Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
40. Butik Bibi Alea


__ADS_3

Raya menghentikan langkah tepat di depan gedung apartemen ketika manik matanya melihat mobil hitam mendekat dari kejauhan sana.


Terdengar suara decitan rem saat mobil berhenti. Lalu, turunlah sang empunya mobil sambil menampilkan wajah berseri.


Bibir Raya merekahkan senyuman manis menatap Raka berjalan menghampirinya, dan satu kecupan dia dapatkan dari sang kekasih.


“Kenapa kamu menunggu di luar?” tanya Raka.


“Supaya kamu tidak perlu repot-repot naik lift,” jawab Raya berbohong.


Sebenarnya, Raya baru saja tiba di gedung apartemen dan belum sempat naik ke lantainya.


“Tapi aku tidak suka kamu menunggu di luar seperti ini. Aku takut ada yang berani menggodamu,” ucap Raka sambil manik matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Senyum di bibir Raya semakin mengembang.


“Kamu tenang saja. Aku kan jago bela diri. Kamu ingat?”


Tak mau mengulur waktu, Raka menuntun Raya untuk masuk ke dalam mobil yang kemudian berbaur bersama kendaraan lain di jalan.


***


Tubuh Raya terpaku saat mobil Raka berhenti di depan sebuah butik yang sangat dikenal oleh Raya.


Bagaimana tidak kenal? Pemilik butik itu adalah bibinya sendiri, Bibi Alea. Kakak ketiganya Alexa.


Bahkan butik itu merupakan butik langganan keluarga Mahendra. Otomatis semua karyawan yang bekerja di sana sangat mengenal Raya sebagai Nona Kirana.


Mati aku. Aku harus bagaimana?


Raya hanya bisa menggigit bibir bawah serta bola matanya bergerak gelisah. Dia mencoba membujuk Raka untuk pergi ke butik lain.


Namun, usaha Raya sia-sia sebab menurut Raka, butik milik Alea adalah yang terbaik di kota ini.


Raya pun pasrah. Dia masuk sambil menundukan kepala dan mempererat tautan tangannya dengan Raka.


Pandangan Raya meneliti ke sekitar ruangan, dan dia sangat gugup ketika Bibi Alea berjalan ke arahnya dan Raka.


“Selamat datang. Saya pemilik butik ini, ada yang bisa saya bantu?”


Raka senang sebab dia dilayani langsung oleh sang pemilik butik. Apalagi di saat dia akan membelikan baju untuk Raya.


“Saya sedang mencari gaun untuk pacar saya,” kata Raka menunjuk ke udara kosong di samping.


Melihat Alea yang mengerutkan alis, menjadikan Raka menoleh ke tempat seharusnya Raya berada.

__ADS_1


Dan Raka juga turut mengerutkan alisnya saat tak ada sosok Raya di sampingnya.


Ke mana Raya?


Raka menghela nafas mencoba untuk bersabar. Entah telah berapa kali Raya menghilang secara tiba-tiba dan misterius.


“Maaf, saya cari pacar saya dulu,” kata Raka pada Alea yang tersenyum dan mengangguk.


Langkah kaki Raka menelusuri deretan baju yang dipajang, manik matanya bergerak mencari sosok Raya.


Hingga akhirnya, Raka menemukan gadis cantik itu tengah bersembunyi di pojokan. Raka menggelengkan kepala melihat tingkah pacarnya, lalu dia pun mendekat.


“Raya, kenapa kamu di sini? Aku mencarimu. Aku pikir kamu hilang ditelan buaya.”


“Maaf, Raka, aku tiba-tiba menghilang karena mataku sakit melihat bandrol harga baju-baju yang dijual di sini,” kata Raya mencari alasan.


Sontak Raka tergelak, mengacak rambut Raya, serta mencubit pipinya juga.


“Kamu tidak perlu khawatir, aku yang akan bayar semua belanjaanmu.”


“Tapi, Raka, kita pulang saja yuk. Di apartemen kan sudah banyak baju,” ajak Raya yang sebenarnya hanya alasan saja agar mereka berdua segera pergi dari butik.


Interaksi Raka dan Raya diperhatikan Alea dari jarak yang lumayan jauh. Sejenak Alea yakin wanita yang bersama Raka ialah keponakannya, Kirana.


Lantas Alea pun menelepon Alexa, memastikan apakah wanita yang datang ke butiknya benar Kirana atau bukan.


“Dia memang Kirana, Kak, tapi Kakak jangan panggil dia Kirana,” kata Alexa setelah Alea selesai bercerita dan mengirimkan foto.


Ucapan Alexa mengundang keheranan bagi Alea.


“Maksudmu bagaimana? Dia Kirana, tapi kenapa aku tidak boleh memanggilnya?”


“Kirana sedang dalam penyamaran, Kak. Pokoknya anggap saja Kirana seperti orang asing,” tegas Alexa.


“Lah kok? Dia kan keponakanku, masa aku menganggapnya orang asing sih,” Alea semakin bingung.


Alexa menghela nafas sabar. “Hanya di depan pria itu saja, Kak Alea.”


“Oh, begitu. Ya sudah, aku tutup teleponnya ya.”


Setelah menutup telepon, Alea menghampiri dua sejoli yang tengah mengobrol di sudut ruangan. Dia berdehem pelan sebagai tanda dirinya berada di dekat mereka.


Lantas Raka dan Raya serempak menoleh.


Raya membelalakan mata gugup, tanpa dilihat oleh Raka, dia memberikan kode agar Alea tidak berkata apa pun. Dan Alea pun mengangguk mengerti.

__ADS_1


Sedangkan Raka yang tak tahu Alea dan Raya saling mengirim kode rahasia, memperkenalkan Alea pada Raya, seakan mereka adalah dua orang asing tak pernah bertemu.


Kemudian, dengan beralasan ingin menunjukan baju-baju terbarunya, Alea menarik Raya agar mengambil jarak aman dari Raka.


“Bibi Alea, jangan bilang kalau aku…” ucap Raya setelah menjauh dari Raka.


Alea menekan jari telunjuk ke bibirnya seraya menganggukkan kepala.


“Iya, Bibi tahu kok. Mama kamu sudah menjelaskan ke Bibi,” jelas Alea.


Mendengar hal itu, Raya pun mengendurkan dada lega. Bersyukur rahasianya masih aman.


Beberapa menit telah berlalu, Raya dan Alea sibuk mencari baju yang cocok untuk Raya gunakan ke acara makan malam bersama Amanda.


Raka yang duduk di sofa sekilas melirik jam tangannya, membuang nafas jengah, dan menghempaskan punggung ke sandaran sofa.


Tak lama, Raya pun muncul dengan gaun berwarna salem yang sederhana tapi begitu elegan dipakai oleh Raya.


Bibir Raka merekahkan senyuman, ditelitinya penampilan Raya dari bawah kaki hingga ke atas kepala, lalu dia memuji tanpa dilebih-lebihkan.


Di samping butik Alea, terdapat sebuah salon yang juga memiliki reputasi baik. Sehingga sekalian Raka mengajak Raya ke salon tersebut.


Setelah semua beres, tepat saat itu juga, waktu telah mendekati acara makan malam yang sudah dijanjikan.


Raka dan Raya pun masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke restoran tempat mereka mengadakan acara makan malam.


“Kira-kira, restoran mana yang akan dipakai Raka untuk acara makan malam bersama Tante Amanda ya?” gumam Raya berpikir. Lalu melirik sekilas pada Raka.


“Raka, kalau boleh tahu kita mau ke restoran mana?”


Raka hanya tersenyum dan menjawab, “Nanti kamu juga akan tahu.”


Raya menghembuskan nafas, melempar pandangan ke luar jendela, sambil berdoa dalam hati agar Raka tak membawanya ke restoran milik Frans, ayahnya Sunny.


Bisa gawat kalau Raka membawaku Fancy Restoran.


Tak butuh waktu lama, mobil Raka berhenti di sebuah tempat parkir restoran. Raya mengendurkan dada lega karena doanya terkabul. Raka tidak membawa Raya ke Fancy Restoran melainkan…


Mata Raya membola, keringat dingin meluncur di pelipisnya, dia gugup bukan main manakala dia mengenali pelataran restoran yang ada di depannya.


Restoran itu adalah Restoran Kenangan, milik ayahnya sendiri yang kini dikelola oleh Paman Rama.


“Ayo, Sayang, kita turun. Mommy sudah menunggu di dalam,” ajak Raka.


“Mati aku.”

__ADS_1


__ADS_2