
Suara dering telepon membangunkan Balin yang terbaring di atas ranjang dalam keadaan tubuh polos tanpa sehelai kain. Dia mengerjapkan mata, menggeliat di bawah selimut, lalu tangannya meraih ponsel di atas nakas.
Balin langsung mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama si penelpon.
"Tuan, maaf saya menggangu."
"Ada apa Juan?" tanya Balin yang hafal dengan suara Juan si kepala pelayan.
"Nona Kirana, Tuan Nakula, dan Tuan Sadewa pergi dari rumah."
Mata Balin yang tadinya terpejam, membola seketika. Lantas dia bangun terduduk di atas tempat tidur.
"Kemana mereka pergi?"
"Saya telah menghubungi Ken, dan dia bilang Nona Kirana sedang menghadiri pesta pertunangan sekretaris Raka."
"Siapkan mobil! Aku akan menyusul Kirana sekarang juga."
Percakapan singkat antara Balin dan Juan, membuat Alexa yang berada di samping suaminya terbangun.
Matanya setengah terbuka dan pelan-pelan mengangkat kepala. Namun, Balin membaringkan lagi Alexa, mengecup keningnya dan juga menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri yang juga sama polosnya.
"Kenapa dengan Kirana?"
Balin menggeleng.
"Hanya ada sedikit masalah."
Balin memeluk Alexa. Kulit mereka menempel tanpa ada sekat yang menghalangi. Membuat mereka mengulangi pergumulan panas yang singkat dan berakhir dengan terlelapnya Alexa.
Balin bangkit dari tempat tidur. Dia perlu mandi terlebih dahulu sebelum pergi menyusul Kirana.
***
Amanda menarik nafas panjang. Belum dapat dia menerima kenyataan bahwa Hardi memiliki niat jahat pada Balin, dia juga harus dikejutkan oleh fakta yang sangat mengguncangkan hatinya.
Seketika Amanda teringat akan kematian Ray, putra yang sangat dia sayangi. Setelah dia dapat mengikhlaskan kepergian Ray, justru terkuak pelaku yang telah merenggut Ray dari Amanda.
Dan orang itu adalah Clara. Gadis yang Amanda pikir akan menjadi pendamping hidup Raka. Pelupuk mata Amanda telah mengenang, dan menetes tanpa bisa dia tahan lagi.
"Tante, jangan percaya! Bukan aku yang menabrak Ray, Tante. Aku mohon percaya padaku."
Clara terus memelas meminta belas kasih dari Amanda. Namun, wanita paruh baya itu merentangkan kedua telapak tangan. Menolak Clara yang ingin mendekat.
__ADS_1
Saat itu, Hardi berjalan mendekati Kirana, secepat mungkin dia mengeluarkan pistol, lalu menodongkannya ke kepala wanita itu.
Terdengar jerit kepanikan dari semua orang. Mereka menutup mulut takut akan nasib gadis muda yang tengah ditodong pistol tepat di dahinya.
Namun, Kirana sendiri malah menarik ujung bibirnya membentuk senyum sempurna. Melihat Kirana yang tersenyum penuh arti, menjadikan Hardi terheran.
Lantas dia pun menoleh ke belakang. Ternyata disana sudah ada Raka yang juga menodongkan pistol ke arah kepala Hardi.
Tak hanya itu, saat Hardi mengedarkan pandangan, dia mendapati semua anak buahnya telah dicekal oleh beberapa orang yang juga bersenjata.
"Mereka semua polisi yang menyamar menjadi tamu undangan. Kamu pasti terkejut, Hardi. Hampir separuh dari tamu undangan adalah polisi yang siap menyeretmu ke penjara," ungkap Raka yang tidak sedikit pun menurunkan pistolnya.
"Selamat menikmati hadiah kecil dariku, Tuan Hardi dan juga Clara," imbuh Kirana menatap Hardi dan Clara secara bergantian.
Secepat kilat Hardi memutarkan lengannya, berganti mengarahkan pistol ke wajah Raka. Kini dua pria berbeda usia itu saling menodongkan senjata satu sama lain.
Clara yang dalam kondisi ketakutan, bertambah terguncang melihat pemandangan Raka dan ayahnya saling menatap penuh rasa benci. Kakinya terasa lemas, dia sangat butuh obat-obatannya.
Pandangannya mulai kabur, lalu dalam sekejap tubuh Clara ambruk jatuh ke tanah tanpa ada orang yang peduli padanya.
Berbeda dari Clara, Kirana tidak tinggal diam melihat Hardi dan Raka saling menodongkan pistol. Dia pun ikut mengeluarkan revolver berwarna perak dari dalam tas clutch nya, mengokang secepat mungkin dan mengarahkan ke leher Hardi
"Dua lawan satu. Menyerahlah saja, Tuan Russell," kata Kirana dengan tatapan mengintimidasi.
Apa yang membuat pria ini tertawa? Apa yang lucu?
"Caramu menyebut nama keluargamu sendiri sangat menggelikan, Kirana," ungkap Hardi setelah berhenti tertawa.
Hardi dapat melihat raut kebingungan di wajah Kirana. Meskipun gadis itu menutupi dengan sangat anggun. Kemudian dia pun melanjutkan ucapannya.
"Nama Russell seharusnya menjadi nama belakangmu. Bukan Mahendra."
"Aku tidak punya ikatan darah dengan pria sepertimu."
Hardi menurunkan tangannya yang menggenggam pistol, menjatuhkan benda hitam itu ke tanah, lalu menunduk dengan bahu bergetar menahan tawa.
Akan tetapi Kirana dan Raka tetap dalam sikap siaga. Mereka tetap mengarahkan senjata pada Hardi.
"Aku sudah menduga, Balin pasti belum menceritakan siapa ayah kandungmu."
"Kirana!"
Sebuah teriakan memanggil Kirana membuyarkan fokus gadis itu. Dia berpaling pada Balin yang sudah sampai di kediaman Raka.
__ADS_1
Nafas Balin terengah dengan dada yang naik turun. Perlahan tapi pasti dia mengayunkan kaki mendekati Kirana dan Hardi.
Baik Hardi dan Balin sama-sama meneliti wajah satu sama lain. Lalu Hardi membuang muka sembari mendengus keras.
"Panjang umur. Orang yang sedang kita bicarakan ternyata datang juga," kata Hardi menerbitkan seringai.
"Apa maumu? Kenapa kamu mengusik keluargaku?" cecar Balin pada Hardi.
"Harusnya aku yang tanya padamu Balin. Mengapa kamu memisahkan Kirana dengan keluarga ayahnya?"
"Siapa dia sebenarnya, Papa?" teriak Kirana yang membuat Hardi dan Balin berpaling padanya.
Hardi tersenyum menampilkan deretan gigi yang agak menguning akibat kebiasaan merokok.
"Papa?" Hardi mengulang ucapan Kirana. Lalu terkekeh.
"Dia bukan orang yang pantas kamu sebut sebagai Papa. Balin bukan papa kandungmu, Kirana."
Bugh.
Tanpa aba-aba dan tanpa Hardi menduga, Balin menonjok bibir Hardi hingga pria itu tersungkur.
"Sampai kapan pun Kirana tetaplah putriku."
Hardi berdiri sambil sedikit mengeluarkan suara ringis kesakitan. Dia menyeka ujung bibirnya yang kini mengeluarkan darah.
Sedangkan Kirana menurunkan tangannya begitu mendengar perkataan Hardi. Tampak gadis itu membeku dan tak dapat mempercayai indra pendengarannya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Raka. Dia menarik nafas panjang, dugaan akan ayah kandung Kirana yang memiliki hubungan keluarga dengan Hardi tampaknya benar adanya.
Tak jauh dari mereka, Amanda masih belum bisa mencerna semua yang dilihat dan didengar. Begitu banyak rahasia dan kebenaran yang terkuak malam ini, membuatnya sulit menerima keadaan.
"Tangkap dia!" perintah Raka pada polisi yang segera memborgol tangan Hardi selagi pria itu tak memegang senjata.
Hardi diseret oleh dua orang polisi. Namun, dia memberontak, meminta sedikit waktu, dan memutarkan badan menghadap ke arah Kirana.
"Ini akan menjadi pesta kejutan untuk semua orang. Termasuk kau, Kirana."
Kirana diam tak bergeming.
Kemudian Hardi berteriak sambil melototkan mata, "Aku Hardi Russell, adik sekaligus saudara kembar Harsa Russell, ayah kandungmu, Kirana. Dengan kata lain…"
Hardi tersenyum melihat raut wajah Kirana yang berubah sendu.
__ADS_1
"Aku adalah pamanmu, dan Clara adik sepupumu."