduk di meja rias, melepas handuk yang melilit di kepala, lalu ponsel yang berada di atas meja bergetar pertanda ada pesan masuk.


Perhatian Kirana teralihkan ada benda canggih itu, sebuah nomor tak dikenal mengirimkannya pesan beserta deretan foto.

__ADS_1


Namun begitu membaca pesan, dia tahu siapa yang pengirimnya.


“Raya, aku dan Raka sedang ada di kamar hotel nih. Jangan marah! Raka dualan yang mengajak.”


Jari Kirana menggeser foto demi foto di layar ponsel. Seketika seperti ada yang meremukan jantungnya dan dia tidak lagi ingin melihat foto yang memamerkan kemesraan Raka dan Clara.


“Pergi dengan Clara, dia anggap itu urusan pekerjaan, hah?” desis Kirana yang merasa geram.


Kirana menyisir rambut dengan kasar, dan asal-asalan. Lalu dia merebahkan diri di tempat tidur, serta menarik selimut hingga menutupi leher.


Tok… tok… tok…


Suara pintu diketuk oleh seseorang dari luar.


“Kak, ini aku Sadewa. Ayo kita makan malam.”


“Kamu makan malam saja dengan Nakula. Aku minta tolong pada pelayan untuk mengantarkan makan malamku ke kamar,” kata Kirana dari dalam kamar.


“Baik, Kak.”


Lantas Sadewa melangkah menuju ruang makan sambil keheranan dengan sikap kakaknya yang tiba-tiba tidak mau makan malam bersama.


***


Raka membuka pintu apartemen. Di sana sepi senyap, bahkan lampu-lampu belum dinyalakan. Kaki Raka menyisir setiap ruangan mencari keberadaan Raya.


Namun, begitu tak kunjung menemukan sosok kekasihnya dimana pun, Raka mulai panik.


“Raya, kamu di mana?” teriak Raka gelisah.


Ketika masuk ke dalam kamar, kondisi ranjang tertata rapi, tanda belum ditempati untuk tidur, dan lantai kamar mandi juga dalam keadaan kering.


Itu berarti Raya tidak pulang ke apartemen. Lantas dimana dia sekarang?


Raka semakin gusar mendapati nomor ponsel Raya tidak aktif untuk dihubungi. Dari jendela, dia dapat melihat bahwa di luar sana sebentar lagi akan turun hujan.


Suara guntur mulai menggelegar.


Raka tidak akan membiarkan wanita yang dia cintai berada di luaran saat cuaca diprediksi akan terjadi hujan badai.


Segera dia keluar dari gedung apartemen, melajukan mobil meski tak tahu arah tujuan. Dia menelusuri setiap sudut kota, sambil terus menghubungi Raya.


Orang yang tengah dicari oleh Raka sedang terbungkus selimut hangat. Dia menangis dalam tidurnya.


Makanan yang satu jam lalu disediakan oleh pelayan rumah telah dingin tanpa tersentuh sedikit pun.


Waktu menunjukan hampir tengah malam. Raka tak tahu harus kemana lagi mencari Raya. Dia memutuskan untuk kembali lagi ke apartemen, berharap Raya sedang menunggunya di sana.


Namun, itu hanya sebuah angan kosong.

__ADS_1


Karena nyatanya, setelah Raka kembali tidak ada seorang pun di apartemen mewah itu.


Raka mandi, berganti pakaian, dan tidur di sofa ruang tamu untuk menunggu Raya pulang. Semalam suntuk Raka tak dapat tidur dengan tenang.


Bukan karena dia tidur di sofa, tapi karena terus memikirkan keberadaan Raya sekarang ini.


“Raya, Kamu ada di mana? Kenapa kamu suka sekali menghilang?” gumam Raka.


Dia berpaling menatap pintu.


“Aku minta maaf aku telah membohongimu.”


***


Keesokan harinya, Raya berdiri di depan mesin fotokopi. Dia mendapat perintah untuk mengkopi beberapa berkas.


Tanpa dia sadari sudah ada Raka di belakangnya.


Raka melingkarkan lengannya di pinggang Raya, yang membuat gadis itu terkesiap, lalu secepat mungkin memutarkan badan.


“Raka, ini tempat kerja,” Raya memperingati dengan sedikit membentak, kemudian fokus lagi dengan pekerjaannya.


“Ke mana kamu semalam? Aku mencarimu.”


“Harusnya aku yang tanya, ke mana kamu pergi bersama Clara?” Raya balik bertanya yang dia sendiri telah tahu jawabannya.


Raya mengambil beberapa lembar kertas hasil fotokopi, membolak-balik setiap halaman untuk memastikan tidak ada yang salah.


“Sayang, dengarkan aku! Aku minta maaf telah…”


SREK.


“Auh.”


Raka tak melanjutkan ucapannya begitu melihat jari telunjuk Raya tergores pinggiran kertas hingga berdarah.


Raya hanya meringis sedikit, tapi Raka khawatir setengah mati. Pria itu segera meraih tangan kekasihnya, lalu menghisap jari telunjuk Raya agar darah tak lagi mengucur.


“Jarimu berdarah,” ucap Raka cemas.


Sedangkan Raya hanya berdecak dan menarik lepas tangannya. Lalu dia segera menyambar semua berkas dan pergi dari sana.


“Raya, tunggu!” seru Raka berusaha mengejar Raya.


Sementara itu, Clara tersenyum melihat keretakan hubungan Raka dan Raya. Sejak tadi dia memantau gerak-gerik keduanya, dan semua berjalan sesuai yang dia mau.


Kemudian, Clara menyeringai sambil otaknya berpikir cara yang akan dia lancarkan selanjutnya untuk memisahkan Raka dan Raya.


“Ingat ya, Raya! Ini baru permulaan. Aku tidak akan membiarkan kalian bersama.”

__ADS_1


__ADS_2