
Adegan 21++. Boleh di skip jika tidak mau baca. 🙏🙏🙏
Selepas kepergian si kembar, Kirana berdecak sambil melangkahkan kaki ke tepi tempat tidur. Sungguh tak menyangka dia memiliki adik-adik super usil.
Kirana bergerak hendak menaiki ranjang, namun, ditahan oleh Raka yang memeluknya dari belakang. Pria itu telah bertelanjang dada tanpa Kirana sadari.
"Sayang, kapan kamu melepas pakaianmu?" tanya Kirana yang terdengar jelas tengah dilanda gugup.
Raka diam tak menjawab. Tangannya begitu cekatan melepas kimono yang dipakai Kirana.
"Kau mau apa?" Raka balik bertanya.
"Mau tidur."
"Bukankah tadi kau ingin menggodaku. Kenapa sekarang malah ingin tidur?"
Raka menyibak rambut Kirana, melabuhkan kecupan di tengkuk, sambil tangannya aktif bergerak menyelinap masuk ke dalam lingerie.
Dari lingerie berbahan tipis itu, Raka menyadari jika Kirana tak memakai apapun untuk menutupi bukit kembarnya, yang menambah mudah pekerjaannya.
"Kau tidak pakai bra?"
"Aku tidak pernah pakai setiap tidur."
Raka menyeringai. "Bagus. Lanjutkan kebiasaan baik itu!"
Kirana menggigit bibir bawahnya manakala Raka memainkan puncak bukit kembar, sekujur tubuhnya berdesir, merasakan sensasi yang baru pertama kali dia rasakan.
Kemudian, Raka menurunkan tali lingerie, membuat benda tipis itu merosot tanpa hambatan, dan jatuh tergeletak di lantai.
Dapat Kirana rasakan sentuhan kulit punggungnya yang menempel di dada Raka. Sebagai istri yang baik, dia juga ingin memuaskan sang suami. Maka dari itu, dia pun memutar badan.
Kirana langsung melingkarkan tangan di leher Raka, sejenak mereka saling bertatapan, dan akhirnya melabuhkan ciuman di bibir dengan begitu rakus. Keduanya beradu ingin saling memuaskan.
Tanpa melepas tautan bibit, perlahan Raka membaringkan tubuh istrinya ke tempat peraduan. Lalu kecupan berpindah turun ke leher Kirana. Di sana, Raka membuat banyak sekali tanda merah.
Lalu kecupan kembali naik ke atas. Tepatnya menuju daun telinga.
"Junior ingin balas dendam," Raka berbisik sekaligus menyeringai.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Kamu pernah menyakiti junior dan membuatku berjalan mengangkang. Maka dari itu, malam ini junior ingin balas dendam."
Deg.
Kirana menelan saliva. Teringat akan saat dia tak sengaja menendang junior Raka di toilet.
"Junior akan membuatmu tak bisa berjalan esok pagi."
Seketika seluruh tubuh Kirana meremang. Namun, tak ada gunanya melarikan diri. Sebab dia telah berada di bawah kungkungan badan kekar Raka.
Maka dia pun melebarkan kakinya. Siap menerima pembalasan dari junior.
"Oke, lakukan saja. Aku juga mau tahu junior mu itu masih berfungsi dengan baik atau tidak," Kirana menantang dan melepas kain segitiga nya.
Merasa tertantang, Raka kembali mendaratkan kecupan di bibir, lidahnya masuk menelusuri rongga mulut, dan beradu dengan lidah milik Kirana.
Sementara tangan Raka membelai bukit kembar dan meremaas benda kenyal itu.
Kirana dapat merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana. Pasti Raka mulai merasa tak nyaman karena celananya sesak. Maka Kirana pun mengambil alih dengan menurunkan boxer yang menjadi kain terakhir yang melekat di tubuh Raka.
Agar tak menjeda aktivitas Raka, Kirana menurunkan boxer menggunakan telapak kaki yang begitu cekatan. Kini tak ada lagi penghalang di antara keduanya.
Setelah merasa cukup melakukan pemanasan, Raka menyatukan milik nya dengan milik Kirana.
Hingga akhirnya Kirana memekik saat merasakan junior berhasil melesak masuk. Awalnya dia memekik kesakitan, namun perlahan berubah menjadi erangan penuh kenikmatan.
"Aku mencintaimu, istriku."
"Aku juga sangat mencintaimu, Raka."
Raka terus mengucapkan kata cinta, sambil perlahan mempercepat ritme permainan. Sama seperti Kirana, dia juga sungguh terbuai oleh kenikmatan surga dunia.
Suara desaahaan dan juga erangan saling bersahut-sahutan. Tubuh keduanya telah basah oleh peluh. Meskipun begitu tak ada yang mau menyudahi aktivitas panas itu.
Hingga tubuh keduanya bergetar, dan dapat Kirana merasakan desiran yang mengalir ke dalam tubuh. Pertanda Raka telah menumpahkan semua benihnya.
Kemudian Kirana dan Raka berbaring saling memeluk. Nafas kedua insan itu sama-sama terengah. Tak lama Raka membalik badan kembali menindihi Kirana.
"Sayang, kamu mau apa?"
"Sudah aku bilang, junior ingin balas dendam. Dia tak mau berhenti sebelum kau benar-benar tidak bisa berjalan."
__ADS_1
"Tapi aku lelah," Kirana berdecak, menggelengkan kepala dengan lemas.
Raka seolah tuli. Tak mendengarkan ucapan Kirana. Dia tetap mengulangi olahraga malam yang membawanya ke nirwana.
***
Pagi hari, Kirana bangun terbungkus oleh selimut tebal. Saat dia hendak duduk di tempat tidur, bagian intinya terasa sangat perih.
Kirana menoleh ke samping, dan tak ada Raka di sana. Dia pun mengedarkan pandangan. Kamar itu sepi bagai tak berpenghuni.
Kirana ingin bangun berjalan ke kamar mandi, tapi seluruh badannya sakit, tak dapat digerakan. Lantas dia memanggil Raka.
Akan tetapi pria yang kini menyandang status sebagai suaminya itu tak memperlihatkan batang hidungnya. Sehingga Kirana menghela nafas panjang dan menghempaskan punggungnya ke headboard.
"Sepertinya Raka bersungguh-sungguh ingin balas dendam atas tendangan maut yang pernah aku berikan, dan juga sering menghilang tanpa sebab."
Tak mau membuang waktu, Kirana memaksakan diri berjalan ke kamar mandi dengan langkah tertatih. Dia mandi, dan berganti pakaian.
Selepas itu, Raka belum juga kembali. Membuat Kirana berdecak kesal.
"Apa mungkin Raka sudah sarapan lebih dulu? Teganya meninggalkan aku," gerutu Kirana.
Karena badan yang masih sakit, Kirana memutuskan untuk lanjut beristirahat. Lebih baik dia memesan agar sarapannya diantar ke kamar.
Namun, tiba-tiba Raka masuk ke dalam kamar. Pria yang memakai baju kasual itu, memandang Kirana sambil tangannya bergerak menutup pintu.
"Dari mana saja? Kamu sengaja meninggalkan aku?" cecar Kirana yang tampak berang.
"Tadi Papa ingin menemuiku sebentar."
"Bohong. Kau pasti sengaja," ketus Kirana melipat tangan dan membuang muka.
"Aku kesulitan berjalan gara-gara junior, lalu ketika aku minta bantuan, kamu tidak ada. Kamu sengaja kan? Ingin membalas perbuatanku yang dulu sering menghilang darimu."
Raka hanya mendengarkan keluhan Kirana dengan ekspresi datar. Kemudian dia duduk di tepi ranjang menghadap ke sang istri.
"Aku tidak sengaja. Memang benar tadi Papa ingin menemuiku."
"Untuk apa?"
"Papa bilang, barang-barang kita sudah disiapkan. Jadi kita bisa langsung berangkat bulan madu setelah sarapan."
__ADS_1
Kirana menghela nafas, masih membuang muka tak mau menatap Raka.
"Jangan marah! Kita kan baru sehari menikah."