
**Author balik lagi ... 😁
Bab ini dan selanjutnya hanya ekstra part ya teman-teman. Karena author akan menulis kisah anaknya Kirana dan Raka yang sebentar lagi mau dirilis.
Oh ya, author juga mau minta pendapat dari kalian semua. Apa sebaiknya kisah Nakula, Sadewa, dan Sunny dibuat novel sendiri atau tidak?
Terima kasih. Ditunggu saran dan masukannya. 😊**
Kirana melangkah dengan tangannya menggandeng Raka. Mereka berdua berjalan menuju halaman yang sudah didekor dengan kelap-kelip lampu hias.
Di halaman sana, seluruh anggota keluarga Mahendra, Sunny dan kedua orangtuanya sudah menunggu Kirana. Serempak mereka menoleh saat Kirana datang.
Sebagai ibu hamil, aura kecantikan Kirana benar-benar semakin terpancar meski kini dia memakai riasan yang sederhana.
Kirana dan Raka berdiri di depan kue ulang tahun yang menjulang tiga lapis. Mereka saling melirik sambil tersenyum sebelum memberikan ucapan sambutan.
"...dan kami juga ingin memberikan sebuah kabar bahagia bahwa…"
Raka mengusap perut Kirana yang masih rata.
"Bahwa akan ada orang ketiga yang sebentar lagi hadir di antara kami."
"Apa?"
Semua orang menoleh pada Nakula yang berteriak dengan wajah tercengang. Mereka tampak heran dengan Nakula, terlebih saat pria itu berjalan menghampiri sang kakak ipar.
Nakula berdiri berkacak pinggang memasang raut menantang. Sementara Raka yang merasa diganggu oleh tingkah Nakula, juga membalas dengan tatapan menghunus.
"Nakula, what are you doing?" geram Kirana tanpa menggerakan bibir.
Nakula menoleh pada Kirana. Dia merentangkan telapak tangan memberi tanda agar Kirana jangan menyela.
"Kak, tenang! Biar aku yang memberikan pelajaran pada suami yang terang-terangan mengaku telah berselingkuh."
Bugh.
Tanpa aba-aba, Nakula meninju perut Raka dan membuat semua orang memekik khawatir. Terlebih Kirana yang langsung merangkul Raka.
"Apa yang kamu lakukan, hah?" kata Raka berang. "Dan kamu juga bilang aku selingkuh. Hai, jangan menuduh tanpa adanya bukti!"
__ADS_1
Raka membalas pukulan Nakula. Tak peduli pria yang dia pukul adalah adik iparnya dan tak pedulk jika perkelahian mereka dilihat oleh Balin dan Alexa.
Kirana menepuk jidat karena kerusuhan yang dibuat oleh suami dan juga adiknya. Pengumuman kabar kehamilannya berubah berantakan akibat kesalah pahaman Nakula.
Namun, begitu Kirana takut untuk mendekati dia pria yang kini tengah adu kekuatan. Hingga perkelahian berhenti saat Nakula ditarik oleh Sadewa dan Raka ditahan oleh Balin.
Wajah Nakula maupun Raka sudah dalam keadaan babak belur.
"Papa, hajar menantu yang ternyata tukang selingkuh itu!" Nakula menunjuk Raka penuh amarah.
Raka yang dikatakan sebagai tukang selungkuh pun tidak terima. Dia hendak menerjang kembali Nakula tapi segera mungkin Balin menahannya.
"Aku bukan tukang selingkuh!" teriak Raka.
"Kamu sendiri yang mengaku," Nakula berteriak tak kalah kencang.
"Stop!" pekik Kirana. Dia menatap jengkel pada Nakula. Lalu menjewer telinga adiknya.
Sontak Nakula mengaduh kesakitan begitu daun telinganya ditarik oleh Kirana.
Raka tertawa melihat Nakula tapi tawa itu berhenti ketika Kirana juga menjewer telinganya.
"Kak, lepaskan. Sakit. Aku itu sedang membela Kakak."
"Lain kali dengarkan dulu apa yang orang lain katakan," Kirana beralih kepada suaminya. "Dan kamu juga, Raka. Jangan mudah tersulut emosi!"
"Tapi Kak. Suamimu itu tadi bilang akan ada orang ketiga yang sebentar lagi hadir di antara kalian. Itu artinya Raka ingin menikah lagi," tutur Nakula dengan bibir manyun.
Kirana menghela nafas lalu menepuk jidat. Sedangkan Raka yang tahu Nakula salah paham padanya hanya bisa melototkan mata.
Semua orang yang tadinya berwajah tegang kini terkekeh. Diantara mereka langsung tahu akan kesalahpahaman yang terjadi.
Nakula mengerutkan dahi saat mendengar orang-orang tertawa. Dia menoleh ke kanan dan kiri, mengamati sekelilingnya.
"Ada apa? Apanya yang lucu?"
"Maksud dari perkataan itu bukan Raka mau menikah lagi tapi artinya aku sedang hamil," kata Kirana menegaskan.
Nakula tercengang mendengar penuturan Kirana. Tapi tak lama bibirnya melengkungkan senyuman. Begitu pula Balin, Alexa dan semua yang hadir di pesta ulang tahun Kirana.
__ADS_1
"Benarkah? Jadi yang dimaksud orang ketiga itu… " tatapan Nakula tertuju pada perut Kirana.
Kirana mengangguk dan pada saat yang sama Raka merangkulnya begitu posesif.
"Ya, anak yang ada dikandunganku yang masih empat minggu," kata Kirana sekilas mengusap perutnya.
Nakula tercengang, semburat merah langsung terlihat jelas di antara dua pipi Nakula. Dia membeku di tempat.
Bahkan ketika semua orang memberi selamat, Nakula masih diam di tempat. Dia malu pada Raka karena telah menuduh selingkuh.
Kemudian, dengan langkah gontai Nakula berjalan mendekati Raka dan Kirana. Wajahnya terus tertunduk tak mampu menatap wajah kakak dan kakak iparnya.
"Kak Raka, aku minta maaf."
Raka menepuk bahu Nakula yang membuat pria itu mendongak.
"Aku memaafkanmu," jawab Raka singkat dan tak berekspresi.
"Benarkah?"
Raka mengangguk. Meski tatapan tajam tak pernah redup dari matanya.
"Kamu beruntung karena hari ini moodku sedang baik karena mendapat kabar Kirana tengah hamil. Kalau tidak, aku pasti sudah membuatmu seperti bubuk gorengan."
Nakula menelan salivanya dengan kasar dan memilih pergi dari pada Raka berubah pikiran. Nakula menghampiri saudara kembarnya, Sadewa.
Namun, saat itu juga Sadewa ditarik oleh Alexa.
"Eh, kamu mau kemana?"
Sadewa mengangkat bahu. "Mama bilang akan mempertemukan aku dengan wanita yang sudah dijodohkan denganku."
Nakula tersenyum lebar. Sambil menatap punggung Sadewa, dia melambaikan tangan. "Semoga beruntung, Bro."
Nakula cekikikan karena dia sudah tahu siapa wanita yang akan dijodohkan dengan Sadewa. Meskipun begitu, kekehan Nakula perlahan berangsur menghilang. Berganti dengan wajah muram.
Entahlah. Seharusnya Nakula bahagia Sadewa dijodohkan dengan Sunny tapi ada sesuatu hal aneh yang bersemayam di hati Nakula.
Di dorong rasa penasaran bagaimana reaksi Sadewa, Nakula berdiri tak jauh dari tempat duduk di mana ada keluarganya berbincang bersama keluarga Sunny.
__ADS_1