Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
21. Makan Malam Bersama


__ADS_3

Di kediaman keluarga Mahendra, tampak Nakula mengompres luka memar di sudut bibir sebelah kiri.


Sambil melihat pada bayangan di cermin dia mengoleskan obat, dan merutuki pacar dari kakaknya.


Selepas itu, Nakula menghela napas jengah. Dia perlu melampiaskan rasa kesalnya.


Dan detik berikutnya, dia menemukan ide cemerlang.


Nakula berjalan menuju kamar saudara kembarnya, Sadewa. Kebetulan sekali Sadewa sedang mandi, dan ponselnya tergeletak begitu saja di atas nakas.


Nakula mengambil ponsel milik adiknya, lalu mencari nomor telepon seseorang di sana. Sekilas dia melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


“Halo, Sunny.”


“Iya, halo. Ada apa kau meneleponku?” sahut Sunny dengan suara ketus.


“Aku cinta padamu,” ucap Nakula sambil tersenyum licik.


“Apa?”


“Kamu tidak dengar? Apa suaraku kurang jelas? Aku cinta padamu, Sunny,” kata Nakula menegaskan.


“Ah, kamu pasti Nakula sedang menjahiliku, iya kan?”


Ternyata Sunny bukan tipe wanita yang mudah dibohongi. Pikir Nakula dalam hati.


“Tidak! Aku benar Sadewa,” ucap Nakula berbohong, sekali lagi melirik arah kamar mandi.


Berharap yang ada di dalam sana tak mendengar perkataannya.


“Benar Sadewa? Mana mungkin kamu bilang begitu.”


“Astaga. Aku Sadewa dan aku benar-benar mencintaimu, Sunny. Sudahlah sampai ketemu besok.”


Tut.


Telepon dimatikan dan Nakula tersenyum puas, lalu dengan langkah tak bersuara dia keluar dari kamar Sadewa.


Tepat saat pintu kamar ditutup, pintu kamar mandi juga terbuka. Sadewa keluar dengan rambut basah dan handuk yang melilit di pinggang.


Sepertinya tadi aku mendengar suara Nakula. Batin Sadewa.


Sementara Nakula yang sudah kembali ke kamarnya, bersorak senang, tapi detik berikutnya dia terkesiap sendiri.


Lalu dia bergumam, “Semoga kalian betul berjodoh. Bosan aku melihat kalian berdua sejak kecil bermusuhan terus.”


***


Pandangan Raka tak pernah lepas dari Raya yang makan dengan begitu anggun. Dari gaya makan Raya, terlihat tidak dilebih-lebihkan atau pun canggung.


Seperti sudah menjadi kebiasaan Raya makan seperti itu.

__ADS_1


Dia melakukan sandiwaranya dengan sangat bagus. Siapa yang akan menyangka kalau dia seorang OG? Gumam Raka di dalam hati.


Raka membuang muka secepat mungkin ketika Raya tak sengaja menoleh ke padanya.


Gadis itu menaikan alisnya, dan Raka membalas dengan menggelang kepala pelan. Interaksi Raka dan Raya itu tertangkap oleh Amanda yang duduk di antara mereka.


Kemudian Amanda berdehem.


“Raya, apa Tante boleh minta tolong.”


“Minta tolong apa Tante?”


“Begini, Raya,” Amanda meletakan sendok di piring dan menatap Raya penuh keseriusan.


“Anak Bi Muna baru saja lulus S1. Perjuangan Bi Muna dalam membiayai kuliah anaknya sangatlah berat, dan sekarang begitu dia lulus, belum juga dapat pekerjaan. Kira-kira apakah kamu mau membantu anaknya Bi Muna?”


Raya tampak menimbang-nimbang, lalu melirik pada Raka.


“Boleh. Besok langsung saja ke perusahaanku di Red Riding Hood sambil membawa berkas lamaran.”


“T-tapi, Raya,” ucap Raka gelagapan.


Bagaimana bisa Raya asal bicara begitu? Bagaimana kalau besok anak Bi Muna betul datang ke sana? Batin Raka yang memijat keningnya.


“Benarkah? Terima kasih, Raya. Kamu wanita yang baik. Bi Muna dan anaknya pasti senang mendengar kabar ini.”


Raya tersenyum mengangguk. Tapi tidak dengan Raka yang frustasi.


Sedangkan Amanda entah pergi kemana, tidak kelihatan selepas makan.


“Raka, Mommy kamu dimana?”


Orang yang ditanya tidak menjawab, malah melingkarkan tangan ke pinggang, lalu menjatuhkan kepala ke bahu Raya.


Raka menghirup napas panjang di dekat leher Raya. Mencium aroma khas tubuh gadis itu, yang juga merasakan terpaan nafas hangat.


“Raka, kamu sedang apa sih?” tanya Raya menahan geli.


Sebab kini Raka melabuhkan kecupan di lehernya. Tak hanya itu, pelukan Raka juga perlahan mengerat.


Seiring dengan kecupan yang berpindah naik ke telinga.


“Raka, stop!”


Raya mendorong tubuh Raka kuat-kuat hingga punggung pria itu membentur sandaran sofa. Dia berdiri, dan sebelum Raka berbicara, dia segera melangkah pergi.


Sedangkan Raka berdecak mengutuki apa yang telah dia perbuat. Entahlah rasanya susah sekali mengendalikan diri di dekat gadis itu.


“Aku tak sabar menunggu hari dimana kamu menjadi istriku, Raya,” gumam Raka menatap kosong pada pintu yang baru saja dilewati Raya.


Langkah kaki Raya membawanya ke halaman belakang, dan tak jauh dari sana ada sebuah pintu yang terbuka lebar.

__ADS_1


Tampak pintu itu adalah pintu gudang, yang ternyata sudah ada Amanda di dalam. Berdiri di samping sebuah motor sport berwarna merah.


Raya berjalan mendekat. Tanpa menoleh, Amanda tahu Raya ada di belakangnya.


“Tepat dua tahun sudah kamu pergi, Ray,” ucap Amanda terisak menatap sepeda motor yang sebagian terdapat goresan.


Sesaat Raya berpikir, mungkin Ray mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor sport itu.


Raya tak berani bertanya. Dia tahu pertanyaannya hanya akan menambah luka di hati Amanda.


Akan tetapi Raka tiba-tiba muncul di sampingnya. Turut memandang Amanda dan sepeda motor milik Ray.


“Hari ini tepat dua tahun Ray mengalami kejadian naas itu,” jelas Raka dengan suara sengau.


Raya menoleh pada Raka dan meneliti wajahnya yang tampak tenang. Meski Raya tahu di dalam hati Raka, pria itu tengah merasa pilu.


“Sekitar pukul satu malam, ada seseorang yang menelepon Mommy kalau Ray menjadi korban tabrak lari, dan begitu kami datang ke rumah sakit, Ray telah dinyatakan meninggal oleh dokter.”


Tubuh Raka sedikit bergetar. Dia menghirup nafas panjang dan tangannya mengepal kuat. Sedangkan Raya diam tak mampu berkomentar.


“Ray pergi tanpa sempat meninggalkan ucapan terakhir untuk kami, dan suatu hari nanti aku pasti akan membalas semua perbuatan orang yang telah merenggut nyawa adikku.”


“Bolehkah aku tahu siapa orang itu?”


Raka berpaling pada Raya, dan tersenyum getir.


“Ini masalahku, Raya. Akan aku atasi masalahku sendiri.”


Kemudian, Raka menghampiri Amanda. Mendekap tubuh wanita paruh baya itu yang juga membalas pelukannya.


Di tempatnya berdiri, Raya memandang ibu dan anak di sana.


Kenapa kamu selalu mengalihkan pembicaraan saat aku bertanya pelaku yang menabrak Ray? Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Raka? Batin Raya.


“Ray akan sedih jika tahu Mommy seperti ini,” bisik Raka yang masih mendekap ibunya.


Amanda terisak, dengan cepat menyeka pipi, dan mengulum senyum.


“Mommy sudah mengikhlaskan Ray.”


“Mommy tenang. Masih ada Raka di sini, hem?”


Amanda mengangguk. Lalu menjatuhkan kepalanya di dada bidang Raka, dan kembali menangis.


Dari ekor mata Raka, dia melihat di ujung sana Raya juga telah meneteskan air mata. Tak lama, dia melepas pelukan Amanda.


“Sebaiknya, Mommy beristirahat. Ingat kata dokter kan, Ma? Mommy tidak boleh banyak pikiran.”


Amanda mengangguk sebagai jawaban.


Kemudian Raka menuntun ibunya menuju kamar, hanya tersisa Raya yang masih diam mematung.

__ADS_1


__ADS_2