Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
15. Aku Mencintaimu


__ADS_3

“Benarkah itu? Berarti dia anak dari bos tempatmu bekerja, Raka?”


Raka mengangguk sekali lagi, yang menjadikan Amanda tersenyum dan mendekati Raya. Wanita paruh baya itu memperkenalkan dirinya sebagai ibu dari Raka Abimanyu.


Raya yang masih kebingungan hanya bisa mengangguk tak bisa berkata apa pun. Di dalam benaknya masih dipenuhi tanda tanya akan tindakan Raka itu.


“Tadi Raka berbicara dengan Raya, Mom. Bukan dengan Ray,” tutur Raka.


“Begitu ya?” Amanda tertunduk dan menghela napas.


“Apa yang membuat Ray tidak mau pulang, Raka?” tanya Amanda dengan wajah lesu.


Melihat ibunya bersedih, Raka hanya bisa merangkul serta mengusap bahu Amanda untuk sedikit memberikan ketenangan.


“Mommy, Ray tidak akan pernah pulang,” ucap Raka sambil menggelengkan kepala perlahan.


Itu adalah kalimat yang sudah puluhan kali Raka ucapkan pada Amanda. Namun, lidah Raka selalu terasa kelu setiap dia mengatakannya.


Amanda semakin tertunduk dalam, begitu pula Raka yang semakin mempererat dekapan.


Pemandangan ibu dan anak itu, ditangkap oleh Raya yang mengerutkan dahi.


Ray? Siapa Ray? Namanya hampir mirip dengan nama samaranku. Batin Raya.


Setelah Amanda kembali tenang, mereka bertiga sarapan bersama. Tidak ada obrolan di meja makan. Hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.


Sesekali Raya melirik Raka dan Amanda. Dia ingin bertanya akan rasa penasarannya pada sosok Ray. Tapi dia urungkan setelah mendapati Amanda makan sambil melamun sejak tadi.


Orang yang pertama menghabiskan sarapannya adalah Amanda. Dia langsung berdiri, dan mengulum senyum.


“Mommy ingin melanjutkan lukisan Mommy. Ray pasti senang begitu dia pulang, Mommy membuat lukisan spesial untuk dia,” gumam Amanda.


Lalu melangkahkan kaki meninggalkan ruang makan.


“Ray, itu siapa?” tanya Raya setelah memastikan Amanda telah pergi.


“Dia adikku,” jawab Raka yang kemudian ikut berdiri dan menaruh piring kotor ke wastafel dapur.


Raya berjalan menghampiri Raka.


“Raka, kenapa kamu tadi bilang kalau aku ini putri dari Tuan Balin?”


Raka menoleh pada Raya. Menatap dalam pada bola mata Raya yang berwarna hitam.


“Agar Mommy merestui hubungan kita.”


Raya memutar bola matanya sekaligus mengerutkan alis.

__ADS_1


“Hubungan apa maksudmu? Kita kan hanya sebatas teman.”


Raka menggeleng dengan mata yang tak lepas memandang wajah Raya.


“Hubungan kita lebih dari itu. Sejak kita berciuman, itu artinya kamu sudah menjadi milikku.”


Raya terkekeh garing, “Mana bisa begitu. Kamu bahkan belum bertanya padaku.”


“Apakah itu perlu? Tanpa bertanya, aku juga sudah tahu kalau kamu juga mencintai aku,” kata Raka yang kini melipat tangan di depan dada.


Membuat Raya tertawa mencemooh akan sikap Raka yang dengan penuh percaya diri mengklaim kepemilikan atas dirinya.


“Jangan munafik, Raya. Kamu juga membalas ciumanku tadi kan?” tanya Raka.


Sejenak Raya melongo. Dia baru sadar jika dia menikmati ciuman hangat dari Raka tadi pagi. Namun begitu, Raya hanya menelan saliva dan mengelak.


Mendengar bantahan dari Raya, membuat Raka kembali mencium gadis itu. Kedua tangan Raka melingkar di punggung Raya agar gadis itu tidak dapat melepaskan diri.


Penolakan yang dilakukan Raya perlahan berubah. Seketika dia ikut hanyut dalam ciuman itu. Dengan wajah yang berseri malu membalas ciuman Raka tanpa dia sadari.


Dan jangan lupakan degup jantung yang berpacu cepat. Mereka mengecap dalam mata yang saling terpejam.


Perasaan apa ini? Seharusnya aku tidak boleh jatuh cinta pada Raka. Aku belum tahu apakah Raka itu musuh Papa atau bukan. Batin Raya.


Kamu tak dapat mengelak, Raya. Aku mencintaimu, dan kau pun juga. Kau milikku. Hanya milikku. Raka


“Kamu lihat kan? Kamu juga membalas ciuman dariku,” katanya penuh kemenangan.


Raka memeluk erat tubuh Raya dan berbisik di depan telinga, “Aku jatuh cinta padamu.”


Raya menghela napas, menjatuhkan kepala di dada bidang pria yang berhasil membuat jantungnya berdegup kencang.


Dia tetap ingin logika yang menguasai dirinya, bukan dikendalikan oleh perasaan yang baru pertama kali dia rasakan seperti sekarang ini.


Mungkin jika aku menerima Raka, maka aku dapat mengetahui rahasia antara dia dan Papa. Semoga dia bukanlah musuh yang selama ini aku cari, sebab saat ini aku... Ucap Raya di dalam hati.


“Aku juga mencintaimu, Raka,” ungkapan itu keluar begitu saja dari mulut Raya.


Menjadikan Raka mengulum senyum dan menarik napas bahagia karena cintanya terbalaskan.


Mereka saling melepas pelukan dan menatap satu sama lain.


Raka mengusap rambut lurus Raya yang panjangnya hanya sebahu, merapikan ke belakang daun telinga.


“Aku dan Clara dijodohkan sejak kami masih remaja. Jadi, kamu harus berpura-pura menjadi putri dari Tuan Balin agar di mata Mommy, kamu punya nilai lebih dibanding Clara, dan lalu Mommy mau membatalkan perjodohan itu. Paham kan?”


Raya menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang ingin tertawa.

__ADS_1


Apa-apaan ini? Aku disuruh bersandiwara menjadi diriku sendiri. Membingungkan sekali. Raya.


Namun, tertunduknya Raya disalahpahami oleh Raka. Pria itu mengangkat dagu gadis yang baru saja menjadi kekasihnya itu.


“Maaf, bukan maksudku merendahkan profesimu, tapi Mommy selalu bersikeras agar aku memiliki pendamping hidup yang menurutnya dari keluarga terpandang.”


“Aku sama sekali tidak merasa direndahkan.”


Selama ini Raka sayang dan menghormati Amanda. Namun, sang ibu memiliki prinsip yang berbeda dalam menentukan jodoh untuk putranya.


Amanda telah menjodohkan Raka dengan Clara. Raka boleh menolak perjodohan itu, asal Raka harus menikah dengan wanita dari kalangan berkelas.


Semantara bagi Raka, siapapun wanita yang akan dia nikahi, itu murni pilihan hatinya. Tidak memandang latar belakang wanita itu.


Raka tersenyum, sekali lagi dia layangkan kecupan singkat di dahi Raya.


“Tapi bagaimana kalau Mommy tahu kamu berbohong, Raka?”


“Itu urusan nanti. Aku tahu betul sikap Mommy. Asalkan kamu sudah dapat mengambil hati Mommy, kita bisa jelaskan dengan baik-baik.”


***


Raka melihat dari kejauhan dua wanita berbeda generasi di taman kecil belakang rumah, tempat biasa Amanda melukis.


Raka begitu bangga pada kekasihnya itu yang dapat akrab dengan sang ibu.


Bukan hanya akrab, tapi Raya mampu membuat Amanda tersenyum seperti sedia kala, saat sebelum Ray meninggal.


Perlahan Raka berjalan mendekati Raya yang tengah melukis wajah Amanda. Tidak disangka, Raya ternyata memiliki hobi yang sama dengan ibunya.


“Tante, senyum!” kata Raya memperingatkan Amanda yang duduk mematung di kursi.


Seketika Amanda langsung menarik ujung bibirnya ke atas.


“Tahan sebentar, Tante. Lukisannya hampir jadi.”


“Benarkah? Cepat sekali. Tante tidak menyangka pewaris dari Irawan Group memiliki bakat melukis,” gumam Amanda semakin melebarkan senyuman.


Raka menengok hasil lukisan Raya yang benar-benar mirip dengan objek aslinya.


Setelah selesai, Raya menunjukan lukisannya pada Amanda yang langsung melempar tatapan pada Raka.


“Bagus sekali. Iya kan, Raka?”


Raka seolah tak percaya pada penglihatannya, saat ini ibunya sedang tersenyum ke arah Raka.


Bukan senyuman yang biasa muncul ketika Amanda melamunkan Ray, akan tetapi benar-benar sebuah senyuman tulus untuk putra sulungnya.

__ADS_1


__ADS_2