
Hari senin datang untuk menyambut seluruh pekerja yang sebagian besar bermuka murung dikarenakan hari libur mereka telah berganti.
Kembali pada rutinitas kerja yang itu-itu saja.
Terjebak macet di pagi hari sudah menjadi sarapan mereka setiap hari senin. Deretan mobil saling membunyikan klakson tak sabar ingin maju.
Dan di antara deretan kendaraan yang mengular itu, ada mobil yang membawa Nakula dan Kirana menuju gedung kantor Irawan Group.
“Nakula, aku turun di sini saja,” kata Kirana pada sang pengemudi mobil.
“Tapi ini masih jauh dari kantor, ditambah macet. Kakak akan terlambat masuk kerja nanti,” terang Nakula.
Kirana berdecak kesal.
“Tidak ada pilihan lain,” ucap Kirana langsung turun dari mobil.
Dia berlari ke tepi jalan untuk mencari ojek, meski dari dalam mobil dia diteriaki oleh Nakula.
Apa boleh buat, orang-orang kantor bisa curiga jika dia turun satu mobil dengan sang presdir perusahaan.
Selama ini, Kirana selalu berusaha tidak mengenal Nakula jika sedang bekerja sebagai office girl.
Nakula yang tidak dapat mencegah kakaknya itu pun hanya bisa pasrah. Sebab klakson dari mobil yang ada di belakangnya sudah meraung-raung.
Akhirnya Nakula melajukan mobilnya, meninggalkan Kirana.
Sementara apa yang diharapkan Kirana tidak berjalan mulus. Sangat sulit menemukan ojek atau kendaraan umum yang menuju kantornya di saat macet seperti ini.
Alhasil, tepat seperti dugaan Nakula, Kirana datang ke kantor di waktu yang hampir mepet. Dia berlari ke pintu masuk gedung Irawan Group yang sudah ada Clara menyambutnya di sana.
Clara berdiri sambil melipat tangan di depan dada. Tas dengan merk ‘kremes’ menggantung di lengan, dan tatapan dingin dia layangkan pada gadis yang berlari kecil menuju arahnya.
“Kamu terlambat, wanita kampungan,” cemooh Clara.
Raya melirik pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Clara. Untung saja Raya datang tepat di pukul delapan.
“Apa kamu tidak lihat? Aku datang pas di jam masuk kantor,” ucap Raya santai dan hendak menerobos masuk.
Namun, Clara segera merentangkan tangan untuk menghalangi jalan Raya.
“Kamu pikir ini perusahaan warisan dari kakek kamu. Main masuk kerja seenaknya saja.”
Raya berdecak kesal, melingkarkan bola matanya, malas menanggapi ocehan Clara.
“Memang perusahaan ini warisan dari kakek aku. Lalu kenapa?”
Mendengar itu, sontak membuat Clara tertawa keras.
“Kamu tuh ya, selain pelakor, ternyata kamu juga tukang halu. Mending kamu angkat kaki dari perusahaan ini deh,” ejek Clara sembari menyeringai.
Raya menghela napas, dia berterus terang saja tidak ada waktu untuk meladeni Clara. Sekali lagi dia beranjak pergi.
__ADS_1
Namun, baru satu langkah rambut Raya sudah disambar oleh tangan Clara yang seperti ceker ayam. Berkuku panjang dan dicat warna hitam.
Refleks Raya mengaduh kesakitan. Tak mau kalah, dia juga menjambak ujung rambut singa Clara.
Dan terjadilah perlombaan tarik rambut antara Clara dan Raya yang menjadi pusat perhatian banyak orang.
Baik Clara maupun Raya sama-sama kuat dalam mencengkeram rambut musuh.
Semua mata yang melihat mereka bukannya memisahkan, malah menambah panas dengan memberi dukungan pada masing-masing kubu.
Sebenarnya Raya bisa berbuat lebih dari sekedar menjambak rambut. Bahkan sangat mudah untuk mematahkan semua tulang Clara.
Tapi dia enggan melakukannya. Yang ada Clara akan berpura-pura menjadi korban dalam kasus ini.
Hingga perlombaan itu berakhir karena ada satu pria yang berdiri menjadi pemisah antara Clara dan Raya. Pria itu adalah Raka Abimanyu.
“Ada apa ini?” tanya Raka melempar lirikan pada kedua wanita yang kini berambut acak-acakan.
“Raka, aku sedang memberi pelajaran pada wanita itu. Dia tidak ada rasa bersalah sudah datang terlambat, akan aku pastikan dia dipecat sekarang juga,” raung Clara melotot dan menunjuk Raya.
Raka melirik sekilas pada Raya, lalu menatap lagi Clara dengan jengah.
“Clara, bukankah kamu juga baru datang?”
“Ops,”
Seketika wajah garang Clara berubah. Dia tersenyum malu dan salah tingkah.
Kemudian, dia pun berlagak layaknya bos yang menegur karyawan tak becus.
“Kok kamu tahu, Raka? Kamu perhatian sama aku ya?” tanya Clara dengan sikap manja dan menampilkan senyuman semanis mungkin.
Sayang sekali Raka tak sedikit pun melihat senyuman Clara itu, karena kini dia menatap lurus pada Raya.
“Ayo, kita masuk, Sayang!” ajak Raka langsung meraih tangan Raya.
Lalu mereka berdua berjalan bergandengan tangan, dengan disoroti oleh tatapan orang-orang di sana yang terperangah. Termasuk Clara.
Apakah mereka tak salah dengar? Sekretaris Raka memanggil Raya sang office girl dengan sebutan sayang.
Raya yang merasa risih mendapat lirikan, segera menghempas tangan agar terlepas. Namun, tentu saja, Raka tak akan membiarkannya.
Pria itu kembali menatap serius pada kekasihnya setelah mereka berada di koridor yang sepi.
“Kamu terlambat karena kosanmu jauh. Iya kan?”
Raya hanya menunduk dan menghela napas. Hanya alasan itu yang masuk akal.
“Aku sudah membelikan apartemen untukmu. Pulang kerja nanti kita ke sana,”
“Apa? Kamu belikan dia apartemen?” teriak Clara yang ternyata menguntit dua sejoli itu dari belakang.
__ADS_1
Serempak Raka dan Raya menoleh pada Clara yang mendekat sambil memasang muka garang.
“Yes. And then?” sahut Raka.
“Raka, sadarlah! Kamu itu sedang dipelet sama Raya, terus harta kamu akan dikuras habis oleh pelakor kampungan seperti dia,” bentak Clara seperti orang kesurupan.
“Clara, please!” ucap Raka tegas.
“Jangan panggil Raya dengan sebutan itu. Dia pacarku, aku ingin membelikan apa saja, itu terserah aku.”
“K-kalian pacaran?” tanya Clara terperangah. Melirik Raka dan Raya secara bergantian.
“Tidak semudah itu kamu mencampakan aku, Raka. Kita sudah dijodohkan sejak kita SMP,” Clara meraung dan matanya melotot.
Raka menyeringai sekaligus mendengus kesal.
“Persetan dengan perjodohan kita. Kamu pun tahu sejak dulu aku tidak mau dijodoh-jodohkan. Apalagi denganmu.”
Melihat kondisi yang semakin panas, Raya menarik lengan Raka agar pertengakaran itu tak menjadi tontonan umum.
Namun, sebelum Raya berhasil menyeret Raka, sebuah suara menyela perdebatan antara Raka dan Clara.
Semua orang menoleh ke sumber suara. Seketika mereka menunduk begitu melihat orang yang ada di depan mereka.
“Kalian pikir kantor ini pasar! Kalau ingin bertengkar, lepas name tag kalian lalu keluar dari sini,” tegas Nakula sambil mengedarkan pandangan menatap karyawan satu per satu.
Meski ucapannya itu ditunjukan untuk Raka dan Clara, namun, Nakula juga ingin memperingatkan pada karyawan lain.
Raya tersenyum tipis tanpa ada yang melihat. Dia bangga karena perlahan adiknya menunjukan sikap kepemimpinan.
“Clara, silahkan menuju meja kerjamu!” titah Nakula yang langsung dituruti oleh wanita itu, setelah melirik penuh benci pada Raya.
“Raya, kau buatkan aku kopi, lalu antar ke ruanganku.”
“Baik, Tuan,” Raya menunduk pada Nakula, dan melangkah pergi.
“Kau, Raka. Aku minta proposal yang kemarin sudah ada di mejaku sekarang juga.”
***
Raka mengantarkan proposal yang diminta oleh Nakula ke ruangannya. Begitu di depan pintu, dia mendengar suara yang jika orang dewasa mendengarnya akan berpikir dua kali.
Apa yang sedang dilakukan Tuan Nakula?
Raka menempelkan telinga di daun pintu. Mempertajam pendengarannya.
Tak salah lagi, itu memang suara Tuan Nakula yang sangat mendayu-dayu.
“Ya, enak. Auw. lebih keras. Ah, ehm.”
Didorong oleh rasa penasaran yang tinggi, Raka membuka pintu tanpa terlebih dahulu mengetuknya, dan dia terperangah dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
“Tuan Nakula? Raya?”