
"Kirana, stop! Jangan dikejar!"
Kirana menghentikan langkah kakinya, berbalik badan, dan menatap Raka yang tengah meletakan tangan di pelipis.
Kirana ingin protes, tapi perhatiannya teralihkan oleh darah yang mengucur dari pelipis suaminya.
Manik matanya membola, dan dengan tangan yang gemetar, Kirana menyeka darah yang mengalir.
"Kita harus ke rumah sakit."
Di rumah sakit, sambil menunggu Raka yang sedang diobati lukanya oleh dokter, Kirana berniat menelepon Balin perihal wanita yang tadi melempar batu ke arah Raka.
Aku yakin, wanita itu Clara. Tapi bukankah dia dipenjara? Apa mungkin, dia kabur?
Begitu telepon tersambung, Kirana menceritakan apa yang baru dialaminya, dan Balin pun membenarkan jika Clara memang kabur sejak Kirana dan Raka mempersiapkan pernikahan mereka.
Kirana menghela nafas panjang dan menghempaskan punggung ke sandaran kursi.
"Kamu yakin wanita itu Clara?" Balin bertanya memastikan sekali lagi.
"Wanita itu pakai masker dan kacamata hitam, Papa, tapi saat aku melihat punggungnya, aku yakin dia Clara."
"Kalau begitu Papa akan menghubungi polisi untuk mencari keberadaan Clara di sekitar daerah itu. Sebelum Clara kabur terlalu jauh."
Kirana mengangguk. "Kerahkan juga orang untuk berjaga di stasiun, pelabuhan, dan bandara, Pa. Supaya Clara tak dapat lagi meloloskan diri."
"Brilian, Kirana. Ya sudah, lanjutkan bulan madumu. Jangan terlalu memikirkan Clara! Biar Papa yang menangani semuanya."
Panggilan telepon ditutup, bersamaan dengan Raka yang selesai diobati. Tampak perban putih menempel di tempat Raka terluka.
Baik Raka dan Kirana tak menyadari ada seorang pria yang sejak tadi mengawasi mereka. Pria itu mengepalkan tangan. Kemarahan tersirat jelas di wajahnya.
Dia membalikkan badan, dan segera pergi dari rumah sakit.
Sementara itu, Raka menangkap raut bersalah pada wajah Kirana. Lalu dia tersenyum, di kepalanya muncul niatan memanfaatkan perasaan bersalah Kirana untuk memenuhi keinginannya.
"Sudah aku bilang kan? Lebih baik kita di kamar saja seharian. Kalau kita tidak ke pantai, kepalaku tidak akan terluka," kata Raka menunjuk perban.
Dahi Kirana mengerut. Tak terima dia yang akan disalahkan.
"Ayo minta maaf pada keningku!"
Kirana memutar bola mata, berdecak dan akhirnya mendaratkan kecupan lembut di atas perban putih itu. Sepertinya, Kirana harus membiasakan akan sikap Raka yang selalu menuntut.
__ADS_1
"Kau mencium keningku, junior jadi cemburu."
"Selain pendendam, rupanya junior cemburuan ya?" sindir Kirana.
Raka menganggukan kepala. "Masih banyak yang belum kamu tahu tentang junior kan? Maka dari itu, kita habiskan bulan madu kita untuk lebih mengenalnya."
Raka menarik lengan istrinya ke sebuah sudut rumah sakit yang sepi dan bebas dari kamera CCTV.
Kirana tersentak, tahu arti senyum seringai yang berkembang di bibir Raka. Lantas dia pun menggeleng.
"Raka, ini rumah sakit!"
"Iya, aku juga tahu ini rumah sakit. Kita buat anak di sini, siapa tahu anak kita jadi dokter hebat."
***
Tubuh Clara bergetar hebat. Dia menutup pintu penginapan, melepas masker dan kacamata, lalu beranjak mencari obat.
Tangannya tak sabar ingin menemukan pil putih yang menjadi obat penenangnya itu. Dia mengobrak-abrik meja, setiap laci yang ada di penginapan, bahkan hingga ke bawah tempat tidur.
Namun, tak kunjung Clara menemukan benda yang dia cari.
Clara mulai frustasi. Tepat saat itu, tangan Clara menemukan secarik kertas di tumpukan baju. Segera dia merentangkan kertas dan membaca isinya.
Tak lama, Kevin masuk ke dalam penginapan. Sorot kemarahan dia layangkan pada Clara.
Namun, hanya sesaat Kevin melototi Clara, lalu dia segera mengambil tas besar dan memasukan barang-barangnya.
"Kevin, dari mana saja kamu?" bentak Clara.
Kevin mendengus, memutar badan menghadap Clara, dan mendorong tubuh wanita itu.
"Harusnya aku yang tanya, dari mana saja kau? Mengintai Raka dan berharap agar dia mau memaafkanmu?" seru Kevin dengan nada penuh amarah.
Clara tertegun. Tak menyangka Kevin tahu dia pergi untuk menguntit Raka dan Kirana.
"Dari mana kau tahu?"
"Saat ke rumah sakit, aku mendengar Kirana bercerita pada ayahnya. Sebentar lagi polisi dan anak buah Tuan Balin akan kemari menangkap kita."
Kevin kembali mengemasi barang. Mengabaikan Clara yang mematung sambil menggenggam selembar kertas.
"Dasar kau bodoh. Sudah aku bilang jangan pernah temui lagi! Kenapa kau tidak mendengarkan aku, hah?"
__ADS_1
"Kev, apa ini?" Clara bertanya menyodorkan kertas yang baru saja dia baca.
Kevin menoleh sejenak, lalu melanjutkan memasukan barang ke dalam tas.
"Itu surat hasil pemeriksaan yang menyatakan aku mengidap HIV aids," jawab Kevin enteng, tanpa ada rasa menyesal.
"Kalau itu juga aku bisa baca!" bentak Clara meremas kertas hingga membentuk bola, lalu melemparkannya pada Kevin.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau kau penderita HIV aids? Dasar breng***."
Umpatan dari mulut Clara, menyulut emosi Kevin. Dia berlari mendekat. Dengan menggunakan satu tangan, dia menangkupkan kasar pipi Clara.
Deru nafas kemarahan menerpa wajah Clara. Dada Kevin naik turun, layaknya banteng mengamuk.
"Siapa yang lebih dulu menawarkan diri menjadi teman ranjangku, hah?"
"Dasar kau penyakitan!" umpat Clara sambil melepaskan tangan Kevin.
Plak.
Satu tamparan keras mendarat di pipi Clara. Membuat wanita itu jatuh ke lantai.
"Kau pikir, dirimu bersih? Aku juga tahu kau sudah melakukannya bersama banyak pria. Bahkan jumlahnya tak dapat dihitung dengan hitungan jari."
"Andai aku tahu kamu sakit, aku jijik bersentuhan denganmu. Bisa jadi sekarang aku mengidap penyakit yang sama denganmu," Clara bangun berdiri, dan memukul dada Kevin yang tak memberi efek apapun.
Kevin menyeringai serta menjambak rambut Clara yang membuat wanita itu mendongak menatap Kevin.
"Itu sudah resiko pekerjaan seorang pel*c*r."
Kevin menyambar tas ransel dan menggendongnya.
"Aku tidak mau membantumu lagi. Kau tidak bisa diajak kerja sama. Kini aku juga menjadi buronan polisi karena aku membantumu."
Setelah berucap seperti itu, Kevin mengayunkan kaki berniat kabur secepat mungkin. Namun, Clara mencekal lengannya.
"Kamu mau kemana? Bagaimana denganku?"
Tanpa menoleh ke belakang, Kevin menghempaskan lengan agar terbebas dari cengkraman Clara.
"Kau pikir saja sendiri."
Secepat mungkin, Kevin pergi meninggalkan Clara yang terus meneriaki namanya. Lalu Clara pun tersadar. Dia juga harus kabur, meski tak tahu entah akan kemana.
__ADS_1