Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
22. Sekarang Mama Ingat


__ADS_3

Raka dan Raya saling diam bahkan berlanjut hingga ketika Raka mengantar pulang.


Raya tak tahu sang pengemudi mobil akan membawanya entah kemana. Pikiran Raya tengah kalut, dan dia menggigit ujung jari telunjuknya.


Yang saat ini Raya harapkan adalah kesembuhan Balin, kemudian memastikan apakah benar ayahnya itu ada kaitannya dengan Ray.


Mobil Raka berdecit di sebuah gedung apartemen yang tak jauh dari kantor Irawan Group.


Raka turun, berjalan memutari mobil, lalu membukakan pintu untuk Raya yang masih terjaga dalam lamunan.


“Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan? Kita sudah sampai.”


“Kamu memanggilku apa tadi?” Raya yang telah kembali sadar, balik bertanya.


“Sayang,” ulang Raka.


Tangan kekar itu menarik pelan Raya agar turun dari mobil.


“Aku kekasihmu, jadi boleh aku memanggilmu dengan sebutan itu, kan?”


Raya tak menyahut, dan Raka pun tak membutuhkan jawaban. Pria itu menggandeng tangan wanitanya untuk menunjukkan apartemen yang berada di lantai lima belas.


Begitu sampai di ruangan yang dituju, Raka memperlihatkan segala sudut apartemen pada Raya.


Ada ruang tamu, dapur, dua kamar tidur beserta kamar mandi. Denah apartemen memang sederhana, namun ukuran setiap ruangan lumayan luas dengan desain yang mewah.


Ada pula dua tempat duduk untuk bersantai di balkon.


Apartemen mewah itu Raka berikan khusus untuk Raya, plus segala kebutuhan, stok bahan makanan dan pakaian baru.


“Kamu tidak perlu memindahkan barang-barang di kosan. Karena semua yang kamu butuhkan sudah tersedia di sini,” kata Raka tersenyum simpul.


Sebagai laki-laki, dia sangat senang bisa memberikan sesuatu untuk menyenangkan hati kekasihnya.


Namun, wajah Raya tak sedikit pun menampilkan perasaan bahagia. Dia menatap datar pada lemari yang berisi pakaian wanita, yang tentu saja Raya tahu deretan baju itu semuanya berharga fantastis.


“Kamu sendiri yang membelikan semua ini?” tanya Raya.


Raka mengangguk.


“Sampai bra dan kain segitiga juga kamu yang beli? Dari mana kamu tahu ukuran bra milikku?”


“Karena aku pernah melihatnya,” sahut Raka yang langsung membuat pipi Raya bersemu merah.


Raya menghela nafas, menutupi rasa canggung.


“Raka, menurutku yang kamu berikan ini terlalu berlebihan. Aku tidak bisa menerimanya.”


Raka hanya tersenyum dan menyisir rambut Raya ke belakang telinga. Penolakan Raya akan pemberiannya, justru menambah rasa cinta pada gadis itu.


Berbeda jauh dari Clara yang selalu menuntut lebih dulu untuk memberikannya sesuatu.


“Semua ini tak ada apa-apanya dibanding kamu yang telah membuat kondisi Mommy mengalami kemajuan. Mommy bisa tersenyum kembali sejak kehadiran kamu, Raya.”

__ADS_1


“T-tapi, Raka. Bukannya tidak mau berterima kasih, tapi ini semua terlalu berlebihan.”


“Raya, please, terima hadiah kecil dariku ini. Jika tidak, aku akan mengurungmu di sini.”


Raya terkekeh, “Kamu sedang memohon atau mengancam sih?”


“Kedua-duanya. Jadi kamu mau tinggal di apartemen kan?”


Raya mengulum senyum dan mengangguk.


Melihat itu, seketika Raka merengkuh tubuh Raya ke dalam dekapan, tanpa mendapat penolakan.


Dia ingin berlama-lama dalam posisi itu dengan Raya, tapi dia juga takut, tak mampu mengendalikan diri persis saat di rumah tadi.


Sehingga Raka melepas pelukan dan berpamitan untuk pulang. Dia menyerahkan kunci pada Raya sebelum akhirnya dia melangkah pergi.


Kini tinggal Raya seorang diri di ruangan mewah itu. Dia menghela nafas. Badan dan pikirannya lelah. Ingin sekali dia mandi.


Akhirnya Raya memutuskan menaruh ponselnya di atas nakas, menanggalkan baju, dan kemudian mandi di bawah kucuran air shower yang hangat.


Selepas memakai bathrobe, Raya keluar dari kamar mandi. Lalu dia terkejut bukan main serta memekik keras sebab ada sosok pria duduk di tepi ranjang tengah memandang ke arahnya.


“Kamu kaget melihatku?”


Bagaimana tidak kaget, setahu Raya pria itu sudah pergi, tapi sekarang sudah ada di depannya lagi.


“Kenapa kamu kembali lagi, Raka? Perasaan tadi pintu sudah aku kunci,” tanya Raya sambil mengencangkan bathrobe yang sedikit longgar.


Aroma wangi dari sabun mandi menyeruak ke indra penciuman Raka. Membuatnya ingin semakin dekat dengan gadis kesayangannya itu.


“Apa?”


“Kamu belum menciumku,” kata Raka santai.


Raya mengembik dan melingkarkan bola mata.


“Memangnya harus?”


Raka mengangguk.


“Kalau aku tidak mau?”


“Aku tidak akan pergi. Cium aku, kemudian aku akan pulang,” ucapan Raka terdengar mengancam.


“Aku tidak mau.”


“Bukan ciuman bibir. Cium di sini juga boleh,” Raka menunjuk pipi kanannya.


“Kamu memaksaku?”


“Memang. Ayo, cepat! Cium atau aku akan tidur di apartemen ini!”


Raya menarik nafas. Sekilas tersenyum akan tingkah pria di hadapannya kini.

__ADS_1


Perlahan dia mendekatkan kepala ke pipi Raka, mengikis jarak hingga tersisa beberapa senti lagi dan kemudian…


Dddrrttt… ddrrtt.. Ddrrtt..


Suara getaran ponsel milik Raya mengalihkan perhatian kedua insan di sana. Mereka menoleh pada benda yang sama.


Satu panggilan masuk dengan nama ‘Mama’ terpampang di layar.


“Mama kamu telepon?” tanya Raka.


Aduh. Kenapa ada telepon dari Mama di saat aku bersama Raka? Mana video call lagi. Bisa gawat kalau Raka tahu ibuku itu Mama Alexa. Gerutu Raya dalam hati.


Lalu Raya menyambar ponsel sebelum keduluan oleh Raka yang tampak ingin meraih benda pipih itu.


“Aku angkat telepon dari Mama dulu ya?”


Raka mengangguk, tapi masih berdiri di samping Raya yang semakin gelagapan.


“Aku mau angkat telepon dari ibuku,” ulang Raya.


“Iya, aku tahu. Angkat saja. Aku juga ingin bicara dengan calon mertuaku,” kata Raka yang manik matanya tertuju pada ponsel di tangan Raya.


Ucapan Raka sukses membuat Raya gugup luar biasa. Raya memaksa Raka untuk menunggu di ruang tamu, yang akhirnya dituruti dengan syarat harus mendapatkan dua kali ciuman.


Ada-ada saja kamu, Raka. Batin Raya begitu menutup pintu kamar.


Kemudian, jari lentik Raya segera mengangkat telepon yang sejak tadi sudah meraung-raung.


“Halo, Ma,”


“Halo, Kirana. Kenapa lama sekali angkat teleponnya?” tanya Alexa yang wajahnya kini memenuhi layar ponsel.


Raya terkekeh, “Maaf, tadi aku sedang mandi.”


Alexa mengangguk karena memang rambut putrinya itu terlihat basah. Tapi detik berikutnya, manik mata Alexa memicing.


Alexa menyadari Kirana sedang berada di tempat yang bukan dari bagian salah satu sudut rumah.


“Kamu sedang dimana, Kirana?” tanya Alexa menaikan sebelah alisnya.


Manik mata Kirana membola sempurna. Mamanya tahu dia sedang tidak berada di rumah, dan akhirnya dia menjawab jujur.


“Aku ada di apartemen, Ma.”


“Sekarang kamu tinggal di apartemen?”


Kirana mengangguk, lalu segera mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kabar papanya.


“Papa masih dalam proses pemulihan pasca operasi. Mungkin dalam beberapa minggu kita akan pulang. Oh ya, tentang orang yang bernama Ray itu, sekarang Mama ingat,” jelas Alexa.


“Benarkah? Mama ingat dia siapa? Dia punya hubungan apa dengan Papa?” cecar Kirana tak sabar.


“Jadi, begini ceritanya, Kirana.”

__ADS_1


__ADS_2