Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
44. Membayangkan


__ADS_3

Pagi hari, ketika Raya keluar dari kamar mandi hanya memakai bathrobe dan rambut yang basah, dia mencium aroma masakan yang otomatis membuat perutnya berbunyi.


Dia melangkah menuju dapur. Di sana ada Raka sedang memasak. Pria itu telah memakai baju kerja meskipun belum rapi.


Raka yang berdiri membelakangi Raya, baru memakai kemeja putih gading dengan lengan baju terlipat hingga ke siku dan dasi yang menggantung asal-asalan.


Raka berbalik, ingin menaruh omelet hasil masakannya sendiri ke meja makan, tapi tanpa tak sengaja tatapannya tertuju pada Raya yang baru saja mandi.


Raya tidak begitu benar memakai bathrobe. Dia tidak sadar jika jubah mandi berwarna putih itu sedikit merosot di bagian bahu, sehingga memperlihatkan dasar leher Raya yang putih nan mulus.


Buru-buru Raka membuang muka saat dia tersadar. Dia tahu, satu jengkal saja bathrobe itu merosot ke bawah, maka akan tampaklah pemandangan dua bukit kembar.


Inilah yang sulit bagi Raka. Dia harus bersabar hingga waktunya tiba. Saat dimana dia dapat melahap Raya sesuka hati.


“Kamu masak apa, Sayang? Omelet? Hmm, sepertinya enak,” kata Raya tak melihat ekspresi gundah gundala Raka.


Manik mata Raya sibuk menatap hidangan yang tersaji di meja makan satu per satu.


Raka menghela nafas panjang. Di saat dia tengah melawan hasratnya sendiri, Raya malah memanggilnya dengan sebutan sayang yang terdengar sangat seksi dan menggoda.


Tangan Raka bergerak menahan pergelangan tangan Raya yang hendak meraih makanan. Lantas Raya pun mendongak menatap Raka.


“Pakai bajumu dulu, baru kita sarapan bersama,” perintah Raka.


Raya terkekeh menyadari dia masih menggunakan bathrobe. Lalu dia masuk kembali ke kamar, memakai seragam kerjanya, dan berdandan ala kadarnya.


Setelah itu, dia bergabung bersama Raka untuk sarapan. Selang beberapa waktu mereka makan dalam diam.


Diamnya mereka berlanjut hingga keduanya sama-sama mencuci piring.


“Raka, kamu yakin mau menikah denganku. Masalahnya aku tidak bisa masak. Apalagi masak masakan seenak tadi,” kata Raya sambil meletakan piring bersih, lalu mengelap tangannya yang basah.


“Kamu tenang saja. Setelah menikah, aku yang akan memasak untukmu,” sahut Raka juga melakukan hal sama dengan yang dilakukan Raya.


Raka mengelap tangan lalu merapikan dasinya.


“Sini biar aku bantu.”

__ADS_1


Tangan mereka berdua saling menumpu kala Raya ingin membantu merapihkan dasi yang melingkar di kerah kemeja Raka.


Raka membiarkan Raya membantu mengikat dasinya. Bahkan tangan Raka melingkar di pinggang Raya, dan menarik gadis itu agar semakin dekat dengannya.


Bibir Raya melengkungkan sebuah senyuman, kemudian berkata, “Kita seperti sepasang suami istri sungguhan.”


“Ya, seperti suami istri sungguhan,” kata Raka mengangguk setuju. “Hanya kurang satu.”


Dahi Raya berubah mengkerut, menatap Raka heran.


“Apa?” tanya Raya.


Namun, belum sempat Raka menjawab, Raya langsung tahu isi kepala kekasihnya.


“Jangan bilang kamu sedang membayangkan adegan yang satu itu?”


“Aku memang sedang membayangkan adegan itu,” jawab Raka santai.


Raya terkesiap. Tak menyangka kini Raka sudah mulai berani berbuat mesum. Raya pun memberengut, melepaskan diri dari pelukan Raka.


Sementara Raka terheran akan sikap Raya. Yang dimaksud ‘membayangkan adegan itu’ bagi Raka adalah adegan di saat mereka berdua terikat oleh janji suci.


Itulah yang dibayangkan Raka.


Berbeda dengan Raya yang salah paham. Dia mengira Raka tengah membayangkan adegan bercocok tanam.


Tangan Raka terulur untuk meraih tubuh Raya kembali ke dalam dekapan.


“Sayang, bagaimana kalau kita gladi bersih dulu adegan yang satu itu?” tanya Raka yang berhasil membuat otak Raya semakin travelling.


“Tidak!” jawab Raya tegas sambil memberontak melepaskan diri.


“Kenapa? Sebentar saja. Kita coba praktekan dulu. Sehingga saatnya tiba, kita tidak gugup.”


Raya semakin salah paham setelah mendengar permintaan Raka. Mengira saat ini Raka sedang mengajaknya bercinta.


“Jangan, Raka! Aku tidak mau!”

__ADS_1


“Sebentar saja, Raya. Jika kamu tidak mau melakukan sambil berdiri, kita lakukan sambil duduk,” ucap Raka sambil menghempaskan Raya ke kursi.


Raya gelisah bukan main. Tangannya bergerak untuk lepas dari cengkraman Raka. Terpikir di benak Raya untuk melancarkan serangan tendangan mautnya.


Namun, Raya berpikir ulang. Jika Raya menendang junior Raka, sama saja dia menghancurkan masa depannya juga.


Raka bersimpung dengan kedua tangan tetap menahan lengan Raya agar tak banyak bergerak. Dia mendongak menatap Raya, tersenyum penuh arti dan tangan Raka bergerak ke bawah.


Raka ingin melonggarkan sedikit ikat pinggangnya yang tadi dia pasang terlalu ketat. Sehingga tidak nyaman saat dipakai berjongkok seperti saat ini.


Akan tetapi, Raya menelan ludah, mengira Raka akan membuka celananya. Dia melirik jam dinding yang menggantung tak jauh dari mereka.


“Raka, kita bisa terlambat bekerja,” kata Raya berusaha mengalihkan atensi Raka.


“Benar juga. Kalau begitu kita bermain cepat.”


Tubuh Raya semakin menegang. Pasti kini pipinya sudah seperti kepiting rebus. Tidak punya pilihan lain, Raya harus segera menyadarkan Raka.


Plak.


Tangan Raya menampar pipi kiri Raka yang langsung menimbulkan rona merah. Sorot mata Raka terheran menatap Raya dengan dada naik turun.


Gadis itu terengah, raut wajahnya menampilkan rasa bersalah juga rasa marah.


“Aku tidak mau, Raka! Tolong, jangan paksa aku!” bentak Raya.


Raka mengangguk pelan, menundukan pandangan merasa bersalah telah memaksa Raya. lalu menarik nafas panjang.


“Sudahlah, kalau kamu tidak mau. Padahal aku telah menyusun kata-kata janji suci di acara pernikahan kita nanti,” ungkap Raka.


“Hah? Apa? kata-kata?” Raya terperangah.


Melihat Raya yang tampak terkejut dan salah tingkah, membuat Raka mendongak, meneliti raut wajah Raya, lalu alisnya mengerut.


“Aku sedang membayangkan saat kita ada di atas pelaminan nanti. Kamu pikir, aku sedang membayangkan apa?” tanya Raka yang berhasil menjadikan Raya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Lantas Raya terkekeh untuk menutupi rasa canggungnya.

__ADS_1


“Aku kira kamu sedang membayangkan adegan berkembang biak. He he he,” jawab Raya menahan malu.


__ADS_2