Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
30. Papa Pulang


__ADS_3

Hal yang sama juga dilakukan Clara sebelum dia beranjak tidur. Mengunggah foto selfie dirinya, dan juga menjelajahi dunia maya.


Lalu jari Clara berhenti kala bola matanya menangkap foto yang baru saja diunggah oleh Amanda. Wanita yang dianggap sebagai calon mertua.


Clara yang pada awalnya rebahan di atas tempat tidur, seketika bangkit duduk. Dia menjerit, dan mengucek mata beberapa kali.


“Ini pasti salah. Mataku pasti salah lihat,” protes Clara.


Dia meraih lagi ponselnya untuk melihat ulang foto yang memperlihatkan Raya, si OG kampungan bersama kumpulan bunda-bunda miliarder.


Terlebih saat dia membaca caption yang ditulis Amanda.


“What? Raya si jal*ng kampungan itu mengaku sebagai Nona Kirana?” ucap Clara terperangah.


Dia langsung membanting ponsel. Namun, detik berikutnya, dia menyesali perbuatannya. Dipungutnya lagi ponsel keluaran terbaru itu.


“Keterlaluan Raya. Bisa-bisanya dia mengaku sebagai Nona Kirana. Sebaiknya aku permalukan dia di hadapan seluruh karyawan kantor, kalau perlu aku lapor langsung ke Tuan Balin.”


***


Balin sedikit memiringkan kepala saat memandangi istrinya berdandan.


Sebenarnya dia telah dinyatakan sembuh oleh dokter beberapa minggu lalu. Akan tetapi, dia enggan kembali ke Indonesia. Dia sengaja agar anak-anaknya belajar memimpin perusahaan.


Lagipula ada Kirana yang dapat diandalkan.


Balin dan Alexa menikmati waktu bersama mereka di luar negeri, yang mereka sebut sebagai bulan madu kedua.


“Alexa, aku tidak suka jika kamu dandan terlalu cantik saat kita akan pergi keluar. Cepat hapus lipstik mu!”


“Tapi, Balin…” Alexa memberengut.


“Hapus lipstik mu atau kita batalkan acara makan malamnya!” ancam Balin yang membuat Alexa menuruti perintah sang suami.


Tak lama ponsel milik Balin berdering, dia menekan tombol hijau, dan menempelkan benda canggih itu ke daun telinga.


“Selamat malam, Tuan Balin. Bagaimana kabar Anda?” ucap wanita di seberang sana.


“Ada apa?” Balin bertanya balik dengan nada malas.


Jujur saja dia merasa terganggu saat dirinya hendak berkencan dengan sang istri. Apalagi telepon dari wanita itu sepertinya tidak terlalu penting.


“Saya Clara, Tuan. Karyawan Irawan Grup yang…”


“Ya, ya, cepat katakan ada apa? Aku sedang ada acara penting bersama istriku,” kata Balin tidak sabar.


Mendengar suara Balin yang tidak bersahabat, Clara langsung menyampaikan tujuannya secara singkat, padat dan jelas. Melaporkan jika ada staf OG yang mengaku-ngaku sebagai Kirana.


Dia juga mengirimkan bukti berupa foto Raya bersama geng bunder melalui e-mail.

__ADS_1


Setelah itu, Clara menutup telepon dengan perasaan senang tak sabar menunggu kemarahan Tuan Balin.


Clara sangat menantikan momen di mana Raya akan dipecat secara tidak hormat.


Berbeda halnya dengan Balin yang mengerutkan dahi begitu melihat foto Kirana bersama kumpulan ibu-ibu.


Ternyata Clara mengirim foto tak hanya satu. Dia juga mengirim foto di saat Raya memakai seragam office girl yang sering diambil Clara secara diam-diam.


“Ini memang Kirana. Ya betul Kirana. Mana mungkin aku salah mengenali putriku sendiri,” gumam Balin.


“Sayang, ada apa?” tanya Alexa mendekat dan duduk di samping Balin. Dia ikut melirik foto yang terpampang di layar ponsel.


“Itu kan Kirana. Kenapa dia memakai seragam office girl? Jadi, selama ini Kirana tidak bekerja sebagai CEO,” ucap Alexa tak percaya.


Tangan Balin terkepal kuat menahan amarah di dalam dirinya. Dia langsung bangkit berdiri, dan berkata, “Alexa, kemasi barang! Kita pulang ke Indonesia besok pagi.”


***


Dua hari kemudian,


“Eh, lihat! Ada ratu halu lewat,” bisik Clara pada teman di sebelah mejanya.


Saat itu, Raya tengah mengedarkan kopi ke meja-meja karyawan.


Semua karyawan Irawan Group telah mengetahui jika Raya yang mereka kenal sebagai office girl, mengaku sebagai Kirana, anak pemilik perusahaan.


Tentu saja, Clara lah dalang dari tersebarnya gosip itu.


Raya menganggap cemoohan itu sebagai angin lalu, karena nyatanya, dialah Nona Kirana.


“Raya, masih punya muka kamu bekerja di sini? Tidak tahu malu mengaku sebagai Nona Kirana,” sindir Clara saat Raya menaruh kopi di mejanya.


“Apa bedanya dengan kamu, yang mengaku pernah tidur dengan Raka?” sahut Raya tak mau kalah.


“Kurang ajar.”


Seketika Clara berdiri dan mendorong tubuh Raya yang membuat ponselnya terjatuh dari saku. Raya ingin meraih benda pipih itu, namun Clara lebih dulu menyambarnya.


Wanita itu menyeringai menatap ponsel yang ada di tangan.


Ponsel milik Raya bukanlah ponsel keluaran terbaru seperti milik Clara. Tapi terbilang cukup mahal untuk dimiliki oleh seorang office girl.


Clara melempar pandangan ke arah Raya yang menegang di tempat. Bagaimana Raya tidak tegang? Rahasianya bisa saja terbongkar di tangan Clara.


“Ponsel kamu bagus juga. Hasil dari jual diri ya?” cemooh Clara.


“Jaga mulutmu, Clara! Aku bukan wanita sepertimu,” seru Raya yang maju satu langkah.


“Coba kita lihat di ponsel ini isinya apa saja,” gumam Clara tersenyum licik.

__ADS_1


Sial. Rutuk Raya.


Tiba-tiba dia langsung menyambar tas kremes dan cangkir kopi di meja kerja Clara.


“Clara, lihat!” perintah Raya.


Clara menghentikan niatnya untuk membuka ponsel Raya. Dia menoleh dan membulatkan mata kala melihat Raya hendak menyiram tas kremes kesayangannya dengan air kopi.


Dia memekik keras sampai membuat sakit telinga orang yang mendengarnya. Dia tidak kuat menyaksikan detik-detik penyiraman tas kremes yang harganya setara dengan satu bulan gaji Clara.


“Kembalikan ponselku, atau aku siram tas kremes ini pakai air kopi yang masih panas!” ancam Raya.


“Raya, please. Jangan siram tas kremes ku dengan air kopi!” kali ini Clara yang memelas.


“Kalau begitu, letakan ponselku di sana,” perintah Raya menunjuk meja.


Apa boleh buat Clara meletakan ponsel Raya di meja. Padahal dia kepo maksimal tentang bagaimana Raya bisa membeli benda canggih itu.


Kemudian, Clara mundur beberapa langkah sambil mengangkat tangan layaknya seorang buronan yang terkepung polisi.


Raya meletakan tas kremes dan cangkir kopi kembali ke meja, lalu segera mengambil ponselnya.


Pelajaran untuk Raya. Dia harus mengunci ponsel dengan kata sandi, agar tak sembarangan orang dapat membukanya.


Raya menerbitkan senyum penuh kemenangan pada Clara sebelum akhirnya dia beranjak pergi.


Namun, belum lama Raya melangkah, Clara berlari untuk menjambak Raya.


Kali ini Raya dapat menghindari Clara. Dia memutar badan dan memelintir tangan yang ingin menjambak rambutnya.


“Kamu dengar ya, Raya, sebentar lagi Tuan Balin akan segera kembali bekerja untuk memecatmu,” ucap Clara setelah Raya melepaskan tangannya.


Dia meringis sambil memegangi lengan yang sakit. Sedangkan Raya hanya menyeringai.


“Aku tidak takut.”


Beberapa hari ini, Raya selalu pulang ke apartemen. Sehingga dia tidak tahu keadaan di rumah, tapi dia yakin Balin belum pulang ke Indonesia.


Sekalipun Balin pulang, pastilah dia akan mendapat kabar dari Nakula dan Sadewa.


Detik berikutnya, terdengar suara deheman seorang pria di belakang Raya.


Semua karyawan menoleh, bahkan karyawan yang tadinya fokus bekerja, langsung bangkit dan membungkuk memberikan salam.


“Sepertinya telah terjadi keributan di sini,” ucap sebuah suara yang sangat dikenal oleh Raya.


Manik mata Raya membola sempurna, segera dia membalikkan badan untuk menatap pria di belakangnya.


Kaki Raya lemas seketika melihat Balin telah berdiri di hadapannya sambil menampilkan senyuman penuh arti.

__ADS_1


Gawat. Kenapa aku tidak tahu Papa sudah pulang?


__ADS_2