Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
55. Raka Dan Amanda


__ADS_3

Sepanjang perjalanan sesekali Raka melirik ke samping, di mana Balin duduk sambil membaca pesan di ponselnya.


Dari raut wajah Balin, dapat dipastikan pria itu menyembunyikan rasa gelisah.


“Apa ada masalah, Tuan?” tanya Raka.


Balin menggeleng dan menjawab, “Tidak ada.”


Meskipun begitu sorot mata Balin tak dapat dibohongi. Jemarinya mengetuk-ketuk lutut. Tanda bahwa dia sedang tidak tenang.


Satu menit yang lalu, Balin mendapat laporan dari Ken jika Kirana baru saja ditampar oleh ibu Raka.


Berita itu membuat Balin sangat marah. Ingin sekali dia memaksa Kirana untuk menyudahi penyamarannya.


Tak lama mobil berhenti di depan gerbang rumah besar keluarga Mahendra. Setelah mengantarkan bosnya, Raka langsung menancapkan gas mobil dengan kecepatan penuh.


Sementara itu, Balin berjalan masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, ada Alexa yang sedang merangkai bunga.


“Apa Kirana sudah ada di rumah?”


Sebuah pertanyaan yang membuat Alexa mengerutkan dahi.


“Belum. Mungkin Kirana masih dalam perjalanan. Sambil menunggu bagaimana kalau kamu ganti pakaianmu dulu?”


Tak ingin Alexa menyadari kegelisahannya, Balin pun mengangguk, dan langsung menuruti saran dari istrinya.


***


Mobil yang ditumpangi Raka melaju kencang hingga ke batas maksimal. Tangannya menggenggam erat ke stir kemudi, dan pandangan fokus ke jalanan.


Sejak tadi dia tak sabar ingin bertemu dengan Raya.


Pasti gadis itu senang jika dia dapat pulang lebih cepat. Setidaknya begitulah pemikiran Raka.


Senyum semakin berkembang manakala Raka sampai di gedung apartemen lalu menaiki lift. Dia membuka pintu apartemen, dan langsung mencium aroma masakan dari dapur.


Lantas langkah kaki Raka menuntunya menuju ke sana, dan alangkah terkejutnya dia melihat Amanda berjalan lalu-lalang menata piring di meja.


Amanda menyambut kedatangan putranya dengan senyuman.


“Raka, kebetulan kamu sudah pulang. Mommy masak ayam bakar kesukaan kamu. Kita makan siang bareng yuk.”

__ADS_1


Ajakan makan siang bersama itu menjadikan Raka senang bukan main. Dia mengira Amanda telah berubah pikiran, dan kini merestui hubungannya dengan Raya.


Raka belum tahu jika Raya sudah tidak ada di apartemen. Sebab dia belum melihat gadis itu dan mengira Raya masih berada di dalam kamar.


“Aku akan ke kamar sekalian mengajak Raya makan siang.”


“Tapi, Raka…”


Raka tak mendengarkan Amanda meneruskan ucapannya. Dia bergegas ke kamar Raya, memutar gagang pintu, dan membukanya lebar-lebar.


Seketika bola mata Raka membulat sempurna, mendapati bukan Raya yang berada di kamar, melainkan Clara.


Wanita itu terkesiap sekaligus bahagia melihat Raka di ambang pintu. Dia turun dari ranjang, merentangkan tangannya yang tidak sakit, dan langsung bergelayut manja di lengan Raka.


“Mana Raya?” tanya Raka sambil menyapu pandangan ke sekeliling kamar.


Mendengar nama Raya disebutkan, membuat Clara membuang nafas jengah.


“Raya sudah Mommy usir dari apartemen ini,” sahut Amanda dari belakang Raka.


Dengan cepat, Raka memutar badan, melayangkan tatapan dingin pada ibunya.


“Mommy tidak punya hak mengusir Raya. Ini apartemen yang Raka beli untunya, Mom.”


Amanda berkacak pinggang, membuang muka, dan bergumam, “Sepertinya benar yang dikatakan Clara. Kamu sudah kena pelet.”


Di saat keadaan mulai memanas, Clara semakin merapatkan tubuhnya di lengan Raka. Dia menunjukan tangan kanan yang terbalut gips.


“Mommy kamu mengusir Raya karena dia mau mematahkan tanganku. Lihatlah!” ucap Clara dengan suara yang sengaja dibuat merana.


Raka hanya melirik sekilas tangan Clara, lalu kembali menatap Amanda. Dia sama sekali tidak tertarik maupun berempati sedikit pun pada Clara.


“Tanganku sakit, Raka. Entah apa jadinya jika Tante Amanda tidak menampar Raya. Pasti tanganku sudah amputasi,” Clara terus saja merengek manja.


“Clara benar. Kelakuan Raya itu sungguh tidak beretika. Jadi Mommy tampar saja dia.”


Kedua tangan Raka mengepal kuat, nafasnya memburu seirama dengan dada yang naik turun. Dia menatap Amanda dan Clara secara bergantian.


Sedangkan Amanda yang melihat kemarahan di wajah tampan sang putra sulung, hanya bisa menelan salivanya.


Meskipun dia ibu dari Raka, akan tetapi badan Amanda bergemetar takut jika ditatap seperti itu.

__ADS_1


“Mommy berani menampar Raya?” tanya Raka tak percaya.


Tak ada sahutan baik dari Amanda maupun Clara. Mereka sama-sama terdiam.


“Lalu sekarang Raya ada dimana?”


Amanda mendengus kasar, memutar bola mata, dan mengangkat bahu.


“Ya mana Mommy tahu. Lagi pula kenapa sih kamu selalu memikirkan Raya, Raya, dan Raya?” ucap Amanda dengan suara yang dinaikan satu oktaf.


Mata Amanda mendelik. Gagal sudah dia membujuk secara halus Raka untuk bertunangan dengan Clara.


Sepertinya kali ini dia harus memakai cara kasar pada putranya.


“Tante dan juga Raka, sebaiknya kita segera makan yuk. Clara sudah lapar nih,” ucap Clara bermaksud mengakhiri perdebatan yang semakin panas.


Tanpa mengatakan sepatah kata apapun, Raka langsung menghambur ke luar apartemen. Dia tak peduli akan teriakan Amanda dan Clara yang memintanya kembali.


Raka berjalan setengah berlari menuju mobilnya. Dia harus mencari Raya, dan harus sampai ketemu. Meskipun dia tak tahu gadis itu entah berada dimana sekarang ini.


Ketika Raka menyalakan mesin mobil, pandangan matanya menangkap sebuah benda pipih tergeletak di kursi samping pengemudi.


“Ini kan dompet milik Tuan Balin,” gumam Raka sambil meraih dan meneliti dompet di tangannya.


“Pasti Tuan Balin belum menyadari dompetnya tertinggal di mobilku.”


Raka menarik nafas panjang. Dia putuskan untuk mengembalikan dompet Tuan Balin terlebih dahulu. Setelah itu, dia akan mencari Raya.


***


Terdengar suara decitan rem ketika sebuah mobil berhenti di halaman depan rumah keluarga Mahendra.


Ken turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu belakang yang mana Kirana muncul dari sana, langsung menjejakan kaki, dan berjalan cepat ke arah pintu rumah.


Di teras, kebetulan sekali ada Juan, sang kepala pelayan. Pria itu mengangguk memberi hormat pada Kirana.


“Pak Juan, apakah Papa sudah pulang?” Kirana bertanya setelah membalas anggukan.


“Sudah, Nona. Tuan Balin juga sedang menunggu kedatangan Nona Kirana di ruang tamu.”


“Baik, terima kasih, Pak Juan.”

__ADS_1


Juan menggeser tubuhnya untuk memberi ruang pada Kirana yang akan masuk ke dalam rumah.


__ADS_2