Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
8. Uji Coba


__ADS_3

Pagi hari, di kantor Irawan Group.


Kirana sedang mengepel di lobby. Matanya hanya fokus pada lantai, tidak memperdulikan lalu lalang orang yang berjalan seenaknya saja. Tidak menghargai profesi Kirana sebagai office girl.


Hanya ada beberapa pegawai yang dengan sangat sopan mengucapkan permisi saat melewati lantai yang sudah dibersihkan Kirana.


Kirana balas mengangguk pelan, dan melanjutkan mengepel. Hingga alat pelnya membentur kaki seorang pria yang memakai sepatu pantofel hitam. 


Dia pun mendongak, di hadapannya sudah ada Raka, sang sekretaris.


“Selamat pagi, Tuan,” sapa Kirana dengan sangat canggung, mengingat tendangan mautnya kemarin.


Raka diam tak menyahut, dia hanya memandang lurus tanpa ekspresi pada gadis yang hampir merusak masa depannya.


Kirana yang mendapatkan tatapan tak mengenakkan dari Raka, semakin salah tingkah.


“Apakah adik kecilnya masih berfungsi, Tuan?” tanya Kirana yang meluncur begitu saja dari mulutnya.


Buru-buru dia menutup mulut, membelalakan mata, dan jangan tanyakan pipi Kirana sudah semerah apa. Kini pipi Kirana tampak seperti tomat matang.


Raka hanya mendengus, lalu mendekatkan diri ke telinga Kirana.


“Aku juga tidak tahu masih berfungsi atau tidak. Jadi, bagaimana kalau kita uji coba?”


Kirana terkekeh garing, lalu menelan salivanya dengan susah payah.


“Uji coba apa, Tuan?” 


“Kita uji coba apakah juniorku masih berfungsi atau tidak.”


“Apa? Jangan macam-macam dengan saya, Tuan! Saya bukan wanita murahan.”


Raya mengayunkan gagang pel berniat memukul adik kecil Raka. Namun, Raka dengan mudah menangkap gagang pel yang terbuat dari kayu dan mematahkannya.


Raya pun dibuat terkejut dengan gagang pel yang kini terbagi menjadi dua. 


“Sekali lagi kamu menyakiti juniorku, akan aku patahkan kakimu seperti gagang pel ini. Mengerti?” ancam Raka dengan sorot mata menghunus.


Lakukan saja jika bisa. Kata Raya yang hanya terucap di dalam hati. 


Dia sama sekali tidak takut dengan ancaman Raka. Namun, sebisa mungkin dia tetap tenang dan menampilkan senyuman. 


"Iya, Tuan, saya mengerti."


Raya sekali lagi mengulas senyum demi menutupi rasa cangungnya yang ditatap tajam oleh Raka.


Dia manis sekali jika tersenyum seperti itu. Batin Raka.

__ADS_1


Tepat saat itu, Clara datang menghampiri Raka. Wanita itu merapatkan diri ke lengan Raka yang bahkan tidak menyadari kehadiran Clara.


“Makanlah bersamaku siang nanti,” ucap Raka.


“Sungguh? Kamu mengajakku makan siang, Raka?” tanya Clara yang girang bukan main.


Raka langsung melempar pandangan pada Clara sambil mengerutkan alis. Dia baru sadar ada Clara di dekatnya.


“Aku sedang berbicara pada Raya, bukan denganmu.”


Seketika Clara mengerucutkan bibirnya, melirik penuh dengki pada gadis yang bernama Raya. Detik itu juga, Clara menandai Raya sebagai saingan dalam merebut cinta Raka. 


Ingatan Clara kembali saat kemarin dia memergoki Raya dan Raka keluar dari pintu toilet yang sama dengan rambut Raya acak-acakan dan Raka yang berjalan mengangkang. Sehingga Clara menarik kesimpulan sendiri bahwa Raya telah menjual dirinya ke Raka.


Dasar wanita ja**ng, pasti dia mengincar hartanya Raka. Geram Clara dalam hatinya.


“Raka, aku juga ikut makan siang denganmu ya?” Clara merengek memasang wajah memelas.


“Aku hanya mengajak Raya.”


“Ish, wanita kampungan itu pakai pelet apa sih?” gerutu Clara.


“Aku tunggu di jam istirahat nanti,” ucap Raka yang kemudian berlalu pergi.


***


Menjelang jam istirahat, Clara menyusun siasat agar Raya tak bisa makan siang bersama Raka. Dia sengaja menyuruh Raya membelikan makanan di sebuah restoran yang jaraknya lumayan jauh dari kantor.


Clara terus menyebutkan nama-nama makanan western yang namanya susah disebut. Dia berpikir, Raya yang dianggapnya gadis dari kampung tidak akan mengerti makanan apa saja yang disebutkan.


Ditambah Clara sengaja tidak memberikan catatan untuk Raya.


“Oh, satu lagi. Cheese burger. Sudah itu saja.” 


Clara tersenyum mengakhiri ucapannya. Menyerahkan selembar uang ke Raya yang memberengut.


“Kamu ingat makanan apa saja yang aku pesan? Jangan sampai ada yang terlewatkan!”


“Memangnya semua itu mau dimakan kamu sendiri?” Raya balik bertanya. 


“Sudah, tidak perlu banyak tanya. Beli saja semua makanan itu di Fancy Restaurant.”


“Tapi uangnya kurang kalau hanya selembar ini,” Raya mengibar-ibarkan uang lembaran berwarna hijau itu.


“Cukup. Pasti cukup dengan uang itu,” kilah Clara yang berusaha membodohi Raya.


Clara segera mengusir Raya untuk segera pergi, dan Raya sendiri melangkah keluar kantor dengan perasaan yang kesal.

__ADS_1


Raya tahu dirinya sedang dijahili oleh Clara. Namun, statusnya sebagai office girl tidak dapat menolak.


Belum jauh dia meninggalkan kantor, Raya teringat nama restoran yang hendak dia tuju. Dia sejenak berhenti di depan gerbang.


“Fancy Restaurant bukankah restoran milik Om Frans?”


Raya menjentikan jari karena lampu di otaknya menyala terang. Dia merogoh ponsel yang ada di saku, lalu menelepon Frans, ayah dari Sunny.


Tak butuh lama Raya menunggu, Frans mengangkat telepon di seberang sana.


“Ya, halo, Kirana. Ada apa tumben telepon?”


“Halo, Om Frans, apakah Om sedang berada di restoran sekarang?”


“Iya, kenapa?”


Raya langsung mengatakan maksud sebenarnya dia menelepon Frans, yaitu untuk memesan makanan yang jumlahnya bisa untuk makan orang satu kampung.


Untung saja Raya memiliki ingatan yang tajam. Dia hafal apa saja yang dimau Clara hanya dalam satu kali penyebutan.


“Tolong antar ke kantornya Papa ya, Om Frans. Tapi jangan atas nama Kirana!”


“Lalu atas nama siapa Om kirim pesananmu?” tanya Frans dari seberang telepon.


“Atas nama Raya. Sekarang juga aku akan transfer uangnya”


“Kalau boleh Om tahu, untuk apa kamu pesan makanan sebanyak ini, Kirana?”


“Oh, ada teman aku yang ulang tahun. Jadi, aku mau traktir dia,” kata Kirana berbohong.


Frans hanya menggumam. Lalu mengatakan bahwa Kirana tak perlu membayar pesanannya. Semua gratis dari Frans.


Kirana yang tak menyangka akan ucapan Frans, sedikit merasa bersalah karena dia telah berbohong. Namun, apa daya. Dia juga tidak mungkin mengatakan bahwa sekarang dia menjadi pesuruh di perusahaannya sendiri.


Frans juga teman baik Balin. Kirana takut, rahasianya bocor. Akan gagal misinya nanti untuk menemukan musuh yang tersembunyi.


“Papa kamu sudah banyak membantu Om Frans, dan berkat kamu juga Sunny bisa bekerja seperti sekarang ini. Jadi kamu tidak perlu sungkan, oke?”


Kirana terkekeh pelan.


“Kalau masalah Sunny yang bekerja denganku, itu memang Sunny gadis yang pintar, Om.”


Dari seberang, terdengar Frans yang juga tertawa.


“Kamu tunggu saja pesananmu. Khusus untukmu akan diberikan pelayanan ekspres.”


“Thank you, Om Frans.”

__ADS_1


Kirana menutup telepon.


Uang pemberian Clara, dia putuskan untuk membeli es degan yang kebetulan mangkal di seberang jalan. Dia lupa di dalam kantor, ada seseorang yang sedang mencarinya.


__ADS_2