Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
74. Pantai


__ADS_3

Plak.


Kevin menampar keras pipi Clara saat mereka sampai di penginapan. Sorot mata Kevin menyala mengisyaratkan kemarahan yang luar biasa.


Sedangkan Clara telah terjatuh di lantai sambil memegangi pipinya yang terasa perih.


"Heh, Clara, sekarang ini kita sedang diincar polisi juga anak buah Tuan Balin. Jadi kita harus hati-hati dengan tindakan yang kita ambil."


Kevin berjongkok untuk menjambak rambut Clara. Seketika wanita itu memekik kesakitan. Dia ingin berteriak minta tolong.


Namun apa daya penginapan yang mereka tempati sangat sepi. Bahkan hanya mereka saja yang menyewa tempat itu. Pemilik penginapan pun hanya seorang pria tua dengan gangguan pendengaran.


Kevin menarik rambut Clara, memintanya untuk berdiri.


"Kita masih beruntung tidak ketahuan oleh Nona Kirana. Apa jadinya jika tadi kita kepergok mereka, hah? Coba pikir, dasar bodoh!" Kevin menonyor kepala Clara.


"Aku minta maaf, Kev. Jangan berbuat kasar padaku. Aku mohon," Clara memelas sembari terisak.


Keputusan Clara untuk meminta bantuan Kevin ternyata malah membuatnya semakin menderita. Rupanya pria itu ringan tangan, tak segan melakukan kekerasan. Bahkan pada seorang wanita sekalipun.


Meskipun begitu, Clara telah terlanjur bersama pria kejam bernama Kevin itu. Lagipula hanya Kevin yang mau memberikan dia obat dengan tubuhnya sebagai bayaran.


Tangan Clara bergerak mengelus sesuatu di antara paha Kevin. Benda itu masih tertidur lemas. Clara terus membelai hingga perlahan mengeras.


"Maafkan aku ya? Aku janji tidak akan mengulangi lagi."


Begitu mendapatkan pelayanan, raut wajah Kevin berubah melunak. Dia mendorong kepala Clara meminta pelayanan yang lebih memuaskan.


Dalam sekejap, kamar penginapan itu telah berisik oleh suara yang jika ada orang menguping akan malu sendiri.


Mereka melakukan apa yang menjadi kebiasaan mereka sejak Clara kabur dari tahanan. Hingga akhirnya, Kevin tertidur di ranjang tanpa sempat memakai kembali pakaian.


Setelah memastikan Kevin terlelap, Clara memakai pakaian, berjalan mengendap supaya tidak menimbulkan suara, dan kabur dari penginapan.


Bermodalkan ingatan di masa kecil, Clara menaiki taksi menuju villa keluarga Raka. Dahulu Clara pernah beberapa kali diajak menginap di sana, sewaktu ayah Raka masih hidup.


Sesampainya di depan villa, Clara tak mendapati ada seorang penjaga. Bahkan bangunan itu tampak sepi tak berpenghuni. Clara bersembunyi di balik semak mengamati bangunan besar di depannya.


"Kemana mereka?" gumam Clara yang langsung terjawab dengan masuknya sebuah mobil ke pekarangan villa.


Kirana dan Raka keluar dari mobil, mereka menenteng tas belanja yang berisi bahan makanan sambil berjalan begitu mesra menuju ke dalam villa.


"Besok kita jadi ke pantai kan?"


Raka menghela nafas. Sudah ada belasan kali istrinya itu membujuk pergi ke pantai.


"Iya, besok kita ke pantai."


"Sayang, sepertinya kita perlu mempekerjakan seorang penjaga. Bagaimana kalau ada penyusup masuk?" ucap Kirana saat Raka membuka pintu.

__ADS_1


"Tidak perlu, Sayang. Yang ada nanti kita diganggu."


Di tempatnya berdiri, Clara hanya bisa memandangi Raka dari kejauhan. Hanya begitu saja, telah membuat Clara bahagia.


Meski ingin rasanya dia mendekat dan memeluk pria tampan itu.


Clara menarik nafas panjang melihat Raka menghilang masuk ke balik pintu.


***


Pagi hari.


Raka menggeliat di bawah selimut, tangannya mengusap ruang kosong di samping yang seharusnya ada sang istri di sana.


Tapi tak ada siapa pun. Maka Raka pun mendongakkan kepala, dengan mata yang setengah terbuka dia menengok kanan kiri.


Wanita yang menyandang status sebagai nyonya Abimanyu itu tak ada di dalam kamar. Raka memanggil Kirana dengan suara khas bangun tidur.


Raka ingin mengulang penyatuan panas seperti yang dilakukan mereka tadi malam.


Tak lama, pintu mengayun terbuka menampilkan Kirana yang telah memakai dress pantai lengkap dengan topi bertepi lebar. Dia duduk di tepi ranjang sambil menarik lengan Raka untuk bangun.


"Sayang, ayo! Katamu kita akan ke pantai. Sebelum matahari belum terlalu tinggi."


"Iya, iya, kita ke pantai. Tapi…"


"Junior ingin balas dendam lagi."


Kirana berdecak kesal. "Aku kan hanya menendang junior satu kali, tapi mengapa aku mendapatkan balasan bertubi-tubi?"


Mendengar itu, Raka membelalakan mata.


"Astaga, Sayang. Memang kamu hanya ingin melakukan satu kali."


Tangan Raka menarik tubuh Kirana naik ke atas ranjang, melepas dress bermotif polkadot, dan membuangnya asal.


"Lagipula aksi balas dendam junior membuatmu ketagihan kan?"


***


Kirana dan Raka berada di pantai yang merupakan sebuah teluk dengan pasir putih dan ombak yang tenang. Pantai itu sepi tak ada pengunjung.


Raka sengaja membawa Kirana ke bagian pantai yang sepi, agar tak ada yang mengganggu dalam membuat anak calon peselancar handal. Dia memeluk erat tubuh Kirana.


"Sayang, aku ingin punya anak seorang peselancar. Jadi kita…"


"Kita buat anak di pantai," Kirana meneruskan ucapan Raka yang tersenyum dan mengangguk.


Kirana menghela nafas, dilepaskannya tangan Raka yang melingkar di pinggangnya. Lalu berjalan mundur, menciptakan jarak diantara dirinya dan Raka.

__ADS_1


Dahi Raka mengerut heran melihat reaksi sang istri.


"Kenapa, Sayang?"


Kirana menggelengkan kepala. Jika melakukan di dapur, Kirana masih dapat memberikan toleransi. Tapi jika di pantai?


"Raka, ini tempat umum. Bagaimana kalau ada yang melihat kita?"


Raka mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak ada siapa pun kecuali mereka berdua.


"Tidak ada siapa-siapa. Ayolah sebentar saja. Please."


"Baiklah," jawab Kirana pada akhirnya.


Raka tersentak senang. Senyum mengembang di bibirnya. "Sungguh?"


Kirana mengangguk, "Tapi setelah kau dapat menangkapku."


Secepat mungkin Kirana berlari di sepanjang pantai, dengan diikuti oleh Raka yang mengejarnya. 


Mereka berlarian diiringi tawa bahagia. Kaki mereka menerjang ombak, dan sesekali Kirana mencipratkan air asin ke arah suaminya.


Namun, tiba-tiba tubuh Kirana membeku kala manik matanya menangkap sosok yang berdiri lumayan jauh dari mereka. Sosok di sana seperti sedang mengamati aktivitas mereka berdua.


Dan diamnya Kirana, membuat Raka segera menangkap istri cantiknya itu.


"Dapat. Kau harus menyerahkan dirimu, Sayang."


Kirana tak menggubris. Pandangannya terus tertuju pada sosok yang kini bersembunyi di balik pohon kelapa.


"Raka, aku melihat seseorang di sana." jari telunjuk Kirana mengarah ke pohon kelapa yang dimaksud.


"Mungkin saja hanya seorang penduduk lokal."


"Tapi aku merasa dia sedang memantau kita."


Raka menarik nafas panjang. Tak mau melihat istrinya ketakutan, dia berinisiatif melihat ke balik pohon.


Perlahan Raka mengayunkan kaki mendekat ke arah yang ditunjuk Kirana.


"Sayang, hati-hati," kata Kirana memperingatkan. Dia tetap berdiri di tempatnya dengan perasaan yang tidak tenang.


Hanya beberapa langkah lagi, Raka akan tahu siapa orang di balik pohon, namun, tiba-tiba orang itu muncul sendiri dan melempar batu besar tepat mengenai wajah Raka.


Kirana memekik panik. Dia segera berlari mengejar pelaku yang telah berani melempar batu ke arah suaminya. 


Orang itu kabur dengan sangat cepat, dan Kirana menyipitkan mata saat dia tampak mengenali sosok itu dari belakang.


"Clara?"

__ADS_1


__ADS_2