Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
69. The Wedding (1)


__ADS_3

Hari pernikahan Kirana dan Raka pun tiba. Acara pernikahan yang diadakan di sebuah ballroom hotel bintang lima itu dihadiri oleh semua kerabat keluarga Mahendra dan juga Abimanyu.


Meskipun banyak dari teman yang hadir, bagi Raka pesta pernikahannya tetap terasa ada yang kurang. Sebab tidak ada ibu apalagi adik yang mendampingi.


Kini Raka sedang duduk sendirian di ruang tunggu mempelai pria. Dia memandangi foto dirinya bersama Ray di layar ponsel.


"Jika kamu masih ada, Ray. Hari ini pasti kamu akan menjadi groomsmen, mendampingiku berjalan menuju altar."


Tepat saat itu, pintu ruangan diketuk, lalu kepala Nakula dan Sadewa menyembul dari balik pintu. Mereka telah siap dengan setelan jas rapi serta rambut klimis, berjalan menghampiri, dan duduk di kanan kiri Raka.


Raka memasukan ponselnya, melirik pada Nakula dan Sadewa dengan sorot mata bertanya-tanya. 


"Kami disuruh Papa untuk menjadi pengiring pengantin pria. Jadi kita datang kemari," kata Nakula menepuk bahu Raka.


"Tapi acaranya belum dimulai kan? Sambil menunggu, lebih baik kita nonton film," sambung Sadewa mengeluarkan ponsel dan menyetel film biru.


Raka mengerutkan dahi, sekali lagi dia menoleh pada dua orang di sisi kanan kirinya.


"Apa-apaan kalian ini?" 


Nakula dan Sadewa serempak terkekeh.


"Tonton saja film nya, Kak. Siapa tahu nanti malam Kak Raka butuh referensi gaya membuat anak," ucap Nakula.


Nakula dan Sadewa telah memanggil Raka dengan sapaan Kakak. Bahkan keduanya senang sekali jika diberi kesempatan untuk menjahili calon kakak ipar mereka itu.


"Nanti malam, Kak Raka coba pakai gaya yang ini," Sadewa menyeringai menunjuk layar ponsel. 


Tampak sepasang pria dan wanita di dalam video tengah melakukan pergulatan panas dengan posisi sang wanita menungging.


Raka menghela nafas, merebut ponsel Sadewa, dan mematikannya.


Sedangkan Nakula dan Sadewa tersentak akan sikap Raka. Mereka sama-sama mengira ada yang tidak beres dengan calon kakak ipar mereka.


Jarang sekali ada pria tidak suka diajak nonton film biru, apalagi nanti malam adalah malam pertamanya untuk praktek.


Raka berdiri dengan tatapan kesal dilayangkan pada Nakula dan Sadewa.


"Kalian belum menikah, bahaya menonton film seperti ini. Sebaiknya kita segera mulai acara pestanya."

__ADS_1


Kemudian Raka memutar badan, melangkahkan kaki keluar ruangan, meninggalkan si kembar yang saling bisik-bisik.


"Dia pasti ingin acaranya cepat dimulai karena tak sabar melahap Kak Kira," Nakula berbisik di telinga Sadewa.


"Ya, nanti malam kita intip mereka pakai gaya apa," sahut Sadewa.


Nakula mengangguk mantap, "Ide bagus."


"Kalian bicara apa?"


Baik Nakula dan Sadewa tersentak bersamaan. Ternyata Raka belum pergi. Pria itu masih berdiri di ambang pintu sambil melirik tajam ke arah si kembar.


"T-tidak. Kita tidak bicara apa-apa. Iya kan, Nakula?" Sadewa menyikut saudara kembarnya.


"Betul, kita hanya sedang berpikir pakai gaya apa saat foto nanti," Nakula nyengir untuk menutupi rasa gugupnya.


Lalu mereka berjalan mengekor di belakang Raka menuju tempat pesta. Namun, Sadewa tak sengaja berpapasan dengan Sunny yang terlihat cantik memakai seragam bridesmaid. Sehingga Sadewa menghentikan langkah, membuatnya tertinggal dari Nakula dan Raka.


Sadewa dan Sunny saling melayangkan lirikan sinis, yang terputus begitu Sunny memalingkan wajah, dan melipat tangan.


"Apa kamu lihat-lihat?" bentak Sunny.


Untung saja ada lukisan tergantung di sana yang bisa dijadikan alasan Sadewa.


"Kau sendiri kenapa melirikku terus? Naksir? Bilang saja."


Sunny menghela nafas, maju satu langkah mendekati Sadewa, dan berkacak pinggang.


"Jangan harap aku akan jatuh hati pada pria sepertimu! Papaku sudah menjodohkan aku dengan anak dari sahabat Papa."


Sunny mengulas seringai di bibirnya. Dia memang sudah diberitahu akan perjodohan dirinya dengan seorang pria. Namun, Frans belum menyebutkan nama si pria itu.


Mendengar hal itu, membuat Sadewa sedikit memberengut. Entah kenapa ada rasa kesal yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya.


Balin dan Alexa sama sekali belum memberitahu Sadewa bahwa dia akan dijodohkan dengan Sunny. Hanya Alexa, Balin, Cindy, Frans dan juga Neneng yang tahu akan perjodohan mereka.


"Kau dijodohkan dengan siapa?"


"Entahlah. Tapi Papa tahu tipe pria idamanku, jadi aku yakin pria itu pasti tampan seperti artis Korea."

__ADS_1


Sunny senyum-senyum sendiri. Membayangkan raut rupawan calon suaminya nanti. Dia tidak melihat kerut kecemburuan yang semakin jelas di wajah Sadewa.


"Hah, tampanan juga aku," kata Sadewa sambil meleos pergi.


Sementara itu, di ruang tunggu pengantin wanita, Alexa sedang membantu merapikan gaun yang dipakai Kirana. Di sudut ruangan, Balin berdiri melipat tangan di dada sambil memandangi Alexa dan Kirana.


Balin melirik jam tangan yang mana menunjukan bahwa pesta akan dimulai setengah jam lagi.


"Papa," panggilan Kirana itu membuat Balin menoleh dan mengulum senyum.


Kirana menghampiri Balin, memeluk erat, serta menjatuhkan kepala di pundak sang ayah.


"Terima kasih selama ini Papa telah merawat dan menyayangi aku, meski aku bukan anak kandung Papa. Dan aku juga minta maaf. Karena merawatku, membuat Papa beberapa kali mendapatkan teror," ungkap Kirana.


Balin tersenyum, mengusap punggung Kirana, dan melepas pelukan.


"Tidak perlu minta maaf, sebab karena kehadiran kamu lah Papa dipertemukan dengan seorang wanita cantik," Balin melirik Alexa, dan mengulurkan tangan yang disambut oleh sang istri.


Kini Alexa dan Balin yang berpelukan di depan Kirana. Mereka berdua tersenyum lebar sama-sama memandang Kirana.


Hati Kirana tersentuh haru melihat kebahagiaan orangtua angkatnya. Seketika mereka bertiga saling berpelukan. 


"Entah apa jadinya jika Papa tidak merawatku. Mungkin aku tidak akan pernah ada di sini."


"Jangan merasa berhutang budi, Kirana! Papa dan Mama tulus menyayangimu," ucap Alexa.


"Dan jangan menangis! Nanti Raka kabur begitu melihat make up mu luntur," sambung Balin menawarkan selembar tisu.


Kirana terkekeh menerima tisu itu, dan menempelkannya di ujung mata. Menghapus air mata yang hendak jatuh.


"Lagipula aku pakai make up yang waterproof, Papa."


Kedatangan seorang pelayan menjadikan fokus tiga orang itu teralihkan. Mereka menoleh pada si pelayan yang memberitahu jika Raka ingin memulai acara pesta lebih cepat.


Setelah itu, Balin melempar pandang pada Kirana, dan menawarkan lengan kanannya.


"Kau siap, Kirana?"


"Tentu, Papa," jawab Kirana sambil melingkarkan tangan di lengan kekar sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2