
Balin menghela nafas lega, ketika melihat Kirana perlahan membuka kelopak matanya. Dia tersenyum lebar, dan mengusap puncak kepala putri yang sangat disayanginya.
Kirana mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Di hadapannya sudah ada Balin, Alexa dan si kembar.
Lalu Kirana mencoba untuk bangkit. Dia ingin duduk, meski tubuhnya masih lemas. Alexa pun dengan sigap membantu Kirana bersandar di bantal.
“Kau gila, Kirana. Kalau kamu tahu kopi itu beracun, seharusnya kamu buang saja. Kenapa malah kamu minum?” bentak Balin berang.
Kirana diam tak membantah. Memang itu adalah kebodohannya sendiri. Sedangkan Alexa melingkarkan lengan untuk memeluk Kirana.
“Balin, sudah cukup!” kata Alexa.
“Sekarang katakan pada Papa! Siapa orang yang telah menaruh racun di kopi itu?” tanya Balin sambil melipatkan tangan di depan dada.
“Aku curiga Raka yang menaruh racun di kopi Papa,” jawab Kirana dengan berat hati.
Sementara si kembar saling lirik tak percaya mendengar jawaban dari Kirana. Mereka turut gundah seperti yang dirasakan kakaknya.
“Raka?” ulang Balin. “Kenapa kamu mencurigai Raka?”
Kirana menceritakan jika Raka menghampirinya di saat dia membuat kopi untuk Balin. Dia pun menjelaskan tentang kematian Ray yang mungkin memicu Raka untuk balas dendam.
Semua orang di ruang rawat inap VVIP itu fokus mendengarkan cerita Kirana. Hingga Kirana selesai pun, belum ada yang mampu untuk memulai pembicaraan.
“Sepertinya kamu salah paham, Kirana. Papa tidak menabrak Ray, dan apakah kamu yakin Raka menyimpan dendam pada Papa?” tanya Balin.
Kirana menelan saliva.
“Kemungkinan, iya. Raka menyimpan dendam pada Papa.”
“Mungkin?” ulang Balin sambil menyeringai.
“Kalau begitu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Pa!”
“Baik. Papa akan ceritakan.”
Flashback On.
Dua tahun yang lalu.
Balin menutup telepon dari Alexa saat dia mengendarai mobil di perjalanan pulang ke rumah. Dia menambah kecepatan mobil. Akan tetapi, tak lama dia melihat sesuatu teronggok di jalan.
Balin mengerem mendadak, membuat dia sedikit terpelanting ke depan. Kedua mata Balin menyipit, lalu membola sempurna saat dia sadar sesuatu yang terbaring di jalan itu adalah seorang pemuda.
Balin turun dari mobil, menghampiri seorang pemuda yang bersimbah darah di bagian kepala. Tak jauh darinya sebuah sepeda motor berwarna merah juga tergeletak begitu saja.
__ADS_1
Kasihan sekali. Pemuda ini baru saja mengalami kecelakaan. Pikir Balin.
Dia menengok ke sekeliling. Namun, tak ada orang yang lewat.
“Tuan, tolong saya!” rintih pemuda itu.
“Iya. Ayo, Nak. Aku akan membawamu ke rumah sakit.”
Kemudian, Balin membantu pemuda itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Dan di saat itulah darah yang mengucur dari kepala sang pemuda menetas mengotori jas yang dikenakan Balin.
“Namaku, Ray. Saya ditabrak oleh…”
Ray tak mampu meneruskan ucapannya, karena dia merasakan sakit yang tak tertahankan.
Melihat kondisi Ray, Balin pun segera menancapkan gas berputar arah menuju rumah sakit terdekat. Dia sangat kasihan dengan pemuda itu. Terlebih umur Ray terlihat sepantaran dengan Kirana.
Sesampainya di rumah sakit, Balin membantu mendorong brankar menuju ruang IGD. Lalu dia ditahan oleh seorang perawat wanita.
“Dokter akan memeriksa pasien. Silahkan Tuan menuju resepsionis untuk mengurus biaya administrasi,” tutur sang perawat yang lalu masuk ke dalam ruang IGD.
“Tapi aku tidak kenal siapa pemuda itu,” gumam Balin.
Tiba-tiba dia teringat akan tas ransel yang dibawa oleh Ray. Dia pun kembali ke mobil untuk mengambil tas, dan membuka isinya.
Di tas, ada dompet dan juga ponsel milik Ray. Kemudian, Balin berjalan ke resepsionis untuk membayar semua biaya penanganan pemuda malang itu.
Seketika Balin teringat kembali pada Alexa di rumah. Dia mengacak rambutnya frustasi.
“Alexa pasti khawatir aku belum pulang,” gumam Balin melirik pada jam tangan.
“Permisi, Tuan. Ini surat bukti pembayarannya,” ucap petugas menyodorkan sebuah amplop coklat.
“Bisa saya minta tolong. Sebentar lagi keluarga dari Ray akan segera datang, saya titip tas ini dan tolong berikan pada keluarga pasien. Istri saya sedang sakit di rumah. Saya harus segera pulang,” jelas Balin memberikan tas milik Ray.
“Baik, Tuan.”
Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah, tanpa menunggu kedatangan keluarga Ray. Dia menitipkan tas milik Ray pada petugas resepsionis di sana.
Balin pun pulang dengan jas yang kotor oleh darah dari pemuda yang baru saja dia tolong.
Flashback Off.
Kirana menarik nafas setelah mendengarkan cerita dari Balin. Dia lega mendapati bahwa bukan ayahnya yang menabrak Ray.
Kirana telah salah menarik kesimpulan, namun, tebakannya benar tentang kopi yang beracun itu.
__ADS_1
“Kita tidak boleh melihat masalah hanya dari satu sisi, Kirana. Begitu pula dengan kejadian hari ini.” ucap Balin menasehati.
Lalu Balin melempar pandangan pada Nakula. Dia memberi tugas pada Nakula untuk mengecek rekaman CCTV yang mengarah ke pantry.
Balin juga menelepon Raka agar datang ke rumah sakit. Dia ingin mendengar pengakuan dari sekretarisnya.
Setelah menutup telepon, Balin memarahi Kirana, akan kejadian yang menimpanya hari ini.
“Mulai sekarang sudahi penyamaranmu, Kirana. Besok, Papa akan mengatakan pada seluruh karyawan kantor jika kamu adalah putri Papa,” bentak Balin memaksa.
“Jangan, Papa! Aku mohon. Aku belum siap membongkar jati diriku,” Kirana memelas.
Kirana belum siap akan reaksi Raka jika selama ini dia adalah anak pemilik perusahaan Irawan Group.
“Tidak ada bantahan, Kirana. Papa tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi.”
Saat itu juga, Sadewa mengangkat satu tangan, memberikan usulan agar Balin mengadakan voting.
Ide dari Sadewa pun disetujui oleh Balin.
“Baik. Siapa yang setuju Kirana berhenti menjadi office girl dan mengungkap jati dirinya,” kata Balin dengan bola mata menatap anggota keluarga satu per satu.
Sontak Sadewa orang pertama yang mengangkat tangan. Jika Kirana berhenti menjadi office girl, artinya dia juga berhenti bekerja bersama Sunny si nenek sihir.
Balin mengerutkan dahi mendapati hanya Sadewa yang mengangkat tangan.
Sementara, Nakula yang belum beranjak dari ruangan, disenggol-senggol oleh Sadewa agar mengangkat tangan.
“Aku lebih mendukung Kak Kira, Pa,” ungkap Nakula saat Balin menatapnya.
“Oke, untuk sementara voting dua sama.”
Kemudian, pandangan Balin beralih ke Alexa yang berada di samping Kirana.
“Bagaimana denganmu, Sayang?” tanya Balin.
“Aku pilih netral saja,” jawab Alexa.
“Mama, jumlah anggota keluarga kita ganjil. Mama tidak boleh netral, Mama harus memilih, dan keputusan Mama sangat menentukan nasib Kak Kira,” jelas Sadewa.
“Sayang, kamu harus mendukung suamimu,” kata Balin menatap Alexa penuh keseriusan.
Kirana pun tak mau kalah. Dia menggelayut manja di lengan Alexa dan memasang puppy eyes. Memohon agar Alexa berpihak padanya.
“Mama, dukung aku, please,” rengek Kirana.
__ADS_1
Alexa melengkungkan senyuman yang terlihat sangat canggung.
“Mama pilih…”