Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
38. Perubahan Rencana


__ADS_3

“Hai, Sadewa,” tegur Sunny pada salah satu si kembar.


Orang yang ditatap oleh Sunny malah menoleh kiri kanan. Terlihat dia sangat keheranan dengan wanita yang baru saja datang.


“Aku sedang bicara denganmu, Sadewa. Tidak usah tengok kanan kiri,” kata Sunny galak.


“Aku Nakula, bukan Sadewa,” ungkap orang yang tadinya dikira Sadewa oleh Sunny.


Seketika pipi Sunny memerah karena malu. Terlebih kini dia ditertawakan oleh Nakula dan Sadewa.


“Oh, maaf. Salah kalian sendiri kembar. Susah tahu membedakan kalian berdua.”


Sunny pun memutar badan untuk menatap ke orang yang satunya lagi.


“Hai, Sadewa.”


“Tapi kita bohong. Aku yang Nakula, dan dia yang Sadewa,” tutur orang yang kedua.


Sunny mengacak rambut frustasi, dia dibuat bingung membedakan mana Nakula dan mana Sadewa.


Mereka berdua kembar identik. Sangat sulit membedakan mereka, apalagi saat keduanya bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek yang serupa pula.


“Jangan main-main denganku! Katakan mana diantara kalian yang bernama Sadewa!” bentak Sunny.


Sadewa pun mengangkat tangan sambil menahan gelak tawa.


Kemudian, Sunny mengeluarkan sebuah alat yang dipersiapkan untuk menghipnotis berupa bandul kecil yang digantung oleh seutas tali.


Sunny menyodorkan benda itu tepat tiga puluh senti dari mata Sadewa yang mengerutkan dahi. Dia memerintahkan agar pandangan Sadewa mengikuti gerak benda itu tanpa berpaling sedikit pun.


Kerutan di dahi Sadewa semakin jelas, lantas dia melirik pada saudara kembarnya.yang mengangkat bahu tak tahu dengan tujuan Sunny.


“Aku bilang, jangan berpaling! Tetap Fokus!” bentak Sunny geram.


Lama Sunny menggerakan bandul kecil itu ke kiri dan kanan. Namun, Sadewa tetap tidak terhipnotis.


Sunny yang tak sabar pun lupa akan langkah berikutnya. Jadi, dia langsung saja menanyakan pada Sadewa.


“Katakan! Kamu itu cinta atau tidak kepadaku?” tanya Sunny blak-blakan.


“Apa katamu?” Sadewa balik bertanya heran.


“Kamu tuli? Kamu itu cinta atau tidak kepadaku? Kalau cinta bilang saja cinta, kalau tidak bilang tidak. Aku butuh kepastian.”


Nakula yang menyaksikan itu, mengulum bibir menahan tawa. Gara-gara ulah jahil Nakula yang menyatakan cinta atas nama Sadewa, kini Sunny mengira Sadewa tengah mempermainkannya.


Sedangkan Sadewa terlihat keheranan. Tentu saja dia tidak tahu apa yang telah dilakukan Nakula.

__ADS_1


“Sunny, aku mau katakan padamu kalau…” ucap Sadewa menggantung.


“Iya, katakan!”


“Kalau kamu itu…


“Iya, aku apa?” tanya Sunny tak sabar.


“Kalau kamu itu aneh,” ucap Sadewa yang bergegas pergi dari hadapan Sunny.


Sunny diam. Dia mengerjapkan mata beberapa kali ingin tampak ingin menangis. Kemudian dia pergi dari sana tanpa sepatah kata pun.


Sadewa masih terheran akan tingkah wanita itu yang akhir-akhir ini sangat aneh. Dia benar-benar tidak peka dan memang tak mau ambil pusing.


Berbeda dengan saudara kembarnya, tatapan Nakula berubah kosong sepeninggalan Sunny. Dia merasa bersalah, tak mengira ulah jahilnya akan berujung seperti ini.


Di ruang tamu, Sunny meminta izin pulang terlebih pada kedua orang tuanya yang sedang mengobrol dengan Balin dan Alexa.


Sunny beralasan dia ingin bertemu dengan temannya di sebuah cafe.


Sementara itu, Neneng dengan senang gembira meminum jus jeruk yang seharusnya disuguhkan untuk Sunny.


Neneng meneguk jus jeruk itu seperti musafir yang kehausan di tengah gurun pasir.


“Ah, segarnya…”


“Bahagia sekali kerja di rumah Tuan Balin. Bisa makan minum enak, gaji lumayan, dan yang paling penting bisa memandang Tuan Sadewa sepuasnya,” gumam Neneng yang kembali menyeruput jus jeruk..


“Neneng,” tegur Juan.


“Iya, Pak Juan,” sahut Neneng buru-buru berdiri.


“Tolong antarkan ini untuk tamu Tuan Balin!”


Juan menunjuk sebuah nampan besar yang di atasnya sudah tertata empat cangkir teh beserta makanan ringan.


Juan membuka mulut untuk berbicara, namun disela oleh Neneng yang mengangkat tangan ingin bertanya.


“Kemana saya harus mengantarnya, Pak Juan?”


Neneng bertanya agar dia tak mengulangi kesalahannya lagi seperti tadi. Tapi Juan justru menghela nafas sambil menggelengkan kepala.


“Neneng, Tuan Balin sedang menerima tamu. Tentu saja kamu antar itu ke ruang tamu. Mana mungkin Tuan Balin menerima tamu di toilet,” kata Juan sedikit membentak.


“Iya kan, bisa jadi.”


Neneng menyambar nampan besar itu dan menyelonong pergi sebelum dia mendapat ceramah dari Juan.

__ADS_1


Begitu sampai di ruang tamu, Neneng menaruh cangkir teh satu per satu, tak sengaja dia pun ikut mendengarkan perbincangan Balin dan Frans.


“Balin, bagaimana kalau kita jodohkan saja anak-anak kita? Sadewa dan Sunny,” usul frans di sela-sela obrolan.


Mendadak tangan Neneng lemas saat mendengar ucapan dari Frans. Sehingga cangkir teh yang sedang dia pegang jatuh membentur lantai.


Prang…


Semua orang berpaling ke arah Neneng yang berwajah pucat pasi. Mereka mengerutkan dahi memandang dengan penuh tanda tanya.


Alexa segera berdiri dan merangkul Neneng. Dia terlihat mencemaskan Neneng. Mengira pelayan baru itu jatuh sakit.


Sentuhan tangan Alexa di bahu Neneng berhasil membuat dia tersadar kembali. Neneng buru-buru berjongkok untuk membersihkan serpihan beling di lantai.


“Ada ada denganmu, Neng? Kalau sedang sakit, istirahat saja dulu,” kata Alexa lemah lembut.


“Maafkan saya, Nyonya. Neneng gagal fokus,” ucap Neneng sambil tangannya sibuk memberesi beling.


Saking tergesa-gesa nya, membuat Neneng kurang hati-hati yang mengakibatkan jari telunjuknya tergores bagian beling lancip.


Neneng mengaduh serta meringis kesakitan, mendapati ujung jarinya berdarah.


“Neneng, sudahlah, kamu obati saja dulu jarimu itu. Biar pelayan lain yang membereskan.”


“Baik, Nyonya. Neneng permisi ke belakang dulu.”


Neneng berlari kecil sambil menahan pilu. Bukan hanya jari yang terluka tapi hatinya juga.


***


Kirana masih duduk di gazebo membaca buku metode hipnotis untuk pemula. Dia membolak-balikan tiap halaman hingga suara deringan ponsel mengalihkan perhatiannya.


Kirana terpaku melihat nama yang tertera di layar ponsel, dan sesegera mungkin dia mengangkat telepon dari Raka.


“Sayang, kamu ada di mana?” tanya Raka dari seberang sana.


“Di apartemen,” jawab Kirana berbohong..


“Sayang, ada perubahan rencana. Aku tidak jadi menjemputmu jam lima sore. Tapi aku akan menjemputmu sekarang juga. Jadi, bersiaplah.”


“A-apa? Tapi…”


Tut tut.


Panggilan diakhiri oleh Raka.


Tak ada pilihan lain. Kini Kirana harus segera ke apartemen sebelum Raka yang sampai terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2