Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
48. Mata Duitan


__ADS_3

“Aduh, perut aku sakit banget,” keluh Mae sambil kedua tangan memegangi perut.


Kaki Mae terseok-seok menapaki pelataran gedung Irawan Group. Beberapa karyawan lain berjalan mendahului Mae tanpa menyapanya.


Tak ada yang mau menyapa Mae, apalagi memperdulikan wanita itu yang sedang menggigit bibir bawah menahan rasa sakit.


Meskipun Mae mengalami sakit perut yang amat melilit, dia terpaksa masuk kerja. Sebab dia tak mendapatkan izin sakit dari Tuan Balin.


Mae heran biasanya karyawan yang bekerja di Irawan Group selalu mendapat izin sakit tanpa dipotong gaji. Namun, kali ini tidak bagi dirinya.


Dia diharuskan bekerja seperti biasa. Terlebih, belum ada OB baru yang menggantikan Neneng. Alhasil semua pekerjaan Neneng dilimpahkan semua kepadanya.


Tentu saja Kirana lah yang merencanakan semuanya. Balin memang akan memecat Mae, akan tetapi Kirana ingin memberikan ‘kesan’ terakhir sebelum Mae angkat kaki dari Irawan Group.


“Ini pasti gara-gara aku minum air bekas mengepel. Sekarang perutku jadi sakit begini,” tangan Mae semakin menekan perutnya.


Otak Mae langsung tertuju pada Raya, si biang keladi. Dia mendengus sekaligus menyeringai membayangkan wajah Raya yang sok berkuasa.


Tepat saat itu juga, Mae melihat Clara yang berjalan ke pintu masuk gedung Irawan Group. Seketika Mae mempercepat langkah.


“Bu Clara,” panggil Mae dan Clara pun menoleh.


“Apa?” tanya Clara ketus. Dia masih kesal dengan wanita gempal yang telah mempermalukan dirinya.


“Bu, Clara, saya mau minta uang buat berobat. Perut saya sakit sekali. Sumpah,” Mae memelas.


Selama ini dia telah mengabdikan diri sebagai anak buah Clara di kantor. Jadi, dia mengharapkan Clara memberikannya uang imbalan.


Sesungguhnya uang gaji Mae masih tersisa cukup untuk periksa ke dokter. Tapi jiwa preman pasar nya Mae meronta-ronta ingin memeras Clara.


Masa iya sih? Selama jadi anak buah Bu Clara, aku tidak diberi upah apapun. Dasar pelit. Umpat Mae dalam hati.


Clara menghela nafas, jemarinya berhenti sesaat, lalu menoleh pada Mae.


“Aku tidak punya uang. Sudah tahu bulan ini gajiku dipotong. Lagi pula salah kamu sendiri mau juga disuruh minum air kotor,” ucap Clara setengah membentak.


“Tapi jika Bu Clara tidak memberikan aku uang, aku bisa saja lapor ke Tuan Balin,” bisik Mae sembari menyeringai.


Mae tersenyum penuh kemenangan saat wajah Clara mendadak berubah pias. Tanpa dia ketahui bahwa Balin sudah tahu semuanya.


Saat dalam keadaan terhipnotis, Mae dalam keadaan tidak sadar, dan tidak ingat apa saja yang telah dibicarakan bersama Raya.


Akan tetapi Mae yakin seratus persen, jika rahasianya masih aman.

__ADS_1


Clara berdecak kesal, terpaksa dia memberikan uang tutup mulut.


“Ish, dasar mata duitan.” Lalu dia segera bergegas meninggalkan Mae.


***


Raya tetap mengetuk pintu ruangan sekretaris, yang langsung mendapat sahutan dari dalam. Sesaat dia tersenyum sebelum memutar gagang pintu.


Raka sedang menunduk meneliti tumpukan kertas saat Raya berjalan menghampirinya dengan kedua tangan membawa nampan berisi secangkir kopi.


Ketika Raya menaruh kopi itu ke meja, barulah Raka mendongak, menerbitkan senyum meski wajahnya tampak kelelahan.


Kemudian, Raka meneguk kopi sambil tatapannya tak putus memandang Raya.


Gadis itu bukannya pergi selepas mengantarkan kopi. Melainkan berjalan ke belakang kursi, dan perlahan memijat pundak Raka yang mengernyit heran.


“Sayang, apa kamu sedang menggodaku?”


“Tidak. Aku hanya sekedar memberi bantuan supaya kamu lebih semangat,” sahut Raya dengan tangan terus bergerak memijat.


“Kalau ingin aku lebih semangat ada cara lain,” Bibir Raka menyunggingkan senyuman smirk.


“Apa?” tanya Raya yang tahu maksud dari ucapan Raka.


“Kamu sendiri pasti tahu.”


Raka terlonjak, tak menyangka Raya akan benar-benar menciumnya. Sebab sering kali, Raya tak mau mereka bermesraan di kantor, meski hanya sebentar.


Namun, berbeda dengan hari ini. Tampaknya gadis itu tengah merindukan kebersamaan mereka. Mengingat beberapa terakhir, Raka selalu disibukkan oleh pekerjaannya.


Lantas Raka menoleh, menjajarkan pandangan, dan mencium bibir Raya. Tangan Raka menuntun Raya agar duduk di pangkuannya tanpa melepas pagutan bibir.


Seketika ruangan dipenuhi suara decap dari dua anak manusia.


Lama mereka berciuman sambil memejamkan mata. Sampai-sampai mereka tak menyadari kehadiran Nakula yang masuk ke ruangan Raka tanpa mengetuk pintu.


“Ehem,” Nakula sengaja berdehem keras.


Sontak membuat Raka melepaskan ciuman dan Raya buru-buru berdiri.


“Ada berkas yang harus dikerjakan sekarang juga,” ucap Nakula meletakan tumpukan dokumen di atas meja.


Bola mata Nakula melirik Raka dan Raya bergantian, menerbitkan seringai, lalu melangkah pergi.

__ADS_1


Raut wajah Raya berubah suram melihat tumpukan dokumen pemberian dari Nakula. Padahal, Raka yang mendapatkan tugas terlihat biasa saja.


“Berarti kamu akan pulang malam lagi,” keluh Raya.


Raka tersenyum, meraih tangan Raya, dan menggenggamnya erat.


“Aku akan bawa pulang sisa pekerjaanku yang belum beres.”


***


Petang hari, ketika kantor Irawan Group telah sepi dan berubah remang di setiap sudut.


Raka membereskan meja dari lembaran kertas yang berserakan, merapikan menjadi satu tumpuk dan memasukan ke dalam tas kerjanya.


Dia akan melanjutkan pekerjaannya di apartemen.


Begitu keluar dari ruangan, Raka mendapati Raya telah berdiri menantinya sambil menenteng tas ransel kecil.


Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju mobil. Tanpa disadari sepasang bola mata mengintai mereka dari balik pilar.


Si pengintai itu tak lain dan tak bukan, Clara. Dia memberengut dengan sorot mata penuh rasa iri pada Raya.


“Setiap kali aku berusaha memisahkan, yang terjadi malah mereka semakin dekat,” desis Clara.


Tangannya terlipat di depan dada, menyandarkan punggung ke pilar sambil menatap kepergian mobil Raka dari area parkir.


“Tapi tak mengapa. Yang penting sekarang aku mendapat dukungan dari Tante Amanda.”


Sementara itu, di dalam mobil, Raka dan Raya memutuskan untuk membeli makan malam terlebih dahulu sebelum pulang ke apartemen.


Jadi, Raka menghentikan mobil di sebuah restoran seafood. Dia turun untuk memesan makanan, meninggalkan Raya sendirian di dalam mobil.


Selagi Raka masuk ke dalam restoran, Raya memanfaatkan waktu untuk membuka pesan di ponselnya.


Hingga suara ketukan kaca jendela mobil membuat Raya tersentak, sekaligus berpaling.


Seorang pemuda berpakaian lusuh, rambut lepek, dan lengan dipenuhi tato berdiri di samping mobil. Sorot mata pemuda itu menembus kaca jendela, menatap lurus ke arah Raya.


“Tolong kasihani saya, Nona. Saya belum makan dari kemarin,” rintih si pemuda menengadahkan tangan.


“Oh, hanya seseorang yang ingin mengemis rupanya,” gumam Raya sedikit lega.


Awalnya Raya mengira si pemuda ingin berniat jahat padanya. Sebab dari penampilan pemuda itu lebih patut disebut sebagai seorang preman.

__ADS_1


Raya menurunkan kaca jendela, tangannya menjulur hendak memberikan uang, bersamaan dengan si pemuda yang juga menodongkan sebilah celurit ke leher Raya.


“Jangan mencoba berteriak, Nona! Atau celurit ini akan menyayat lehermu.”


__ADS_2