Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
17. Nyaris Terbongkar


__ADS_3

Semburat merah terlihat jelas di pipi Raya begitu Raka melepaskan tautan bibir mereka.


Belum juga setengah hari, Raka telah menciumnya sebanyak tiga kali. Ketika bangun tidur, saat di dapur, dan kali ini tidak tanggung-tanggung di tempat umum.


Raya membelalakan mata dan mencubit pinggang Raka yang hanya terkekeh pelan. Lalu tiba-tiba dia teringat akan kedua adiknya.


Ini sudah hampir tengah hari, Nakula dan Sadewa pasti mencari keberadaannya. Tapi bagaimana Raya bisa menghubungi adik-adiknya, jika di dekatnya ada Raka?


Lalu muncullah ide di otak Raya.


Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi? Memang kalau sedang kepepet pasti ide itu nongol tiba-tiba. Batin Raya.


“Raka, aku haus. Aku mau itu.”


Raka menoleh pada sebuah stand minuman yang ditunjuk Raya. Tentu saja dia dengan senang hati beranjak untuk membelikan minuman setelah dia mendaratkan kecupan singkat di kening.


Di saat Raka pergi, inilah kesempatan Raya mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi Nakula atau Sadewa.


Namun, belum juga dia merogoh tas, tangannya lebih dulu ditarik oleh seseorang.


Raya mendongak dan mendapati Nakula menggeretnya dengan kasar. Dia terkesiap akan kedatangan Nakula yang kemudian disusul oleh Sadewa dan Sunny.


“Kalian sedang apa di sini?” desis Raya.


“Justru kami yang bertanya, kenapa Kakak ada di sini?” tanya Nakula geram.


“Kak, pria tadi siapa? Pacarnya Kak Kira?” Sunny ikut bertanya sambil mencolek pipi Kirana.


“Kak, ayo pulang. Kita kelimpungan mencari Kak Kira, sampai Mama juga khawatir,” timpal Sadewa.


“Apa? Mama tahu semalam aku tidak pulang ke rumah?”


“Yes,” jawab Nakula dan Sadewa kompak.


Kemudian, mereka berdua menarik lengan Kirana. Nakula di sisi kanan, dan Sadewa di sisi kiri.


Pemandangan Nakula dan Sadewa yang menyeret paksa Kirana ditangkap oleh Raka yang menggenggam dua cup minuman boba. Dia berdehem dan seketika dua pria kembar itu membeku di tempat.


“Apa yang kalian sedang lakukan pada wanitaku?”


Kirana yang ikut mematung hanya bisa menggeram, “Aku bilang juga apa.”


Lalu menghempaskan tangan agar terlepas dari cengkeraman Nakula dan Sadewa.


Mereka berempat memutar badan untuk melihat Raka yang sudah melayangkan tatapan membunuh gara-gara kekasihnya disentuh oleh pria lain.


Nakula menelan saliva nya. Meskipun dia merupakan atasan Raka, namun dia tak bisa berkutik ketika Raka memasang wajah seperti ingin mengajak perang.


“Raka, biar aku jelaskan,” ucap Kirana mendekati Raka.


“Tidak. Aku saja yang jelaskan,” sanggah Nakula.


Dia juga menghampiri Raka. Menggaruk tegkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


“Tadi itu aku hanya kebetulan lewat, lalu melihat ada Raya sendirian di taman. Aku pikir dia nyasar atau bagaimana. Jadi aku mengajak Raya untuk pulang,” jelas Nakula yang sebisa mungkin menutupi rasa gemetar.


“Mengajak?” ulang Raka menerbitkan senyum seringai.


“Saya lihat sendiri Anda memaksanya, Tuan Nakula. Lagipula, dia tidak sendirian. Dia ada bersama saya.”


Nakula menelan saliva lagi sambil bergumam, “Astaga, Kenapa Kak Kira bisa pacaran dengan T-rex zaman es ini?”


***


“Aku tidak mau ada pria lain yang menyentuhmu. Kamu mengerti?” tanya Raka dengan suara lembut tapi wajahnya menunjukan kebalikannya.


Raya hanya bisa mengangguk canggung.


Kini mereka berdua telah berada di dalam mobil. Setelah tadi nyaris saja rahasianya terbongkar akibat ulang adik kembar Raya.


Untung saja Sunny menangkap sinyal S.O.S yang dikirim oleh Raya melalui kedipan mata.


Sunny segera mengangguk mengerti akan maksud Raya dan menarik paksa Nakula dan Sadewa.


Membuat alasan bahwa mereka harus pergi karena sedang ditunggu oleh seseorang di rumah.


“Jadi, sekarang di mana kosanmu?”


Pertanyaan itu kembali diajukan oleh Raka yang menjadikan Raya menepuk dahinya.


Mobil yang mereka tumpangi melintas di sebuah jalan kecil. Ketika Raya menoleh ke pinggir jalan, ada sebuah rumah yang terdapat plang bertuliskan ‘Kosan Putri.’


“Berhenti di sini, Raka! Ini kosanku.”


Raka menghentikan rem mendadak. Alisnya bertaut, sambil manik matanya menelisik bangunan yang disebut kosan itu.


“Kamu yakin ini kos-kosan?” tiba-tiba Raka bertanya.


“I-iya,” sahut Raya gelagapan.


“Tapi daerah ini jauh dari kantor. Biasanya kamu berangkat kerja jam berapa?”


Deg.


Tubuh Raya mematung, hanya bola matanya yang bergerak gelisah.


Sial. aku tidak kepikiran sampai sana. Umpat Raya dalam hati.


Dia menggaruk tengkuknya, lalu menjawab dengan terbata-bata.


“A-apa boleh buat. Hanya kosan ini yang harga sewanya lumayan terjangkau.”


Mendengar jawaban polos sang kekasih, membuat Raka tersentuh. Dia tersenyum dan mengusap lembut rambut Raya.


“Kamu tenang saja. Besok aku akan belikan kamu sebuah apartemen yang dekat dengan kantor.”


Raya terkekeh mengira Raka sedang bercanda. Namun, kekehan Raya perlahan memudar ketika dia melihat keseriusan wajah pria di hadapannya.

__ADS_1


“Raka, aku rasa tidak perlu.”


“Aku memaksa, Raya.”


Setelah perdebatan panjang, akhirnya Raya mengiyakan saja kemaunan Raka. Daripada dia terus mengulur waktu untuk bisa pulang.


Raya turun dan menatap mobil Raka hingga kendaraan roda empat itu menghilang. Barulah dia memesan taksi menuju rumah besar kediaman keluarga Mahendra.


***


“Kirana, semalam kamu ke mana, Nak? Mama di sini khawatir,” kata Alexa yang mengobrol dengan putrinya melalui panggilan video.


“Maaf sudah buat Mama cemas. Semalam aku menginap di rumah teman,” sahut Kirana.


Kebetulan di belakang Kirana, lewat Nakula yang langsung menyindir, “Teman apa teman?”


Secepat kilat Kirana memutar badan, dan dengan geram memberikan isyarat untuk diam. Lalu dia kembali lagi menghadap layar ponselnya.


Di ujung sana, Alexa menghela napas lega, “Lalu kenapa kamu tidak menghubungi Nakula dan Sadewa?”


Kirana menjawab jujur bahwa ponselnya mati dan dia ketiduran karena lelah.


“Mama tidak bilang ke Papa, kan?”


“Tentu saja tidak, Kirana sayang. Kalau Papa kamu tahu, bisa jadi dia minta pulang hari ini juga.”


Kirana melenkungkan senyuman, merasa bahagia dapat begitu dicintai oleh sang ayah.


“Ma, aku mau tanya sesuatu.”


“Tanya apa, Sayang?” Alexa tampak menegakkan duduknya dan memasang telinga untuk mendengar lebih jelas.


“Apakah Papa punya hubungan dengan seorang pria bernama Ray.”


“Ray?” ulang Alexa mengerutkan alis.


“Iya, nama lengkapnya Rayyan Abimanyu, Ma. Apa Papa pernah memiliki teman atau anak buah atau apa pun itu yang bernama Rayyan Abimanyu? Umurnya kurang lebih sama denganku, Ma?”


Tadi pagi Raya memanfaatkan kedekatannya dengan Amanda untuk mengorek sedikit informasi tentang Ray, adik Raka yang telah meninggal akibat kecelakaan.


Kirana mengepalkan tangan sembari menunggu jawaban dari Alexa. Dia telah menyimpulkan sendiri. Pasti kematian Ray lah alasan Raka ingin balas dendam.


Kini Kirana ingin memastikan apakah Balin ada kaitannya dengan kecelakaan yang menimpa Ray atau tidak.


Di layar ponsel, terlihat jelas Alexa sedang memijit keningnya untuk mengingat-ingat. Lama Alexa diam tak menjawab.


“Mama, tidak tahu. Tapi nama itu sepertinya tidak asing bagi Mama.”


“Coba Mama ingat-ingat lagi, Ma,” pinta Kirana.


“Apa perlu Mama tanyakan langsung ke Papa?”


Kirana menimbang sejenak. Lalu menyahut, “Sebaiknya jangan, Ma. Kita tunggu Papa selesai menjalani pengobatan saja.”

__ADS_1


__ADS_2