Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
54. Nama Yang Mirip


__ADS_3

“Nama pria itu…”


Kirana melempar tatapan aneh pada Ken. Dia tidak menyangka akan apa yang telah terjadi. Sedangkan Ken mengangkat alis, menunggu Kirana meneruskan ucapannya.


“Ken, yang benar saja. Ini bukan kartu nama, tapi kupon pembelian celana d*l*m.”


“Hah? Masa sih?”


Ken yang tak percaya langsung menyambar kartu di tangan Kirana, lalu membaca tulisan yang tertera di sana.


“Kumpulkan 10 kartu ini, dan dapatkan 3 pcs celana d*l*m Victor Secret.”


Ken menoleh pada Kirana, terkekeh canggung, dan menggaruk kepalanya.


“Maaf, Nona, akhir-akhir ini saya menjadi bodoh karena terlalu sering begadang jaga ronda.”


“Kau seperti bukan pengawal profesional saja, Ken. Lagipula, kenapa repot-repot mengambil kartu nama? Apa tidak ada cara lain?” geram Kirana.


“Cara lain? Cara lain seperti apa, Nona?”


Kirana menarik nafas panjang. Mencoba untuk tetap sabar. Dia heran dengan pengawal pribadinya yang tampaknya mengalami gejala penurunan kecerdasan.


“Kenapa kamu tidak tanya langsung? Atau kamu pura-pura saja kenal dengan ayahnya Clara. Lalu pasti dia akan menyebutkan namanya sendiri.”


Lantas, Kirana segera memanggil Daniel. Dia mengatur siasat agar bisa mengetahui nama ayah Clara.


Setelah mendapat instruksi singkat dari Kirana, Daniel buru-buru mencari keberadaan ayah Clara, yang ternyata ada di basement tempat parkir mobil.


Daniel berlari menghampiri dan menepuk bahu ayah Clara. Sementara tak jauh dari mereka, Kirana dan Ken menyaksikan dari tempat persembunyiannya.


“Paman Albert,” sapa Daniel pada ayahnya Clara.


Kemudian Daniel memeluk pria itu layaknya keponakan yang telah lama tak berjumpa dengan pamannya.


Tentu saja ayah Clara langsung mengerutkan dahi, terheran akan tingkah orang yang tak dikenal tiba-tiba saja memanggilnya Paman Albert.


“Maaf, kau siapa?”


“Masa Paman Albert lupa. Aku Daniel, keponakan Paman,” ucap Daniel tersenyum dan kembali memeluk ayah Clara.


Segera ayah Clara melepas tangan Daniel, menarik nafas panjang, dan memutar bola matanya.


“Kau salah orang. Aku bukan pamanmu, dan aku juga tidak punya keponakan bernama Daniel.”


“Tidak mungkin. Kau pasti Paman Albert. Ini aku, Paman. Daniel. Coba Paman ingat-ingat lagi.”


“Aku katakan sekali lagi, aku bukan pamanmu!” bentak ayah Clara yang hendak masuk ke dalam mobil.


“Paman Albert, tunggu! Kau Paman Albert kan? Aku tidak mungkin salah,” kata Daniel mencekal tangan ayah Clara.

__ADS_1


Pria itu tampak sudah di batas kesabaran. Sehingga dia menghempaskan tangan Daniel dengan kasar, dan melayangkan sorot mata yang tajam.


“Cukup! Aku bukan pamanmu, dan namaku bukan Albert. Tapi Hardi. Hardi Russel,” Hardi membentak Daniel dengan penuh amarah.


Matanya melotot, gigi bergemeletuk dan urat-urat di lehernya sampai terlihat menonjol. Menjadikan Daniel mundur satu langkah, bersiap untuk kabur.


Dari tempat persembunyian, wajah Kirana mengernyit. Dia belum pernah mendengar nama Hardi Russel.


“Hardi Russel? Siapa Hardi Russel?”


“Oh, maaf, Tuan. Saya salah orang rupanya,” ucap Daniel menangkupkan tangan.


“Sudah kukatakan sejak tadi, kau salah orang. Pergi sana!” seru Hardi.


“Iya, maaf, Tuan. Maaf.”


Tanpa diminta pergi pun Daniel memang akan melakukan jurus kaki seribu begitu ayah Clara menyebutkan sendiri namanya.


Hardi menggeram kesal. Tak habis pikir dengan anak muda zaman sekarang. Tadi ada pria yang menabraknya di lift. Sekarang ada pria yang mengaku sebagai keponakannya.


“Ada-ada saja.”


Kemudian, Hardi masuk ke dalam mobil yang langsung melaju kencang meninggalkan basement apartemen.


“Nona, pria itu bernama Hardi Russel,” lapor Daniel yang datang menghampiri Kirana dan Ken.


“Siapa dia, Nona?” Ken bertanya.


“Aku harus telepon Papa.”


***


“Kamu tahu, Raka? Orang terdekat biasanya memiliki rahasia yang paling tidak terduga.”


“Apa maksud Anda, Tuan?” tanya Raka yang belum mengerti arah pembicaraan Balin.


“Aku bukan ayah kandung dari Kirana, dan aku menyembunyikan rahasia ini selama bertahun-tahun.”


Meskipun Raka diam, akan tetapi pengakuan dari Balin cukup membuatnya terkejut. Raka menarik ujung bibirnya membentuk senyuman.


Sebenarnya Raka tak mau ikut campur dalam masalah pribadi Balin. Namun, rasa penasaran mendorongnya untuk bertanya.


“Pasti Tuan Balin memiliki alasan tersendiri menyembunyikan rahasia itu dari Nona Kirana.”


Balin mengangguk membenarkan. Perlahan Balin dan Raka melangkahkan kaki melintasi lapangan, mencari bola mereka, dan melanjutkan permainan golf.


Mereka berjalan santai dengan ditemani caddy golf yang membawakan peralatan.


Raka menarik nafas dalam-dalam. Baginya, ini bukanlah sekedar bermain golf, tapi terasa seperti bercerita dengan ayahnya sendiri.

__ADS_1


Apalagi Balin meminta Raka agar jangan menggunakan bahasa yang terlalu formal saat mereka berbincang santai.


Raka hanya tersenyum, mengangguk, mengiyakan saja permintaan Balin.


“Apa boleh saya tahu kenapa Tuan Balin tidak mengatakan yang sejujurnya pada Nona Kirana?”


Balin tercekat, lalu menundukan kepala. Hal itu membuat Raka merasa lancang telah menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi.


“Maaf, Tuan Balin tidak perlu menjawab pertanyaan dari saya,” Raka menunduk meminta maaf.


“Terlalu sedih untuk diceritakan. Mengingat betapa kejinya perbuatan ayah Kirana kepada keluargaku. Tapi jika kamu ingin tahu, ayah kandung Kirana sangat membenci Kirana bahkan sejak dia dilahirkan.”


Raka mengangguk mengerti akan kondisi yang terjadi.


Balin berhenti sebab telah menemukan bolanya. Dia bersiap melakukan pukulan di tempat bola itu berada.


“Jika Nona Kirana bukan anggota keluarga Mahendra, lalu siapa ayah kandung dari Nona Kirana, Tuan?”


Stik golf yang diayunkan Balin mendadak terhenti. Kini Balin yang dibuat terkesiap akan pertanyaan dari Raka.


Masalahnya, telah lama sekali Balin tidak menyebutkan nama dari musuhnya itu. Balin menguatkan genggaman tangan pada stik golf dan…


Plak.


Balin melanjutkan pukulannya, bola itu menggelinding melewati bola milik Raka, dan akhirnya masuk ke dalam lubang.


“Ayah kandung Kirana bernama Harsa Russel,” ungkap Balin yang langsung berjalan meninggalkan Raka sendirian.


Di tempatnya berdiri, Raka mematung dengan wajah mengernyit.


“Harsa Russel. Kenapa nama ayah kandung Nona Kirana mirip dengan nama ayah Clara? Hardi Russel. Atau mungkin hanya kebetulan saja?”


Tak ingin larut memikirkan urusan orang lain, Raka meraih stik golf karena kini gilirannya memukul bola.


Tepat saat itu juga, ponsel Balin berdering. Raka yang berdiri tak jauh dari sana, membuatnya dapat mendengar percakapan Balin dengan Kirana.


“Papa, ada dimana sekarang?”


“Papa masih bersama Raka bermain golf,” jawab Balin sekilas melirik Raka.


“Bisa Papa pulang sekarang? Ada yang ingin aku bicaraka pada Papa. Ini masalah penting.”


“Oke, Papa pulang sekarang.”


“Oke, aku tunggu di rumah. See you.”


Balin mengakhiri sambungan telepon, lalu berpaling pada Raka, dan menepuk pundak pria itu.


“Maaf, Raka, kita lanjut lagi lain waktu. Tiba-tiba saja ingin aku segera pulang.’

__ADS_1


“Tidak masalah, Tuan. Biar saya antar Tuan Balin ke rumah.”


__ADS_2