
Beberapa hari kemudian.
Tok…tok…tok…
Tangan Raya mengetuk pintu sebuah kontrakan kecil. Tidak ada sahutan dari sang empunya kontrakan membuat Raya sekali lagi mengetuk pintu.
Kemudian Raya menoleh pada Raka. Pria itu tampak tidak habis pikir dengan Raya yang ingin menemui Neneng di kontrakan selepas Raya pulang dari rumah sakit.
Tak lama, perlahan pintu berderak terbuka dan kepala Neneng menyembul dari dalam. Neneng terkejut dengan kedatangan dua orang di depannya.
Lalu dia mempersilahkan masuk Raka dan Raya ke dalam kontrakan yang sangat sederhana. Bahkan tempat duduk pun tak ada. Mereka bertiga duduk lesehan di sebuah karpet usang.
“Apa kabar, Neng?” tanya Raya sambil tersenyum.
“B-baik. Ada apa Raya dan Tuan Raka datang kemari?” tanya Neneng yang merasa sangat canggung dan bersalah pada Raya sejak kejadian kopi beracun.
“Tidak apa-apa. Kami hanya ingin menjengukmu.”
Jawaban Raya itu membuat Raka mendengus, dan membuang muka.
Tidak habis pikir. Orang yang baru saja pulang dari rumah sakit ialah Raya. Sepatutnya dia yang dijenguk, bukan malah menjenguk orang yang telah membuatnya masuk ke rumah sakit.
“Aku pikir kamu sudah pulang ke kampung,” kata Raya memulai obrolan.
Neneng menggaruk tengkuknya yang tidak gatal demi menutupi rasa canggungnya.
“Neneng sudah terlanjur bayar kontrakan sampai akhir bulan ini, jadi rugi kalau Neneng harus pulang kampung sekarang,” jawab Neneng sangat jujur.
Raya mengangguk, lalu bertanya lagi.
“Kamu sudah dapat pekerjaan baru, Neng?”
Neneng menggeleng.
“Mau tidak bekerja sebagai pelayan rumah?”
“Neneng mau kerja apa saja asalkan halal dan bisa kirim uang ke emak di kampung.”
__ADS_1
“Kalau begitu, besok kamu datang ke alamat rumah yang ada di kertas ini. Mereka sedang butuh seorang pelayan,” kata Raya sambil menyodorkan secarik kertas yang terlipat.
Neneng menerima kertas itu dengan gamang. Sekilas dia melirik Raya dan Raka, lalu bibirnya melengkungkan senyuman.
Neneng tak menyangka Raya akan membantunya untuk mendapatkan pekerjaan baru. Padahal sudah jelas gadis itu hampir meregang nyawa karena kebodohan yang dia lakukan.
Kemudian, Raka dan Raya bangkit berdiri berpamitan untuk pulang. Tak lupa Neneng menunduk serta mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.
Selepas dari keluar dari kontrakan, Raka menggandeng tangan Raya saat mereka berjalan kaki.
Mobil Raka terparkir di tempat yang cukup jauh. Dikarenakan kontrakan Neneng berada di gang sempit.
“Kamu tahu, semakin hari rasa cintaku padamu semakin bertambah,” ungkap Raka yang sukses membuat pipi Raya merona.
“Kamu itu pandai sekali menggombal.”
“Aku tidak menggombal. Ngomong-ngomong, dari mana kamu tahu informasi lowongan pekerjaan untuk Neneng tadi?”
“Oh, itu. Aku hanya nemu di internet,” ucap Raya berbohong.
Karena nyatanya, dia sendiri yang memaksa Balin agar Neneng bekerja di rumah besar keluarga Mahendra.
Deretan stand makanan berhasil menggoda iman Raya untuk mencicipi salah satu dari makanan di sana.
Dan melihat tatapan Raya pada salah satu kedai bakso, membuat Raka tahu apa yang diinginkan oleh gadisnya.
Raka menuntun tangan Raya untuk masuk ke dalam kedai, memesan dua mangkok bakso, lalu mereka duduk di salah satu sudut.
Tak menunggu lama, pesanan mereka diantar ke meja.
Satu suapan pertama, menjadikan mata Raya membola sempurna. Ternyata makanan yang diberi nama bakso itu sungguh enak.
Sebelumnya, Raya tak pernah menyantap makanan dengan campuran micin itu, dikarenakan Balin selalu melarang Raya makan sembarangan.
Dari cerita paman Rama, diketahui bahwa dulu saat Raya berusia satu tahun ada yang mengirimkan kue beracun.
Untung saja, Raya tak memakan kue tersebut, tapi Paman Rama lah yang menjadi korbannya.
__ADS_1
Sejak saat itu, Balin selalu berhati-hati khususnya tentang makanan yang disantap oleh setiap anggota keluarga Mahendra dengan mempekerjakan koki profesional di rumah.
Untuk sekedar camilan pun, Raya hanya diperbolehkan makan camilan yang telah direkomendasikan oleh ahli gizi.
“Aku baru tahu kalau bakso rasanya enak sekali,” gumam Raya.
Raka yang mendengarnya menoleh dengan tatapan tak percaya.
“Kamu belum pernah makan bakso sebelumnya?” tanya Raka.
Raya pun menggeleng. Dia menambahkan sambal ke dalam mangkok dan menyantap lagi baksonya.
“Masa sih kamu belum pernah makan bakso? Bakso itu kan makanan sejuta umat.”
Raya tersedak seketika. Dia menyambar segelas air dan meminumnya. Kemudian tatapan Raya berpaling pada Raka.
“Raka, sebenarnya aku…”
Raka menggenggam tangan Raya.
“Sudahlah, tidak perlu diteruskan. Lanjutkan saja makannya.”
Sejenak Raya gamang, dia hendak memberitahu Raka bahwa dia adalah Kirana, putri dari bos tempat mereka bekerja, tapi dia belum siap.
Akhirnya, Raya pun memutuskan untuk melanjutkan makan.
Sedangkan Raka menatap prihatin pada Raya yang dia pikir berasal dari keluarga kurang mampu. Sampai tak sanggup untuk membeli semangkok baso. Makanya Raya belum pernah mencicipi makanan bermicin itu
Beberapa saat kemudian mereka saling diam menikmati makanan. Hingga Raka memulai pembicaraan memecah keheningan.
“Raya, hari minggu aku mengajakmu makan malam bersama Mommy di sebuah restoran. Kita katakan pada Mommy tentang keseriusan hubungan kita.”
Raya hanya mengangguk karena sekarang mulutnya penuh oleh makanan.
“Sekaligus aku akan bujuk Mommy untuk mau membatalkan perjodohanku dengan Clara. Kamu mau kan, pergi makan malam bersama Mommy?”
“Iya, aku mau.”
__ADS_1
“Hari minggu besok, aku akan menjemputmu ke apartemen jam lima sore,”