
“Kemungkinan Kak Kira ada di mana ya?” tanya Sunny yang sudah berada di dalam mobil bersama Nakula dan sadewa.
Dia duduk di kursi depan, sampingnya ada Sadewa yang menyetir mobil. Sedangkan Nakula duduk di antara Sunny dan Sadewa di kursi belakang.
“Coba kita ke kantor. Bisa jadi Kak Kira disekap lagi di toilet seperti waktu itu,” kata Nakula.
“Benar juga,” gumam Sadewa.
“Astaga, kalau Kak Kira benar terkurung di toilet, kasihan sekali dia. Apalagi hari ini libur, tidak ada orang di kantor” cicit Sunny.
Kemudian, Sadewa melajukan mobil menuju gedung kantor perusahaan Irawan Group. Mereka tidak tahu bahwasanya Kirana alias Raya sedang berada di rumah Raka.
***
“Kurang ajar. Kamu mau mendapatkan lagi tendangan maut dariku, hah?” teriak Raya.
“Rasakan ini…jurus tendangan maut! Hiiiyaaa!”
Hup.
Raka tersenyum penuh kemenangan karena dia berhasil menangkap dan menahan kaki Raya yang hendak menyerang juniornya.
Sehingga kini, Raya berdiri hanya dengan satu kaki. Dia sedikit memiringkan badan maju mundur untuk menjaga keseimbangan.
“Raka, lepaskan kaki aku!” seru Raya.
“Tidak mau.”
“Raka, tolonglah aku kesulitan berdiri satu kaki seperti ini,” sekarang wajah Raya berubah memelas.
“Aku sudah pernah bilang kan, sekali lagi kau menendang juniorku, maka akan aku patahkan kakimu,” ancam Raka.
“Apa? Jadi ancaman itu beneran.”
“Aku juga sudah berbuat baik membersihkan badanmu, tapi ini balasanmu, hah?” kata Raka yang sedikit membentak.
Namun, dalam hati dia ingin sekali tertawa melihat perubahan ekspresi wajah Raya. Menurutnya setiap ekspresi entah itu marah, memelas, dan bahkan saat memaki terlihat sangat lucu.
“Berbuat baik, katamu?” Raya kembali memasang wajah garang.
“Kamu itu pria cabul. Semalam pasti kau tergoda dengan bentuk badanku yang seksi ini, kan?”
Raka tak menjawab, hanya menelan saliva karena memang benar semalam dia tergoda. Sangat tergoda dengan bentuk tubuh Raya.
Melihat Raka tak menyahut, membuat Raya mendengus.
“Ayo, mengaku! Selain menyeka dan mengganti pakaianku, apalagi yang kau lakukan?”
“Aku tidak melakukan apa-apa,” kata Raka menegaskan.
“Katakan yang sebenarnya! Dasar pria cabul! Aku tidak akan bersikap hormat meski kau atasan kerjaku.”
Raka diam tak bergeming.
“JAWAB!”
“ONDERDIL-MU MASIH TERSEGEL, RAY.” teriak Raka tak kalah kencang.
__ADS_1
Dada pria itu naik turun, napasnya memburu saking kesalnya dia dengan wanita yang berdiri satu kaki itu.
“Bohong!” bantah Raya.
“Aku memang membuka baju dan membersihkan badanmu, tapi aku tidak melakukan sesuatu yang melewati batas. Kalau tidak percaya, silahkan lakukan visum ke rumah sakit.”
Raya mendengus dan menyeringai pada Raka yang masih memegangi kakinya.
“Kucing kalau di kasih ikan asin mana mungkin menolak,” sindir Raya yang menjadikan Raka membelalakan mata.
“Kucing juga pilih-pilih dalam melahap jenis ikan asin, Ray.”
Raka menghela napas. Berdebat hanya akan membuang waktu sarapan. Sehingga dia memilih melepaskan kaki Raya dan menyuruhnya mandi.
Sementara Raka sendiri akan mengambilkan baju milik ibunya untuk dipakai oleh Raya.
Di dalam kamar mandi, Raya berpikir sejenak.
Apa iya semalam Raka tidak melakukan perbuatan yang itu? Coba aku cek.
Dia menarik ke atas baju daster yang melekat di badannya, lalu memandang tubuh polos yang terpantul di cermin.
Tidak ada tanda merah bekas percintaan dan bagian inti tubuhku juga tidak sakit. Itu tandanya Raka memang tidak membuka segel keperawa***ku kan?
Begitulah ucapan Raya dalam hati.
Setelah lega, Raya pun mandi di dalam bathtub. Tidak tanggung-tanggung memakai sabun Raka hingga habis setengah botol.
Di saat Raya keasyikan bermain dengan busa sabun yang melimpah, pintu kamar mandi diketuk dari luar.
“Ray, aku sudah meletakan baju untukmu di atas tempat tidur. Setelah mandi turunlah ke bawah. Kita sarapan bersama Mommy.”
Lalu hening.
Sepertinya Raka sudah pergi dari kamar. Raya pun melanjutkan mandi, hingga tiba-tiba dia tersentak teringat akan sesuatu.
“Aku kan belum mengabari Nakula dan Sadewa. Jangan-jangan mereka khawatir aku tidak pulang ke rumah,” gumam Raya yang segera membilas badan.
Selepas mandi dia meraih tas ransel miliknya untuk mengambil dalaman yang bersih.
Menjalani dua peran sebagai CEO sekaligus OG membuat Raya selalu membawa baju ganti berikut juga dengan dalaman.
Namun begitu membuka tas, Raya dikejutkan dengan isinya yang berantakan. Seingatnya isi tas itu rapi, tidak acak-acakan seperti sekarang ini.
Seketika mata dan mulut Raya membulat sempurna.
“Apakah kemarin Raka menggeledah isi tasku? Dia menemukan bra dan celana segitigaku tidak ya?” Raya bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan perasaan gusar.
Tapi yang jauh lebih dikhawatirkan oleh Raya adalah bagaimana jika Raka menemukan ponselnya. Benda elektronik itu dapat mengungkap identitas asli Raya.
“Apakah kemarin Raka membuka ponselku? Jangan-jangan Raka sudah tahu kalau aku ini Kirana Putri Mahendra.”
Raya berdecih, memaki dirinya sendiri.
Dengan perasaan yang kalut, Raya memakai pakaian yang telah disiapkan Raka. Di dalam tas Raya memang ada baju ganti, tapi itu setelan baju kantor.
Mana mungkin Raya memakai baju itu di depan Raka, yang ada rahasianya terbongar.
__ADS_1
Kemudian, Raya mendapati ponselnya dalam keadaan mati karena kehabisan baterai. Sehingga terlebih dahulu dia menghubungkan benda pipih itu ke colokan listrik untuk mengisi daya.
Sambil menunggu, Raya menghela napas lalu bergumam, “Semoga Nakula dan Sadewa tidak mencemaskan aku.”
***
Berhubung ART sedang pulang kampung, sehingga kali ini Raka yang memasak di dapur.
Amanda sering bangun tidur agak siang, seperti sekarang ini, dia baru keluar dari kamar melangkahkan kaki menuruni anak tangga.
Senyuman terbit di bibir Amanda ketika melihat putra sulungnya menyiapkan tiga buah piring di atas meja makan.
“Satu piring lagi pasti untuk Ray,” ucap Amanda menatap nanar dan mengulum senyum pada ketiga piring yang berjajar rapi.
Seketika Raka menghentikan pergerakan tangannya yang tengah menuangkan air putih. Dia berusaha menarik napas, meski dadanya terasa sesak sekali.
Melempar pandangan pada ibunya dengan sendu.
“Apakah Ray pulang?”
“Mommy, Ray sudah pergi,” ucap Raka lirih.
Susah payah dia menahan agar tidak ada bulir yang mengalir di ujung mata.
“Mommy tahu Ray pergi. Tapi dia pasti pulang, tidak mungkin Ray pergi meninggalkan Mommy,” sahut Amanda dengan nada yang sedikit membentak.
Raka tertunduk, tidak bisa berkata apa-apa lagi setiap ibunya membahas Ray, adiknya. Dia dan Amanda selalu memakai ungkapan pergi untuk meninggal.
Namun, Amanda yang tidak menerima kepergian anak bungsunya itu, selalu menganggap Ray hanyalah pergi untuk sementara dan meyakini dia akan pulang lagi ke rumah.
“Mommy tadi dengar kamu bicara dengan seseorang di kamar, dan kamu memanggilnya Ray. Dia pasti Ray kita, kan?”
“Mom…”
Amanda mundur satu langkah, wajahnya perlahan berseri namun masih menyisakan pedih yang terlihat jelas di mata.
“Dia pasti Rayyan, adikmu. Dia sudah pulang. Mommy akan ke atas. Mommy ingin bertemu Ray.”
“Mom, tunggu!”
“Raka, Mommy kangen sama Ray. Dia sudah lama tidak pulang.”
Amanda langsung berlari menaiki tangga, yang diikuti oleh Raka untuk menahan ibunya itu. Namun Amanda sangat cepat menuju kamar Raka lalu seketika membuka pintu.
Senyum Amanda perlahan pudar digantikan oleh wajah yang tertegun melihat ada seorang wanita berada di dalam kamar putranya.
Tak hanya Amanda, Raya pun sama terkejutnya saat pintu terbanting terbuka, meski begitu Raya hanya menunduk hormat pada wanita yang dia duga adalah ibu Raka.
Tatapan Amanda beralih bergantian pada Raka dan gadis di dalam kamar sana.
“Raka, siapa dia?
“Dia Raya, Ma.”
“Dia temanmu?”
Raka mengangguk lalu berkata, “Dia putri dari CEO Irawan Group, Tuan Balin Mahendra.”
__ADS_1
Raya membeku seketika, alisnya mengerut keheranan.
A-Apa? Kenapa Raka bilang begitu? Apakah dia sudah tahu siapa aku sebenarnya? Batin Raya dalam hati.