Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
41. Membatalkan Perjodohan


__ADS_3

“Siapa yang mati?” tanya Raka saat mendengar Raya menggumam.


“Oh tidak. Maksudku di sana ada lampu yang mati satu,” kata Raya menunjuk salah satu lampu hias di pelataran restoran yang redup.


Sontak Raka tertawa. Kelakuan dari kekasihnya itu memang ada-ada saja, tapi dia suka. Menurut Raka, tingkah Raya lucu dan menggemaskan.


“Ayolah kita turun.”


Raka terlebih turun, berjalan mengitari mobil, dan membukakan pintu untuk Raya. Tangan Raka terulur untuk membantu Raya.


Mereka berdua melangkahkan kaki ke dalam restoran dengan Raya yang merapatkan diri ke Raka dan menunduk agar semua pelayan tak mengenalinya.


Dan sikap Raya itu, disalahpahami oleh Raka yang mengira gadis itu gugup bertemu dengan Amanda. Sehingga Raka melingkarkan tangannya ke pinggang Raya.


“Tenang. Jangan gugup! Rileks saja, seperti biasa. Oke?” kata Raka menenangkan.


Tenang bagaimana? Lagipula kenapa sih kamu bawa aku ke restorannya Papa? Kata Raya yang hanya diucapkan dalam hati.


Dari pengalaman saat di butik, penyamaran Raya baik-baik saja asal dia bisa bekerja sama dengan Paman Rama.


Ya, itu dia. Raya harus bertemu dengan Paman Rama tanpa sepengetahuan Raka.


“Raka, aku ke toilet dulu ya?”


Raka mengangguk.


“Aku menunggu di meja sana,” jari telunjuk Raka mengarah di sudut yang ada Amanda sedang sibuk berselfie ria.


Selepas mereka berpisah, Raya segera berjalan ke arah toilet. Dia menoleh pada Raka untuk memastikan pria itu tak melihatnya berbelok ke area dapur yang hanya boleh dimasuki oleh staf karyawan.


Di dapur, Raya menjadi pusat perhatian semua orang. Ada sebagian karyawan tak mengenali sosok gadis yang main masuk begitu saja.


Mereka adalah karyawan baru yang belum pernah melihat putri dari Balin Mahendra. Namun, karyawan yang lebih senior mengenali Kirana.


Lantas mereka menyikut para karyawan junior dan menyuruh mereka untuk menunduk memberikan hormat.


Raya yang tak ingin berlama-lama hanya mengangguk sebagai balasan, lalu menanyakan keberadaan Rama.


“Halo, Kirana, sudah lama tak bertemu,” ucap Rama dari belakang Raya.


Raya langsung memutar badan untuk dapat menatap Rama yang kini meneliti penampilannya dari atas ke bawah.


“Kamu sudah besar rupanya ya? Paman masih ingat betul ketika kamu masih kecil dan Paman selalu disuruh Papa kamu untuk menjagamu,” oceh Paman Rama dengan suara yang cerah ceria.


“Paman ada yang perlu aku sampaikan,” kata Raya tak ingin berbasa-basi.


Namun, Rama tak menanggapi. Dia malah bercerita ini dan itu.

__ADS_1


“Bagaimana perusahaanmu di Jepang? Kamu sudah lama tidak pulang ke tanah air, Paman pikir kamu sudah melupakan Paman,” Rama terus mengoceh.


“Paman, aku mohon dengarkan aku dulu,” pinta Raya.


“Tidak, Kirana, kamu yang mendengarkan Paman terlebih dahulu.”


Rama merangkul Kirana dan memperlihatkan beberapa sudut restoran yang sudah diperluas dan direnovasi.


“Kamu ingat? Dulu ketika kamu kecil, kamu sering dibawa ke restoran ini. Sampai semua karyawan hafal denganmu.”


Raya berdecak kesal. Dia tak mau mendengarkan ocehan pamannya itu sekarang, karena Raka pasti tengah menunggunya.


“Kenapa kamu tidak mengunjungi Paman begitu pulang dari Jepang? Apa kamu tidak mau bertemu dengan Bibi dan sepupumu, Bima,?”


“Paman, aku tidak punya waktu banyak. Jadi tolong dengarkan aku dulu!”


Rama diam pun akhirnya diam dari segala ocehannya. Dia menatap Kirana dengan penuh keheranan.


Diamnya Rama, langsung dimanfaatkan Raya dengan menceritakan maksud dia menemui Rama.


Raya ingin meminta tolong pada Rama agar sementara waktu jangan menganggapnya Nona Kirana, putri dari Tuan Balin.


“Kamu serius? Memangnya ada apa sih?” tanya Rama heran.


“Ceritanya panjang.”


“Nanti saja aku akan ceritakan ke Paman. Sekarang, Paman lihat dua orang di sana!” Raya menunjuk Raka dan Amanda tanpa mereka sadari.


“Iya, Paman lihat.”


“Nah, aku akan makan bersama mereka, dan apapun yang terjadi, Paman jangan mengatakan pada mereka kalau aku ini Kirana, oke?”


“Oke.”


“Apapun yang terjadi?” tangan Raya terulur.


Rama memutar bola mata malas, tapi tetap menyambut uluran tangan dari keponakannya. “Apapun yang terjadi.”


Kemudian, Raya kembali mendekati tempat duduk Raka dan Amanda. Dia menampilkan senyuman yang dapat mengalihkan kecemasan Raka.


Raya memakai alasan bahwa di toilet penuh oleh antrian, menjadikan dia agak lama kembali.


Baik Raka dan Amanda tak ada yang mencurigai Raya sedikit pun.


Lalu mereka bertiga makan malam bersama sesuai rencana awal Raka. Hidangan mulai tersaji di meja, dan mereka makan sambil diselingi obrolan ringan.


Raka berdehem ketika mendapatkan momen yang pas untuk mengutarakan keinginannya menikahi Raya.

__ADS_1


“Mom, aku dan Raya ingin segera menikah.”


Perkatakan dari Raka membuat Amanda mengehentikan pergerakan tangannya yang sedang mengiris daging.


Amanda mendongak untuk menatap Raka dan Raya bergantian.


“Aku serius pada hubunganku dengan Raya. Hanya dia yang aku mau. Jadi, Mommy mau kan membatalkan perjodohanku dengan Clara?”


Amanda tampak menimbang sejenak. Dia meneguk minumannya untuk membasahi tenggorokannya yang seret.


“Kamu yakin akan keputusanmu ini, Raka?” tanya Amanda.


“Aku yakin dan aku tak akan mengubah keputusanku menikahi Raya,” jawab Raka tegas.


Amanda melempar pandangan pada Raya, lalu tersenyum. Dia berpikir, jika Raka menikahi Raya yang seorang anak kolongmerat, pasti dia semakin disegani oleh banyak orang.


Bahkan mungkin dia akan semakin dikagumi oleh semua anggota geng bunder, mengalahkan Madam Marleen.


“Baiklah. Jika kamu ingin menikahi Raya, Mommy setuju, tapi kamu juga harus menjelaskan pada Clara dan ayahnya dengan cara baik-baik.”


Raka menghembuskan nafas lega, melirik pada Raya, dan mengulum senyum. Dia meraih tangan Amanda.


“Thank you, Mom.”


“Tidak bisa begitu, Tante,” teriak Clara yang tiba-tiba muncul.


Ketiga orang itu menoleh ke arah yang sama. Di depan sana, Clara telah berdiri entah sejak kapan.


Clara melangkahkan kaki untuk mendekat. Wajahnya berapi-api dan melayangkan lirikan tajam pada Raya.


Tangan Clara mengepal kuat, ingin rasanya dia menjambak rambut wanita yang telah merebut Raka darinya.


“Tante tidak bisa membatalkan perjodohan aku dengan Raka seenaknya saja,” Clara meraung protes.


Tingkah Clara itu membuat pengunjung restoran yang lain menoleh padanya.


Dalam sekejap dia menjadi pusat perhatian semua orang. Baik itu pelayan maupun pelanggan yang sedang makan di tempat.


“Bisa saja, Clara. Aku tidak mencintaimu, dan dari dulu aku memang menolak dijodohkan denganmu,” seru Raka bangkit berdiri.


“Clara, sebaiknya kamu terima keputusan Raka dengan lapang dada. Dia tidak mencintaimu,” Amanda menasehati masih memakai suara yang lemah lembut.


“Tapi aku akan buat Raka mencintaiku, Tante. Bagaimana pun caranya. Lagi pula Tante tidak tahu siapa Raya sebenarnya.”


Clara menoleh pada Raya yang diam tak bergeming.


Clara tersenyum penuh arti, lalu berkata, “Dia itu hanya seorang office girl yang mengaku sebagai Nona Kirana.”

__ADS_1


“Apa? Tidak mungkin,” kata Amanda terperangah dan melirik Raya.


__ADS_2