
Di ruangan CEO, Nakula duduk di sofa panjang sambil menahan sakit, membuka sepatu dan melihat kaki kanannya sedikit memar.
Nakula duduk selonjor untuk mengistirahatkan kakinya yang sakit itu. Dia meraih ponsel untuk menghubungi saudara kembarnya, Sadewa.
Telepon terhubung hanya dalam satu panggilan. Rupanya Sadewa pun sedang menanti telepon dari Nakula.
“Halo, Nakula. Bagaimana pekerjaanmu di sana?” tanya Sadewa.
Nakula menghela nafas frustasi.
“Mengerikan. Kamu tahu, kaki aku diinjak oleh Kak Kira sebanyak tiga kali dalam satu hari ini saja.”
“Sungguh?”
“Ya, aku sampai kesulitan jalan. Ini baru hari pertama bekerja, Sadewa. Coba bayangkan, aku bekerja sampai Papa kembali dari luar negeri, mungkin kaki aku sudah diamputasi begitu Papa pulang.”
Di seberang telepon sana, Sadewa terkekeh.
“Aku lebih baik diinjak oleh Kak Kira sebanyak seratus kali dari pada harus menghadapi sekretaris Sunny. Dia jauh lebih mengerikan dari Kak Kira,” tutur Sadewa dengan bola mata waswas takut Sunny mendengarnya.
Sadewa mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan diri ke ponselnya, dan berbisik, “Dia itu nenek sihir, bagiku.”
Ternyata orang yang ditakuti oleh Sadewa, baru saja masuk ke dalam ruangannya.
Sunny menampilkan wajah garang yang kemudian Sadewa langsung menutup telepon.
Dari belakang pintu, Sunny mendengar ucapan Sadewa yang mengatakan bahwa dia jauh lebih mengerikan dari Kirana.
Sunny membanting berkas ke atas meja tepat di hadapan Sadewa.
“Kamu bilang apa tadi?”
“Kapan?” Sadewa yang gugup balik bertanya.
“Barusan.”
Sadewa mengerutkan alis mengingat-ingat, “Aku bilang kapan.”
“Bukan. Sebelum itu. Aku dengar sendiri kamu bilang aku nenek sihir.”
“Kalau tahu kenapa tanya,” Sadewa mendengus dan membuang muka.
Kemudian terjadilah pertengkaran adu mulut antara Sadewa dan Sunny. Mereka meributkan siapa yang berhak mengatur siapa.
Sadewa merasa Sunny tidak punya hak mengatur pekerjaannya. Dia yang jadi Direktur Cabang di perusahaan kakaknya.
Sementara bagi Sunny, Sadewa masih perlu mentor. Mengingat dia baru pertama kali bekerja memimpin sebuah perusahaan.
Hingga pertikaian adu mulut selesai, mereka masih saling menatap dingin. Sunny tersadar pulpennya terjatuh dan dia membungkuk untuk mengambilnya.
Dan Sadewa yang mewarisi sifat Balin, yaitu selalu ingin memukul sesuatu jika sedang marah, saat itu juga hendak memukul meja.
Namun, ayunan tangannya meleset dan malah mendarat tepat di salah satu pantat sintal Sunny yang sedang membungkuk mengambil pulpen.
Menjadikan dua orang itu saling terkesiap.
Sunny segera mengambil jarak aman dengan Sadewa, kedua tangannya memegangi pantat yang menurutnya sudah tidak perawan lagi. Karena telah tersentuh oleh tangan laki-laki.
“Maaf, aku tidak sengaja,” ucap Sadewa yang masih terkejut dengan kejadian tadi.
“Maaf, maaf, kamu sengaja kan? Dasar pria mesum,” bentak Sunny.
__ADS_1
“Aku bukan pria mesum, yang tadi itu benar-benar tidak sengaja,” elak Sadewa.
“Akan aku adukan ke Papa,” seru Sunny yang berlalu pergi meninggalkan ruangan
“Apa? Dasar wanita pengadu.”
***
Sementara itu, sore hari ketika semua karyawan Irawan Group mulai berkemas untuk pulang, begitu pula Kirana yang selesai dengan pekerjaannya. Dia dihampiri oleh Neneng dan Mae.
Kirana tersenyum dan menunduk pada mereka berdua, sebagai tanda hormat dia pada pegawai yang lebih lama bekerja. Tapi Neneng dan Mae membalas dengan tatapan sinis dan menghina.
“Mau kemana?” tanya Mae pada Kirana.
“Pulang,” jawab Kirana santai.
“Enak saja pulang, tugas saja belum selesai,” cibir Neneng.
Kirana mengerutkan dahi, dia merasa semua tugasnya sudah dilakukan tanpa terlewat satu pun.
Melihat Kirana yang kebingungan, Mae berdecak dan memberitahu kalau toilet wanita di lantai dua belum dibersihkan.
“Toilet lantai dua kan bukan tugasku,” kata Kirana.
“Hai, anak baru. Kamu niat kerja tidak? Kalau niat, jangan banyak bicara! Lakukan saja perintah dari kami,” Mae melipat tangannya sok berkuasa. Lalu melirik Neneng dan tersenyum licik.
Kirana menghembuskan napas pelan.
“Baik, aku akan kesana untuk mengeceknya. Kalau tidak salah sudah dibersihkan.”
Setelah Kirana melangkah pergi, Mae dan Neneng saling terkikik. Mereka diam-diam mengikuti Kirana dari belakang hingga sampai di toilet yang dimaksud.
Kirana melihat ke sekeliling. Toilet itu bersih dan rapi. Mata Kirana tertuju pada tempat sampah. Di sana sampah pun sudah diambil. Tidak ada apa-apa lagi.
“Itu di bilik yang paling ujung sana,” kata Neneng menunjuk pintu toilet yang berada paling ujung.
Kirana berjalan masuk ke dalam bilik yang ditunjuk Neneng. Di dalam sana, Kirana tidak melihat sesuatu yang perlu dibersihkan.
“Neneng, apanya yang harus dibersihkan?”
BRAK!
Pintu di belakang Kirana ditutup cepat oleh Mae, lalu dia mengaitkan gagang pintu dengan tali ke sebuah paku yang tertancap di dinding. Sehingga pintu itu tidak bisa dibuka dari dalam.
Kirana yang terlonjak kaget langsung menggedor dari dalam, memanggil rekan kerjanya itu agar membukakan pintu.
Namun, yang diminta pertolongan malah tertawa puas, dan berlalu pergi.
“Neneng, Mae, buka pintunya!” titah Kirana dari dalam toilet.
Dia menempelkan telinga ke daun pintu. Sunyi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan dua wanita itu.
“Sial, aku dijebak. Memangnya salah apa aku ke mereka?”
Cukup lama Kirana berteriak minta tolong, tapi tak ada satu pun orang yang datang. Pasti sebagian besar karyawan sudah pulang.
Dia pun lupa jika ponselnya berada di loker, sehingga tidak bisa menelepon Nakula untuk membantunya keluar.
Tidak punya pilihan lain, Kirana mencoba mendobrak pintu itu dari dalam.
Pintu itu terbuat dari pvc seperti kebanyakan pintu toilet pada umumnya. Jika ditendang terus menerus pasti akan pecah.
__ADS_1
“Masa bodoh, merusak fasilitas perusahaan. Ini kan perusahaanku sendiri,” desis Kirana sambil menendang pintu.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Sementara itu, di lorong yang sepi Raka berjalan hendak pulang. Namun, langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara gaduh dari toilet yang baru saja dia lewati.
Dia melirik sekilas. Mulanya dia acuh karena toilet itu adalah toilet perempuan.
Akan tetapi rasa penasarannya mulai menguasai, dia berniat mengintip sedikit. Ingin tahu apa yang terjadi di dalam.
Sepi tak ada orang satu pun.
Kemudian, Raka membuka pintu lebar-lebar. Suara gaduh itu berasal dari bilik toilet paling ujung. Sepertinya ada seseorang yang terperangkap di dalam sana.
Langkah kaki Raka perlahan mendekat.
Benar saja.
Pintu itu dikaitkan dengan tali sehingga tidak bisa terbuka. Dia menghela napas, tanpa berbicara pada orang yang ada di dalam, dia melepaskan ikatan tali.
“Nah, kan. Pintunya sudah mulai penyok. Tinggal satu tendangan lagi, pintu ini pasti sudah hancur lebur,” gumam Kirana.
Dia mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang. Tangannya terkepal kuat mengumpulkan tenaga yang ada.
“Jurus tendangan maut.”
Lalu kaki kanan Kirana mengayun bersamaan dengan pintu yang dibuka oleh seseorang dan…
BUGH.
Tendangan yang hendak dilayangkan pada pintu, ternyata mengenai juniornya Raka yang membuat pria itu membungkuk kesakitan pada bagian inti.
Kirana mendelikkan mata terkesiap akan sosok Raka yang tiba-tiba saja muncul.
“Raya…kamu lagi. Kamu lagi,” geram Raka yang masih membungkuk memegangi juniornya yang terasa ngilu.
“Tuan? Tuan Raka, saya minta maaf. Kenapa Tuan Raka ada di sini?” tanya Kirana panik luar biasa.
Raka tak menjawab, dia memilih keluar dari toilet dengan berjalan mengangkang. Meninggalkan Kirana yang masih tercengang akan kejadian barusan.
Kirana mendekat ke cermin wastafel, matanya membulat sempurna.
“Aku menendang apa tadi? Rasanya hangat dan keras,” ucap Kirana pada bayangan dirinya di cermin.
Dia menjerit frustasi sambil mengacak-acak rambut.
Sementara, di luar toilet Raka berpapasan dengan Clara yang tersenyum sumringah melihat pria pujaan hatinya. Clara pun mendekat.
“Raka, kita jadi pulang bareng kan?” tanya Clara manja.
“Tidak. Kamu pulang saja sendiri,” jawab Raka tegas seraya menampik tangan Clara yang ingin menyentuhnya.
“Tapi, Raka. Eh, tunggu. Kenapa kamu jalannya mengangkang begitu?”
Clara menyadari Raka yang seperti menahan sakit di bagian alat vitalnya. Namun, Raka tetap melangkah tak memberikan tanggapan.
Belum sempat rasa penasarannya terjawab, Clara melihat Kirana muncul dari pintu yang sama dengan keluarnya Raka tadi.
__ADS_1
Dia juga menyadari rambut gadis dekil itu acak-acakan. Pikiran Clara pun seketika travelling kemana-mana
“Raka keluar dari toilet wanita dengan jalan mengangkang, lalu disusul oleh gadis dekil itu dengan rambut yang juga acak-acakan. Apa yang telah mereka lakukan?” gumam Clara menatap iri pada punggung Kirana yang berjalan menjauh.