Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
52. Aku Kenal Pria Itu


__ADS_3

Meskipun tangannya terasa sangat sakit, Clara masih bisa tersenyum begitu melihat Raya ditampar dan diusir oleh Amanda.


Dia memanfaatkan momen untuk mendapatkan perhatian lebih dari calon ibu mertua.


“Tante, tangan aku sakit sekali. Aku mau adukan ini ke Daddy,” rengek Clara yang sengaja dilebih-lebihkan.


Amanda berpaling ke arah Clara, dan memberikan tatapan penuh perhatian.


“Clara, kamu tenang ya? Nanti Tante akan panggilkan dokter untuk memeriksa tanganmu,” ucap Amanda lemah lembut.


“Aku juga mau Daddy datang ke sini, Tante,” Clara terus saja merengek.


“Iya, iya, nanti Tante telepon Daddy kamu ya? Sekarang kamu tenang. Cup, cup, cup.”


Amanda menepuk pelan kepala Clara. Lalu melempar pandangan tajam pada Raya.


“Kenapa kamu masih di sini? Pergi sana! Kamu mematahkan tangan Clara di saat dia akan bertunangan,” seru Amanda.


“Dengan senang hati aku akan pergi, Tante.”


Raya melempar pandangan tajam pada Clara.


“Dan aku pasti datang ke acara pertunanganmu dengan membawa hadiah yang tak mungkin bisa kamu lupakan seumur hidup,” kata Raya tersenyum penuh makna.


Lalu Raya berputar, berjalan melewati pintu meninggalkan Clara dengan raut wajah yang menampilkan sedikit ketakutan.


Clara waswas dan penasaran akan maksud ucapan Raya barusan. Apa mungkin dia sudah tahu rahasiaku?


Begitu Raya keluar, pintu di seberang apartemen terbuka, dan muncullah Ken menghampiri Raya.


“Apa Nona baik-baik saja?” tanya Ken.


“Aku tidak apa-apa, Ken. Tidak perlu kalian membalas perbuatan mereka. Aku akan pergi ke taman sebentar.”


Namun, baru dua langkah Raya berjalan, seketika dia berhenti, teringat akan percakapan antara Clara dan Amanda tadi.


“Bukankah Daddy nya Clara akan datang kemari? Ah, ini kesempatan supaya aku tahu lebih banyak tentang Clara.”


“Ken, kau menyadap CCTV di apartemen Raka, kan?” tanya Raya dengan senyum yang mengembang.


“Iya, Nona. Kenapa?”


Raya membelokan langkah menuju apartemen para pengawal.


Di dalam sana, Raya duduk di kursi yang menghadap ke beberapa layar komputer. Masing-masing layar memperlihatkan suasana setiap ruangan apartemen milik Raka secara real time.

__ADS_1


Sedangkan Ken mengambil kursi di samping Kirana, ikut melihat layar komputer.


“Kita pantau gerak-gerik Clara dan ayahnya dari sini.”


***


Di lapangan golf yang menghamparkan rumput hijau bak permadani menyelimuti bukit, Balin melipat tangan di depan dada, melihat Raka yang hendak memukul bola.


Dalam satu ayunan, Raka memukul bola dan melambung tinggi hingga mendarat di tanah. Sesaat bola itu menggelinding dan berhenti beberapa meter dari lubang.


Balin tertawa. Dia memuji kepiawaian Raka dalam bermain golf. Sebelumnya dia telah melakukan pukulan. Namun, pukulannya tidak sesuai yang diharapkan. Bola yang dipukul Balin melesat jauh dari tempat seharusnya.


Sementara Raka diam tak menunjukan ekspresi apapun.


“Harus aku akui, kamu lebih jago bermain golf dariku, Raka,” kata Balin.


Sekilas bibir Raka mengulas senyum.


“Anda hanya kurang konsentrasi, Tuan. Sepertinya ada sesuatu yang sedang Anda pikirkan,” sahut Raka sambil menunduk sopan.


Balin mengangguk, membenarkan ucapan Raka.


“Ya, aku sedang memikirkan putriku, Kirana. Firasat orang tua terhadap anak-anaknya biasanya sangat kuat, dan sekarang aku memiliki firasat tidak baik.”


Balin mengisi paru-parunya dengan udara segar, lalu menghembuskannya secara perlahan. Sejenak dia memejamkan mata menikmati hangatnya terpaan matahari.


Raka tetap diam menatap bosnya, dia pun sedang memikirkan Raya di apartemen. Namun, dia berusaha menyembunyikan rasa gundahnya.


“Aku menyembunyikan rahasia besar pada Kirana. Rahasia yang pasti akan membuat Kirana terguncang. Maka dari itu, aku dan istriku memilih menyembunyikannya selama bertahun-tahun,” terang Balin.


Raka fokus mendengarkan, meski tak berkomentar. Ini pertama kali, Balin membicarakan urusan pribadinya pada sang sekretaris.


Lalu Balin melempar pandangan ke Raka. Tatapan Balin sungguh dalam dan penuh keseriusan. Bahkan dalam menyangkut urusan pekerjaan, Balin belum pernah bersikap seperti ini.


“Jika suatu saat aku memintamu untuk menjaga Kirana, apakah kamu bersedia melakukannya untukku, Raka?” tanya Balin tiba-tiba.


Raka sedikit tersentak akan pertanyaan Balin. Dia telah mendengarkan cerita dari Raya tentang Balin yang menolong dan membawa Ray ke rumah sakit.


Raka merasa berhutang budi pada Balin, dan dia ingin membalas kebaikan bosnya itu. Tapi dia belum sepenuhnya mengerti maksud dari kata ‘menjaga’ yang diucapkan Balin.


Bukankah Tuan Balin memiliki banyak pengawal? Pikir Raka dalam hati.


“Maksud Tuan Balin, menjaga bagaimana?”


“Menjaga Kirana selayaknya kamu menjaga keluargamu sendiri,” jawab Balin sambil meneliti raut muka Raka.

__ADS_1


“Akan saya usahakan, Tuan. Akan tetapi saya juga akan tetap berusaha menjaga perasaan Raya.”


Balin mendengus dan terkekeh pelan mendengar perkataan Raka.


Andai kamu tahu siapa sebenarnya gadis yang kamu panggil Raya itu, Raka. Kata Balin yang hanya diucapkan dalam hati.


“Kau sangat mencintai gadis itu?”


Raka mengangguk mantap dan berkata, “Ya, Tuan.”


“Kamu tahu, Raka? Orang terdekat biasanya menyimpan rahasia yang paling tidak terduga.”


***


Kembali pada Ken dan Kirana yang tak jengah memantau situasi.


Pandangan mata Kirana berpindah dari satu layar ke layar lain. Sudah hampir setengah jam mereka memantau, akan tetapi sosok ayahnya Clara tak kunjung datang.


Di layar terlihat jelas, Clara sedang diperiksa oleh seorang dokter laki-laki yang dipanggil oleh Amanda untuk datang ke apartemen.


“Sepertinya Nona benar-benar telah mematahkan tangan Clara,” gumam Ken mengulas seringai begitu melihat dokter membalut lengan Clara dengan gips.


Kirana menarik nafas panjang, menangkupkan telapak tangan ke wajah, lalu mengacak rambut frustasi.


“Ayahnya Clara jadi datang atau tidak sih?” keluh Kirana yang sudah mulai jengah.


“Sabar, Nona. Mungkin sebentar lagi.”


Persis yang dikatakan Ken, tak lama setelah dokter selesai dengan tugasnya, seorang pria memakai setelan jas hitam dan juga kacamata hitam masuk ke apartemen.


Pria itu disambut oleh Amanda yang berada di ruang tamu. Lalu Mereka berdua menemui Clara yang sedang beristirahat di kamar yang biasa ditempati oleh Kirana.


Daniel, Kirana dan Ken serempak mencondongkan tubuh ke depan dan memicingkan mata agar lebih jelas melihat wajah ayahnya Clara.


“Ayahnya Clara terus saja memakai kacamata hitam, aku jadi tidak bisa mengenali wajahnya,” kata Kirana berdecak kesal.


“Mungkin dia sedang sakit mata, Nona,” tebak Daniel.


“Atau mungkin ayah Clara itu seorang tukang pijat tuna netra,” Ken ikut menebak asal-asalan.


Kirana memutar bola matanya. “Ada-ada saja kamu, Ken.”


Mereka kembali fokus menonton adegan Clara yang sedang mengadu pada sang ayah. Terlihat Clara memamerkan tangannya yang telah dibalut gips, lalu merengek kesakitan.


Pada saat itulah ayah Clara melepas kacamata hitamnya. Seketika Kirana tersentak bangkit berdiri, tubuhnya kaku dan pupil matanya melebar.

__ADS_1


“Nona Kirana, ada apa?”


“Pria itu. Aku kenal kenal pria itu.”


__ADS_2