Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
60. Terungkap


__ADS_3

Sambil memasang jam tangan, Raka berjalan menuju halaman rumah. Sejak tadi dia sengaja berlama-lama berada di dalam kamar.


Kalau bukan karena Kirana yang ingin memberi kejutan untuk Hardi dan juga Clara, Raka tak mau melakukan ini semua.


Di saat Raka berbelok, samar-samar terdengar suara Clara yang berbicara sendiri. 


Di sudut yang temaram tak jauh dari Raka, ada Clara tampak sedang menelepon seseorang sambil menghadap ke tembok.


Perlahan Raka mendekati Clara tanpa sepengetahuan gadis itu. Rasa penasaran, membuat Raka tidak ingin menyela pembicaraan Clara dengan orang yang ditelepon.


“A-aku lihat sendiri arwahnya Ray. Dia pasti ingin menggagalkan acara pertunanganku dengan Raka.”


Raka mengernyit, tak mengerti maksud ucapan Clara. Dia semakin mendekatkan diri hingga dapat mendengar ucapan orang yang di seberang telepon.


“Clara, orang yang mati mana mungkin bisa hidup lagi.”


“Tapi aku lihat dengan mata kepalaku sendiri,” kata Clara bersihkukuh.


“Aku ketakutan dan obatku ketinggalan di rumah. Aku ingin kamu membawakannya untukku secepat mungkin.’


“Aku akan ke sana dalam waktu dua jam.”


“Apa? Dua jam? Yang benar saja. Aku tidak bisa tenang sekarang. Aku dihantui terus wajah Ray saat aku menabraknya.”


Seperti disambar petir, Raka tercengang mendengar perkataan Clara.Tak menyangka orang yang membunuh Ray selama ini selalu ada di dekatnya.


Tangan Raka bergerak memutar bahu Clara, meminta agar gadis itu menghadapnya, dan dalam hitungan detik telapak tangan Raka berayun menampar keras pipi Clara.


Plak.


Clara dapat merasakan pipinya yang sakit bahkan telinganya berdengung dan gusinya mengeluarkan darah di dalam mulut.


Ini pertama kalinya Raka menampar seorang wanita. Menyakiti seorang perempuan tidak ada dalam kamus hidupnya.


Akan tetapi rasa marah membutakan Raka, dia tak dapat mengontrol emosi dan juga tubuhnya. Bahkan sudah tak ada rasa simpati lagi saat melihat Clara mengerang kesakitan.


Raka mencekik leher Clara dengan sangat kuat, hingga Clara terbatuk dan menujulurkan lidah. Tatapan tajam yang mengisyaratkan kemarahan dan kepedihan bersatu di pancaran matanya.


Ponsel yang digenggam Clara jatuh membentur lantai dengan panggilan telepon yang belum dimatikan.


“S-selama ini… jadi kamu yang sudah membunuh adikku,” Raka meraung sampai suaranya menggema ke penjuru ruangan.


“Uhuk..Uhuk.. Ra-ka t-tidak.”


Clara mencoba berbicara meski sangat sulit karena cekikan Raka sangatlah kuat.

__ADS_1


Sejenak Raka menarik nafas, mengendurkan tangannya, yang membuat Clara menjatuhkan diri ke lantai. 


“Kau mencoba membantuku mencari pelaku penabrak Ray. Padahal kau sendiri orangnya.”


“Raka, kau salah dengar. Bukan aku yang menabrak Ray,” elak Clara menangis dan memeluk kedua betis Raka.


“Aku tidak tuli, Clara,” Raka berteriak.


“Kenapa kau lakukan ini pada Ray? Apa salah dia, hah?”


Clara tak langsung menjawab. Dia tak hentinya menangis dan meminta ampunan.


Namun, Raka malah mengayunkan kakinya agar terlepas dari genggaman Clara. Membuat kepala Clara tak sengaja tertendang dan akhirnya tubuh Clara terhempas ke lantai.


Raka menarik kasar tangan Clara.


"Ikut aku! Semua orang harus tahu kebusukanmu, Clara!"


"Raka, tidak. Jangan! Aku bukan pembunuh Ray."


***


Di halaman depan, Amanda menatap tajam pada Kirana. Gadis di depannya ini sudah merusak acara pesta yang seharusnya berjalan sempurna.


"Silahkan saja permalukan aku, dan jangan lupa siapkan topeng untuk menutupi wajah Tante Amanda. Sebab nanti Tante juga yang akan malu sendiri."


Merasa tertantang akan ucapan Kirana, membuat Amanda naik ke panggung, merebut mic yang sedang dipakai oleh seorang penyanyi, dan mendorong kasar penyanyi itu untuk menyingkir.


Sontak perlakuan Amanda menjadi pusat perhatian semua orang termasuk Hardi yang berhenti mengobrol dan mengerutkan wajah.


"Selamat malam, mohon maaf telah mengganggu kalian semua. Saya berdiri di sini ingin memperkenalkan pada kalian semua, Raya si office girl yang bermimpi menjadi Nona Kirana."


Serempak semua orang menoleh ke arah yang ditunjukan Amanda.


Kirana berdiri dengan santai sambil sedikit merapikan poninya. Sedangkan Amanda menampilkan seringai mencemooh.


"Gadis itu telah mempermainkan dan memeras uang anak saya. Tapi bagaimanapun juga Raka akan tetap bersama Clara, dan dia akan melihat kekalahannya sendiri."


Kirana bertepuk tangan sangat anggun, di saat semua orang menatapnya. Dia maju ke depan, meraih mic yang menjadikan Amanda terheran.


"Terima kasih sudah memperkenalkan aku di depan umum, Tante. Sekarang giliran saya yang akan memperkenalkan calon menantu dan juga calon besan Tante Amanda."


Kirana menoleh Hardi dan tersenyum penuh makna. Di tempatnya berdiri, Hardi tampak menegang. Namun, dia berdehem berusaha untuk tenang.


Bola mata Hardi menelisik sosok Clara yang tidak kelihatan batang hidungnya. Lalu pada anak buahnya, Hardi memberi kode menggunakan lirikan mata agar siap siaga.

__ADS_1


Para anak buah Hardi mengangguk, tangan mereka meraba saku jas yang mana di sana terdapat senjata api.


"Apa maksudmu? Kau pikir aku tidak mengenal Hardi dan Clara?" Amanda berkacak pinggang.


Kirana tak mendengarkan ucapan Amanda. Sejak tadi pandangannya tak pernah lepas dari Hardi.


"Ada orang yang yang ingin mencelakai Papa saya, Balin Mahendra. Beberapa bulan yang lalu, Papa saya mengalami kecelakaan mobil, dan orang yang merusak rem mobil Papa bernama Max. Dia suruhan Tuan Hardi."


Amanda mendengus kasar mendengar penjelasan Kirana.


"Jangan menuduh tanpa bukti, Raya!"


Kirana menghiraukan sikap Amanda. Dia pun melanjutkan.


"Percobaan pertama gagal, tapi Tuan Hardi yang berdiri di depanku ini tampaknya memiliki seribu satu cara untuk mencapai tujuannya. Dia memiliki seorang mata-mata yang bekerja di Irawan Group. Maka dari itu lah, aku menyamar sebagai Raya seorang OG untuk menemukan mata-mata tersebut."


Kirana melipat tangan di depan dada.


"Dan mata-mata itu adalah Clara. Dia juga orang yang berencana meracuni Papa."


"Kami pikir kita semua di sini percaya dengan omong kosongmu?"


"Tante ingin bukti?"


Kirana mengambil ponselnya di dalam tas, menunjukan cuplikan CCTV yang merekam percakapan Clara dan Hardi, yang membuat semua orang tercengang.


Terlebih Amanda yang tak menduga sahabat lama dan calon menantunya memiliki niat jahat untuk mengakhiri hidup seseorang.


Sedangkan Hardi terlihat tenang meski dia telah terpojokan. Dia masih bisa tenang karena merasa ada anak buahnya yang siap menembak Kirana kapan saja.


"Dan satu lagi yang kalian harus tahu," tiba-tiba Raka berteriak sambil menyeret lengan Clara.


Kali ini Hardi tersentak saat melihat putrinya diseret secara paksa.


"Daddy, help me!" rengek Clara.


"Raka, ada apa ini? Apa yang kamu lakukan pada Clara?" Hardi bertanya dengan nada berang.


Raka mengacungkan jari telunjuk ke arah wajah Hardi, sembari menampilkan wajah penuh rasa geram.


"Anakmu ini yang sudah membunuh adikku."


"Apalagi ini?" seru Amanda menatap Hardi dan Raka secara bergantian.


"Mom, ternyata Clara yang telah menabrak Ray," Raka berkata dengan suara gemetar. Menahan rasa pedih dan juga marah.

__ADS_1


__ADS_2