Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
73. Lapar


__ADS_3

Jangan tiru adegan Kirana dan Raka! Hanya boleh dilakukan oleh profesional (menikah). 🙏


Hampir seperempat hari Kirana habiskan tidur di dalam mobil. Rasa kantuk tak tertahankan lagi. Sebab semalam dia hanya tidur beberapa jam saja.


Dia menggeliatkan badan di kursi depan, saat cahaya matahari menembus kaca jendela mobil dan tertuju langsung pada kelopak mata Kirana. Mengusik tidur nyenyak gadis itu.


Perlahan Kirana membuka mata, mengerjap beberapa kali, lalu menegakkan punggungnya. Dia melihat di luar jendela sana hamparan air laut biru, dengan ombak yang berkejaran seolah sedang berlomba menuju garis pantai.


Kirana terpesona akan keindahan pantai di sana. Ingin rasanya dia turun dari mobil dan merasakan kakinya menapak di pasir putih.


"Raka, bisa kita turun sebentar?" tanya Kirana pada Raka yang sedang menyetir mobil.


"Main ke pantainya besok saja ya? Hari ini kita istirahat dulu."


Kirana menghela nafas mendengar jawaban sang suami. Namun begitu, dia tak mau membantah. 


Kemudian, mobil berhenti di sebuah bangunan besar bercat putih. Mereka berdua turun dari mobil.


Kirana dibuat takjub akan desain dari bangunan di depannya. Sedangkan Raka memilih mengambil koper di bagasi mobil.


"Ini villa milik keluargaku. Dulu kami sering kemari setiap libur akhir tahun," jelas Raka sambil menuntun Kirana masuk ke dalam.


Kirana sadar, tak ada satu pelayan atau penjaga yang menyambut mereka. Bahkan Raka harus membawa sendiri koper-koper mereka ke dalam kamar.


"Apa tidak ada penjaga atau pelayan di sini?"


"Biasanya ada. Tapi aku menyuruh mereka libur selama kita ada di sini."


"Kenapa?"


"Tentu saja agar tidak mengganggu kita membuat Raka junior."


Kirana hanya memutar kedua bola mata, berbalik badan, dan berjalan mendekati jendela kamar yang mengarah langsung ke pantai. Dari jendela itu, Kirana dapat merasakan hembusan angin menerpa wajah dan juga rambutnya.


"Sepertinya kita tidak perlu ke pantai. Lagipula dari kamar ini, kita bisa melihat langsung pemandangan sunset yang indah," tutur Raka memeluk Kirana.


Raka bersimpuh di depan Kirana, lalu memasukan kepala ke dalam baju sang istri.


Kirana hanya bisa menahan geli, sebab di dalam bajunya, Raka mendaratkan kecupan di perut dan bergerak perlahan ke atas menuju bagian dada. 


Lumayan lama Raka bermain dengan gundukan bulat kenyal itu. 


Tiba-tiba…


Kruuyyuuuk.


Serempak Kirana dan Raka tertawa, begitu mendengar suara perut Kirana yang minta diisi. Kepala Raka keluar dari balik baju, mendongak, serta mengulum senyum pada Kirana.


"Kamu lapar?"


Kirana mengangguk.


"Kalau begitu, aku akan siapkan makan untukmu."

__ADS_1


Ketika Raka membuka kulkas, tak banyak bahan makanan di sana. Dia lupa tidak menyuruh pelayan untuk mempersiapkan stok bahan makanan sebelumnya.


Jadi Raka memasak dengan bahan seadanya. Dia mengambil telur, sosis, kentang, wortel dan juga daun bawang. Meletakkan semua bahan tadi di meja dapur.


Pertama, dia akan memasak telur dadar dengan wortel dan irisan daun bawang.


Di saat, Raka berjibaku dengan bahan masakan, sejenak Kirana memperhatikan, lalu mendekat ingin mencoba memasak.


"Aku mau coba masak. Aku harus belajar, supaya aku bisa memasak makanan kesukaanmu."


Raka mengangguk, menggeser badannya untuk mempersilahkan Kirana memasak. Dia berdiri tepat di belakang wanita yang telah menjadi istrinya itu.


Dari belakang, Raka dapat mencium wangi rambut Kirana. Dia menarik nafas dalam dan melingkarkan tangan di pinggang sang istri.


Seketika itu hasrat untuk mengulang kejadian semalam menguasai diri Raka.


Tangan Raka menyelinap ke depan membuka kancing kemeja Kirana satu persatu. Meski Kirana berusaha menahan tangannya, Raka melancarkan serangan lain dengan cara mengecup tengkuk dan meluncur ke bahu.


"Junior ingin melancarkan balas dendam kedua."


Kirana menghela nafas. "Seingat aku, junior hanya aku tendang satu kali."


"Junior itu sedikit pendendam. Jadi harap dimaklumi."


Raka membuang kemeja milik Kirana.


"Raka, masa kita akan melakukan di dapur?" tanya Kirana disaat dirinya sedang melawan gairah yang muncul.


"Sayang, siapa tahu jika kita melakukannya di dapur, anak kita akan menjadi seorang chef profesional."


Mereka mundur beberapa langkah, saling melucuti pakaian satu sama lain, untung tak ada pelayan yang bekerja sehingga mereka tak malu dalam keadaan tubuh polos.


Raka mengangkat satu kaki Kirana, perlahan menuntun junior melakukan aksi balas dendamnya. Sementara Kirana mengalungkan tangan di leher Raka, untuk menjaga keseimbangan tubuh.


Lidah mereka saling beradu dengan bagian tubuh bawah mempercepat irama permainan. Suara erangaan keluar dari mulut mereka tanpa bisa dihentikan.


"Sebentar lagi, Sayang," bisik Raka yang merasakan tanda-tanda junior akan muntah.


Dan di hentakan paling dalam, Raka kembali meledakan benih-benihnya ke dalam rahim Kirana. Mereka saling berpelukan setelah Raka menurunkan kembali kaki Kirana.


Lalu Kirana mendengus. Indra penciumannya menangkap bau yang menyengat.


"Sayang, apa kamu mencium sesuatu?"


Raka ikut mendengus-dengus, matanya membola seketika, lalu melempar pandangan ke arah kompor.


"Sial. Telurnya gosong."


***


"Setelah ini, kita belanja bahan makanan untuk persediaan selama kita berada di sini," ujar Raka saat hendak menyuap makanan.


Mereka memutuskan untuk makan di restoran yang jaraknya tak jauh dari villa.

__ADS_1


Kirana yang telah menghabiskan makanannya, menyeka mulut menggunakan tisu, lalu dia meminta izin ke toilet sebentar.


Selagi Raka melanjutkan makan, di sisi lain restoran, seorang pria dan wanita muda masuk dan duduk tepat di belakang Raka.


Pria dan wanita itu memakai masker yang menutupi mulut mereka agar tak dikenali oleh orang.


Pandangan si pria menelisik setiap sudut, kemudian berbisik pada si wanita.


"Clara, kita pesan take away saja. Bahaya jika kita makan di tempat ramai seperti ini."


Clara mengangguk menyetujui.


"Kau tunggu di sini. Aku akan ke bagian kasir untuk memesan makanan."


Sekali lagi, Clara hanya mengangguk menuruti perintah dari Kevin. Pria itu berjalan pergi, meninggalkan Clara yang mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.


Dan alangkah terkejutnya Clara saat bola mata hitam itu menangkap Raka berada tak jauh darinya. Lantas dia bangkit berdiri.


Rasa rindu menjadikan Clara ingin menyentuh pria tampan yang baru saja menyudahi makannya. Perlahan tapi pasti, Clara melangkah mendekat.


Senyum semakin mengembang seiring menipisnya jarak di antara mereka. Namun, tiba-tiba Clara membeku dan senyum di bibirnya pudar seketika saat melihat Kirana yang lebih dulu duduk di samping Raka.


"Sayang, boleh ya kita ke pantai hari ini," Kirana memelas sambil menarik lengan baju suaminya.


"Tidak. Kalau aku bilang besok, berarti besok."


"Tapi kan…"


"Tidak ada tapi tapi. Kau perlu istirahat dulu, Sayang."


Kirana memberengut serta melipat kedua tangan, "Bilang saja kalau sebenarnya junior ingin balas dendam lagi."


"Nah itu tahu," Raka mencubit hidung Kirana. "Good girl."


Hati Clara memanas melihat tingkah manja Kirana. Tangannya mengepal kuat ingin menjambak rambut wanita yang berani menyandarkan kepala di pundak Raka.


Namun, baru satu langkah dia maju mendekat, mendadak Kevin datang menghalangi niat Clara.


"Kevin, minggir!"


"Apa yang akan kau lakukan? Jangan bertindak bodoh, Clara!"


"Aku ingin melabrak wanita j*l*ng yang sudah merebut Raka dariku," desis Clara penuh amarah.


"Jangan bodoh! Jika kamu muncul di hadapan mereka, itu sama saja kau menyerahkan diri ke polisi."


Kevin segera menarik lengan Clara untuk menjauh ketika Kirana dan Raka beranjak dari tempat duduk mereka. Kevin juga membekap mulut Clara, agar wanita itu tidak melakukan hal bodoh.


Kevin membawa Clara ke sudut, berusaha bersembunyi, begitu melihat Kirana yang tiba-tiba menghentikan langkah dan menoleh ke arah mereka.


"Ada apa, Sayang?" Raka bertanya.


"Tadi aku seperti melihat Clara."

__ADS_1


Raka menghela nafas, dia tangkup kedua pipi Kirana, meminta sang istri untuk menatapnya.


"Mana mungkin Clara ada di sini. Dia ada di penjara."


__ADS_2