Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
30. Gajimu Dipotong


__ADS_3

Clara dan Raya duduk bersebelahan di ruangan CEO. Kedua wanita itu menampilkan ekspresi yang berbeda.


Raya tertunduk lesu, sedangkan Clara tersenyum sumringah. Ini yang Clara nantikan sejak dulu. Detik-detik Raya di pecat dari Irawan Group.


Balin ada di kursi kebesarannya sambil menatap Clara dan Raya bergantian. Dia meminta Clara untuk menjelaskan kembali tentang rumor yang mengatakan bahwa Raya telah mengaku sebagai Kirana.


Tentu saja dengan senang hati Clara menjelaskan ulang dengan ditambah bumbu-bumbu kebencian.


Setelah selesai, Balin menegakkan punggungnya dan berdehem.


“Kalau begitu, saya telah menarik kesimpulan,” ucap Balin.


Clara memekik pelan sambil mengetuk-ketukan jemarinya. Dia senang bukan main, padahal Balin belum mengatakan hukuman apa yang akan diberikan untuk Raya.


“Kesalahanmu ini sangat memalukan citra perusahaan Irawan Group,” lanjut Balin.


“Kamu dengar, Raya. Tuan Balin bilang memalukan,” kata Clara seperti seorang penerjemah bahasa asing.


Padahal Raya sendiri mengerti apa yang diucapkan Balin. Dia menghela nafas panjang dan semakin menunduk.


“Kali ini saya masih bisa memaafkanmu. Namun, tetap kamu akan mendapatkan hukuman.”


Clara terkekeh, “Hukuman telah menanti, Raya.”


“Dan sebagai hukumannya, gajimu bulan ini akan dipotong.”


“Yes,” sorak Clara bahagia sambil mengepalkan tangan. Dia melempar pandangan pada Raya, dan tertawa lepas.


“Kamu dengar, Raya. Gajimu bulan ini akan dipotong.”


Raya diam tak berekspresi. Dia pikir hukuman yang didapat adalah tidak lagi bekerja sebagai office girl.


Nyatanya hanya gajinya saja yang dikurangi. Dia sedikit lega. Potong gaji bukan masalah besar baginya.


Kemudian, Balin berdehem keras yang membuat Clara menoleh padanya.


“Clara, aku sedang berbicara denganmu.”


Seketika tawa Clara berhenti seperti kehabisan baterai. Sedangkan Raya segera mendongak dan mengerutkan dahi.


Wajah Clara pucat pasi saat mendengar ucapan Balin. Dia pun meminta sang bos besar mengulangi lagi perkataannya. Takut dia salah dengar.


Balin pun menjelaskan lagi bahwa sejak tadi dia berbicara dengan Clara bukan Raya. itu artinya yang akan dipotong gajinya adalah Clara.


Sial. Kalau gajiku dipotong, aku tidak bisa pergi clubbing dong.


“Tuan, kenapa gaji saya yang dipotong? Salah saya apa? Jelas-jelas yang salah itu Raya,” protes Clara.


“Kamu tahu kesalahanmu? Kamu telah memfitnah dan memicu perselisihan yang mengganggu kinerja karyawan,” jelas Balin dengan santai.


“Tapi, Tuan Balin yang terhormat, aku tidak memfitnah. Raya telah lancang mengaku-ngaku menjadi Nona Kirana. Bahkan buktinya sudah jelas. Harusnya dia yang dihukum,” seru Clara berapi-api.

__ADS_1


Clara mengeluarkan ponselnya dan menunjukan kembali foto Raya bersama geng bunder yang diunggah oleh Amanda.


Balin melirik foto itu sekilas, lalu menarik nafas panjang.


“Clara, wanita yang ada di foto itu, memang putriku, Kirana.’


Clara terperangah. Dia menoleh pada Raya yang menggigit bibir bawahnya. Sekali lagi, dia tak percaya akan perkataan Balin.


Sementara tubuh Raya menegang. Pasrah jika Balin akan membongkar identitasnya saat itu juga. Dia memejamkan mata siap mendengar pernyataan Balin.


“J-jadi… Nona Kirana itu…” ucap Clara terbata-bata.


Balin mengangguk.


“Kirana itu memiliki wajah yang hampir mirip dengan Raya,” kata Balin melanjutkan ucapan Clara.


Raya yang memejamkan mata, langsung terbuka lebar-lebar. Dia berpaling pada Balin dan mengulas senyum tipis.


Balin pun membalas senyuman itu di saat Clara tidak melihatnya.


Raya kembali bernafas lega. Ternyata Balin tidak membongkar rahasianya, justru mendukung penyamaran sebagai office girl.


“Jadi wanita yang bersama geng bunder itu Nona Kirana, Tuan?” tanya Clara memastikan sekali lagi.


“Iya, itu memang Kirana. Dia tidak sengaja bertemu dengan kumpulan ibu-ibu saat pergi spa. Lalu mereka minta berfoto dengan putriku.”


Raya mengulum senyum menyadari alasan dari Balin cukup meyakinkan Clara agar percaya begitu saja.


“Saya sedang berada di apartemen, Tuan,” jawab Raya berbohong.


“Nah, Clara, kau dengar sendiri kan? Jadi, Raya ini tidak mengaku-ngaku sebagai Kirana seperti yang kamu tuduhkan padanya. Jadi sekarang kamu harus minta maaf pada Raya.”


Cih, mana sudi aku minta maaf pada gadis kampungan ini. Batin Clara melirik sinis pada Raya.


Balin menunggu permintaan maaf Clara yang tak kunjung dilakukan. Sehingga dia pun berdehem.


“Clara, ayo minta maaf.”


“Y-ya maaf, Raya,” kata Clara tidak ikhlas.


Raya hanya mengangguk. Tidak masalah Clara mau minta maaf atau tidak. Dia senang karena Balin mengerti kondisi yang terjadi.


“Sekarang, kamu boleh kembali bekerja, Clara. Sementara untuk Raya tetap di sini. Ada yang perlu saya sampaikan.”


Clara bangkit dari duduk, mendengus keras, dan berjalan meninggalkan ruangan. Dia menjejakan kaki kesal.


Wajah Clara mengisyaratkan senyum licik. Dia tak mungkin berhenti sampai di sini untuk mempermalukan Raya. Bahkan dia bersumpah akan membalas lebih dari apa yang dia terima kali ini.


Sedangkan Balin dan Raya terkekeh selepas pintu ditutup. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Sehingga Raya merasa cukup leluasa..


“Kemarin Papa sampai di rumah. Papa sengaja meminta Nakula dan Sadewa tidak mengabarimu. Mereka sudah mengatakan semuanya tentang kamu yang bekerja sebagai OG,” jelas Balin.

__ADS_1


Raya mengangguk, mendengarkan Balin yang melanjutkan pembicaraan.


“Tapi, sebenarnya Papa kurang setuju kamu seperti ini, Kirana. Papa pikir kamu bekerja sebagai CEO menggantikan Papa untuk sementara waktu.”


“Aku melakukan ini karena aku sedang mencari mata-mata yang bekerja di Irawan Group. Jadi please, Papa jangan bongkar rahasiaku sebelum aku menemukan orang itu!”


Raya mengatupkan kedua tangan memohon pada Balin yang menaikan alisnya.


“Lalu bagaimana progresnya? Kamu sudah mencurigai seseorang? Papa harap secepatnya kamu berhenti bersandiwara. Papa tidak mau kamu diperlakukan seperti tadi.”


Raya berubah gamang. Dia tak ingin mengatakan langsung tentang kecurigaannya pada Raka. Dia mencintai pria itu.


Namun, sejauh pengamatannya selama ini, Raka lah orang yang paling memungkinkan memiliki dendam pada Balin.


“Aku mencurigai seseorang tapi Papa jawab dulu pertanyaanku dengan jujur,” kata Raya menggenggam erat ujung bajunya.


“Pertanyaan apa?”


“Apa Papa pernah menabrak orang hingga dia meninggal?”


“Tidak.”


“Please, Papa, jawab jujur!”


Balin menarik nafas panjang, dan menyandarkan punggungnya.


“Papa memang sering ugal-ugalan dalam mengendarai mobil, tapi sepanjang hidup Papa, tidak pernah Papa menabrak orang, apalagi sampai dia meninggal,” tutur Balin.


Raya berdecak, makin gamang akan kecurigaannya sendiri begitu melihat kejujuran di wajah sang ayah.


“Kalau begitu, kenapa Papa membayar seluruh biaya administrasi rumah sakit atas nama pasien Rayyan Abimanyu?”


Mendengar nama Rayyan Abimanyu, perlahan dahi Balin tampak berkerut, tampak jika dia sedang mengingat-ingat.


Tak lama dia mencondongkan badan, dan membuka mulut hendak berbicara tapi tiba-tiba…


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu menjeda pembicaraan Balin. Dia mempersilahkan masuk pada orang yang di luar sana.


Dan ternyata orang yang mengetuk pintu adalah Raka. Pria itu terlihat sedikit terkejut mendapati Raya ada di ruangan CEO.


Lalu manik mata Raka kembali fokus dan menyampaikan maksudnya menemui Balin.


“Rapat laporan keuangan bulan ini akan segera dimulai, Tuan,” kata Raka memberitahu.


Balin mengangguk, dan kemudian melempar pandangan pada Raya yang mendesah kecewa. Padahal hampir saja Balin menceritakan apa yang telah terjadi antara dia dan Ray.


“Lain kali kita sambung pembicaraannya, Raya. Oh ya, tolong sekalian buatkan kopi untuk saya dan antar ke ruang meeting!”


“Baik, Tuan,” jawab Raya. Dia harus memanggil ayahnya dengan sebutan tuan karena ada Raka di dekatnya.

__ADS_1


Kemudian, Balin melangkah melewati Raka yang sekilas tersenyum dan mengangguk pada Raya sebelum akhirnya dia pun menyusul Balin.


__ADS_2