
Enam wanita mengitari meja di sebuah restoran mewah. Hidangan lezat tersaji di depan mereka yang saling tertawa menceritakan lelucon dan gosip artis terkini.
Kumpulan enam wanita sosialita itu mereka namai sendiri sebagai geng bunder, singkatan dari bunda-bunda miliyarder.
Dan satu di antara mereka, duduklah Amanda yang dapat bergabung lagi setelah sekian lama absen dari perkumpulan geng sosialitanya.
“Aku senang banget lho, akhirnya Jeng Amanda bisa ketawa dan kumpul lagi sama geng bunder,” ungkap wanita salah satu anggota yang duduk di sebelah Amanda.
Pernyataan itu dibenarkan oleh anggota yang lain. Sejak Ray meninggal, geng bunder merasa kehilangan satu orang anggota yang jarang sekali hadir, yaitu, Amanda.
“Semenjak Raka membawa teman wanitanya ke rumah, aku merasa ada pengganti Ray. Karakter wanita itu mirip sekali dengan Ray,” jelas Amanda sambil membayangkan Raya.
Mendengar hal itu, ibu-ibu anggota geng bunder saling lirik dan sikut-menyikut.
“Wanita siapa, Jeng Amanda? Bukannya Raka sudah dijodohkan dengan Clara? Awas nanti Raka kepincut sama yang lain.”
Amanda hanya mengangkat bahu, “Aku tidak masalah jika Raka menolak dengan Clara. Asal dia dapat memilih calon istri dari keluarga yang terpandang.”
“Terus wanita itu siapa?”
Amanda mencondongkan badan, bibirnya mengulum senyum, membuat semua anggota geng bunder semakin penasaran.
“Dia putri dari Tuan Balin Mahendra. CEO di tempat Raka bekerja.”
Serempak geng bunder menjerit histeris. Mereka tak percaya akan apa yang baru saja dikatakan oleh Amanda.
Pasalnya tak banyak orang yang bisa berkesempatan bertemu langsung dengan putri dari CEO Irawan Group yang digadang-gadang sangat cantik dan jago bela diri.
“Jeng Amanda, kenalkan dia dengan geng bunder juga dong,” pinta salah anggota.
“Iya, Jeng. Kita ajak dia ke perkumpulan selanjutnya. Bagaimana? Setuju?”
Semua geng bunder mengangguk setuju penuh antusias. Kemudian, Amanda memisahkan diri sejenak untuk dapat menelepon Raka.
Melalui sambungan telepon, Amanda meminta agar Raya ikut dalam perkumpulan bersama geng bunder.
Sontak permintaan dari Amanda membuat Raka frustrasi. Dia cemas jika teman-teman ibunya akan dapat mengetahui jika Raya bukanlah Kirana, dan menilai rendah Raya.
Terlebih Madam Marleen, ketua geng bunder yang kepo serta suka membanding-bandingkan orang dari harta yang dimilikinya.
“Minggu depan Mommy dan geng bunder akan spa bareng. Sebisa mungkin kamu bujuk Raya untuk ikut. Oke, Raka?”
“Tapi Mom, aku dan Raya sedang ada masalah. Dia menghindar terus dariku, Mom,” tutur Raka.
“Aduh, Raka. Ya kamu cari cara supaya kamu dan Raya bisa baikan lagi. Apapun itu caranya. Mommy mau Raya ikut sama geng bunder. Titik.”
Tut.
Telepon dimatikan sepihak oleh Amanda. Sedangkan Raka mengacak rambutnya gusar. Namun, raut wajah Raka berubah saat menyadari satu hal.
__ADS_1
“Mommy ingin memperkenalkan Raya dengan teman-teman Mommy. Itu artinya Mommy mulai menyukai Raya, kan?” gumam Raka pada dirinya sendiri.
“Ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Kesempatan agar Mommy merestui hubunganku dengan Raya, lalu membatalkan perjodohan dengan Clara.”
***
Seperti biasa, Raya pulang paling akhir dibanding semua rekan kerjanya. Itu karena hampir semua pekerjaan OB dilimpahkan ke Raya.
Wanita itu berjalan keluar gedung Irawan Group dengan langkah gontai, lalu tiba-tiba ada sebuah tangan yang menahan lengannya.
Secara refleks, Raya memutar badan untuk meninju orang itu.
Untung saja Raka dapat menghindar dari kepalan tangan Raya yang nyaris mengenai wajahnya.
Secepat kilat Raya yang masih marah pada Raka melancarkan serangan kedua. Namun, dikarenakan kondisi tubuh yang lelah membuat dia kurang fokus.
Ditambah Raka juga pandai dalam hal bela diri, dapat dengan mudah menangkis serangan, dan mengunci pergerakan Raya.
Kini Raka dalam posisi memeluk Raya dari arah belakang. Dia mengeratkan pelukan saat Raya mencoba memberontak.
“Rupanya kamu jago bela diri. Siapa yang mengajarimu?” bisik Raka di depan telinga Raya.
“Tidak usah kepo dan lepaskan aku! Aku mau pulang,” jawab Raya ketus.
“Kamu mau pulang ke mana? Tempat tinggalmu sekarang di apartemenku.”
Raya yang menampilkan wajah geram, mencengkeram lengan Raka, lalu mendorong kuat dada bidang Raka agar menjauh.
“Aku bisa membuatmu babak belur dan dilarikan ke rumah sakit jika kamu memaksaku lagi,” ancam Raya.
“Coba lakukan!” tantang Raka.
Dia menyerahkan diri untuk dihajar. Akan tetapi Raya malah menjadi gamang. Apalagi saat kedua manik mata Raka menatapnya.
“Kamu ingin memukul? Ayo lakukan!”
Raka menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Raya yang diam tak bergeming. Dia meraih tangan mulus Raya dan meletakan di dada.
“Pukul di sini! Agar aku juga merasakan sakit seperti yang kamu rasakan.”
Tatapan Raya berubah nanar. Tangan yang terletak di dada Raka tak kunjung memukul, malah perlahan naik ke tengkuk.
Dan Raya menarik tubuh atletis itu, lalu mencium Raka dengan sangat rakus.
Raka terkesiap akan tindakan Raya. Terlebih saat Raya menurunkan jas dan membuka kancing kemejanya tanpa melepaskan ciuman.
“Sayang, stop!” perintah Raka sambil menahan tangan Raya yang ingin membuka ikat pinggangnya.
Raka mengerutkan alis mengamati wajah Raya yang masih tersimpan amarah.
__ADS_1
“Kamu tidak mau?” tanya Raya.
“Aku mau, tapi tidak sekarang. Tunggu sampai kita menikah!” jawab Raka dengan tegas.
“Kenapa? Bukankah kamu sudah sering melakukan itu dengan Clara?”
Perlahan kerutan di dahi Raka memudar begitu Raya menyebutkan nama Clara. Dia tertawa pelan, tahu apa yang menjadikan Raya menjauhinya.
Bukan untuk pertama kali Clara mengarang cerita dan mengaku sering tidur dengan Raka.
Tanpa rasa malu, sejak dulu Clara sering membual tentang dirinya dan Raka telah melakukan suami istri pada setiap wanita yang ingin mendekati Raka.
“Kamu percaya dengan cerita karangan Clara?” tanya Raka yang seketika membuat pipi Raya bersemu merah.
Raka memakai kemeja. Lalu melirik pada Raya yang kini tengah membuang muka menatap ke luar jendela mobil.
“Jangan ge-er! Aku hanya sedang mengujimu,” kata Raya melipat tangan di depan dada.
Raka terkekeh.
“Dan aku lulus ujian kan? Asal kamu tahu, aku belum pernah tidur dengan wanita manapun.”
Raya diam tak bergeming, masih membuang muka tak mau menatap Raka yang kini melingkarkan lengan di pinggang sang kekasih.
“Aku minta maaf. Aku sudah berbohong. Kemarin aku memang pergi dengan Clara,” ungkap Raka dengan penuh keseriusan.
Raya menarik nafas panjang, kala menyadari dia juga telah berbohong banyak pada Raka. Dia merasa bersalah.
Raka hanya satu kali membohonginya, sedangkan Raya telah berkali-kali berbohong. Bahkan pria itu belum tahu identitas asli dari wanita yang dipacarinya.
Segera Raya melempar pandangan menatap Raka. Tangannya menyentuh pipi kekasihnya dengan kelembutan.
“Raka, aku minta maaf,” ucap Raya tanpa sadar mengalirkan satu bulir bening dari ujung mata.
“No. Aku yang salah. Aku yang harusnya minta maaf.”
Ibu jari Raka menyeka jejak air mata di pipi Raya, melengkungkan senyum, lalu sepasang kekasih itu saling berpelukan.
“Kamu harus tahu, Sayang, kemarin Clara hanya mempertemukan aku dengan orang yang mengaku melihat kejadian saat Ray mengalami kecelakaan. Hanya itu saja. Setelahnya tidak ada apa-apa lagi.”
“Oh ya? Lalu apa kata orang itu?” tanya Raya sambil mengurai pelukan.
“Tidak penting, Sayang. Sepertinya dia hanya saksi palsu yang bayar oleh Clara.”
“Kenapa kamu yakin dia saksi palsu?”
Raka diam sejenak, lalu menatap Raya dan berkata, “Karena dia tidak punya bukti jika orang yang menabrak Ray adalah Tuan Balin.”
“Apa?!”
__ADS_1