Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
19. Pijatan Eksklusif


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya,


Tok..tok..tok..


“Masuk,” seru Nakula yang duduk di kursi singgasananya.


Kemudian, menyembullah kepala Raya yang masuk ke ruangan itu dengan membawa baki berisi secangkir kopi.


Raya meletakan kopi itu di meja kerja sambil tersenyum simpul, lalu dia menghempaskan diri di kursi yang ada di depan Nakula.


“Kopi untuk adikku, Nakula Mahendra.”


“Thanks, Kak Kira.”


Nakula meraih cangkir kopi itu dan menyesapnya. Bola matanya kembali fokus pada berkas yang ada di meja.


“Apa ada kesulitan?” tanya Raya yang ikut melirik berkas.


“Tidak ada. Hanya saja, tolong pijat aku, Kak Kira. Punggungku rasanya sakit,”


“Apa?”


“Biasanya kalau ada Sadewa, dia yang memijat bahuku, Kak. Nah, sekarang kan Sadewa tidak ada, jadi aku minta tolong pada Kak Kira.”


Nakula menepuk bahu kirinya dua kali.


Sementara Raya hanya mengembik, dan menuruti kemauan adiknya. Dia berjalan ke belakang kursi.


“Oke, karena kamu sudah menjadi adik yang penurut, maka Kakak akan memijatmu.”


Raya menggertakkan jemarinya sebelum memijat bahu Nakula.


“Pijatan eksklusif dari Kirana Putri Mahendra.”


Nakula sontak berteriak kencang karena yang dilakukan Kirana bukanlah memijat tapi mematahkan tulang-tulang di tubuhnya.


“Kak yang benar dong, pelan-pelan!”


Kirana terkekeh. Dia memijat bahu Nakula dengan perlahan, begitu adiknya memasang wajah memelas.


“Ya, enak. Auw. lebih keras. Ah, ehm. Turun ke bawah sedikit. Ehm, mantap.”


“Ish, jangan mengeluarkan suara mesum seperti itu kenapa sih?” protes Kirana memukul bahu Nakula.


“Auw, sakit. Ayo lanjutkan. Iya begitu. Enak. Ah.”


Seketika itu pintu terbuka lebar oleh seseorang yang terperangah di sana. Nakula dan Kirana juga ikut terkesiap diam tak berkutik.


Apalagi Kirana yang terasa sekujur badannya membeku saat Raka menatap dingin padanya.


“Tuan Nakula? Raya?” ucap Raka lirih.


“Ah, Raka. Mana proposal yang aku minta?” tanya Nakula yang dengan cepat bisa bersikap biasa saja.


Namun, tidak dengan Kirana yang gelagapan. Dia menunduk, tidak kuat ditatap oleh Raka yang seperti ingin memangsanya.


Bahkan setelah proposal diserahkan, Raka tidak melepaskan pandangan pada kekasihnya itu.

__ADS_1


“Oke, terima kasih. Kalau begitu, kalian berdua boleh keluar,” ucap Nakula tersenyum penuh arti.


“Ikut ke ruanganku,” geram Raka dengan suara lirih agar Nakula tidak mendengar.


Akan tetapi Nakula tahu dan dia sendiri yang merencanakan itu semua. Dia sengaja minta dipijat oleh Kirana, di saat Raka hendak menuju ke ruangannya.


Dia menyeringai sambil menatap punggung dua insan yang melangkah melewati pintu.


Makan pacarmu yang posesif itu, Kak Kira. Itu balasan dari kami yang kemarin sudah ketar-ketir mencari Kak Kira. 


***


Di salah satu toilet wanita di gedung Irawan Group, Clara berteriak histeris pada cermin besar yang terpasang di wastafel.


Kemudian dia menunduk, membasahi rambut di bawah kucuran air keran, dan mengumpat kesal.


Saat itu juga Mae keluar dari salah satu bilik toilet, dia memandang penuh keheranan akan tingkah Clara.


“Bu Clara, sedang apa?”


“Keramas,” sahut Clara ketus.


“Iya, saya juga tahu Bu Clara keramas. Maksud saya, kenapa Bu Clara keramas di sini?”


Clara mendongak menatap tajam pada Mae. Nafasnya memburu dengan raut muka garang yang sangat menakutkan.


Seketika Mae salah tingkah. Padahal dia tidak merasa bersalah apa-apa, tapi kenapa Clara menatapnya begitu.


“Aku tidak sudi rambutku disentuh oleh tangan kotor dari Raya si pelakor kampungan itu,” raung Clara.


Mendengar kata Raya disebutkan, membuat Mae menaikkan alisnya dan tersenyum. Dia merasa punya rekan yang dapat menjatuhkan Raya.


Clara melempar pandangan pada tampilannya di cermin, menyeringai dan mengepalkan tangan. Dia bertekad agar dapat memisahkan Raka dari Raya.


***


Raka mengunci pintu begitu Raya masuk ke ruangannya.


Lalu dia duduk di kursi kerja sambil memandang Raya yang masih tertunduk. Rasa kesal di dalam dirinya belum hilang.


Sementara Raya menggigit bibir bawah, dan sesekali melirik ke arah Raka. Dia tahu apa yang membuat pria itu marah.


“Tadi itu, Tuan Nakula hanya minta dipijat,” jelas Raya yang malah memperburuk keadaan, karena kini aura kemarahan dari pria yang duduk di depannya semakin terasa.


Raka mendengus sambil membuang muka.


“Dipijat? Aku sudah minta padaku agar jangan ada pria lain selain aku yang menyentuhmu, atau sebaliknya. Kecuali ayah dan adik laki-lakimu, kamu masih boleh bersentuhan dengan mereka.”


“Tapi Tuan Nakula…”


“Dan Tuan Nakula bukan adikmu, kan?” tukas Raka.


Raya bingung sendiri.


Nakula itu adikku, Raka. Kata Raya dalam hati.


Raka menegakkan punggung, dan berkata, “Aku juga mau dipijat.”

__ADS_1


“Apa?”


“Ayo, cepat lakukan!”


Tak dapat mengelak, Raya melangkah mendekat, memijat bahu Raka persis seperti yang dia lakukan pada Nakula.


“Raka, aku mau tanya.”


“Tanyakan saja,” sahut Raka dengan mata terpejam menikmati pijatan Raya.


“Jika kamu sudah mengetahui pelaku yang menabrak Ray, apa yang akan kamu lakukan?”


“Aku akan membuat dia jauh lebih menderita dari apa yang aku dan Mommy rasakan selama ini.”


Raya menelan saliva. Di lubuk hati, dia berharap orang itu bukanlah Balin.


“Apakah kamu telah mencurigai seseorang?”


“Kenapa kamu bertanya terus tentang Ray?” Raka balik bertanya.


“Bukan apa-apa.”


Secepat kilat Raka menyambar tangan Raya, dan menarik pinggang gadis itu agar duduk di pangkuannya.


Sontak Raya tercekat, tapi dia tak bisa melepaskan diri karena Raka melingkarkan tangan di perut sangat erat.


Wajah kedua anak adam dan hawa itu berada di jarak yang sangat berdekatan. Hingga dapat saling merasakan aroma khas yang menyeruak dari tubuh.


Jantung Raya berdebar di atas batas normal, matanya membola, menatap wajah yang begitu menawan dari pria yang dia cintai.


Begitu pula dengan Raka yang menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Seolah dia seperti mabuk, pikirannya melayang dan dia membiarkan hasrat yang menguasai dirinya.


“Raka, ini jam kerja,” kata Raya memperingatkan.


Namun, Raka seakan tuli, tak mendengarkan ucapan Raya. Dia menarik tengkuk kekasihnya untuk melabuhkan sebuah ciuman di bibir.


Sedangkan Raya memukul bahu Raka begitu mendapatkan ciuman kasar. Bukan ciuman lembut seperti kemarin.


Kali ini Raka menumpahkan rasa cemburunya melalui ciuman yang begitu rakus, bahkan sempat menggigit bibir bawah Raya yang langsung mengeluarkan suara desah*n pelan.


Dan suara itu mampu membangkitkan hormon di dalam diri Raka.


Tangan Raka bergerak ingin meraba sesuatu. Namun, lengan kekar itu ditahan kuat oleh Raya.


“Raka, stop!”


Raka membuka mata, begitu dia mendengar suara terisak.


Ternyata di depannya, manik mata indah Raya telah menggenang dan satu bulir meluncur ke bawah pipi.


Segera Raka mengusap jejak air mata Raya, dengan menampilkan raut yang bersalah.


“Maaf, aku sudah berbuat kasar padamu, Raya. Jangan menangis! Ini salahku.”


Raya menggelengkan kepala, namun tak berkata apa pun. Sementara air mata terus saja mengalir membasahi pipinya.


Dia tak dapat melihat Raka dengan jelas karena pandangannya buram.

__ADS_1


Dia menangis bukan karena ciuman kasar dari Raka. Tapi karena dia takut jika pada kenyataannya Balin ada kaitan dengan kematian Ray.


Raka, kamu dan Papa adalah dua pria yang aku sayangi. Tapi bagaimana jadinya jika kamu ternyata menyimpan dendam ke Papa? Semoga bukan Papa orang yang menabrak Ray.


__ADS_2