
Raka menekan jari telunjuknya di bibir Kirana.
"Jangan katakan itu lagi di depanku! Aku akan tetap menikahimu dan mengambil segala resikonya."
Binar kebahagiaan terpancar di kedua bola mata Kirana. Dia mengulum senyum saat Raka mengecup punggung tangannya.
"Aku mau kamu yang memakaikan cincin ini."
"Of course."
Kemudian Raka mengambil cincin dan menyematkan ke jari manis Kirana. Dia mengecup ujung kepala Kirana yang langsung bersandar di bahunya.
"Selama ini kamu ingin bertemu dengan kedua orang tuaku, kan? Bagaimana kalau kita temui Papa sekarang juga?"
"Memang itu yang akan aku lakukan hari ini."
***
Hujan telah reda ketika Kirana dan Raka tiba di rumah. Mereka disambut oleh Alexa begitu turun dari mobil.
Raut kekhawatiran terpancar dari wajah Alexa melihat Kirana dan Raka pulang dalam keadaan basah kuyup. Tangan Alexa menggenggam erat tangan Kirana yang sedingin es.
Lalu dia melempar pandangan pada Raka. Bibir pria itu telah membiru karena kedinginan.
"Nyonya Alexa, saya minta maaf karena telah membawa pulang Kirana dalam keadaan seperti ini."
"Tidak masalah, Raka. Dan jangan panggil aku nyonya! Panggil saja mama."
Raka hanya mengangguk sebagai jawaban.
Kemudian, Alexa melempar pandangan pada pelayan pria yang berdiri tak jauh darinya. Dia meminta pelayan itu untuk menunjukan kamar tamu, sekalian menyiapkan baju ganti untuk Raka.
Setelah itu, mereka berpisah, Kirana dan Alexa naik ke lantai atas menuju kamar Kirana, sedangkan Raka berjalan mengekori pelayan pria yang membawanya ke kamar tamu.
Pelayan pria membuka pintu yang memperlihatkan sebuah kamar dengan dinding bercat putih dan tak banyak perabotan di sana. Begitu memasuki kamar tamu, Raka langsung tertuju pada kamar mandi.
Dia mandi di bawah kucuran air shower hangat, memakai bathrobe dan saat dia keluar kamar mandi, pelayan pria tadi sudah tidak ada. Namun, di atas tempat tidur telah tertata baju yang disiapkan untuknya.
Raka memakai kaos hitam, celana jins panjang, dan ada juga sweater turtleneck hitam berbahan rajut yang sangat pas dipakai saat dirinya sedang kedinginan seperti sekarang ini.
Kemudian terdengar suara pintu diketuk. Ternyata seorang pelayan pria yang berbeda datang membawakan segelas susu jahe.
"Nyonya Alexa meminta saya membawakan susu jahe ini."
"Oh, baik, terima kasih," kata Raka saat menerima gelas berisi cairan putih itu.
Lantas Raka meneguk susu jahe, dan perlahan badannya terasa hangat. Bahkan dia menggenggam erat gelas menggunakan kedua tangan. Supaya panas yang ada di minuman itu menjalar ke ujung jemarinya yang dingin.
__ADS_1
"Nyonya Alexa juga berpesan agar Tuan istirahat saja di kamar ini sambil menunggu Tuan Balin pulang," jelas si pelayan menundukan kepala.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?"
"Tidak. Terima kasih."
Di waktu yang sama, Alexa menyiapkan baju untuk dipakai Kirana yang kini sedang mandi. Dia menarik dari dalam lemari sebuah dress rumahan berwarna biru tua dengan tali yang mengikat di bagian pinggang.
Keluar dari kamar mandi, Kirana tersentak mendapati Alexa sedang menyiapkan baju. Dia juga menyadari pandangan Alexa yang terus mengamati lehernya.
Secepat kilat, Kirana menutupi leher menggunakan telapak tangan.
Pikiran Alexa berkeliling jauh saat melihat tanda merah di leher Kirana. Namun, dia hanya mengulum senyum dan mengangkat kedua alis.
"Ini tadi digigit nyamuk sewaktu piknik, Ma," kata Kirana beralasan, agar Alexa tidak curiga.
Alexa mengangguk dan ber 'oh' pelan.
"Pasti nyamuknya besar, ya?" sindir Alexa yang tahu jika Kirana berbohong.
Kirana menjawab dengan kekehan, lalu menggaruk tengkuknya akibat salah tingkah.
"Ya, sudah pakai baju ini. Sebentar lagi Papa akan pulang."
Kirana segera memakai baju yang dipilih Alexa. Agar Balin juga tidak bertanya akan tanda merah di leher, dia mengakali dengan cara menutupinya menggunakan foundation.
Tepat saat Kirana telah rapi, dia melihat melalui jendela kamar, tampak mobil milik Balin memasuki gerbang. Sehingga Kirana memutuskan untuk segera memanggil Raka.
"Pa, ada Raka di sini. Dia ingin bicara dengan Papa."
Balin tidak menunjukan ekspresi apapun. Raut mukanya tampak datar, seolah sudah tahu akan kedatangan Raka.
"Kalau begitu Papa tunggu di ruang baca," ucap Balin sebelum dia melangkah pergi.
Kirana melanjutkan langkah kakinya untuk menemui Raka. Kemudian keduanya menyusul Balin di ruang baca.
Kirana dan Raka duduk berhimpitan di hadapan Balin yang melirik tajam pada genggaman tangan mereka.
Raka menarik nafas sebelum berbicara.
"Tuan Balin, kedatangan saya kemari bermaksud untuk meminta izin menikahi Kirana," ungkap Raka yang langsung pada inti pembicaraan.
Balin menatap Raka dan Kirana secara bergantian. Lalu sejenak melempar pandangan pada Alexa yang duduk di sampingnya.
Di menaruh tangan di sandaran sofa sembari mengamati Raka dari atas hingga ke bawah.
"Apa yang membuatmu pantas menjadi suami Kirana?"
__ADS_1
"Saya sangat mencintai Kirana, Tuan. Saya akan melindungi, membimbing, dan mengusahakan yang terbaik untuknya," Raka menjawab dengan suara tegas, tanpa rasa ragu sedikit pun.
"Kapan kalian akan menikah?"
"Secepatnya."
Sejenak ruangan berubah hening. Tampak Balin sedang menimbang keputusannya.
"Apalagi yang kamu tunggu, Balin? Cepat restui mereka!" bisik Alexa pada sang suami.
"Bagaimana jika aku tidak merestui kalian?" Balin kembali melancarkan pertanyaan yang berhasil membuat Kirana menegang.
"Kita akan kawin lari."
Raka menjawab jujur, dan terdengar tidak main-main dalam mengucapkan kalimat itu. Sedangkan Kirana merasa gelisah saat melihat Balin menerbitkan senyum seringai. Begitu pula Alexa.
"Keluar dari ruangan ini!" perintah Balin tiba-tiba.
Mendadak suasana ruang baca menjadi tegang, ketika kedua laki-laki berbeda generasi itu saling menatap tajam. Kirana dan Alexa sama-sama menegakkan punggung terkesiap oleh perkataan Balin.
"Apa maksud Papa? Papa mengusir Raka dan tidak merestui kami?" cecar Kirana.
Sontak Balin berganti menoleh ke arah Kirana.
"Papa belum selesai bicara, Kirana."
Lalu kembali Balin menatap Raka.
"Keluar dari ruangan ini, lalu pergilah ke ruang makan. Kita makan malam bersama. Kau diterima sebagai anggota keluargaku," terang Balin membuat semua orang yang mendengarnya mengulum senyum.
Kirana menghambur menghampiri Balin dan bersimpuh di depannya. Dia menggenggam erat tangan kekar itu dengan binar mata kebahagiaan.
"Terima kasih banyak, Papa."
Bibir Balin merekahkan senyuman, tangannya terulur mengusap puncak kepala Kirana.
"Berbahagialah bersama Raka. Jika dia menyakitimu bilang ke Papa, biar Papa tonjok perutnya."
Meski bola mata Kirana telah menggenang, dia masih bisa terkekeh pelan.
"Sudah sana, ajak Raka ke ruang makan. Nanti Papa menyusul."
Kirana mengangguk, mengajak Raka seperti apa yang diperintahkan sang ayah. Selepas kepergian Kirana dan Raka, kini tersisa Alexa dan Balin di ruang baca.
Tak lama, ada satu panggilan telepon masuk di yang langsung diangkat oleh Balin. Dari samping, Alexa menyadari perubahan raut wajah suaminya saat menerima telepon.
Karena penasaran, Alexa pun bertanya, "Apa ada masalah?"
__ADS_1
Balin menutup telepon dan menaruh ponselnya ke saku kemeja.
"Aku mendapat laporan dari polisi jika Clara kabur dari tahanan."