Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
83 Bonchap


__ADS_3

Tiga bulan berlalu setelah pesta ulang tahun Kirana. Kini saatnya bagi Sadewa dan Sunny memutuskan akan kelanjutan perjodohan mereka.


Dan di sinilah mereka berada. Duduk berhadapan di sebuah cafe pada siang menjelang sore.


Sunny menyesap kopi lalu menatap intens Sadewa yang juga sedang menatap tajam dirinya.


"Aku sudah memutuskan," kata Sunny dan Sadewa bersamaan.


Mereka menghirup nafas panjang.


"Baiklah kamu dulu," ucap mereka bersamaan lagi.


Sadewa berdecak. Dia memilih Sunny untuk bicara lebih dulu.


"Aku sudah memutuskan untuk menerima perjodohan itu tapi kamu jangan kepedean dulu."


Sunny menegakkan punggungnya. Secara tiba-tiba tubuh Sunny terasa gugup.


Tidak mungkin Sunny mengatakan sejujurnya jika dia telah lama memendam rasa pada Sadewa. Dia gengsi dan tak mau mengatakannya lebih dulu.


Sehingga dia pun mengernyitkan dahi berusaha mencari alasan kenapa dia mau meneriam perjodohan itu.


"A-asal kamu tahu saja aku menerima perodohan itu karena aku tidak mau menggecewakan Papa Frans. Bukan karena aku mencintaimu," ķata Sunny berbohing.


Sadewa yang mendengar hal itu hanya ber oh pelan dengan ekspresi datar.


"Jadi kamu menerima perjodohan ini karena terpaksa?" Sadewa bertanya memastikan.


"Setengah. Setengah terpaksa," sahut Sunny mengoreksi.


Sadewa menganggukan kepala dan berdeham untuk menetralkan pikirannya. Lalu ditatapnya kembali wajah Sunny yang kini semakin dilanda gugup.


"Sayang sekali, padahal aku ingin mengatakan jika aku akan meneriam perjodohan ini murni karena aku mencintaimu," jelas Sadewa menatap dalam pada Sunny.


Sunny menganggukan kepala, masih belum mampu mencerna ucapan Sadewa. Baru beberapa detik kemudian, dia terperanjat dan membelalakan mata.


Perasaan Sunny campur aduk antata terkejut dan malu, tapi yang paling mendominasi adalah perasaan bahagia. Dia tak menyangka jika selama ini Sadewa pun memiliki rasa yang sama dengan yang dia rasakan.


Sadewa menundukan kepala terlihat kecewa. Kemudian dia bangkit dari duduk dan mulai melangkah meninggalkan Sunny.


"Dewa, tunggu! Kamu marah?" tanya Sunny yang ikut mengejar Sadewa dan kini mereka berjalan beriringan.


"Aku tidak marah."


"Lalu kenapa kamu pergi?"


Mendadak Sadewa menghentikan langkah kaki dan memutar badan menghadap Sunny.

__ADS_1


"Kenapa aku pergi?" ulang Sadewa. "Tentu saja untuk mengurus pesta pernikahan kita, apalagi."


Semburat rona merah terlihat jelas di pipi Sunny. Dia mengembangkan senyum merekah di bibir.


Sementara Sadewa melanjutkan ayunan kakinya menuju mobil. Dia membuka pintu mobil dan hendak masuk tapi kembali dia menoleh ke arah Sunny.


"Kamu mau diam di sana terus seharian atau ikut aku memilih cincin?" ucap Sadewa ketus.


"Ish, tidak ada romantis-romantisnya sekali kamu itu," Sunny mendengus kesal. Namun begitu dia tetap melangkah masuk ke dalam mobil Sadewa.


"Sadewa, aku tarik ucapanku. Sebenarnya aku pun mencintaimu sejak kita masih remaja," ungkap Sunny ketika Sadewa mulai melajukan mobil.


Melalui ekor matanya, Sunny melirik Sadewa yang sedang mengerahkan seluruh perhatiannya pada jalanan.


Tampaknya Sadewa tidak mendengar ungkapan perasaan Sunny, sehingga wanita itu ingin mengulang perkataannya. Tapi sebelum Sunny berbicara, Sadewa lebih dulu berkata.


"Padahal aku berbohong tentang aku yang mencintaimu."


Sunny tertegun. Mendadak ekspresi wajahnya berubah marah dan segera dia membuang muka memandang ke luar jendela dengan kedua tangan yang terlipat.


"Aku juga. Sebenarnya tadi aku hanya berbohong," kata Sunny memanyunkan bibir.


Tanpa Sunny sadari, Sadewa kini tengah melirik ke arahnya sambil melengkungkan senyuman. Sudah menjadi kebiasaanya sejak dulu membuat Sunny cemberut.


*


*


*


Sementara itu, tak jauh dari mereka, Nakula berdiri memandangi saudara kembarnya yang telah menemukan pasangan hidup dengan perasaan bahagia.


Namun, sebagian hati Nakula juga bersedih.


Lalu tak lama, Kirana mendekat. Dia melihat ekspresi wajah Nakula dan menepuk bahu sang adik.


"Kamu kenapa?"


Nakula melirik pada Kirana lalu kembali menatap Sadewa dan Sunny.


"Kak, selama ini aku menganggap Sadewa bodoh karena tidak bisa menyadari perasaannya terhadap Sunny. Tapi aku baru sadar kalau aku lebih bodoh dari Sadewa," tutur Nakula yang membuat kening Kirana mengerut.


Kirana maju satu langkah, dan dengan mata menyipit penuh selidik, dia bertanya, "Apa maksudmu?"


Nakula menatap Kirana dengan mata berkaca-kaca. "Aku baru sadar kalau aku pun menaruh rasa pada Sunny."


Nakula terisak dan satu bulir air mata menetes dari sudut matanya.

__ADS_1


Kirana yang mendengar hal itu, sedikit terkejut tapi dia memilih untuk menepuk bahu Nakula agar perasaan adiknya itu sedikit tenang.


"Sudah. Jangan menangis! Lagi pula masih banyak ikan di lautan. Eh maksud Kakak masih banyak wanita di dunia," kata Kirana sambil mengusap bahu Nakula untuk memberi semangat.


"Aku menagis bukan karena itu, Kak," rengak Nakula.


"Lalu?"


"Aku menangis karena Kakak menginjak kakiku."


Serempak Nakula dan Kirana menunduk ke bawah melihat satu kaki Kirana menginjak sepatu fantofel Nakula.


Segera Kirana mundur beberapa langkah sambil mengucapkan kata maaf pada Nakula.


"Sejak Kak Kirana pertama kali bertemu Kak Raka, kaki aku jadi sering sekali diinjak," gerutu Nakula yang kini tidak lagi menangis.


Bahkan Nakula kembali ke wajah jenakanya. Kemudian, manik mata Nakula menangkap sosok wanita yang berdiri di antara kerumunan tamu undangan.


Nakula mengenali sosok wanita itu dan buru-buru dia bersembunyi di balik tubuh Kirana yang sekarang sudah mulai membesar.


"Nakula, apa yang kamu lakukan?" tanya Kirana menoleh ke belakang. Dimana Nakula membungkuk seolah sedang bersembunyi layaknya anak kecil bermain petak umpet.


Nakula menekan jari telunjuknya ke mulut. Memberi tanda agar Kirana jangan banyak bicara dengan sorot mata terus mengawasi wanita yang dikenalinya.


"Aku sedang bersembunyi dari wanita gila, Kak? Ish, kenapa wanita itu bisa ada di pesta pernikahan Sadewa coba?"


"Wanita gila? Wanita gila siapa?"


Nakula tak menjawab. Dia mengamati sosok wanita yang sedang dia intai juga sedang menoleh ke kanan dan kiri terlihat jelas sedang mencari seseorang.


Hingga karena tidak fokus pada apa yang ada di depannya, wanita itu menabrak salah satu tiang ballroom. Sontak Nakula yang melihatnya hanya bisa menutup mulut menahan tawa.


"Sayang, kenapa kamu di sini?" Raka tiba-tiba datang. "Kamu jangan berdiri terlalu lama. Ayo kita cari tempat duduk yang nyaman."


Raka menarik Kirana untuk pergi meninggalkan Nakula yang panik sebab wanita yang sedang dipantau oleh Nakula kini berjalan mendekatinya.


"Sial."


"Hai, kamu Nakula kan?" tanya wanita itu.


Dengan perasaan gugup, Nakula berusaha berpura-pura tidak mendengar dan berjalan menjauh. Tapi tangan Nakula segera disambar oleh wanita itu.


"Kamu mau kemana? Kamu tidak bisa pergi begitu saja setelah apa yang kamu..."


Kata-kata wanita itu terbenam karena Nakula membekap mulutnya.


"Jangan bicara di sini! Ayo, kita keluar!" kara Nakula sambil menoleh kanan kiri. Memastikan Balin tidak melihat dia bersama wanita itu.

__ADS_1


Kemudian menarik lengan wanita itu keluar tempat pesta pernikahan.


__ADS_2