
Badan dan pikiran Raka letih. Bagaikan terhipnotis, dia berjalan lalu merebahkan diri di samping Raya.
“Aku tidak bisa menahannya lagi, Ray,” gumam Raka menatap wajah cantik di hadapannya.
“Aku mengantuk.”
Detik berikutnya, Raka tertidur menyusul Raya menuju alam mimpi yang indah.
***
Pagi hari di kediaman keluarga Mahendra.
Nakula dan Sadewa tengah sarapan berdua. Mereka makan seperti biasa, meski dalam hati keduanya bertanya-tanya kenapa kakak sulung mereka belum juga bangun.
Padahal biasanya Kirana yang selalu bangun paling pagi diantara mereka bertiga.
Juan, kepala pelayan menghampiri anak majikannya itu dengan menampilkan wajah cemas.
“Tuan, dari semalam Nona Kirana tidak pulang ke rumah. Apakah Nona Kirana memberi kabar pada Tuan Nakula dan Tuan Sadewa?”
“Apa? Kak Kira tidak pulang?” Sadewa terperangah lalu melirik saudara kembarnya yang masih bisa santai.
Seketika Sadewa menendang tulang kering Nakula yang langsung mengaduh dan mendongak.
“Nakula, Kak Kira tidak pulang. Kemarin sore kalian tidak pulang bersama?”
“Mana mungkin Kak Kira mau pulang kerja bersamaku. Selama ini Kak Kira pulang dari kantor selalu naik ojek atau angkot, karena takut penyamarannya terbongkar.”
“Benar juga ya? Tapi di mana Kak Kira sekarang?”
Lalu Sadewa mencoba menelepon Kirana, namun berkali-kali dia menghubungi kakaknya itu, ponsel milik Kirana tidak aktif.
“Paling juga Kak Kira menginap di rumah Sunny. Coba saja kamu telepon Sunny,” ujar Nakula yang kemudian melanjutkan sarapannya.
Sebenarnya Sadewa malas jika harus menelepon si nenek sihir itu. Hati sadewa gamang, ingin menelepon atau tidak.
Namun, kekhawatirannya pada sang kakak membuat dia menekan tombol hijau di layar ponsel.
Begitu dia menanyakan keberadaan Kirana pada Sunny, wanita itu pun terkejut dan terdengar suara tersedak. Sepertinya di seberang sana, Sunny juga sedang sarapan.
“Kak Kira tidak ke rumahku, sungguh.”
“Kalau begitu, Kak Kira hilang. Aduh, bisa gawat kalau Papa sampai tahu,” kata Sadewa semakin cemas.
“Kalian jemput aku kemari! Kita coba cari Kak Kira sama-sama,” sahut Sunny.
“Hem, aku akan menjemputmu setengah jam lagi,” kata Sadewa yang langsung menutup telepon.
Kemudian tatapan Sadewa tertuju pada Nakula yang menambah porsi makan sebanyak tiga kali. Sadewa pun kembali menendang kaki Nakula, yang membalas dengan melototkan mata.
__ADS_1
“Kamu tenang saja, Kak Kira kan perempuan tangguh. Semua penculik pasti dibuat K.O sama dia,” kata Nakula santai.
“Apakah perlu kita membuat berita hilangnya Nona Kirana, Tuan,” usul Juan.
“Jangan! Kabar hilangnya Kak Kira tidak boleh tersebar, apalagi sampai terdengar oleh Papa dan Mama.”
Baru satu detik Sadewa mengatakan itu, ponselnya berdering dan nama Mama tertera pada layar.
Sial. Kenapa Mama telepon di saat seperti ini? Batin Sadewa.
Dengan gugup, Sadewa mengangkat panggilan video, dan seketika wajah cantik Alexa terpampang di layar benda canggih itu.
Alexa menelepon karena kangen ingin melihat anak-anaknya. Sementara Balin sedang tertidur di samping sang istri.
“Kirana mana? kok tidak sarapan bersama kalian?” tanya Alexa begitu menyadari hanya ada si kembar di ruang makan.
Sadewa gugup dan gelagapan yang dapat diartikan langsung oleh Alexa bahwa pasti sedang terjadi sesuatu pada Kirana.
“Ada apa dengan Kirana, Sadewa? Bicara pada Mama!”
“Kak Kira hilang, Ma,” kata Sadewa dengan waswas.
“Apa? Hilang?”
“Tapi Mama jangan bilang dulu ke Papa. Kita pasti akan cari Kak Kira sampai ketemu.”
“Iya, oke. Mama tidak akan bilang ke Papa. Tapi tolong kalian cari Kakak kalian! Jika sudah satu kali dua puluh empat jam, lapor ke Mama dan juga polisi!”
“Iya baik, Ma.”
***
Di saat yang sama, Raka menggeliat di bawah selimut. Dia terbangun dan mendapati gadis yang ada di sampingnya belum juga membuka mata.
Astaga. Dia tidur atau mati? Batin Raka.
Raka menyingkap selimut, mandi dan buru-buru mengenakan pakaian. Takut Raya bangun di saat badan Raka masih polos.
Setelah itu, dia mendekat ke ranjang berniat membangunkan Raya. Saat dia memandang wajah gadis itu, gairah yang semalam tenggelam, kini muncul lagi ke permukaan.
Raka teringat akan cerita dongeng yang sering dibacakan sang Nenek ketika dia masih kecil. Dongeng yang mengisahkan seorang putri cantik yang tertidur lama dan bangun begitu mendapat ciuman dari pangeran tampan.
“Mungkin kamu harus dibangunkan dengan cara seperti ini.”
Raka menjatuhkan bibirnya ke bibir ranum Raya. Dia hanya berniat mengecup sekilas, namun dia terhanyut dalam ciuman dan tak dapat melepaskan tautan bibir itu.
Bahkan menginginkan lebih.
Kedua tangan Raka memegangi pipi Raya. Dengan mata terpejam, lidahnya masuk ke dalam rongga mulut dan berusaha memilin lidah milik Raya.
__ADS_1
Ciuman itu memabukkan sekaligus candu bagi Raka. Terlebih ketika perlahan dia mendapatkan balasan.
Detik itu juga, keduanya saling membuka mata dan…
Bugh.
Raya meninju dan menendang tubuh Raka, hingga pria itu terjatuh ke lantai. Kemudian dia berteriak kencang.
Buru-buru Raka menutup mulut Raya sebelum ibunya datang ke kamar.
“Aku ada di mana, hah? Kenapa kamu menciumku tadi?” tanya Raya setelah dia diam dan tangan Raka terlepas dari mulutnya.
“Kemarin kamu tertidur di kantor, jadi terpaksa aku membawa kamu ke rumahku, karena aku tidak tahu tempat tinggalmu ada di mana,” terang Raka dengan nada sedikit kesal.
“Modus,” tuduh Raya.
“Kenapa kamu tidak membangunkan aku saja?”
Raka semakin dibuat geram oleh pertanyaan yang dilontarkan Raya. Dia pun menjelaskan sudah beberapa kali membangunkan Raya, namun gadis itu tidak bangun juga.
Kemudian, Raya menyadari dirinya telah berganti pakaian. Dia memekik sekaligus menyilangkan lengan di dada.
“Siapa yang sudah mengganti pakaianku?” tanya Raya penuh kepanikan.
“Aku,” jawab Raka santai.
Pandangan Raya menangkap sebuah baskom kecil yang berisi air dan waslap di atas meja. Dia dapat menyimpulkan sendiri bahwa semalam Raka pasti telah memandikannya.
Secepat kilat, Raya melempar tatapan melotot pada Raka.
“Semalam kau lakukan apa padaku?” tanya Raya yang dia sendiri tahu jawabannya.
“Aku hanya mengelap badanmu yang kotor.”
“B-berarti kau…sudah melihat setiap lekuk tubuhku?” geram Raya.
Raka menghela napas dan memutar bola matanya.
“Kamu juga sudah pernah melihat badan polosku. Lalu kenapa? Adil kan?”
“Tapi kamu melihat sekaligus mengelus-elus badanku,” Raya semakin geram.
“Namanya juga menyeka, pasti ya… dielus,” ucap Raka tersenyum karena berhasil membuat Raya naik darah.
Raya berdiri berkacak pinggang. Marah dan malu bercampur jadi satu. Berbeda dari Raka yang tenang bahkan menyunggingkan senyum tipis.
“Kurang ajar. Kamu mau mendapatkan lagi tendangan maut dariku, hah?” teriak Raya.
“Rasakan ini…jurus tendangan maut! Hiiiyaaa!”
__ADS_1