Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
56. Kamu Di Sini


__ADS_3

Kirana masuk ke ruang tamu. Di sana ada Balin yang telah memakai baju santai tengah duduk di sofa menanti kedatangan putrinya.


Kirana menghempaskan diri ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Balin.


Dia telah siap dengan semua laporannya. Tidak sia-sia selama ini dia bekerja sebagai office girl.


Namun, sebelum Kirana sempat berbicara, Balin sedikit memiringkan kepala, meneliti seberkas rona merah di pipi Kirana.


“Ada apa dengan pipimu?” Balin bertanya, berpura-pura tidak tahu.


“Oh, ini,” Kirana menunjuk pipi kirinya. “A-aku… aku tadi…”


“Kamu tadi ditampar oleh ibunya Raka, kan?”


Perlahan Kirana menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dia tak mau berbohong pada ayahnya.


Sementara itu, Balin hanya bisa menghela nafas, berdecak dan memijat pangkal hidungnya. Terlihat jelas dia sangat frustasi.


“Papa mau kamu segera berhenti menjadi Raya. Hari ini juga, akhiri semua sandiwaramu itu, Kirana,” kata Balin dengan nada penuh tuntunan.


“Memang akan aku lakukan, Papa. Sebab aku telah mengetahui mata-mata yang bekerja di Irawan Group.”


“Oh ya, siapa itu?”


“Orang itu Clara, dan dia bekerja sebagai mata-mata atas perintah dari ayahnya. Dia juga dalang di balik kasus kopi beracun.”


Melihat Balin yang hanya diam, lantas Kirana melanjutkan laporannya.


“Clara menyuruh Mae, dan Mae melempar perintah ke Neneng. Tapi Papa tenang saja. Sekarang Mae sudah mendekam di penjara karena kebodohannya sendiri, jadi kita tidak perlu repot-repot mendepaknya dari Irawan Group.”


“Kamu yakin, Clara orangnya?” 


“Aku punya bukti, Papa.”


Kirana memperlihatkan cuplikan video yang merekam percakapan Hardi dan Clara saat berada di apartemen.


Balin cukup tersentak melihat wajah ayah Clara. Pria itu memiliki patahan wajah, postur tubuh hingga suara yang sangat mirip dengan Harsa Russel, ayah kandung Kirana.


Balin membuang muka, dan mengepalkan tangan. Mendadak suasana hatinya menjadi bertambah tidak tenang.


“Dan ada satu hal yang ingin aku tahu.”


“Apa itu?”


“Ayahnya Clara bernama Hardi Russell. Apa Papa mengenalnya?”


Balin mendelikkan mata. Genggaman tangannya semakin erat, demi menyembunyikan rasa gemetar yang tidak bisa dihilangkan.


“Papa tidak kenal.”

__ADS_1


Balin berkata jujur. Dia memang tidak mengenal Hardi Russell. Namun, dari nama dan juga ciri-ciri fisik, dia sangat yakin Hardi Russell pasti memiliki hubungan dengan ayah kandung Kirana.


Gelagat aneh Balin ditangkap oleh mata Kirana yang menyipit.


“Papa yakin tidak kenal?”


“Sudahlah Kirana. Sebaiknya kamu beristirahat di kamarmu,” Balin mencoba mengalihkan perhatian.


“Ada yang Papa sembunyikan dariku. Pasti ini ada hubungannya dengan Hardi Russell kan? Aku ingin tahu, Pa. Kenapa dia memiliki niat jahat pada Papa? Apa dia saingan bisnis Papa? Atau musuh Papa di masa lalu?” cecar Kirana.


"Sudah Papa bilang, Papa tidak kenal dia, Kirana."


***


Di waktu yang bersamaan, di taman depan rumah keluarga Mahendra Sadewa duduk di sebuah bangku taman sambil bermain video game.


Kebetulan Neneng juga ada di taman. Sejak tadi dia mengintai Sadewa dengan tatapan malu-malu kucing.


Perlahan tapi pasti Neneng memberanikan diri mendekati Sadewa. Dia membulatkan tekad untuk mengungkapkan rasa cintanya pada pria itu dan berharap cintanya terbalaskan.


Begitu berada di samping bangku, kegugupan makin melanda. Tak kuasa menatap langsung, membuat Neneng mengalihkan pandangan pada tanaman bunga bugenvil yang tak jauh darinya.


Sehingga seolah Neneng seperti berbicara pada bunga bugenvil, bukan pada sadewa.


"Tuan Sadewa, saya mau minta saran. Saya sudah lama mengagumi seseorang, lebih baik tembak langsung atau tidak ya?" tanya Neneng senyum-senyum.


"Tembak, tembak," kata Sadewa bukan menjawab pertanyaan Neneng. Melainkan dia geram menembak di game yang sedang dimainkan.


Namun, Neneng yang tidak melihat ke arah Sadewa, sudah salah mengira. Dia terlonjak senang.


"Kalau begitu, Neneng mau menembak Tuan Sadewa. Sebab Neneng itu jatuh hati pada Tuan."


Neneng menarik nafas panjang, senyum di bibirnya tak sedetik pun pudar, dan tangannya sibuk mencabuti kelopak bunga bugenvil.


"Kalau Tuan Sadewa menolak, saya akan pulang kampung."


"Jangan!" pekik Sadewa saat avatar di video game nya nyaris saja mati.


Neneng terlonjak kaget oleh pekikan Sadewa. Tapi dia juga bertambah senang, karena mengira Sadewa menahannya agar tidak pulang kampung.


"Neneng sadar, Neneng terlalu kerikil untuk Tuan Sadewa yang berlian. Apalagi Tuan Sadewa mau dijodohkan. Perasaan Tuan Sadewa sendiri bagaimana saat tahu akan dijodohkan dengan Nona Sunny?"


"Ah, sial," rutuk Sadewa melihat tulisan 'game over' di layar hp.


"Sial?" ulang Neneng mengembangkan senyuman.


"Berarti Tuan Sadewa tidak menginginkan perjodohan itu."


Sadewa berdecak kesal atas kekalahannya, dan saat itu juga dia melihat sebuah mobil masuk ke halaman rumah.

__ADS_1


Raka turun dari mobil itu dan berbicara dengan seorang penjaga yang hendak mengantar masuk.


Padahal Sadewa tahu di ruang tamu ada Balin dan Kirana sedang mengobrol. Sehingga Sadewa berinisiatif untuk mencegah Raka bertemu dengan Kirana.


Sadewa bangkit dari duduk dan berjalan mendekati Raka. 


Sementara Neneng yang tak tahu Sadewa sudah tak ada ditempatnya masih saja mengoceh sambil menatap bunga bugenvil.


"Jadi, apakah Tuan menerima cinta saya? Tuan? Tuan sadewa?"


Karena tak ada sahutan, Neneng berputar dan terkejut mendapati sadewa tak lagi duduk di bangku.


"Lah, Tuan Sadewa mana? Sejak tadi saya ngomong sama siapa? Apa sama hantu?"


Neneng tengok kanan kiri, bergidik merinding, dan mengusap tengkuknya. Dia mengibas-ngibaskan tangan seolah sedang mengusir sesuatu yang tak kasat mata.


"Hush, hush, hantu, Neneng tarik ucapan Neneng. Neneng tidak jadi suka sama hantu. hush, pergi sana! jangan ganggu Neneng, hush," ucap Neneng dengan nada ketakutan.


"Kalau hantu mau cari jodoh, saya ada teman namanya Mae. Dia mah lebih bohay ketimbang Neneng. Sok sana pindah ganggu Mae saja."


Secepat kilat Neneng berlari melintasi taman dan masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.


Di depan teras, Sadewa menghadang Raka yang sedikit menunduk memberikan hormat.


“Tuan Nakula,” sapa Raka.


“Aku Sadewa, bukan Nakula,” jawab Sadewa santai.


“Oh, maaf.”


“Ada perlu apa sekretaris Raka datang kemari?”


“Aku hanya ingin mengembalikan dompet Tuan Balin yang tertinggal di mobilku,” kata Raka memperlihatkan dompet milik Balin.


“Papa sedang berbicara dengan Kak Kirana. Serahkan saja dompet itu padaku,” Sadewa mengulurkan tangan.


Raka pun memberikan dompet. Bersamaan dengan dirinya yang mendengar suara dari dalam ruang tamu.


“Kalau Papa tidak mau memberitahuku, aku bisa menanyakan langsung pada orang itu begitu dia ditangkap polisi.”


Itu seperti suara Raya. Batin Raka dalam hati.


Raka menggelengkan kepala. Mencoba menampik prasangka yang singgah. 


Ketika Raka hendak berbalik ingin kembali ke mobil, saat itu juga pintu terbuka dan sosok Kirana muncul dari sana.


Kirana keluar dari rumah berniat mengakhiri perdebatan dengan ayahnya. Namun, dia dikejutkan dengan keberadaan Raka yang ada di teras bersama Sadewa.


Baik Kirana dan Raka mendelikkan mata, sama-sama saling tak percaya.

__ADS_1


"Raya, kenapa kamu ada di sini?"


__ADS_2