Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
25. Di Mana Kakak Kalian?


__ADS_3

Pagi hari di depan gedung Irawan Group, Raka membukakan pintu mobil untuk Raya yang turun dengan sangat canggung.


Bagaimana tidak? Semua orang terutama kaum hawa menatapnya iri.


Raka tak memperdulikan tatapan yang dilayangkan untuk mereka berdua. Dia justru melingkarkan tangan di pinggang Raya, sebagai tanda bahwa gadis itu adalah miliknya.


Lalu ketika mereka hendak berpisah di lobi, Raka mencondongkan badan untuk memberikan kecupan semangat bekerja di kening kekasihnya.


“Raka, ini tempat kerja,” desis Raya melirik sekitar.


“Lantas?”


“Tidak enak dilihat oleh yang lain.”


“Biarkan saja.”


Interaksi mesra dua sejoli itu ditangkap oleh Clara yang terbakar api cemburu. Dia yang sejak remaja dijodohkan dengan Raka, tapi harus melihat pria pujaan hatinya mencium wanita lain tepat di hadapannya.


“Aku ke ruanganku dulu. Semangat bekerja, Sayang,” kata Raka sebelum akhirnya dia berjalan ke arah lift.


Tepat saat Raka telah menghilang di balik pintu lift, Clara mendekati Raya sambil berdehem keras.


“Mentang-mentang lagi kasmaran, dunia serasa milik berdua, yang lain cuma numpang,” sindir Clara.


“Terus kenapa? Iri?” sahut Raya dengan nada santai.


“Cih, iri sama kamu?” Clara terkekeh.


“Yang ada kamu yang iri sama aku. Kamu tahu, Raya, aku dan Raka pernah melakukan yang lebih dari sekedar ciuman.”


Tentu yang dikatakan Clara tidaklah benar. Dia hanya sedang ingin membuat hubungan Raka dan Raya hancur.


Dan terbukti saat ini Raya melirik tajam Clara. Awalnya dia tak percaya, tapi Clara tidak berhenti sampai di situ saja.


Clara mengarang cerita tentang dia dan Raka yang sudah pernah bermain kuda-kudaan.


“Raka adalah pria yang sangat hebat dalam urusan ranjang. Aku masih ingat betul bagaimana dia menciumku, membelaiku, dan membisikkan kata-kata cinta.”


Raya mendengus kasar. Menampik kenyataan bahwa sekarang dirinya yang cemburu.


“Dasar tukang halu. Kamu pikir aku percaya?” ucap Raya sedikit gemetar.


Sebenarnya sebagian dari dirinya termakan omongan Clara. Dia ingat pernah memergoki Clara yang memeluk Raka.


Ditambah Clara yang selalu berpakaian seksi. Mungkin saja Raka pernah tergoda pada Clara. Begitulah isi pikiran Raya saat ini.


“Raya, kami memang pernah melakukan itu dan semenjak ada kamu, dia pergi meninggalkan aku. Jadi, aku cuma mau memperingatkan, jangan terkejut jika suatu saat kamu ditinggal Raka begitu saja.”


***


Siang ini Nakula dan Sadewa selesai mengadakan rapat kerjasama perusahaan. Rapat itu hanya dihadiri oleh empat orang Nakula, Sadewa, dan masing-masing sekretarisnya.


Sadewa meregangkan badannya yang pegal setelah rapat berakhir. Lalu dia tertawa yang membuat semua orang berpaling.


“Lucu sekali bukan? Kita mengadakan rapat, sementara Kak Kirana sebagai pemilik perusahaan ini, malah sedang bersih-bersih,” ucap Sadewa tanpa menyadari Raka masih berada di antara mereka.


Tadi saat datang ke kantor Irawan Group, Sadewa melihat kakaknya sedang mengepel lantai lobby.

__ADS_1


Dia tidak menyapa karena teringat akan penyamaran Kirana.


Ucapan Sadewa itu menjadikan Raka semakin penasaran. Dia memang mendengar kabar jika putri dari bosnya telah pulang ke tanah air, tapi sampai saat ini dia belum pernah bertemu dengannya.


Melihat ekspresi Raka yang mengerutkan alis, Sunny segera menendang kaki Sadewa agar pria itu sadar apa yang telah dia katakan.


“Maaf sebelumnya, tapi kalau boleh tahu di mana Kakak kalian itu? Seharusnya dia yang datang ke rapat ini kan?”


Ketiga manusia di depan Raka serempak menegang. Mereka salah tingkah dan masing-masing otak sedang mencari alasan yang pas.


“Kak Kirana sedang ada di rumah,” celetuk Nakula.


“Iya, ada di rumah sedang bersih-bersih,” imbuh Sadewa.


“Memangnya di rumah kalian tidak ada pelayan?” tanya Raka penasaran.


“Ada, cuma… cuma…” Sunny bingung mencari alibi.


“Cuma apa?” desak Raka.


“Cuma Kak Kirana lebih suka dirinya sendiri yang membersihkan kamar,” sahut Sadewa cepat. Lalu dia terkekeh, demi menutupi rasa gugup.


“Kenapa dia lebih mementingkan membersihkan kamar, dari pada menghadiri rapat yang penting ini?”


Pertanyaan dari Raka tak bisa dijawab oleh ketiga orang yang dilanda kegugupan yang luar biasa.


Kepo banget ini orang. Untung dia tampan. Eh, astaga. Dia kan pacanya Kak Kirana. Batin Sunny.


Kalau dia bukan pacarnya Kak Kirana, sudah aku damprat dia. Batin Sadewa.


Dia wartawan atau sekretaris? Banyak tanya sekali. Nakula juga ikut membatin.


Begitu pula Sunny yang juga berdiri.


“Ayo, Sadewa kita pulang,” ajak Sunny menyeret lengan Sadewa.


***


Sadewa dan Sunny kini sudah ada di depan pintu lift. Menunggu benda besi itu terbuka. Sekali lagi Sadewa meregangkan badannya dan…


DUG.


Dia tak sengaja menyikut sesuatu yang empuk. Lalu dia pun menoleh.


Ternyata benda yang dia sikut adalah salah satu dada Sunny. Wanita itu pun terkesiap, sama halnya dengan Sadewa.


“Sorry, Sun,” ucap Sadewa.


“Dasar kamu pria mesum, cari-cari kesempatan,” bentak Sunny sambil menahan malu.


Kali ini Sunny tidak habis pikir. Setelah bokong yang tak sengaja tersentuh. Kini dada pun juga tak luput dari sentuhan Sadewa.


“Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, aku tidak sengaja. Lagian mana selera aku sama kamu. Sudah jelek, centil, hidup lagi.”


Seketika netra Sunny memanas dan berembun. Entah kenapa ucapan dari mulut Sadewa itu sangat melukai hatinya.


Kemarin saat di telepon, dia bilang cinta. Setelah pegang-pegang, dia malah memakiku seperti itu. Dasar pria plin-plan.

__ADS_1


Sunny mencaci Sadewa dalam hati, dan saat pintu lift terbuka, dia mendorong tubuh Sadewa hingga terhuyung ke belakang.


Kemudian Sunny segera masuk ke dalam lift, meninggalkan Sadewa yang keheranan.


“Kau turun saja pakai tangga darurat!” ketus Sunny sebelum pintu lift menutup.


“Ada apa dengan Sunny? Aneh. Eh, aku kan harus menyerahkan surat ke Kak Kirana.”


Sadewa menoleh kanan kiri.


“Kak Kirana, ada dimana ya?”


***


“Ah itu dia,” kata Sadewa pada akhirnya dapat menemukan kakaknya yang sedang mengelap kaca.


Sadewa berjalan mendekat. Dilihatnya Kirana tengah mengelap kaca sambil melamun. Tidak menyadari akan kehadiran Sadewa.


“Dor,” teriak Sadewa berhasil mengagetkan Kirana.


“Ish, Sadewa. Kaget tahu.”


Sadewa terkekeh. “Siapa suruh melamun. Oh ya, ini surat yang Kakak minta.”


Kirana menerima surat yang terlipat rapi di tangan Sadewa. Lalu segera memasukan ke dalam saku celana.


Dia tidak akan membuka surat itu sekarang.


“Thank you, Sad.”


“No problem. By the way, jangan keseringan melamun Kak, nanti kesambet setan seperti Sunny. Sebentar-sebentar marah, sebentar-sebentar nangis.”


Kirana tertawa. Dia menatap Sadewa dan menaikan alisnya.


“Jangan begitu! Kalau dia jodohmu bagaimana?”


Sadewa tersentak, lalu tubuhnya terlihat bergidik ngeri.


“Ih, amit-amit.”


“Sekarang kamu masih bisa bilang amit-amit. Bisa jadi besok kamu bilang Sunny imut-imut,” kata Kirana terus menggoda adiknya.


“Sunny mana pernah terlihat imut, Kak.”


“Siapa yang imut?” tanya sebuah suara.


Serempak Kirana dan Sadewa pun menoleh. Ternyata Raka sudah berdiri di dekat mereka, melirik tajam yang menghunus hingga ke jantung.


Kenapa orang ini lagi sih? Batin Sadewa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Raka, jangan salah paham dulu! Tadi Tuan Sadewa hanya bilang kalau kakaknya yang bernama Kirana itu imut,” Raya yang terpaksa berbohong, demi melindungi Sadewa.


“Oh, begitu.”


Raka melempar pandangan pada Sadewa. Begitu pula Raya yang memberi kode rahasia agar Sadewa segera pergi.


Sadewa yang menerima isyarat dari Raya pun berpamitan dan mengambil jurus seribu langkah. Alias lari sekencangnya.

__ADS_1


Maaf, Sadewa. Raka ini memang sekretaris, tapi untuk urusan pacar, dia bisa cemburu tanpa pandang bulu.


__ADS_2